Dari Sisi Positif

Ayat bacaan: Filipi 4:8
================
“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”

dari sisi positif

Bulan lalu saya meliput di sebuah acara yang diadakan oleh anak-anak SMA. Sebagai wartawan jazz, saya diundang untuk meliput karena ada satu band jazz yang akan tampil mengisi acara tersebut. Saya membawa seorang teman yang bertindak sebagai fotografer. Kami memperkirakan acaranya bakal ramai. Tapi ketika kami sampai disana, yang menonton ternyata hanyalah 20 an anak, itupun yang serius menyimak cuma sedikit. Sound systemnya parah. Bayangkan band harus dua kali terhenti ditengah permainan karena ada masalah pada sound system. Teman saya pun berkata, “garing ah… apa yang mau diulas kalau seperti ini?” Memang acaranya tanpa greget, tapi bagi saya segala sesuatu itu punya dua sisi, seperti halnya mata uang. Artinya, dari acara yang tanpa greget itupun pasti ada sisi baik yang bisa diambil sebagai sebuah ulasan yang baik. Dan malamnya pun saya menulis. Saya mengambil sisi positif. Apa misalnya? Band itu masih tetap bersemangat main dan tidak menggerutu walaupun sound systemnya jelek. Benar cuma ada 20an anak, tapi mereka yang menonton dengan sungguh-sungguh terlihat begitu menikmati pertunjukan. Anak SMA bisa mengerti komposisi jazz yang lumayan rumit dan menikmatinya, itu pun bagi saya merupakan perkembangan yang menggembirakan. Bukankah semua itu hal positif? Dari sana saya mengembangkan artikel ulasan saya. Dan ketika selesai, teman saya pun berkata “pinter banget nulisnya.. great, great,great!” Band jazz dan kordinatornya pun senang. All ended well. Saya yakin tidak ada penyelenggara yang mau acaranya sepi penonton. Bayangkan jika sudah sepi, mereka malah dihakimi oleh pers dan dibaca oleh begitu banyak orang. Kasihan kan? Padahal mereka sudah mati-matian berusaha. Puji Tuhan, saya sudah sekian lama berlatih untuk mendasari hidup dengan sikap positif, seperti yang ditulis dalam ayat bacaan hari ini, dan itu membuat saya mampu mengambil sisi positif dari sebuah situasi. Betapa bergunanya sikap demikian dalam salah satu pekerjaan saya sebagai wartawan.

Profesi sebagai wartawan memang bisa mempengaruhi pembaca. Wartawan yang provokatif akan selalu menyitir bagian-bagian yang negatif tanpa pikir panjang akan akibatnya bagi pembaca. Kalau perlu hakimi satu pihak sejelek-jeleknya untuk mengangkat pihak lain. Wartawan gosip akan selalu membesar-besarkan cerita, malah memutarbalikkan perkataan narasumber demi kepentingan pribadi atau medianya. Judul yang dipilih seringkali jauh dari isi, hanya mencari judul bombastis agar menarik perhatian orang saja. Kembali ke liputan saya diatas, apakah saya membohong agar tulisan saya bisa bernada positif? Tidak, sama sekali tidak. Saya menuliskan hal benar dari apa yang saya amati disana, yang saya lihat dengan kacamata positif.

Mendasarkan sesuatu dari sudut pandang positif itu sungguh baik. Kita akan terhindar dari kebiasaan berburuk sangka, berpikir negatif terhadap segala sesuatu, menyinggung perasaan orang bahkan merugikan diri sendiri. Betapa stresnya jika hidup kita hanya diisi dengan berbagai hal negatif yang dengan cepat dapat membuat kita penuh sumpah serapah, keluh kesah bahkan emosi. Maka Paulus pun mengingatkan pada jemaat Filipi akan hal ini. “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” (Filipi 4:8). Semua itu akan membuat kita hidup penuh sukacita dan tidak akan tertutupi lagi oleh awan negatif yang setiap saat bisa membuka berbagai pintu dosa untuk masuk ke dalam diri kita.

Saya terlahir sebagai orang yang pesimis, yang selalu berpikiran negatif, dan begitu sulitnya melihat sisi baik dari suatu hal. Perlahan namun pasti, setelah bertobat, “menjadi ciptaan baru” seperti yang tertulis pada 2 Korintus 5:17 terjadi dalam hidup saya. Transformasi terjadi. Melalui proses Tuhan ubahkan sifat dasar saya itu. Dan hasilnya, hidup saya jauh lebih damai, dan penuh sukacita. Meski demikian, saya masih terus belajar, karena saya sadar sebagai manusia yang lemah, jika tidak hati-hati saya bisa jatuh kembali pada diri lama saya.

Dalam kisah 12 orang yang diutus Musa untuk mengintai tanah terjanji, tanah Kanaan di kitab Bilangan, kita bisa melihat perbedaan sudut pandang seperti dua sisi mata uang. 10 orang berkata bahwa ada beda kelas antara orang yang tinggal di sana dibandingkan dengan bangsa  yang dipimpin Musa. Bagaikan belalang kecilnya dibanding mereka. (Bilangan 13:33). Demikian pendapat 10 orang. Tapi dua orang lainnya, Kaleb dan Yosua melihat dari sisi positif dengan dasar iman yang sepenuhnya percaya pada Tuhan. Demikian kata Kaleb: “Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!” (ay 30). Mengapa Kaleb bisa begitu yakin? Karena Kaleb tahu pasti bahwa tanah itu adalah tanah yang dijanjikan Tuhan. Maka jika Tuhan sendiri yang menjanjikan, dan Tuhan pun menyertai mereka, mengapa harus takut?

Demikianlah hidup. Seringkali kita dihadapkan pada berbagai hal, dimana hal tersebut bisa kita pandang dari dua sudut yang berbeda. Pilihan terhadap sisi negatif akan membuat kita lemah, hidup penuh amarah, kekecewaan, kegelisahan, ketakutan yang sama sekali jauh dari sehat. Disisi lain, ada sudut positif yang akan membawa damai sejahtera dan sukacita sepenuhnya bagi hidup kita. Tuhan ada bersama kita dalam segala keadaan, sepanjang kita selalu setia dan berharap padaNya. (Mazmur 31:24-25). Hidup akan jauh lebih indah, lebih damai dan lebih bermakna jika kita mengisi pikiran kita senantiasa dengan hal-hal yang positif.

Mendasarkan pikiran kepada kebajikan akan membuat hidup lebih indah

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply