Ayat bacaan: Yesaya 46:4
====================
“Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.”

digendong Tuhan

Secara tidak sengaja ketika browsing saya melihat gambar yang saya pasang di samping. Ini sebuah gambar dari rombongan pendaki gunung. Disana terlihat seorang pria paruh baya tengah yang tengah digendong oleh pemandunya. Lihatlah betapa ceria wajahnya. Saya sempat tersenyum dan berpikir, ternyata orang tua juga masih senang digendong, bukan hanya anak-anak saja. Begitulah kenyataannya, perasaan butuh dikasihi bukan hanya didominasi oleh anak-anak, tetapi setiap manusia sampai kapanpun membutuhkan itu.

Saya selalu kagum melihat para hamba Tuhan yang sudah berusia lanjut tetapi masih melayani Tuhan dengan giat dan penuh semangat. Ada yang sudah sulit berjalan, sulit berbicara bahkan tidak jarang pula ada yang sudah sakit-sakitan. Tetapi lihatlah bagaimana mereka masih dengan gigih mewartakan Firman Tuhan memberkati kita yang muda-muda, lebih sehat dan kuat. Suatu kali saya pernah menanyakan kepada salah seorang pendeta yang sudah sangat tua hingga harus dipapah untuk berjalan, tidakkah lebih baik jika dia lebih banyak beristirahat dan mengurangi kegiatannya? Pendeta tersebut hanya tersenyum dan berkata, “Tugas saya belum selesai. Dalam kondisi beginilah saya justru menyadari betapa beruntungnya memiliki Yesus.” Luar biasa. Di saat ada banyak orang yang cepat menyerah, hanya mengasihani diri dan mengeluh, bersedih atas kondisi fisik atau kemampuannya yang terbatas saja, bapak Pendeta ini menunjukkan semangat yang berbeda, yang jauh mengatasi kondisi fisiknya yang sudah lemah dimakan usia. Apa yang ia katakan sungguh benar, karena Firman Tuhan pun sudah mengatakannya sejak dahulu kala.

Apa yang dijanjikan Tuhan sungguh luar biasa. Di saat manusia cenderung hanya mengurus anak kecil dan melupakan orang berusia lanjut, Tuhan menjanjikan sebuah perlindungan penuh kasih sayang kepada setiap orang hingga masa tuanya. Lihatlah apa kata Tuhan yang tertulis dalam kitab Yesaya berikut: “Dengarkanlah Aku, hai kaum keturunan Yakub, hai semua orang yang masih tinggal dari keturunan Israel, hai orang-orang yang Kudukung sejak dari kandungan, hai orang-orang yang Kujunjung sejak dari rahim. Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu. (Yesaya 46:3-4). Sejak dalam kandungan sampai rambut habis memutih seluruhnya Tuhan masih akan menggendong kita. Dia akan selalu menolong dan menyelamatkan kita. Tuhan sangat mengasihi dan menghargai setiap ciptaanNya, terutama kita manusia yang telah Dia ciptakan dengan teramat sangat istimewa. Jika demikian mengapa kita harus menyerah dalam keterbatasan? Apabila kita hanya mengandalkan kekuatan kita, itu memang punya batas, tetapi dengan mengandalkan Tuhan yang tidak terbatas maka kita akan mampu berbuat lebih, meski bagi dunia mungkin kita dianggap sudah habis atau tidak akan bisa melakukan apa-apa lagi.

Yesus kembali mengingatkan bagaimana berharganya manusia di mata Tuhan. “Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekorpun dari padanya yang dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamupun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.” (Lukas 12:6-7). Jika burung pipit yang murah saja Tuhan perhatikan, jika jumlah rambut di kepala kita pun dianggap penting oleh Tuhan sampai Dia merasa perlu untuk menghitungnya, mengapa kita harus takut dan menyerah karena keterbatasan-keterbatasan kita? Kembali lewat Yesaya kita melihat bagaimana Tuhan menyatakan betapa berharga dan istimewanya kita bagi diriNya. “Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku.” (Yesaya 49:16). Demikian besarnya Tuhan mengasihi kita, bukan saja kita telah dianugerahkan keselamatan kekal lewat PuteraNya sendiri, Yesus Kristus, tetapi sepanjang hidup pun Dia menjanjikan penyertaan, pengawalan, pertolongan dan perlindungan sepanjang hidup kita. Dengan lembut Tuhan akan selalu rindu menggendong kita menghadapi arus deras dunia dengan segala rintangannya sampai akhir hidup kita.

Dengan kebaikan yang begitu indah dari Tuhan, tidakkah kita seharusnya bersyukur dan mulai berpikir untuk tidak terlalu cepat menyerah? Ketika menyadari itu semua, bukankah kita seharusnya berpikir untuk membalas segala kebaikan Tuhan itu dengan menyatakan kasih dan kemuliaan Tuhan kepada sesama kita lebih lagi? Si bapak Pendeta menyadari hal itu. Ia tahu bahwa apabila ia masih diberi nafas kehidupan di muka bumi ini, itu berarti ia masih harus bekerja untuk memberi buah. (Filipi 1:22). Bukan tenaga dan kemampuan kita yang terbatas yang dibutuhkan Tuhan, tetapi kesediaan kita. Dan Tuhan akan menggendong kita dengan kekuatanNya yang mengatasi langit untuk memampukan kita melakukan semua pekerjaan itu. Jadi bayangkan ini: anda mungkin lemah tak berdaya, kondisi anda tidak memungkinkan, kemampuan anda sangat terbatas, tetapi anda berada di atas bahu Tuhan yang terus menggendong anda dengan kekuatanNya yang tanpa batas. Anda dibawanya terus berjalan melewati segala liku-liku kehidupan, mengatasi lembah jurang dan bukit curam, terus mendaki hingga anda bisa mencapai puncaknya dimana kelak anda akan bersama dengan Dia menikmati sukacita yang kekal tanpa ratap tangis penderitaan. Apakah anda merasa lemah hari ini, merasa tidak mampu berbuat apapun dan merasa tidak memiliki harapan? Ingatlah bahwa anda bukan hanya berpijak di bumi saja, tetapi anda sedang berada dalam gendongan Tuhan yang akan terus memikul diri anda hingga akhir. Apakah anda masih muda atau sudah tua, semua itu tidak masalah, sebab Tuhan akan terus memangku anda dengan tanganNya sendiri. Apakah saat ini anda sedang merasa lemah, kehilangan motivasi, semangat atau merasa tidak sanggup, anda bisa mulai belajar untuk mengerti bahwa anda bisa bersandar di tanganNya, you can lean on His arms dan berkata seperti bapak Pendeta di atas, “Dalam kondisi beginilah saya justru menyadari betapa beruntungnya memiliki Yesus.”

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Matius 11:28)

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.