Dengan Pengharapan

Ayat bacaan: 1 Korintus 9:10
=====================
“Atau kitakah yang Ia maksudkan? Ya, untuk kitalah hal ini ditulis, yaitu pembajak harus membajak dalam pengharapan dan pengirik harus mengirik dalam pengharapan untuk memperoleh bagiannya.”

kerja dengan pengharapan

Semakin tinggi teknologi, semakin canggih pula robot yang berhasil dibuat. Ada robot yang saat ini bisa membuat pancake, ada yang bisa menari dengan luwes, bahkan menyanyi bersama manusia. Di Jepang ada robot yang tidak lagi berbentuk seperti rangkaian besi bermesin, tetapi sudah bisa tampil seperti android feminin. Robot Actroid F namanya, bukanlah robot yang dibuat untuk berjalan seperti kebanyakan robot sebelumnya. Tetapi kelebihannya ada pada mimik muka yang sangat realistis dan sepintas akan terlihat seperti manusia sungguhan. Secanggih apapun sebuah robot, hingga hari ini robot hanyalah berfungsi sesuai program sebagaimana ia dibuat. Robot tidak memiliki keinginan sendiri, apalagi harapan atau impian. Itu perbedaan besar antara manusia dengan robot. Tetapi ada banyak manusia yang lupa terhadap hal ini dan hidup seperti robot. Bekerja, bekerja dan bekerja, seperti terprogram tanpa harapan apa-apa. Mereka hanya melakukan rutinitas seperti halnya sebuah robot. Ada beberapa orang yang saya kenal hidup seperti ini, dan rata-rata kehilangan gairah hidup. Air mukanya tidak lagi cerah, tidak ada kegembiraan. Mereka bukan lagi orang yang saya kenal sebelumnya. Jika ini yang terjadi, maka itu tanda bahwa ia kehilangan jatidirinya sebagai manusia, dan hidup selayaknya robot terprogram.

Hidup memang sulit, dan itu seringkali menjadi sebab terampasnya kebahagiaan dari hidup seseorang. Mereka berubah menjadi pribadi-pribadi kaku dan dingin karena tekanan pekerjaan yang merubah mereka hidup seperti tanpa jiwa. Kemarin saya sudah membagikan renungan bahwa kita hendaknya bisa bekerja dengan hati lapang, agar kita tidak kehilangan semangat, antusiasme maupun gairah dalam hidup, seperti apa yang dikatakan Firman Tuhan, “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 3:23). Hari ini saya hendak melanjutkan dengan satu lagi sikap hati yang baik untuk ditanamkan dalam melakukan aktivitas atau pekerjaan, yaitu bekerja dengan pengharapan. Betapa perlunya kita untuk tetap memiliki pengharapan dalam bekerja, bukan hanya melakukannya tanpa jiwa, tanpa target, tanpa impian dan harapan. Mengapa ini penting? Karena tanpa adanya pengharapan kita tak ubahnya seperti robot yang hanya berjalan sesuai program tanpa kerinduan apapun dalam hati. Lihatlah apa kata Paulus dalam suratnya kepada jemaat Korintus. Pada saat itu ia sedang menyitir sebuah tulisan dalam hukum Musa yang berbunyi: “Janganlah engkau memberangus mulut lembu yang sedang mengirik!” (1 Korintus 9:9a). Apa yang ia kutip ini berasal dari Ulangan 25:4. Dan Paulus kemudian menanyakan, “Lembukah yang Allah perhatikan?” (ay 9b). Lembukah, atau justru untuk kita itu dimaksudkan? Ayat selanjutnya berbunyi: “Atau kitakah yang Ia maksudkan? Ya, untuk kitalah hal ini ditulis, yaitu pembajak harus membajak dalam pengharapan dan pengirik harus mengirik dalam pengharapan untuk memperoleh bagiannya.” (ay 10). Perhatikanlah bahwa Paulus mengingatkan bahwa kita harus membajak/mengirik alias bekerja dalam pengharapan. Ini merupakan sebuah pesan penting yang akan mampu membuat kita terus memiliki tujuan dalam bekerja, bukan sekedar menyambung hidup dari ke hari tanpa harapan sama sekali.

Bekerja tanpa pengharapan akan membuat nyala semangat di dalam diri kita padam. Tanpa pengharapan kita tidak akan bisa tekun dan memberikan hasil yang terbaik. Itu pun akan menolong kita untuk bisa bersikap setia dan berkomitmen baik bagi tempat kita bekerja maupun atas profesi kita. Kemana pengharapan kita harus diarahkan? Paulus dalam surat Korintus di atas mengatakan bahwa penting bagi kita untuk mengarahkan pengharapan untuk memperoleh bagian kita, in expectation of partaking of the harvest. Dan bagian itu sudah disediakan oleh Tuhan dalam Kristus. Alkitab menyatakan dengan jelas bahwa Yesus Kristuslah dasar pengharapan kita (1 Timotius 1:1), dan mengingatkan pula bahwa kita hendaknya “..teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia.” (Ibrani 10:23). Allah setia dengan janjiNya, dan Dia akan selalu menepati setiap janji yang telah Dia berikan. Oleh karena itulah kita pun diingatkan bahwa pengharapan tidak akan pernah mengecewakan. (Roma 5:5).

Tidaklah salah jika kita mengharapkan imbalan atas pekerjaan kita, tetapi jangan menjadikannya sebagai satu-satunya tujuan yang terutama. Biar bagaimanapun, kita diingatkan untuk bekerja sebaik-baiknya seperti untuk Tuhan dan bukan manusia. Itulah yang seharusnya menjadi arah tujuan kita dalam bekerja. Memberi yang terbaik seperti melakukannya untuk Tuhan. Dan Tuhan sudah menyediakan upah bagi setiap kita yang melakukannya. Jangan lupakan pula bahwa bukan hanya dalam pekerjaan dunia atau sekuler, tetapi dalam pelayanan pun kita hendaknya melakukan dengan pengharapan. Meski pekerjaan yang kita lakukan begitu menyita waktu, tenaga dan pikiran, meski semua itu saat ini terlihat seolah-olah menutup segala kemungkinan bagi kita untuk berharap apapun, tetaplah pegang pengharapan dalam Kristus erat-erat, karena Alkitab sudah dengan tegas mengatakan bahwa “..masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.” (Amsal 23:18). Bersyukurlah atas pekerjaan yang anda miliki hari ini, dan tetap pegang teguh janji Tuhan bahwa ada pengharapan di dalamnya, dan itu tidak akan pernah sia-sia.

Keep the light of hope on in everything you do

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply