Di Puncak Gunung (1)

Ayat bacaan: Habakuk 3:19=================”ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku.”Saya bukan termasuk orang yang hobi mendaki gunung atau masuk keluar hutan. Meski demikian, saya …

Ayat bacaan: Habakuk 3:19
=================
“ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku.”

Saya bukan termasuk orang yang hobi mendaki gunung atau masuk keluar hutan. Meski demikian, saya selalu kagum terhadap para pecinta alam yang mau menempuh jalan berat dan melelahkan dengan segala resikonya untuk bisa menikmati keindahan ciptaan Tuhan  yang luar biasa. Ada seorang teman yang sangat aktif di kegiatan ini sejak masa kuliah dulu sampai sekarang. Ia bercerita betapa banyak kendala maupun tantangan yang harus dihadapi untuk bisa menaklukkan puncak gunung. Kalau soal susahnya jalan mendaki di jalan terjal berbatu dengan ransel berat, itu sih biasa. Tantangan menjadi lebih berat karena oksigen seringkali menjadi sangat tipis pada ketinggian tertentu sehingga pendaki bisa merasakan sesak nafas atau gangguan pernafasan lainnya. Ancaman hewan berbahaya bisa jadi satu dari hal yang harus diwaspadai, belum lagi berbagai tahyul yang bisa memberikan kontribusi signifikan dalam meruntuhkan mental. Berat? Sangat. Tapi semua beban itu menjadi sirna begitu sampai ke puncak gunung, katanya. Pemandangan yang luar biasa indah di ketinggian seperti itu membuat semua kesulitan bagai lenyap digantikan kebahagiaan. Menurutnya pemandangan disana selalu begitu menakjubkan, luar biasa pesonanya, sesuatu yang tidak dilihat oleh semua orang. Hanya yang mau bersusah payah mendakilah yang bisa menikmatinya.” katanya bangga. Di puncak gunung ia lupa akan kesusahan mendaki dan segala sakit yang ia rasakan. Di puncak gunung ia melihat sebuah keindahan yang tidak dilihat oleh semua orang. Dan yang sangat menginspirasi saya, ia berkata bahwa di puncak gunung ia bisa merasakan kebesaran dan kemuliaan Tuhan lebih dari biasanya.

Saya merasa diberkati lewat ceritanya. Dan belajar bahwa jika kita tidak mendaki gunung, maka kita tidak akan bisa merasakan pengalaman yang luar biasa. Tanpa melalui proses berat, jalan berliku dan ketegaran/kegigihan menghadapi kesulitan, kita tidak akan bisa menikmati sebuah pemandangan yang sangat langka yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Saya berpikir bahwa dalam perjalanan hidup kita akan ada waktu dimana kita harus berhadapan dengan bukit-bukit terjal, jalan berbatu-batu yang akan sangat sakit untuk kita jalani, siap atau tidak. Kita bisa memilih apakah tetap diam di tempat tanpa mau berjalan melewatinya, atau kita mencoba sedikit lalu mundur dan menyerah. Tetapi seperti apa yang dialami oleh teman saya, hanya yang mampu bertahan dan dengan semangat pantang mundurlah yang akan mampu berdiri tegak di atas bukit merasakan kemuliaan Tuhan. Akan ada saat dimana kekuatan kita tidak lagi mampu mengatasi kesulitan itu agar bisa terus maju. Tapi ada kabar baik: Tuhan siap membantu kita untuk itu. Yang diperlukan hanyalah kemauan dan kesediaan kita, serta sejauh mana kita bisa percaya kepada Tuhan bahwa Dia akan menuntun kita melewati jalan-jalan yang sulit itu untuk akhirnya kelak sampai di atas bukit.

Lihatlah Firman Tuhan dalam Habakuk. “ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku.” (Habakuk 3:19) Sebuah ayat yang kurang lebih sama bisa kita dapatkan dalam Mazmur. “Allah, Dialah yang mengikat pinggangku dengan keperkasaan dan membuat jalanku rata; yang membuat kakiku seperti kaki rusa dan membuat aku berdiri di bukit.” (Mazmur 18:34). Mengandalkan kemampuan kita yang terbatas, cepat atau lambat kita akan menyerah dalam berjuang melewati jalan terjal dan berbatu-batu. Tapi lihatlah bahwa Tuhan selalu siap menyediakan pertolongan. Tuhan mampu membuat kaki-kaki kita menjadi lincah seperti rusa yang mampu melewati atau melompati jalan-jalan berbatu dan terjal untuk sampai ke puncak gunung. Tuhan mau kita naik lebih tinggi mengatasi masalah dan keluar menjadi pemenang, merasakan keindahan, kemurahan dan kemuliaanNya yang semua telah tersedia di atas sana. Naik ke atas, punya iman yang jauh lebih tinggi dari segala kesulitan yang terjadi, itu yang Tuhan inginkan untuk kita miliki.

Hal yang menarik, dalam Yesaya dikatakan di tempat tinggi itulah rumah Tuhan akan berdiri tegak. Di tempat seperti itulah kita, rumah Tuhan/bait Allah akan kokoh dan tidak mudah jatuh saat diterpa badai. “Akan terjadi pada hari-hari yang terakhir: gunung tempat rumah TUHAN akan berdiri tegak di hulu gunung-gunung dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit; segala bangsa akan berduyun-duyun ke sana, dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: “Mari, kita naik ke gunung TUHAN, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya, dan supaya kita berjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran dan firman TUHAN dari Yerusalem.” (Yesaya 2:2-3). Lihatlah bahwa berada di tempat tinggi di atas bukit menjanjikan sebuah tempat dimana masalah tidak lagi mampu menyulitkan kita. Rumah Tuhan atau Bait Allah berbicara mengenai diri kita sendiri (bacalah 1 Korintus 3:16). Disana kita bisa melihat bahwa Tuhan menyediakan pertolongan untuk memampukan kaki kita menjadi lincah, melompat melewati berbagai masalah dan berdiri tegak di atas gunung menikmati segala kemuliaanNya.

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply