Dengarkan

Ayat bacaan: Matius 11:15
======================
“Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!”

dengarkan

“What I like about you, you don’t just sit while I give advices..you listen.” demikian kata seseorang yang berpengaruh besar dalam musik Indonesia kemarin. Selama ini ia begitu peduli dengan perkembangan media musik yang saya pimpin. Banyak masukan hingga kritik yang ia sampaikan sejak beberapa tahun lalu, dan saya menganggap semua itu penting saya dengar untuk maju. Belajar dari tokoh yang lebih berpengalaman dan senior, itu bagi saya sebuah kesempatan besar untuk bisa lebih baik lagi. Saya pikir itu wajar saja, karena kritik atau masukan itu semuanya besar manfaatnya untuk menjadi lebih baik ke depannya. Mengapa tidak saya jalankan sejauh kemampuan saya? Tiap hari saya terus belajar, memperbaiki kekurangan, mempertahankan dan meningkatkan apa yang sudah baik. Jadi wajar jika saya mendengar pendapat-pendapatnya. Tetapi menurutnya itu istimewa. Ada banyak yang alergi terhadap masukan apalagi kritik, katanya. Mereka menganggap diri paling benar dan tidak mau mendengar input dari orang lain. Meski masukannya baik, tetapi ego mereka menghalangi mereka untuk mendengar. Dan ia menghargai sikap saya yang selalu menerima komentar-komentarnya dengan rendah hati. Apakah semua saya lakukan? Tidak juga. Karena ada masukan yang bisa dilaksanakan, ada pula yang belum bisa untuk saat ini. Tetapi benar, saya mendengar. Saya mencerna dan menyaring mana yang bisa mana yang belum. Dan itu bisa ia lihat. Saya bersyukur jika masih ada yang memberi saran atau kritik, karena biar bagaimanapun kita adalah manusia yang tidak sempurna, memiliki banyak kekurangan.

Ada kritik konstruktif, ada pula yang destruktif. Kita perlu menyaring semuanya dengan baik, tetapi ada baiknya kita terlebih dahulu mengajak diri kita rela untuk mendengar.  Mendengar. Listen. Dan terkadang itulah bagian yang sulit. Demikian pula mengenai kebenaran Kerajaan Allah yang dibawa Kristus dalam kehadiranNya di muka bumi ini. Kedatangan Tuhan Yesus ke dunia diisi dengan banyak peringatan. Banyak hal-hal yang dibukakan Yesus, yang sebelumnya tidak diketahui orang. Berkali-kali Yesus menegur kita dengan berkata “siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!” seperti dalam Matius 11:15, Matius 13:9, Matius 13:43, Markus 7:16, juga beberapa kali dalam Wahyu 2, 3 dan juga 13.  Kita diberi sepasang telinga, bukan hanya satu saja bukan tanpa sebab. Mulut diberi satu, telinga dua, tetapi kita cenderung cepat membantah dan menolak untuk mendengar. Padahal jumlah telinga dua kali mulut. Sepasang telinga diberikan Tuhan, gunakanlah keduanya dengan baik untuk mendengar, sehingga kita bisa mengerti dan memperbaiki diri. Dalam Amsal juga kita membaca demikian: “Orang yang mengarahkan telinga kepada teguran yang membawa kepada kehidupan akan tinggal di tengah-tengah orang bijak.” (Amsal 15:31). Kita harus melembutkan hati, dengan lapang dada, untuk menerima kritik atau teguran konstruktif untuk bertumbuh lebih lagi.

Kita tidak bisa menghindari kritik. Kapanpun, dimanapun kita akan berhadapan dengan kritik. Ada kalanya memang kita memerlukan kritikan yang konstruktif atau membangun, agar kita bisa menata sesuatu lebih baik lagi. Mungkin pedas, namun jika untuk kebaikan kita sendiri, itu haruslah kita terima dengan lapang hati. Benar, ada kalanya kritik yang datang terlalu kejam, sifatnya bukan lagi membangun tapi meremehkan dan menjatuhkan, sehingga jika kita tidak memiliki mental kuat dan benar-benar fokus pada tujuan, kita bisa menjadi lemah dan berhenti berusaha. Selalu saja ada orang yang secara sengaja atau tidak melukai perasaan kita dan menjatuhkan mental kita dengan berbagai motif. Jangan menjadi patah semangat karenanya. Jika kita sudah berusaha dengan sebaik mungkin, apalagi jika kita melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh sesuai kehendak Tuhan, jangan biarkan ucapan-ucapan negatif itu menghancurkan kita.

Akan hal ini kita bisa belajar dari bagaimana beratnya Musa menghadapi orang-orang Israel yang keras kepala dan jagoan bersungut-sungut untuk membawa mereka keluar dari Mesir setiap hari selama puluhan tahun. Sepertinya hampir setiap hari ia diteror oleh komentar-komentar pedas dari bangsa yang terkenal keras kepala, bebal dan tegar tengkuk ini. Bayangkan, adalah perintah Tuhan untuk membawa mereka ke tanah terjanji, keluar dari perbudakan di Mesir. Tuhan mau memerdekakan umatNya dan memberi mereka masuk ke sebuah tanah yang subur dan kaya, namun inilah balasan mereka. “dan mereka berkata kepada Musa: “Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini? Apakah yang kauperbuat ini terhadap kami dengan membawa kami keluar dari Mesir? Bukankah ini telah kami katakan kepadamu di Mesir: Janganlah mengganggu kami dan biarlah kami bekerja pada orang Mesir. Sebab lebih baik bagi kami untuk bekerja pada orang Mesir dari pada mati di padang gurun ini.” (Keluaran 14:11-12). Bukan hanya satu ini komentar sinis yang mereka lontarkan. Perjalanan mereka penuh dengan sungut-sungut, keluh kesah, protes dan komentar-komentar yang bisa setiap saat. Mudah? Tidak. Tapi fokus kepada tujuan akan membuat kita lebih kuat menghadapinya. Musa tahu lebih dari apapun alasannya, ia tengah menjalani tugas yang diberikan Tuhan kepadaNya. Ia tahu selama itu pula Tuhan akan selalu bersamanya. Karena itulah Musa bisa tetap kuat meski terus menghadapi sikap buruk bangsa yang ia pimpin selama 4 dasawarsa.

Tapi ingatlah bahwa tidak semua kritik itu bertujuan buruk. Ada kalanya kita memang harus menerima kritik dengan lapang dada, meski rasanya sama sekali tidak enak, bahkan terkadang pahit rasanya. Kita  harus pandai-pandai menyaring, tetapi terlebih dahulu lembutkanlah hati. Jangan belum apa-apa sudah langsung menolak, membantah dan menuduh orang berniat jahat kepada kita. Jika komentar-komentar negatif yang kita terima, buanglah itu. Tetapi jika teguran itu positif, terimalah itu dengan lapang hati. Intinya adalah, dengarlah terlebih dahulu. Telinga diberikan Tuhan untuk tujuan mendengar. Jangan sia-siakan kedua telinga yang kita miliki demi kebaikan diri kita sendiri. Amsal Salomo pun berkata: “Rancangan gagal kalau tidak ada pertimbangan, tetapi terlaksana kalau penasihat banyak.” (Amsal 15:22), atau “Karena hanya dengan perencanaan engkau dapat berperang, dan kemenangan tergantung pada penasihat yang banyak.” (24:6).  Bahkan lebih jauh Amsal berkata: “Jikalau tidak ada pimpinan, jatuhlah bangsa, tetapi jikalau penasihat banyak, keselamatan ada.” (11:14). Kemenangan atau kesuksesan tergantung dari banyaknya masukan yang kita terima, dan tergantung pula dari sejauh mana kita menyikapinya dengan baik. Bahkan menolak untuk mendengar bisa membawa kehancuran bagi kita. Pergunakanlah sepasang telinga yang telah diperlengkapi Tuhan untuk bisa bertumbuh menjadi orang-orang bijaksana yang maju dari hari ke hari. Selain kerendahan hati untuk mendengar, miliki pula telnga yang selektif dalam mendengar. Pandai-pandailah menyaring komentar dan kritik yang masuk. Simpan yang positif, buang yang negatif. Teguran yang membangun sangatlah berharga. Salomo menggambarkannya demikian: “Teguran orang yang bijak adalah seperti cincin emas dan hiasan kencana untuk telinga yang mendengar.” (25:12). Yang lebih penting lagi, pekalah terhadap suara Tuhan. Dengarkan perintahNya, terima teguranNya dan patuhi kehendakNya. Sebelum bereaksi, dengarkan dahulu baik-baik lalu cernalah dengan baik pula. Tetap ingat pesan Kristus: “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!”

Miliki hati yang lembut dan lapang untuk mau mendengar

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: