Diskusi PUKAT KAJ: Jangan Lagi Alergi terhadap Politik

< ![endif]-->

KALI ini, diskusi politik di forum pertemuan informal PUKAT KAJ (Perkumpulan Usahawan dan Profesional Katolik) di Keuskupan Agung Jakarta mengambil topik bahasan sangat relevan dan menarik. Yakni, proyeksi masa depan Indonesia berkaitan dengan ‘pesta demokrasi’ pada 2014 sebagai Tahun Politik. Secara khusus, sub topik pembahasan yang disinggung adalah bagaimana mencari sosok politisi yang bersih dan berwibawa karena etika berpolitiknya bagus dan integritas pribadinya berkualitas.

Untuk pembahasan tema politik yang menarik itu, forum diskusi politik PUKAT KAJ menghadirkan dua narasumber berbobot dalam bidangnya, yakni pengamat sosial-politik senior Harry Tjan Silalahi dari CSIS (Centre for Strategic and  International Studies) dan yuniornya juga di CSIS Dr. J. Kristiadi.

Politik itu, demikian J. Kristiadi mengawali paparannya, memang kotor dalam artian yang sebenarnya. Di situ orang bermain strategi dan bersiasat untuk memenangkan ‘perkara’. Di situ terjadi kompromi-kompromi antarberbagai elemen politik (baca: politisi) untuk mencapai sebuah ‘kesepakatan bersama’.

Kelihaian para politisi dalam bermain perkara politik yang kadang-kadang lalu menabrak etika umum dan moralitas inilah yang seringkali mencungulkan kesan umum sangat negative di masyarakat. Politik lantas berkonotasi peyoratif. Itu karena,  berpolitik itu ya harus bisa  ‘main kotor’ demi sebuah projek kepentingan partai atau bahkan individual sekalipun.

Itulah sebabnya, kata J. Kristiadi kemudian, banyak orang lalu mengambil sikap skeptik, masa bodoh dan bahkan alergi terhadap politik. Kotornya politik dan siasatnya orang ‘berpolitik’ lantas membuat orang Indonesia kebanyakan –termasuk umat Katolik—menjadi apatis terhadap peristiwa politik dan kabar politik.

Suasana kebatinan masyarakat umum di Indonesia sekarang cenderung apatis terhadap politik. Pemilu yang sangat strategis seperti Tahun Politik 2014 karena menentukan ‘wajah’ pemimpin nasional yang baru pun tidak menarik lagi. Umumnya, orang akan berkata, “Paling-paling keadaannya ya gitu-gitu saja. Tidak akan terjadi perubahan signifikan demi perbaikan kondisi sosial bersama. Sembilan tahun terakhir di bawah kendali Pres. Yudhoyono tidak memberi perubahan signifikan bagi Indonesia”.

pukat 1

Korupsi jalan terus. Pencitraan publik bertubi-tubi dijalankan dengan memposisikan diri sebagai “korban” penzaliman demi mendulang simpati massa.  “Rakyat sudah bosan dengan itu,” tukas J. Kristiadi, karena toh tidak melakukan sesuatu yang signifikan untuk perubahan yang lebih bagus.

Keprihatinan bersama

Terhadap politik, umat katolik –demikian kata J. Kristiadi—mestinya jangan menyikapinya seperti itu. “Politik adalah urusan kita semua. Jadi, jangan diam membutakan diri dengan (urusan) politik, termasuk Pemilu 2014,” katanya.

Sedemikian apatisnya masyarakat umum –terutama generasi muda—terhadap politik, jelas J. Kristiadi—bisa dibaca melalui pemahaman umum anak-anak SMA di Jakarta yang pernah dia wawancarai. Begitu mendengar kata ‘DPR’, maka gagasan spontan yang segera muncul dalam kesadaran sosial para anak remaja putri di sebuah SMA swasta katolik di Jakarta ini adalah:

·        DPR itu sarang koruptor

·        Senayan itu markas para koruptor

·        Politisi itu suka korupsi, paling demen terima sogokan

“Jadi, daftar litani ‘keburukan’ tentang sosok politisi dan DPR itu sudah menancap kuat-kuat di hati anak-anak generasi muda. Mereka tidak lagi tertarik –katakanlah—ingin berprofesi menjadi seorang politisi lantaran cap-cap negative seperti itu,” jelas J. Kristiadi.

Politik itu “res publica”

Padahal, kata J. Kristiadi kemudian, politik itu adalah urusan kita semua.  Urusan dapur seperti harga-harga barang kebutuhan pokok, harga BBM, relasi suami-istri sekali waktu akan menjadi pokok bahasan di antara para anggota legislative (baca: anggota DPR yang adalah juga para politisi mewakili partainya masing-masing) dalam proses legislasi (menciptakan produk hukum).

Bila demikian, tantang J. Kristiadi kepada PUKAT KAJ—akankah kita terus-menerus membiarkan diri buta terhadap politik?

Padahal, politik di Senayan juga juga ‘mencampuri’ urusan perut, makanan-minuman, harga BBM, status relasional suami-istri dengan cara memroduksi hukum-hukum yang mengatur itu semua. “Karena itu, mulai sekarang jangan lagi alergi terhadap politik!,” tandas J. Kristiadi.

Sekali waktu, bersama seorang anggota DPR mantan artis sinetron, J. Kristiadi bertandang ke sebuah universitas katolik untuk –katakanlah—bersosialisasi tentang  hingar-bingar politik. Tapi apa lacur, respon public terhadap presentasi tidak bergaung keras.

Tiba gilirannya, si mantan artis yang kini anggota DPR itu kemudian membiarkan dirinya tampil agak ‘brangasan’ dengan menantang para mahasiswi. “Apa kalian tetap tak acuh terhadap politik, kalau DPR misalnya sampai menelorkan produk-produk hukum berkaitan dengan status kegadisan kalian?,” kata J. Kristiadi menirukan perkataan si artis anggota DPR ini.

Semua hal –termasuk hal paling remeh temeh seperti harga bawang sampai yang paling heboh harga BBM—itu diatur oleh sebuah produk hukum, produksi bersama antara pemerintah dan DPR.  Dan itulah politik, karena di situ bermain siasat dan terjadilah berbagai kompromi antara pemerintah dan DPR untuk sebuah ‘kebijakan bersama-sama’ yang disetujui kedua belah pihak.

Kompromi politik itu kemudian melahirkan produk hukum. Maka jadilah, harga BBM baru akhirnya mengikat semua pihak. “Jadi, jangan heran kalau sekali waktu rahim kalian pun akan ‘dirampas’ menjadi milik negara, bilamana terjadi pembahasan produk hukum menyangkut status –misalnya—kegadisan kalian,” kata J. Kristiadi.

Rahim, kandungan yang menjadi privacy dan milik paling personal setiap perempuan bisa menjadi ‘lahan publik’ karena ‘dibicarakan’ oleh negara (pemerintah dan DPR) saat membahas –semisal—undang-undang perkawinan.

Nah, kata J. Kristiadi, akankah kita tetap terus membiarkan buta terhadap politik? Jadi, mulai sekarang jangan lagi alergi terhadap politik!(Bersambung)

Photo credit: Suasana diskusi politik yang diprakarsai Kelompok Profesional dan Usahawan Katolik (PUKAT) Keuskupan Agung Jakarta beberapa waktu lalu di Jakarta (Royani Lim)

Tautan:  Diskusi PUKAT KAJ: Mari Berpolitik Secara Bermartabat

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: