Dian Fossey : Gorilla In The Mist

Ayat bacaan: Kejadian 1:28
======================
“Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

dian fossey, gorilla in the mist, berkuasa atas hewan

Manusia sesungguhnya memiliki tugas yang amat penting. Sejak awal penciptaan, Tuhan telah berpesan langsung kepada kita untuk beranak cucu memenuhi bumi, kemudian menaklukkan dan berkuasa atas semua hewan baik di laut, darat maupun udara. “Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” (Kejadian 1:28). Menaklukkan dan berkuasa disini bukanlah dalam artian kita bisa seenaknya mengeksploitasi isi bumi tanpa memikirkan kelangsungan hidup atau kelestariannya, tapi justru kita diminta untuk bertanggung jawab secara penuh untuk mengurus dan melestarikan segala yang ada di muka bumi ini. Baik kekayaan alam, lingkungan, termasuk pula di dalamnya berbagai spesies atau jenis hewan yang hidup di bumi. Berbicara mengenai kelestarian hidup hewan, saya tertarik untuk mengangkat kisah Dian Fossey.

Mungkin di antara teman-teman masih ada yang ingat atau pernah menonton film Gorillas In The Mist? Film yang dibintangi oleh Sigourney Weaver di tahun 1988 yang sukses besar. Film ini diangkat dari sebuah novel yang ditulis oleh Dian Fossey berjudul sama yang mengisahkan biografinya sendiri. Dian Fossey bukanlah wanita sembarangan. Ia merupakan satu dari sedikit sekali orang yang berani mengambil langkah untuk peduli terhadap kelangsungan hewan, terutama gorila. Dian Fossey berasal dari keluarga broken home. Ayahnya adalah pemabuk yang belakangan bunuh diri karena depresi atas ketidakmampuannya untuk mencukupi keluarga. Terinspirasi dari penelitian Jane Goodall tentang perlunya menjaga kelestarian primata, Fossey memutuskan untuk mendedikasikan hidupnya untuk gorilla. Untuk itu pada tahun 1966 Fossey memutuskan untuk pergi ke Kongo dengan tujuan untuk mempelajari gorila. Namun pada saat itu situasi di Kongo tidak kondusif akibat timbulnya pemberontakan di sana. Fossey pun kemudian pindah ke Rwanda, dan mempelajari kehidupan Gorila selama 18 tahun. Ia masuk ke dalam hutan dan mencoba pelan-pelan beradaptasi dan masuk ke dalam kehidupan sekelompok gorila. Sekian lama ia berjuang dan menumbuhkan kepercayaan gorila-gorila itu, akhirnya ia pun diterima dengan hangat di tengah-tengah mereka. Tidak saja diterima, bahkan keluarga gorila itu mengijinkan Fossey untuk bermain dengan bayi mereka. Ada banyak foto yang merekam hubungan harmonis antara Fossey dengan gorila dan itu semua kemudian diekspos di berbagai media massa, termasuk yang paling terkenal ketika foto dan beritanya dimuat di majalah National Geographic tahun 1970. Di kala itu berita tentang Fossey menggemparkan dunia. Bayangkan, seorang wanita paruh baya rela berdiam di hutan sendirian dan hidup ditengah sekawanan gorila yang dianggap ganas. Tapi lewat semua itu Fossey sukses merubah pola pikir banyak orang. Jika sebelumnya film-film Hollywood menggambarkan sosok gorila sebagai hewan buas, lewat observasi Fossey akhirnya dunia mengetahui bahwa gorila ternyata adalah hewan yang cinta damai dan hidupnya terancam justru akibat perburuan liar yang dilakukan manusia sendiri. Ternyata manusia lebih buas dari gorila, dan ini tentu bertentangan dengan tugas yang diberikan Tuhan kepada manusia.

Dedikasi Fossey sungguh besar. Ia bahkan rela mengorbankan hidupnya demi keluarganya yang sekarang, keluarga gorila. Ia mendapat berbagai ancaman, terutama dari pihak-pihak yang merasa terganggu dengan keberadaan dan perjuangannya dalam menentang eksploitasi gorila demi sejumlah uang. Dian Fossey akhirnya dibantai/dibunuh secara sadis di rumahnya, dimana pelakunya masih menjadi misteri hingga hari ini. Diduga Fossey dibunuh oleh para pemburu gorila atau pihak-pihak yang selama ini merasa dirugikan oleh keberadaan Fossey. Tapi biar bagaimanapun, apa yang diperjuangkan Fossey selama 18 tahun sungguh membekas di hati banyak orang. Perjuangannya dikenang sepanjang masa, dan yang jauh lebih penting dari itu, Fossey telah menunaikan tugas yang diberikan Tuhan untuk memelihara kelestarian satwa, dalam hal ini gorila dengan penuh kasih.

Bekerja dan berdedikasi haruslah dilakukan dengan kasih. Itu firman Tuhan yang tertulis dalam 1 Korintus 16:14 : “Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih!”. Disamping itu, ingatlah selalu bahwa “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 3:23). Apa yang dilakukan Fossey sejalan dengan ayat-ayat di atas. Jika kita melakukan segala sesuatu dalam kasih dan dengan segenap hati seperti untuk Tuhan maka kita tidak akan tergoda untuk mengeksploitasi sumber-sumber alam, tumbuhan dan hewan seenaknya. Kasih yang ada dalam hati kita dan komitmen untuk berbuat yang terbaik untuk Tuhan akan membuat kita mendedikasikan pekerjaan kita untuk kebaikan. Fossey tidak mundur sedikitpun meski ada dibawah ancaman. Dari kisah Fossey kita bisa belajar melihat bagaimana sebuah dedikasi yang sepenuhnya bisa menjadikan seseorang menjadi sosok yang luar biasa. Oleh karenanya, dimanapun kita ditempatkan Tuhan saat ini, kita harus selalu serius untuk melakukan pekerjaan Tuhan lewat apapun yang kita kerjakan. Kita harus berusaha giat dan sungguh-sungguh, karena akan ada waktu dimana kita tidak lagi bisa berbuat apa-apa. “Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja.” (Yohanes 9:4). Dalam kitab Yesaya tertulis: “Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu.” (Yesaya 60:1-2). Kita hanya bisa menjadi terang, menyinari kegelapan yang menutupi dunia apabila terang dan kemuliaan Tuhan terbit dalam diri kita. Dan untuk itu, tentu kita harus belajar hidup kudus, termasuk pula melakukan segalanya dengan kasih dan selalu berusaha untuk melakukan segala pekerjaan kita seperti untuk Tuhan. Di sisi lain, ingatlah bahwa kelestarian dan kelangsungan hidup satwa menjadi tanggungjawab kita. Ada banyak spesies yang terancam punah, ada begitu banyak hewan yang saat ini terancam kehidupannya. Hendaknya kita menjadi pribadi-pribadi yang peduli, karena Tuhan telah menugaskan kita semua untuk melestarikan ciptaan-ciptaanNya di muka bumi ini.

Tuhan telah memanggil kita untuk menjadi anak-anakNya yang membawa terang Allah dimanapun kita ditempatkan. Miliki dedikasi yang sungguh-sungguh dan lakukanlah dalam kasih, muliakan Tuhan di atasnya. Mari kita belajar dari sosok Fossey yang penuh dedikasi sehingga perjuangan dan impiannya menjadi sesuatu yang luar biasa.

Hiduplah dengan dedikasi yang tinggi, lakukan dalam kasih dengan sungguh-sungguh seperti untuk Tuhan

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply