Dari Ulat Menjadi Kupu-Kupu (1)

0
101

Ayat bacaan: Roma 12:2
====================
“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”

Ada sebuah kata bijak berbahasa Inggris yang berkata “Just when the catepillar thought the world was over… it became a butterfly.” Kalau diterjemahkan kalimatnya seperti ini: “Tepat pada saat ulat mengira bahwa masa hidupnya selesai, ia berubah menjadi kupu-kupu.” Proses terjadinya kupu-kupu dalam dunia biologi dikenal dengan proses metamorfosis. Bagi saya ini selalu menjadi salah satu keunikan kreativitas Tuhan dalam mencipta. Bayangkan, kita jijik kepada ulat tapi menyukai kupu-kupu yang indah dengan sayapnya yang warna-warni. Padahal, keduanya jelas merupakan mahluk yang sama. Tidak ada kupu-kupu kalau tidak ada ulat. Proses metamorfosisnya berawal dari telur, kemudian ulat, lalu kepompong dan pada akhirnya proses metamorfosis bermuara pada lahirnya kupu-kupu yang indah. Ulat tidak menarik secara fisik, geraknya lamban dan merangkak, sedang kupu-kupu sangatlah menarik baik dari segi warna maupun gerakan saat terbang. Sangat unik, proses metamorfosis dari telur hingga menjadi kupu-kupu benar-benar merupakan contoh dari sebuah perubahan total.

Proses yang dialami kupu-kupu bisa kita pakai sebagai model sederhana dari sebuah perubahan kita dari manusia lama menjadi manusia baru. Banyak orang mengira bahwa mereka tidak akan pernah bisa berubah. Mereka lebih suka membiarkan sifat dan kebiasaan buruknya ketimbang memperbaikinya. Sesungguhnya perubahan yang terjadi kita pun tidak kalah menakjubkan. Ketika kita menerima Yesus, kita mengalami proses perdamaian dengan Tuhan. Kita yang tadinya berlumur dosa dan tidak layak untuk selamat, kini dilayakkan untuk memperoleh keselamatan yang besar itu semata-mata lewat kemurahan dan kasih karunia Allah, lewat karya penebusan agung Kristus di atas kayu salib. Dengan demikian, ketika kita bersatu dengan Kristus, kita pun mengalami metamorfosa, menjadi manusia baru sama sekali, the whole new creation. “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2 Korintus 5:17). Dan ini semua, sekali lagi, berasal dari Allah melalui Kristus. “Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya..”(ay 18).

Kita yang tadinya seperti ulat atau larva yang menjijikkan, kini mendapat kesempatan untuk diubahkan menjadi seindah kupu-kupu. Menerima Kristus dan menerima baptisan memungkinkan kita untuk itu. “Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru. Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya.” (Roma 6:4-5). Ketika kita dibaptis sebagai tanda ketaatan dan kepercayaan kita pada Yesus, segala kebiasaan-kebiasaan buruk kita, segala perbuatan dosa kita di masa lalu, semua itu sesungguhnya sudah dimatikan. “Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa.” (ay 6). Kita dipulihkan, dan diubahkan. Karenanya seharusnya kita tidak lagi menghambakan diri kepada dosa, karena tabiat kita yang penuh dosa itu sudah hilang kuasanya. “Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa.” (ay 7).

Kepada jemaat Roma Paulus memberi pesan yang sangat baik untuk selalu kita ingat. “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Roma 12:2). Pesannya jelas. Paulus ingin jemaat Roma bisa benar-benar berubah, menyikapi sebuah metamorfosis yang dianugerahkan Allah dengan sungguh-sungguh, seperti apa yang dialami ulat hingga menjadi kupu-kupu. Gaya hidup, pola hidup, cara pandang dan pola pikir jemaat haruslah berubah. Jika dulunya tidak tahu apa yang berkenan kepada Allah, kalau dulu cara hidup mengikuti pola pikir dan paham dunia, seorang ciptaan baru seharusnya tahu apa yang baik di mata Tuhan. Perubahan harus bisa menjangkau apa yang ada di dalam diri kita. Hidup kita haruslah bergerak, berproses dari ulat menuju kepompong hingga bisa sukses menjadi kupu-kupu.

Paulus menambahkan adalah penting bagi kita untuk bisa sampai kepada tingkat dimana kita pantas mempersembahkan diri kita sendiri sebagai persembahan hidup, kudus dan berkenan kepada Allah. “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Roma 12:1).

(bersambung)

Loading...

Tulis gagasan

Please enter your comment!
Please enter your name here