Ayat bacaan: Mazmur 141:8
=====================
“Tetapi kepada-Mulah, ya ALLAH, Tuhanku, mataku tertuju; pada-Mulah aku berlindung, jangan campakkan aku!”

Bagi anda yang memakai smart phone, anda mungkin pernah mendengar istilah dead pixel. Dead pixel atau defective pixel adalah ketika salah satu dari ribuan pixel yang terdapat pada smartphone rusak dan tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Di layar akan terlihat satu titik yang tidak ‘nyambung’ dengan titik-titik lainnya. Meski hanya satu titik, pixel mati ini bisa sangat mengganggu mata dan yang pasti menurunkan nilai jualnya. Semakin banyak pixel yang mati, semakin jatuh harganya dan akan semakin mengganggu pandangan mata.

Meski kita bukan terdiri dari pixel atau berbentuk layar LCD, secara tidak sadar kita pun mengalami situasi-situasi yang sama bagaikan mengalami dead pixel pada diri kita sepanjang perjalanan hidup. Apa yang saya maksud adalah ketika kita mengalami situasi-situasi yang meruntuhkan mental, percaya diri atau bahkan bisa jadi iman kita. Saya beri beberapa contoh. Saya bertemu dengan beberapa orang yang sejak kecil dinomorduakan dibanding saudaranya yang lain, sering dikatakan bodoh, direndahkan di depan orang lain dan berbagai macam perilaku tidak adil lainnya dari orang tua. Mereka ini rata-rata tumbuh menjadi orang yang gambar dirinya tidak utuh dan butuh waktu lama untuk dipulihkan. Ada juga yang sekian lama ditekan istri sehingga tidak lagi punya semangat juang, atau sebaliknya istri yang selalu takut ketika bertemu orang lain karena sering mendapat kekerasan dalam rumah tangga. Anak-anak yang tidak berani menatap lawan bicara dan tidak punya inisiatif karena terus ditekan di rumah, orang yang mengalami kepahitan karena sering menelan perilaku atau ucapan negatif dari orang lain, dan sebagainya. Semua ini bagaikan ‘kematian-kematian’ pada ‘pixel-pixel’ pembentuk diri kita yang jika dibiarkan akan membuat potensi kita tidak keluar, gambar diri tidak utuh dan tidak akan membuat kita tumbuh menjadi manusia seperti yang diinginkan Tuhan.  Semakin banyak ‘pixel mati’ dalam hidup kita, semakin rusak pula hidup dan masa depan kita. Masalahnya, kita setiap hari bersinggungan dengan orang lain dan seringkali sulit menghindar dari orang-orang yang baik sengaja ataupun tidak membuat mental kita ‘down’ baik lewat ucapan maupun perbuatan. Jika demikian, apa yang harus kita lakukan? Apakah Alkitab pernah mengingatkan kita atau memberi cara untuk menghindarinya?

Tentu saja ada. Alkitab sudah memberi kuncinya sejak dahulu kala. Perhatikan kata Daud berikut ini: “Tetapi kepada-Mulah, ya ALLAH, Tuhanku, mataku tertuju; pada-Mulah aku berlindung, jangan campakkan aku!” (Mazmur 141:8). Daud tahu bahwa situasi tidak akan pernah menjadi lebih baik jika ia terus mengarahkan pandangan matanya kepada masalah, pada situasi atau dalam hubungannya dengan orang lain. Keadaan tidak akan menjadi lebih baik jika kita menelan ucapan-ucapan menjatuhkan dari orang lain atau ketika kita menghadapi ancaman dan sebagainya. Yang ada justru sebaliknya, kita akan rugi sendiri. Mental jatuh, hilang percaya diri, hilang semangat, bahkan sukacita dan kedamaian dalam hidup kita pun terampas. Itu bisa dihindarkan jika pandangan mata kita ditujukan kepada arah yang seharusnya, yaitu kepada Tuhan, yang tidak lain adalah Kasih itu sendiri. Pencipta kita sangat mengasihi kita dan Dia sudah memberi segala talenta yang ada pada kita masing-masing. Dia tidak akan pernah merendahkan setiap usaha yang anda lakukan demi namaNya, tak peduli apakah itu dihargai oleh manusia atau tidak. Dia justru akan memberkati usaha setiap anak-anakNya yang telah berupaya dengan sungguh-sungguh memberi yang terbaik, Dia akan selalu siap melindungi kita yang berlindung kepadaNya. KepadaNya-lah mata kita seharusnya tertuju dan bukan kepada orang-orang yang menjatuhkan kita.

Kita perlu tahu bagaimana Tuhan memandang kita. Di dalam Alkitab dikatakan bahwa kita disebut sebagai ciptaanNya yang sangat istimewa. We are His masterpiece, we are created special. Dia menciptakan kita segambar dengan rupaNya sendiri (Kejadian 1:26), kita terlukis dalam telapak tanganNya dan dalam ruang mataNya (Yesaya 49:16), dia mengetahui segala sesuatu akan kita, bahkan jumlah helai rambut kita pun Dia hitung (Matius 10:30). Tuhan tidak pernah menciptakan kita asal-asalan apalagi sia-sia. Dan Dia punya rencana yang indah bagi setiap kita. Apa yang Dia rencanakan kepada kita sejak semula adalah rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, seperti yang disebutkan dalam Yeremia 29:11, untuk memberikan kita hari depan yang penuh harapan. Sebuah ayat indah pada Mazmur mengatakan bahwa kita adalah ciptaan Tuhan yang dahsyat dan ajaib. “Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.” (Mazmur 139:13-14). Dan yang lebih penting lagi, bukankah Tuhan sampai rela mengorbankan AnakNya yang tunggal demi keselamatan kita, yang dengan jelas disebutkan atas dasar kasihNya yang begitu besar, seperti dalam Yohanes 3:16? Semua ini adalah gambaran dari betapa istimewanya kita di mata Tuhan, dalam setiap rencanaNya saat menciptakan kita. Kalau nilai kita seperti itu di mata Tuhan, mengapa kita harus ragu untuk mengarahkan pandangan kepadaNya? Dia tahu keseriusan kita, Dia tahu pergumulan kita, Dia tahu sejauh mana kita berusaha dan Dia akan menghargai setiap jerih payah kita yang sungguh-sungugh.

Jika kita menyadari bagaimana Tuhan memandang kita, seharusnya kepadaNyalah kita mengarahkan mata kita. Dengan melakukan itu maka kita tidak akan gampang jatuh dan kehilangan kepercayaan diri. Seperti ayat bacaan hari ini, selalulah berlindung kepada Allah. Selalulah tujukan mata kepada Allah. Bersama Allah tidak akan pernah mengecewakan, karena bagi Dia, kita selalu sangat berharga. Besar atau kecilnya yang kita lakukan, selama itu kita perbuat dengan sungguh-sungguh dan sebaik-baiknya, itu akan sangat besar nilainya di mata Tuhan. Kita tidak bisa melarang orang untuk mengeluarkan komentar-komentar negatif atas diri kita, namun kita bisa memilih dan memutuskan kemana kita mau memandang. Jika demikian, mengapa tidak mengarahkan pandangan kepada Tuhan sekarang juga?

Hindari ‘dead pixel’ dengan mengarahkan pandangan pada Allah

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.