Delegasikan

Ayat bacaan: Keluaran 18:18
=======================
“Engkau akan menjadi sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini; sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu, takkan sanggup engkau melakukannya seorang diri saja.”

delegasikan

Rentang waktu perhari sama bagi semua orang, yaitu 24 jam dengan kecepatan berjalannya waktu yang sama pula. Sementara kita yang sibuk sering mengeluhkan kurangnya waktu yang bisa dipakai untuk bekerja, beraktivitas, istirahat dan sebagainya, ada orang-orang yang mampu sukses memimpin beberapa tugas sekaligus atau berdiri di atas beberapa profesi, sembari sukses pula membina rumah tangganya. Bagaimana rahasianya mereka sanggup melakukan itu? Kita kalang kabut dan kelabakan dalam menyelesaikan tugas-tugas kita, sementara sebagian orang itu masih bisa tersenyum bahagia meski tanggung jawab yang mereka jalani jauh lebih banyak dan besar. Seringkali kuncinya terletak pada kemampuan kita memanajemen waktu. Orang-orang yang sukses menjalani beberapa profesi sekaligus dan disamping itu malah masih sanggup melayani rata-rata memberikan kunci yang sama. Kemampuan manajerial waktu tidaklah kalah pentingnya dibanding memanajemen perusahaan atau orang dalam pekerjaan kita sehari-hari. Tentu anda lebih tahu apa yang anda harus lakukan untuk itu, karena ada banyak cara yang bisa dilakukan dan caranya tentu bisa berbeda-beda dalam setiap kasus, tergantung kebutuhan, kapabilitas atau kemampuan masing-masing. Salah satu kesalahan yang sering kita lakukan, kita cenderung ingin menyelesaikan semuanya sendirian. Kita tidak bisa melakukan itu terus menerus dan kemudian mengabaikan tugas-tugas lainnya. Ada banyak orang yang tidak memikirkan keseimbangan dalam menjalani hari, hanya mementingkan satu hal lalu mengabaikan yang lainnya. Keluarga tidak lagi diperhatikan, anak-anak dianggap mengganggu pekerjaan dan akibatnya kita melihat ada banyak anak-anak yang kurang perhatian karena ayah juga ibunya hanya sibuk bekerja. Keluarga menjadi berantakan, jauh dari Tuhan, dan pada suatu ketika nanti situasi sudah sulit untuk diperbaiki. Padahal jika kita mau, mungkin kita bisa mencari jalan dengan mendelegasikan beberapa tugas kepada orang lain.

Mendelegasikan. Itu merupakan salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk mengoptimalkan penggunaan waktu. Kita bisa belajar tentang hal ini dari Musa. Musa dipilih Allah secara langsung untuk sebuah tugas besar yang sangat berat. Membebaskan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir dan ditunjuk untuk menuntun mereka mencapai tanah terjanji yang telah dijanjikan Tuhan kepada Abraham. Itu sama sekali tidak mudah. Bagi sebagian orang bisa jadi terlihat mengerikan. Dalam proses itu Musa menjadi penyambung lidah Tuhan untuk menyampaikan petunjuk-petunjuk Tuhan kepada bangsa yang ia pimpin, sementara jumlah bangsa yang harus ia pimpin tidaklah kecil. Mengingat job desk yang berat itu, agaknya Musa terlalu fokus kepada penunjukan Tuhan atas dirinya, sehingga ia langsung terjun mengurus segalanya sendirian dan lupa akan pentingnya sebuah struktur yang lebih efektif dalam melayani. Ia tidak terpikir untuk mendelegasikan atau menyusun struktur kepengurusan agar bisa lebih efektif dan mau menyelesaikan semuanya sendirian, all by himself. “Keesokan harinya duduklah Musa mengadili di antara bangsa itu; dan bangsa itu berdiri di depan Musa, dari pagi sampai petang.” (Keluaran 18:13). Musa bertindak sendirian menjadi hakim mengatasi perselisihan yang terjadi di antara sesama orang Israel yang memang hobi berseteru dan ribut. Kapan selesainya kalau seperti ini terus? Dalam ayat tersebut kita membaca bahwa Musa seharian duduk mengadili berbagai masalah yang dialami bangsa Israel yang tidak ada habisnya. Yitro, mertua Musa prihatin melihat menantunya dan tahu bahwa apa yang dilakukan Musa itu tidaklah efektif. Dia pun menanyakan “Apakah ini yang kaulakukan kepada bangsa itu? Mengapakah engkau seorang diri saja yang duduk, sedang seluruh bangsa itu berdiri di depanmu dari pagi sampai petang?” (ay 14). Musa pun menyatakan bahwa sebagai yang ditunjuk Tuhan, ia harus memberitahukan ketetapan dan keputusan Allah kepada masing-masing orang. Dan Yitro merasa kasihan melihat menantunya harus bekerja sendirian menghadapi segalanya. “Engkau akan menjadi sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini; sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu, takkan sanggup engkau melakukannya seorang diri saja.” (ay 18). Yitro mengatakan bahwa bekerja sendirian seperti itu dalam mengelola masalah bangsa Israel yang begitu banyak adalah tidak baik. (ay 17). Lalu Yitro pun memberi masukan kepada Musa, memberi usulan agar Musa bisa memakai strategi yang lebih baik, menyusun struktur kepemimpinan yang akan bisa membantu Musa dalam menyelesaikan setiap permasalahan secara lebih cepat, efektif dan efisien. “Di samping itu kaucarilah dari seluruh bangsa itu orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap; tempatkanlah mereka di antara bangsa itu menjadi pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang. Dan sewaktu-waktu mereka harus mengadili di antara bangsa; maka segala perkara yang besar haruslah dihadapkan mereka kepadamu, tetapi segala perkara yang kecil diadili mereka sendiri; dengan demikian mereka meringankan pekerjaanmu, dan mereka bersama-sama dengan engkau turut menanggungnya.” (ay 21-22). Sungguh menarik melihat usulan Yitro agar Musa membentuk kelompok-kelompok yang bertingkat dengan pemimpin masing-masing. Ini akan jauh lebih mempermudah Musa dalam menjalankan perintah Tuhan. Ini gambaran struktur kepemimpinan terawal yang dicatat dalam Alkitab. Musa adalah pribadi yang rendah hati dan mau menerima masukan. Ia tidak menolak dan mendengarkan nasihat mertuanya. “Musa mendengarkan perkataan mertuanya itu dan dilakukannyalah segala yang dikatakannya.” (ay 24). Yitro pun bisa melihat langsung bagaimana menantunya memperbaiki sistem pelayanannya dengan melibatkan orang-orang yang cakap sebagai rekan sekerja sebelum ia pulang kembali ke negerinya. (ay 27).

Dalam salah satu doa Musa kemudian, ia meminta Tuhan memberi hikmat kepadanya untuk mampu menghitung hari-hari. “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” (Mazmur 90:12) Musa menyadari pentingnya meminta hikmat agar ia bisa membagi dan memanfaatkan waktu seefisien mungkin, dan kita pun bisa melakukan hal yang sama. Yang penting adalah menyadari terlebih dahulu bahwa kita tidak akan sanggup mengerjakan semuanya sendirian. Kita perlu menyiasati banyak hal agar bisa memanfaatkan waktu secara optimal. Itu tidak mudah, tetapi itu harus kita lakukan agar hasil yang diperoleh bisa lebih baik lagi dalam banyak hal. Seperti kemarin, kita sudah melihat bahwa Paulus mengingatkan kita untuk mempergunakan waktu yang ada sebaik-baiknya, karena sesungguhnya hari-hari yang kita lalui ini adalah jahat. (Efesus 5:16). Kemampuan memanajemen waktu akan sangat berkaitan erat dengan kemampuan kita mendelegasikan tugas-tugas. Kita tidak akan bisa menyelesaikan semuanya sendirian, dan disaat yang sama meluangkan waktu yang cukup untuk keluarga dan untuk melayani Tuhan. Delegasikan sejauh mana yang bisa anda lakukan. Tanpa itu kita tidak akan bisa mengalami peningkatan. Waktu terbatas, tapi bukan berarti tidak cukup. Kita terbatas, tetapi bukan berarti kita harus jalan di tempat. Bersama Tuhan, milikilah hikmat untuk bisa menyusun jadwal perencanaan yang baik. Manajemen waktu merupakan sebuah hal yang penting untuk kita lakukan jika kita mau mempergunakan waktu seefektif dan seefesien mungkin.

Kemampuan mendelegasikan termasuk strategi terbaik dalam manajemen waktu

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply