Friday, 31 October 2014

Demi Semangkuk Kacang Merah

Ayat bacaan: Kejadian 25:32
=====================
“Sahut Esau: “Sebentar lagi aku akan mati; apakah gunanya bagiku hak kesulungan itu?”

semangkuk kacang merahSeorang anak kecil yang belum mengerti nilai uang memegang 10.000 rupiah di tangannya. Kakaknya yang menginginkan uang itu mencari siasat bagaimana mendapatkan uang itu. Ia pun kemudian mengeluarkan uang logam dan berkata: “dik, ini lebih berat dan berkilau. Tentu ini lebih besar ketimbang selembar kertas kecil seperti itu. Ini buat adik, tapi lembaran itu buat kakak saja ya?” Karena tidak mengerti, si adik pun percaya dan mengira uang logam seratus rupiah itu lebih berharga ketimbang uang kertas 10.000 di tangannya. Ia pun tertipu dan malah tertawa bangga, berpikir bahwa ia berhasil memperoleh sesuatu yang menguntungkan, padahal ia baru saja ditipu kakaknya. Kita bisa menertawakan si anak kecil itu, tetapi dalam hidup ini seringkali kita pun tertipu akan hal yang sama dalam bentuk atau wujud yang berbeda. Ada banyak orang yang tergiur dan rela menggadaikan imannya demi kepentingan-kepentingan yang sifatnya duniawi atau kenikmatan sesaat. Apakah untuk kepentingan jabatan, karena takut atau karena jatuh cinta, orang bisa dengan mudah berpaling meninggalkan Tuhan dan segala hak sebagai anak Allah dan ahli waris Kerajaan yang sudah diberikan kepadanya. Hal seperti ini terjadi di sekitar kita sehari-hari. Sebuah kisah antara Esau dan  Yakub menggambarkan hal ini secara simbolis lewat semangkuk kacang merah.

Dikisahkan pada suatu kali Esau pulang berburu dan merasa sangat lelah dan lapar. Ia mencium bau makanan yang lezat yang tengah dimasak Yakub. Tergiur akan wanginya, Esau pun kemudian meminta sedikit kacang merah itu. Ternyata Yakub menolak memberikannya. Yakub hanya akan memberikan semangkuk kacang merah itu jika Esau menjual hak kesulungannya. “Tetapi kata Yakub: “Juallah dahulu kepadaku hak kesulunganmu.”(Kejadian 25:31). Lihatlah betapa mudahnya Esau mengambil keputusan. Tanpa pikir panjang ia menjawab “Sebentar lagi aku akan mati; apakah gunanya bagiku hak kesulungan itu?” (ay 32). Begitu mudah bagi Esau untuk menggadaikan hak kesulungannya, bahkan dengan gampangnya disertai sumpah. (ay 33). Esau memandang hak kesulungan yang ia miliki sebagai sesuatu yang ringan, rendah atau tak berharga  sehingga rela menukarkannya hanya demi semangkuk kacang merah. Apa yang ditunjukkan oleh Esau adalah bagaimana ia memandang rendah berkat dan anugerah Tuhan. Apa yang dijanjikan Tuhan kepada kakeknya Abraham tidaklah main-main. Tapi ia rela menggadaikan itu semua demi kesenangan sesaat. “Lalu Yakub memberikan roti dan masakan kacang merah itu kepada Esau; ia makan dan minum, lalu berdiri dan pergi. Demikianlah Esau memandang ringan hak kesulungan itu.” (ay 34). Esau memilih untuk menyia-nyiakan kasih karunia Tuhan yang berlaku kekal dan dengan mudah menggadaikannya, demi semangkuk kacang merah yang justru tidak lama bisa dirasakan nikmatnya.

Hak kesulungan adalah sebuah hak istimewa yang dimiliki oleh anak sulung untuk memperoleh warisan. Kita tentu tahu seperti apa status anak sulung itu dalam keluarga. Tidak semua orang bisa dengan mudah memperoleh hak kesulungan. Jadi betapa ironisnya apabila ada orang yang sudah memiliki hak ini namun rela menjualnya demi sesuatu yang sama sekali tidak sebanding dengan apa yang diberikan lewat kepemilikan hak kesulungan ini. Sebagai orang yang percaya kepada Kristus sang Juru Selamat dan telah lahir baru, kita menyandang status sebagai anak-anak Allah. Alkitab berkata “Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.” (Roma 8:14). Roh Allah ini akan bersaksi bersama-sama dengan roh kita bahwa kita ini adalah anak-anak Allah. (ay 16). Kemudian, dengan menyandang anak-anak Allah kita menjadi ahli waris Kerajaan pula. “Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” (ay 17). Ini adalah kasih karunia yang begitu istimewa yang seharusnya menjadi sebuah kehormatan besar bagi kita yang sudah menerimanya. Sangatlah keterlaluan kalau anugerah sebesar itu justru kita anggap remeh.

Sebagai anak-anak Tuhan adalah penting bagi kita untuk menjaga diri kita agar tidak bertindak seperti Esau, meremehkan kasih karunia Tuhan dan sanggup menukarkannya dengan kenikmatan yang ditawarkan dunia dalam berbagai bentuk. Kelak Penulis Ibrani kembali mengangkat kisah ini. “Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan.” (Ibrani 12:16). Bagi orang yang rela menjual hak kesulungannya, inilah yang terjadi: “Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata.” (ay 17). Faktanya, saya sudah menyaksikan sendiri banyak contoh nyata akan hal ini dari orang-orang yang saya kenal. Karena itu waspadalah terhadap segala godaan duniawi yang bisa membuat kita melakukan kesalahan fatal menggadaikan hak kesulungan kita. Sebab bagi orang yang menjual hak kesulungannya, tidak peduli sebanyak apapun mereka berseru-seru kepada Tuhan, beginilah akhirnya: “Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” (Matius 7:23). Jangan sampai kita memutuskan untuk melakukan tindakan bodoh yang akan mengakibatkan kita ditolak dan dihapus dari daftar ahli waris Kerajaan Allah.

Penulis Ibrani mengingatkan janganlah kita sampai terlambat untuk memperbaiki kesalahan kita, dan akibatnya sangatlah fatal. Sesal kemudian tidak lagi berguna, tidak peduli sederas apa urai air mata penyesalan kita nanti sekalipun. Ketika kita saat ini masih punya kesempatan, jagalah iman kita dan pertahankan hak kesulungan yang telah dikaruniakan Tuhan kepada kita dengan serius. Bersyukurlah ketika saat ini kita diberi hak yang sungguh istimewa dan terhormat, jangan gadaikan hak kesulungan dengan janji dan berkat berlimpah Tuhan di dalamnya termasuk keselamatan dan mewarisi Kerajaan Allah dengan kenikmatan dan kepentingan duniawi yang sesaat. Hak kesulungan sudah kita peroleh sebagai anak-anak Allah. Dia sudah mengangkat kita sebagai ahli waris yang akan menerima segala janji-janji Allah. Jangan sepelekan apa yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kita. Jika di antara teman-teman ada yang sedang menghadapi dilema seperti ini atau mungkin malah sudah terlanjur melakukannya, berbaliklah segera, sebelum semuanya terlambat. “Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat.” (Wahyu 2:5). Hak kesulungan bukanlah sesuatu yang sepele dan main-main, karenanya peganglah dengan baik dan jangan gadaikan dengan alasan apapun.

Jangan gadaikan kehormatan atas hak kesulungan yang telah dianugerahkan Tuhan dengan kesenangan fana sesaat

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Incoming search terms:

0saves


If you enjoyed this post, please consider leaving a comment or subscribing to the RSS feed to have future articles delivered to your feed reader.

Related Posts to "Demi Semangkuk Kacang Merah"

Response on "Demi Semangkuk Kacang Merah"