Ayat bacaan: Yakobus 4:8a
======================
“Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu.”

Ada beberapa level pertemanan. Ada yang cuma kenal sekedarnya saja, hanya senyum ketika bertemu atau berbicara yang umum-umum saja, tapi ada pula yang benar-benar sudah sangat dekat sehingga kita bisa dengan nyaman bercerita tentang apapun dengan mereka. Mereka ada di saat suka, tetap ada di saat duka. Hubungan kedekatan seperti ini membuat kedua belah pihak akan selalu berusaha memberi yang terbaik, siap turun membantu di saat sahabatnya membutuhkan bantuan, akan ikut bahagia di saat suka lalu sepenanggungan pula di saat susah. Ini akan timbul dan tumbuh dalam hubungan pertemanan yang sudah sangat erat dan dekat. Tidak bertemu atau mendengar apa-apa dari mereka sehari saja sudah membuat kita bertanya-tanya ada apa gerangan dengan mereka. Kita tahu semua yang terjadi dengannya, mereka pun demikian terhadap kita. Level seperti ini tentu tidak bisa dicapai hanya dengan sekedar kenal saja. Dibutuhkan usaha dan proses untuk bisa mengenal seseorang sejauh itu dan kemudian bersahabat karib dengannya. Anda bisa menikah dengan seseorang selama bertahun-tahun tapi belum juga paham terhadap pasangan anda. Anda bisa mengenal seseorang sudah lama tapi tidak tahu bagaimana sifat dan kebiasaannya. Sebaliknya ada orang-orang yang masih relatif lebih singkat waktu kenalnya tetapi mereka bisa cepat membangun hubungan yang karib satu sama lain. Dan itu hanya bisa dicapai apabila keduanya berusaha saling mengenal dengan lebih dalam, saling peduli, saling dukung dan saling bantu. You need efforts in order to know someone better. Dibutuhkan proses dan usaha agar kita bisa mengenal seseorang lebih dekat dan membangun hubungan yang erat.

Jika membangun hubungan dengan sesama manusia seperti itu, demikian pula halnya dengan Tuhan. Ada banyak orang yang mengalami pasang surut hubungan dengan Tuhan. Ada yang terburu-buru memutuskan hubungan dengan Tuhan karena terlalu cepat merasa dikecewakan, ada yang merasa jenuh dan bosan untuk berdoa dan membaca firman Tuhan, dan mulai semakin jarang melakukannya. Ada yang masih tetap membaca alkitab, tapi sebenarnya sudah kehilangan gairah atau tidak lagi merasa mendapatkan apa-apa dari apa yang ia baca. Hubungan menjadi dingin, tidak ada keintiman dan kedekatan sama sekali, yang ada hanyalah kebiasaan. Dalam banyak hal, biasanya itu terjadi karena mereka belum mengenal pribadi Tuhan secara dekat, sehingga dengan mudah terjebak kepada segala sesuatu yang sifatnya hanya kewajiban atau keharusan tanpa mendasarkan segala sesuatu dengan kerinduan untuk mengenal Tuhan lebih jauh lagi, berhubungan erat dan karib denganNya.

Kita tidak bisa mencintai seseorang dengan sepenuh hati, dengan tulus tanpa mengenal siapa mereka dengan baik terlebih dahulu. Dengan Tuhan pun sama. Tanpa didasari pengenalan yang mendalam, kita akan mudah turun naik dalam hubungan kita dengan Tuhan. Ada kalanya Tuhan terasa dekat, tapi ada pula kalanya Tuhan terasa jauh. Apakah Tuhan memang suka datang dan pergi dari hidup kita? Apakah Dia pada waktu-waktu tertentu terlalu sibuk sehingga jauh, dan pada saat lain ketika sedang santai baru mau dekat dengan kita? Adakah Tuhan berlaku seperti itu? Tentu tidak. Tuhan selalu dekat dengan kita. Dia menginginkan sebuah hubungan yang erat atau karib terbangun antara diriNya dengan kita. Dia sudah berjanji tidak akan pernah meninggalkan kita, dan Tuhan selalu setia dengan janjinya. Jika dalam lembah kekelaman sekalipun Tuhan tidak meninggalkan kita, bagaimana mungkin Tuhan berniat jauh dari kita?

Yakobus paham itu, dan ia mengatakan “Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu.” (Yakobus 4:8a). Daud sudah membuktikan itu jauh sebelum masa Yakobus. Kita bisa melihat bagaimana kedekatan atau keintiman yang terbangun antara Daud dengan Tuhan hampir disepanjang kitab Mazmur. Begitu harmonis, begitu dekat, begitu nyata, begitu indah. Lihatlah bagaimana Daud menggambarkan kedekatannya dengan Tuhan. “Sebab kasih setia-Mu lebih baik dari pada hidup; bibirku akan memegahkan Engkau.” (Mazmur 63:3). Bagi Daud, kasih setia Tuhan lebih besar dari hidup itu sendiri. God’s love is larger than life. And that’s a fact. Jika anda mencintai seseorang dengan begitu besar, anda akan rela mengorbankan nyawa anda sekalipun demi dia. Tuhan pun mengasihi anda sebesar itu. Dia sudah mengambil langkah terlebih dahulu dengan hadirnya Yesus menggantikan kita di atas kayu salib agar kita tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.

Jadi jika Tuhan mau menganggap kita sepenting itu dan ingin agar kita bisa dekat denganNya, apa yang bisa kita lakukan agar itu bisa tercapai? Untuk itu diperlukan usaha kita terlebih dahulu agar mengenal pribadi Tuhan, dan bagaimana besar kasihNya terhadap kita. Ketika kita berusaha dengan serius untuk itu, seiring perjalanan waktu pun kita akan semakin dalam mengenalNya, dan dengan demikian mengasihiNya. Kesimpulannya, tanpa mengenal Tuhan, akan sulit bagi kita untuk bisa membangun keintiman yang langgeng untuk waktu yang lama. Kabar baiknya, Tuhan selalu siap untuk dekat dengan kita, Tuhan bahkan rindu untuk itu. Jika kita mendekat kepadaNya, maka Dia pun akan  terasa dekat kepada kita. Kita bisa merasakan secara nyata keberadaanNya dalam hidup kita, kita bisa mengalami Tuhan dan segala yang terbaik yang Dia ingin berikan kepada kita.

Pengenalan yang mendalam akan Tuhan bisa kita peroleh dengan ketekunan membaca dan merenungkan firman Tuhan. Ada begitu banyak ayat yang menggambarkan pribadi Allah ditulis jelas disana, bagaimana kepedulian dan bentuk kasihNya kepada manusia yang diciptakan secara sangat istimewa sesuai gambar dan rupaNya sendiri. Lihat ayat ini: “Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya.” (Efesus 1:5-6). Melalui Yesus, Dia sudah menentukan dan mengangkat kita sebagai anak-anakNya sendiri. That’s His intention from the beginning. Kehadiran Kristus adalah bukti nyata betapa Tuhan sangat mengasihi kita. Kita bisa melihat pula sejauh mana Daud mengenal Tuhan yang Maha Mengetahui dalam Mazmur 139. Oleh karena itulah kita perlu pula melatih diri untuk membangun hubungan yang penuh kejujuran. Tidak ada gunanya berpura-pura di hadapan Tuhan, karena Dia itu Maha Tahu. Karenanya mendekatlah pada Tuhan, berikan diri anda sepenuhnya, akui semuanya, maka Tuhan pun akan  terasa sangat dekat, sehingga anda akan mengenalNya terus lebih dekat dari sebelumnya. Itulah yang diingatkan oleh Yakobus dalam ayat bacaan kita hari ini.

Membangun sebuah hubungan membutuhkan proses dan usaha. Itu tidak bisa tumbuh dengan tiba-tiba. Ada waktu yang harus diisi dengan usaha serius agar kedekatan dalam hubungan bisa terbangun dengan baik. Karena itu mulailah hari ini. Kenali siapa Tuhan yang kita sembah, seperti apa pribadiNya dan bagaimana besar kasihNya kepada kita. Semakin dalam anda mengenalNya, semakin besar pula anda mengasihiNya. Hubungan yang didasarkan kepada pengenalan mendalam tidak akan gampang dihancurkan. Tuhan menanti anda saat ini untuk mendekat kepadaNya. Jika kedekatan dengan sesama manusia saja sudah membawa begitu banyak kebaikan, bayangkan bagaimana luar biasanya jika kita dekat dengan Tuhan. Dia siap membukakan banyak hal yang tidak pernah terpikirkan, bahkan rahasia-rahasia kehidupan yang belum kita ketahui sekalipun siap Dia singkapkan bagi kita yang mengasihiNya dengan sepenuh hati. Kenalilah Tuhan terlebih dahulu dengan baik, mari membangun hubungan denganNya di atas dasar yang kokoh agar hubungan yang kita miliki bukan saja bisa bertahan tetapi harus terus meningkat seiring waktu.

“Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku.” (Mazmur 62:2)

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.