Dengarlah (1)

Ayat bacaan: Mazmur 81:9
====================
“Dengarlah hai umat-Ku, Aku hendak memberi peringatan kepadamu; hai Israel, jika engkau mau mendengarkan Aku!”

Peraturan dan peringatan diberikan untuk tujuan yang baik. Tapi seringkali manusia mengabaikannya. Bagi banyak orang, peraturan ada untuk dilanggar. Semakin dilarang semakin dibuat, semakin diingatkan semakin membandel. Sulit sekali bagi manusia untuk dinasihati, apalagi kalau ditegur. Kuping seperti tuli, tidak peduli, maunya menang sendiri, berbuat sesuka hati. Diingatkan yang baik malah marah dan melawan. Padahal seringkali kebandelan itu bisa merusak atau bahkan membahayakan baik diri kita sendiri maupun orang lain.

Tuhan memberikan dengan jelas tuntunan hidup yang akan membawa kita kedalam kehidupan yang indah seperti yang diinginkanNya dan juga mengarah kepada keselamatan yang kekal. Tuhan memberikan batasan-batasan dan larangan-larangan, tapi sejauh mana kita mau mendengar dan mematuhiNya? Yang sering terjadi justru sikap pembangkangan yang muncul. Kita menganggap bahwa Tuhan hanya tidak suka kita menikmati sesuatu yang menyenangkan. Menuduh Tuhan terlalu mengekang atau bersikap otoriter. Padahal sadarkah kita bahwa itu pun sebenarnya demi kebaikan kita sendiri dan bukan untuk kepuasan Tuhan?

Sikap manusia ini merupakan masalah klasik yang turun temurun. Sebuah contoh nyata bisa kita lihat dalam Mazmur 81 yang mencatat bagaimana kesalnya Tuhan dalam menyikapi kebandelan bangsa Israel. Dengan tegas Tuhan berseru: “Dengarlah hai umat-Ku, Aku hendak memberi peringatan kepadamu; hai Israel, jika engkau mau mendengarkan Aku!” (Mazmur 81:9). Itu bentuk kepedulian Tuhan. Dia memberi peringatan bukan demi kepentinganNya melainkan demi kebaikan bangsa Israel sendiri. Dengarlah kalau mau, itu kata Tuhan. Diingatkan karena Tuhan sayang, tapi kalau tidak mau dengar nanti resiko tanggung sendiri. Meski bandel, Tuhan begitu baik masih mau mengingatkan bangsa yang keras kepala ini.

Apa yang diingatkan Tuhan? Yang Dia peringatkan adalah agar bangsa Israel berhenti menyembah allah-allah asing. “Janganlah ada di antaramu allah lain, dan janganlah engkau menyembah kepada allah asing. Akulah TUHAN, Allahmu, yang menuntun engkau keluar dari tanah Mesir: bukalah mulutmu lebar-lebar, maka Aku akan membuatnya penuh.” (ay 10-11). Sayangnya reaksi bangsa itu bukanlah berhenti melakukan kekejian bagi Tuhan tetapi malah membangkang. Kebebalan mereka membuat mereka menolak untuk patuh. Tuhan selanjutnya mengatakan “Tetapi umat-Ku tidak mendengarkan suara-Ku, dan Israel tidak suka kepada-Ku.” (ay 12). Betapa kecewanya Tuhan terhadap sikap mereka ini. Tuhan menyebutkan mereka umatNya, tetapi mereka sedikitpun tidak peduli, bahkan Tuhan merasa bahwa bangsa yang Dia kasihi dan limpahi itu tidak suka kepadaNya.

Bangsa Israel sudah merasakan sendiri bagaimana Tuhan menuntun mereka keluar dari tanah perbudakan untuk menuju tanah terjanji yang melimpah susu dan madunya, dan Tuhan pun telah melakukan begitu banyak mukjizat buat mereka sepanjang perjalanan. Tapi agaknya mereka meremehkan dan melupakan itu semua. Bukannya patuh tapi malah membandel dan mengatakan tidak suka kepada Allah seperti apa yang ditulis dalam ayat 12 tadi. Mereka menganggap Tuhan sebagai Pribadi yang egois, penuntut atau tidak suka melihat mereka senang.

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply