Days Are Numbered

Ayat bacaan: Mazmur 90:12
=====================
“Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.”

days are numbered, menghitung hari, bijaksana, hikmat

Semakin tua, semakin singkat pula rasanya waktu berjalan. Ini yang saya rasakan. Saya mengingat waktu saya kecil dimana saya kerap kali merasakan waktu berjalan begitu lambat. Begitu lambat sehingga rasanya saya cepat sekali bosan terhadap sesuatu. Tapi sekarang saya merasa waktu berjalan begitu cepat. Rasanya baru bangun, tiba-tiba tanpa terasa waktu untuk tidur sudah tiba. Rasanya baru saja hari senin, tahu-tahu sudah senin lagi. Bulan berlalu dengan cepat, tahun berlalu juga dengan cepat. Tidak terasa kita sudah hampir memasuki bulan ketiga di tahun ini, sementara rasanya baru saja kita merayakan tahun baru. Rasanya waktu seperti komet saja cepatnya. Malam ini saya merenung, sudah seberapa jauh saya memanfaatkan waktu-waktu, hari-hari yang diijinkan Tuhan untuk ada dalam hidup saya. Sudahkah saya memaksimalkan penggunaan waktu dengan seefektif mungkin? Sudahkah saya memakai segala talenta dan berkat dari Tuhan dalam waktu yang disediakan bagi saya untuk kemuliaanNya secara cukup? Begitu banyak pertanyaan, karena saya tahu saya tidak akan selamanya memiliki hari demi hari di dunia ini. Satu saat nanti itu akan berakhir. Dan saya tidak ingin mengakhirinya dengan sia-sia tanpa hasil. Saya ingin berbuah, meninggalkan jejak-jejak yang semoga bisa bermanfaat bagi sesama, dimana nama Tuhan bisa dipermuliakan lewat berbagai penggunaan waktu secara efektif dalam hidup saya. That’s what I want.

Dalam Mazmur 90 kita melihat doa Musa. Musa yang dipakai Tuhan ketika usianya sudah lanjut, bukan sejak muda. Musa menyadari betapa waktu manusia ini sungguh singkat. “Masa hidup kami tujuh puluh tahun, dan jika kami kuat, delapan puluh tahun..” (Mazmur 90:10). Begitu singkat sehingga jika tidak hati-hati, tanpa sadar kita akan menghabiskan masa hidup kita untuk segala sesuatu yang sia-sia. Begitu mudahnya kita disibukkan oleh segala sesuatu yang sesungguhnya tidak berguna. Lingkungan yang sulit, kesulitan hidup, mulai ketakutan ketika kerut-kerut wajah mulai muncul, uban yang mulai terlihat, kecemburuan terhadap orang yang lebih berada dari kita, dan sebagainya, bisa menimbulkan masalah, dan tanpa sadar kita akan mengisi hidup kita dengan berbagai keluhan. Hidup yang dikuasai emosi, penuh amarah, penuh kekesalan, penuh protes dan selalu merasa kurang. Akhirnya kita hidup dengan fokus yang salah, fokus pada segala permasalahan dan kekurangan daripada mensyukuri apa yang telah Tuhan lengkapi bagi kita, yang seharusnya sudah bisa kita manfaatkan untuk menjadi berkat buat orang lain. Di sisi lain, ada pula orang yang memanfaatkan waktunya hanya untuk bermalas-malasan. Tuhan tidak suka dengan hal ini. “Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu? Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata.” (Amsal 6:9-11). Kemalasan bisa mendatangkan kemiskinan, dan itu baru salah satu akibat langsung dari pemborosan waktu yang langsung terasa dalam masa kehidupan di dunia ini. Untuk saat dimana kita menghadap Tuhan pun kita harus bertanggung jawab penuh atas segala yang Dia karuniakan dan untuk apa kita memanfaatkannya dalam hidup kita. “Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.” (Roma 14:12). Tuhan tidak mau waktu yang tersedia bagi kita hanya terbuang sia-sia.

Victor Hugo, pengarang legendaris yang pernah menulis beberapa karya fenomenal seperti Les Miserables dan The Hunchback of Notre Dame suatu kali pernah berkata: “Short as life is, we make it still shorter by the careless waste of time.” Hidup sudah singkat, janganlah kita malah memperpendek hidup dengan membuang waktu secara percuma. Ada begitu banyak talenta yang sudah Tuhan percayakan pada hidup anda, ada begitu banyak yang bisa anda lakukan, ada begitu banyak orang yang bisa anda berkati, dimana semua itu bisa sangat bermakna baik bagi hidup anda, hidup orang lain dan dimata Tuhan. Betapa sayangnya jika waktu-waktu yang ada dalam hidup kita hanya dipakai untuk bermalas-malasan atau hanya dipenuhi keluh kesah. Musa tidak berdoa agar dia diberi kekayaan, diberi umur yang panjang, namun yang ia minta adalah hikmat untuk menghitung hari-hari dalam hidup dengan cermat hingga bisa semakin bijaksana. Untuk dapat memperoleh hikmat, kita harus bermula dari takut akan Tuhan dan selalu berpegang teguh pada firmanNya. “Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.” (Amsal 9:10). Daripada memperpendek hidup yang sudah singkat ini dengan segala keluh kesah dan kemalasan, lebih baik kita mengisi diri kita dengan firman Tuhan terus menerus dan melakukan segala sesuatu sesuai firmanNya. Terus bertumbuh dalam hikmat setiap hari. Fokus pada apa yang penting buat kehidupan kekal. Manfaatkan hari-hari yang ada dengan segala sesuatu yang bermanfaat baik bagi diri anda sendiri, bagi orang lain, dan lakukan semuanya dimana nama Tuhan bisa dipermuliakan. Seperti apa yang dinyanyikan sebuah grup band lawas Alan Parsons Project berjudul Days Are Numbered, demikian cuplikan liriknya: “Days are numbered, Watch the stars, We can only see so far..Someday, you’ll know where you are..” , kita harus terus menyadari waktu kita terbatas dan jangan sampai menyesal di kemudian hari. Apa yang kita tanam hari ini akan menentukan masa depan kita. Jika pertanyaan yang sama hadir buat anda, sudahkah anda menghitung hari-hari anda dan mempergunakannya secara maksimal, bagaimana jawaban anda? Jika anda merasa masih kurang memanfaatkannya, mulailah dari sekarang. God, teach us to number our days, may we all gain a heart of wisdom, because we know now that our days are numbered.

Days are numbered, use it effectively for the glory of God

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply