Dialog Kemanusiaan dari Mimbar ke Pasar

Shinta Nuriyah Wahid (Foto : Ignatius Yunanto)

MUNGKIN tidak biasa pagi itu ada keramaian di Aula Paroki St. Michael Waringin, Bandung. Mungkin juga tidak biasa subuh-subuh datang banyak tamu untuk berkumpul dan makan sahur bersama. Mungkin juga tidak biasa pagi-pagi buta kedatangan tamu ibu Presiden RI ke-4, Ibu Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid.

Namun, kali ini terjadi peristiwa itu (1/6/2014). Warga sekitar bersama para pedagang pasar, tukang becak, kuli bangunan, pembantu rumah tangga, tukang bengkel, satpam, para undangan dari organisasi lintas agama mengadakan dialog kemanusiaan sembari sahur bersama.

Dialog Kemanusiaan. Para peserta dialog kemanusiaa (Foto : Ignatius Yunanto)

Dialog Kemanusiaan. Para peserta dialog kemanusiaa (Foto : Ignatius Yunanto)

pasar

Shinta Nuriyah Wahid saat sedang berkunjung di Pasar Andir (Foto : Ign. Yunanto)

Satu hal yang menarik di sini adalah keterlibatan dari warga sekitar sangat antusias, karena sudah terbiasa dengan bentuk-bentuk toleransi keberagaman. Demikian dikatakan kang Wawan Gunawan, acara buka bersama selalu diselenggarakan di sini.

Bukan sesuatu yang aneh di sini warga berkumpul dan berdialog di kompleks paroki, demikian juga sebaliknya tidak aneh warga gereja berkumpul di kompleks masjid, klenteng, atau wihara. Kawasan ini sudah mewujudkan semangat toleransi yang tinggi, ungkap Bapak Edi, mantan ketua RW di situ sekaligus tokoh masyarakat setempat.

Dialog diawali dengan pemaparan maksud dan tujuan Ibu Shinta Nuriyah Wahid datang ke tempat ini. Pertama adalah mengajak bersilaturahmi, mengajak warga untuk merenungkan bulan puasa sebagai bulan rahmat untuk meningkatkan ketakwaan iman, mengajak warga untuk bersolider dengan sesamanya, dan mengajak warga hidup berdampingan secara harmonis tanpa memandang SARA. Ibu Shinta juga menegaskan lagi niat sahur adalah mengajak untuk berpuasa, sebuah ajakan menjalankan ajaran agama sekaligus ajakan untuk membangun niat kebaikan.

Dialog terjadi secara spontan, menyangkut persoalan-persoalan keseharian dan persoalan-persoalan lainnya. Tentu saja dialog ini bukan bermaksud terutama menemukan solusi praktis atas kegelisahan, harapan dan persoalan masyarakat. Tetapi, yang mau difasilitasi adalah bagaimana persoalan-persoalan di tingkat bawah bisa tersuarakan, dan bagaimana satu sama lain bisa saling menghargai dan membantu.

Satu langkah awal dalam menyelesaikan persoalan adalah pertama-tama berani atau bisa merumuskan persoalan kemudian mengungkapkannya. Semua persoalan, baik dari tingkat keseharian sampai tingkat politik nasional, pasti akan terselesaikan asal masih menempatkan prinsip-prinsip kebaikan. Maka nilai-nilai kebaikan, seperti kejujuran, toleransi, mau bekerja, mau membantu, dan lain sebagainya harus terus dijaga.

Di akhir dialog ini Ibu Shinta bersama rombongan menyapa para pedagang pasar Andir yang tidak bisa meninggalkan jualannya untuk berdialog bersama. Senyum dan sapa mereka menunjukkan semangat mereka bekerja keras demi sebuah harapan.

Kredit Foto : Shinta Nuriyah Wahid (Foto : Ignatius Yunanto)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: