Deadline-nya Kapan?

December 1, 2017Deadline-nya Kapan?


“Deadline-nya kapan?”


Sebagai seorang penulis, pertanyaan itu selalu saya lontarkan setiap kali ada permohonan untuk menulis. Jujur saja, ada perasaan yang selalu bercampur. Di satu pihak, ada rasa terdesak, karena harus menata waktu yang saya punya supaya bisa menyelesaikan tulisan tepat waktu. Pada saat yang sama, ada rasa syukur, karena tenggat waktu yang jelas akan sangat membantu saya untuk bisa “selesai” dengan satu hal, dan melanjutkan dengan hal lain.

Untuk Segala Hal, Ada Deadline

Dalam irama penanggalan liturgi Katolik, sesudah Pesta Kritus Raja, selama pekan terakhir itu, kita diajak untuk kembali menyadari deadline (bukan dateline), tenggat waktu, yang akan menjadi penanda jelas bahwa segalanya akan berakhir. Hidup kita punya deadline yang kita nggak tahu. Seluruh alam ciptaan ini juga punya deadline yang kita nggak tahu. Dengan adanya garis batas itu, mau nggak mau kita dipaksa untuk menata waktu yang kita punya saat ini, di sini.


Ada orang yang sehat, rajin berolahraga, istirahat cukup, pola makan sehat, tiba-tiba meninggal begitu saja. Ada orang yang pola hidupnya amburadul, sungguh tidak sehat, tetapi tetap hidup. Ada yang sedang meniti karier sukses besar menanjak, tetapi tiba-tiba meninggal. Ada yang terseok-seok dengan usahanya, dan tetap hidup dalam hidup yang serba sulit. Tiap orang punya deadline.


Untuk segala hal, ada deadline. Ada deadline untuk proses pertobatan kita. Ada deadline untuk hidup kita. Ada deadline untuk segala mimpi kita. Keluhan bahwa kita tidak punya cukup waktu sebenarnya hanyalah pembenaran diri. Prinsipnya sederhana: untuk tiap hal yang menjadi prioritas, kita pasti akan selalu bisa menyediakan waktu.



“Tuhan menjanjikan pengampunan untuk pertobatanmu, tetapi Dia tidak menjanjikan hari esok atas kesenanganmu dalam menunda-nunda sesuatu.” (St. Agustinus)


Bagi orang yang sedang senang, tentu sulit membayangkan bahwa kesenangan ini akan berakhir. Sebaliknya, bagi orang yang menderita, janji akan adanya garis akhir justru menjadi kabar gembira. Kelak, pada waktu itu, seluruh penderitaan ini akan berakhir.

Deadline Zaman Kita

Di kalangan saudara-saudari Protestan, perhatian terhadap deadline zaman sungguh luar biasa. Coba saja ke toko buku Protestan, dan kamu akan melihat deretan panjang buku-buku tentang akhir zaman. Masing-masing mengaku bisa memastikan kapan dan bagaimana itu terjadi. Di toko buku Katolik, tidak ada bagian khusus untuk tema akhir zaman.


Meskipun demikian, kita percaya bahwa itu pasti akan terjadi. Bagi orang Katolik, irama tahun liturgi sendiri bahkan sudah terus menggemakan kesadaran itu. Maka, daripada sibuk menghitung hari dan tanggal, atau sibuk tanya ke orang pinter, atau sibuk lihat buku atau video ramalan tentang akhir zaman, lebih baik menumbuhkan kesadaran bahwa bagaimana pun juga, segalanya akan berakhir.

Siap Menghadapi Deadline?

Ada yang hidup dalam ketakutan dan terus bertanya, “Siapkah aku jika kiamat tiba?” Sebaliknya, ada yang bersantai dengan pembenaran diri, “Untuk apa aku bekerja keras kalau semua ini akan lenyap?”


Nah, paradoks iman mengajarkan kepada kita dua hal. Pertama, justru karena tahu bahwa segalanya akan berakhir, aku semakin bahagia hidup dalam harapan akan sebuah pembaharuan total. Kedua, justru karena tahu waktu segalanya akan berakhir, aku semakin penuh memberikan diri pada yang harus kukerjakan saat ini.


Tapi OK, bagi yang memang tertarik, cobalah tiap malam menjelang tidur bertanya kepada diri sendiri: “Dari semua yang telah kuperbuat hari ini, mana yang jelas memperlihatkan bahwa aku belum siap jika deadline hidupku jatuh di malam ini?”


Sayangnya sih, kita tidak bisa bertanya kepada Tuhan, “Deadline-nya kapan nih?”


Sumber: Inspire.com

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply