Diskusi PUKAT KAJ: Mari Berpolitik Secara Bermartabat

TAMPIL sebagai pembicara kedua dalam diskusi politik yang diprakarsai PUKAT KAJ di Jakarta awal November 2013 lalu adalah pengamat politik senior Harry Tjan Silalahi dari CSIS (Centre for Strategic and International Studies) Jakarta.

Berguru dan meneladani tokoh katolik dan pahlawan nasional Ignatius Joseph Kasimo, Harry mengajak umat katolik untuk melihat bagaimana tokoh katolik era Orde Lama seperti IJ Kasimo mampu berpolitik secara baik, elegan, dan terhormat. “Yang mau saya katakana jelas, IJ Kasimo berhasil berpolitik secara baik dan bermartabat,” kata dia.

Itulah sebabnya, meski postur badannya kecil –sambung Harry Tjan—namun mutu omongannya besar. “Setiap kali dia omong, maka kata-katanya bisa digugu dan ditiru (didengarkan untuk kemudian dipraktikkan),” jelas Harry Tjan mengilustrasikan bagaimana mestinya para politisi –terutama politisi katolik– sekarang ini seharus berpolitik secara elegan, bermartabat dan terhormat seperti IJ Kasimo.

Seperti yang diungkapkan oleh J. Kristiadi, Harry Tjan Silalahi juga tidak sependapat dengan kebanyakan orang katolik yang hingga kini tetap dihinggapi sindrom “inferioriy and minority complex”. Hal ini jangan terjadi lagi, karena politik itu adalah “urusan kita semua”.

Kalau kita membiarkan politik lalu hanya dikuasai oleh orang-orang oportunis, maka celakalah kita. Itu berarti, kita membiarkan negara dan nation kita ini dikuasi oleh orang-orang yang hanya mementingkan kelompok dan individualnya sendiri.

“Itu jangan terjadi. Sebaliknya, kita harus tetap acuh dengan politik. Sama seperti yang dilakukan oleh IJ Kasimo yang tetap mengawal jalannya nation kita untuk terus ‘Menjadi Indonesia’, maka umat katolik juga harus punya concern  terhadap proses-peristiwa politik yang bersinggungan dengan ‘proses menjadi Indonesia’ ini,” kata Harry Tjan Silalahi.

Pukat 4

Semua orang –termasuk umat katolik—harus mau kembali kepada ‘janji awal’ bersama para pendiri Republik ini yakni mendirikan Negara Republik Indonesia. Itulah sebabnya, senada dengan anjuran J. Kristiadi, umat katolik tidak boleh tidak acuh terhadap politik.

Kembali ke Yerusalem

Untuk menjelaskan maksudnya, Harry Tjan Silalahi pun lalu mengambil perikop peristiwa kemuliaan Yesus di Gunung Tabor. Menurut dia, para murid Yesus pun terkesima hingga kemudian berujar kepada Yesus agar sebaiknya tetap tinggal di Gunung Tabor saja.

“Tapi, Yesus justru berpikir sebaliknya. Dari Gunung Tabor harus turun ‘mendarat’ di Yerusalem. Itulah kota dimana realitas politik benar-benar terjadi. Ada pemungut cukai, pasar malam, intrik-intrik politik dan ke Yerusalem lah Yesus lalu ‘menggiring’ para murid-nya,” jelas Harry Tjan.

23 tahun sudah PUKAT berdiri.

Ketika didirikan, tujuannya jelas bukan hanya untuk ‘kumpul-kumpul mesra’ di antara para usahawan dan kelompok profesional katolik. PUKAT KAJ harus berani ‘turun ke Yerusalem’, melihat apa yang terjadi dan siapa tahu bisa memberi kontribusi sosial demi sebuah perubahan yang signifikan di masyarakat ini.

“Memang siapa tidak percaya (dengan omongan J. Kristiadi) bahwa politik itu kotor?,” katanya bercanda.

Dalam hidup suami-istri pun, siasat dan strategi ‘membohongi’ pasangan juga terjadi, seperti –misalnya—ketika pulang larut malam dan mengaku pada istrinya harus rapat. “Ternyata esok hari, istri saya menemukan sisa karcis bioskop di kantung saku baju saya. Nah, itu dia, dalam keluarga pun kadang tak sadar kita juga berpolitik …alias menebar siasat untuk memperdaya orang lain,” katanya memberi ilustrasi tentang hidup berpolitik sembari sedikit terbahak.

Yang dimaksudkan Harry Tjan justru yang sebaliknya: Berpolitik secara baik, bermartabat dan terhormat seperti telah dan berhasil dipraktikkan oleh mendiang pahlawan nasional IJ Kasimo. “Yang saya ceritakan tadi ilustrasi berpolitik yang kotor,” candanya.

Karena itu, PUKAT KAJ harus berani ‘turun’ dari Gunung Tabor dan menapak turun mendekati Yerusalem untuk kemudian ‘melihat sana-sini’, mendengar kanan-kiri dan kemudian bersikap. “PUKAT harus buka jendela, cari angin segar di luaran,” kata Harry Tjan sembari mengimbau jangan segan-segan berderma untuk kepentingan Gereja dalam melaksanakan program kaderisasi dan konsientisasi di kalangan generasi muda. (Bersambung)

Photo credit: Diskusi politik bersama Dr. J. Kristiadi, Romo Benny Susetyo Pr, Harry Tjan Silalahi di Jakarta, awal November 2013 lalu (Royani Lim)

Tautan:  Diskusi PUKAT KAJ: Jangan Lagi Alergi terhadap Politik

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: