Di Pagi yang Penuh Haru

gusmusMATAHARI baru terbit dengan kehangatan Sinarnya yang lembut saat kupegang penuh haru dan syukur Undangan yang kuterima dari Panitia Selamatan 70 tahun Gus Mus (1944-2014) Forum Silaturahmi Budaya menyelenggarakan perhelatan Mulia ini dengan hembusan tema penuh kelembutan yang Tulus: “Kemanusiaan, Kebangsaan, Pluralisme” Tergetar jiwaku gemetar jemariku memegang Undangan berjiwa Peradaban Cinta karena hatiku dihimpit antara […]

gusmus

MATAHARI baru terbit dengan kehangatan Sinarnya yang lembut saat kupegang penuh haru dan syukur Undangan yang kuterima dari Panitia Selamatan 70 tahun Gus Mus (1944-2014)

Forum Silaturahmi Budaya menyelenggarakan perhelatan Mulia ini dengan hembusan tema penuh kelembutan yang Tulus: “Kemanusiaan, Kebangsaan, Pluralisme”

Tergetar jiwaku gemetar jemariku memegang Undangan berjiwa Peradaban Cinta karena hatiku dihimpit antara Bahagia dan nestapa…

Bahagiaku membuncah atas relasi silaturahim antaraku sebagai salah satu cucu yang menyantrik Simbah Kakung Kiai berjiwa Adi Luhung meski tidak secara langsung. Syair-syair puisi dan sajaknya selalu menjadi santapan Suksmaku di saat remajaku pun kolom-kolom refleksi penuh daya bagi hidup berbangsa dan beragama, kendati Berbeda. Tak kalah indah setiap lukisan yang tergoreskan dari keheningan Batin yang Suci

Teringat aku di sepuluh tahun lalu saatku baru tiba di Kota Lunpia dan aku pun boleh bersua satu meja dalam refleksi bersama di aula Polres Rembang dalam sebuah kenangan ulang tahun Paroki Rembang, kala itu, awal Juli 2014. Aku yang belia dan si pengagum Simbah Kakung boleh duduk bersanding, membuat hatiku tersanjung

Siapakah aku ini hingga boleh bersanding dengan sang pujangga, sastrawan, pelukis, budayawan dan cendekiawan… itulah gumam kagum dan syukurku kala itu

Momen-momen itu menumbuhkan rasa Bahagia saat menerima Undangan penuh Cinta namun sekaligus menggoreskan nestapa karena hamba tak bisa bersua bergabung bersama para Tamu Mulia. Di hari yang sama ragaku harus berada di Kota Apel oleh Undangan pula seorang Resi yang bersyukur atas 75 tahun usia dan Pesta Perak Pentahbisan Uskup Mgr. HJS Pandoyoputro yang disampaikan jauh hari lalu baik secara langsung maupun melalui telepon…

Ah, hamba sunggguh mohon ampun. Inilah yang kian menorehkan nelangsa tepat di jantung nuraniku ini…

Mas Timur Sinar Suprabana, Mas Hendry TM dan Mas Agoes Dhewa maafkan daku tak bisa membelah ragaku di Selamatan dan Gelar Budaya 70 Tahun KH A. Mustofa Bisri.

Haturkan salam hormat dan kasihku katur Simbah Kakung dari lubuk hati dan relung jiwaku

dari Girli Kebon Dalem, saat sinar Matahari mulai memanas
04.09.2014

Kredit foto: KH Mustofa Bisri alias Gus Mus dari Rembang, Jawa Tengah. (Ist)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply