Dari Permisan ke Pasir Putih LP Nusakambangan: Misa Bersama Para Tahanan Hukuman Mati

LP Nusakambangan bySAUDARA-saudari selamat pagi. Pagi ini, saya mau mengajak anda untuk berdoa sebelum beraktivitas dan menimba kekuatan iman dari Sabda Tuhan. Saya mau berkisah pengalaman kunjungan ke Lapas Nusakambangan. Rabu tanggal 15 Oktober 2014 kemarin, saya bersama tim berkunjung ke Lapas Permisan Nusakambangan. Namun karena terhambat di pelabuhan, kami baru bisa menyeberang pukul 09.30 dan tiba […]

LP Nusakambangan by

SAUDARA-saudari selamat pagi. Pagi ini, saya mau mengajak anda untuk berdoa sebelum beraktivitas dan menimba kekuatan iman dari Sabda Tuhan. Saya mau berkisah pengalaman kunjungan ke Lapas Nusakambangan.

Rabu tanggal 15 Oktober 2014 kemarin, saya bersama tim berkunjung ke Lapas Permisan Nusakambangan. Namun karena terhambat di pelabuhan, kami baru bisa menyeberang pukul 09.30 dan tiba di Lapas Permisan pukul 10.00. Setelah pemeriksaan di pos, kami masuk ke gereja untuk menyapa para napi.

Saya terkejut karena di dalam gereja sudah ada pendeta yang sedang kotbah. Saya melihat dari luar. Para napi keluar gereja untuk menyambut kami. Saya bertanya kepada koordinator,”Mengapa ada pendeta? Bukankah hari ini jatah Gereja Katolik untuk pelayanan?”.

Seorang napi menjelaskan bahwa mereka telah menunggu hingga pukul 09.30. Mereka kira kami tidak hadir. Kebetulan ada seorang pendeta datang dan pelayanan. Saya merasa ada kesalahpahaman. Padahal, para napi menantikan kami untuk ekaristi. Mereka telah menyiapkan altar dan alat liturgi.

Saya melihat kekecewaan mereka karena keterlambatan kami sehingga diisi oleh pendeta. Akhirnya, kami memutuskan untuk keluar dari Lapas dan bergabung dengan kelompok kami di Lapas Batu/Besi yang terdekat.

Kami bingung karena setelah keluar dari Lapas kendaraan yang mengantar kami sudah pergi. Seorang ibu bertanya kepada seorang petugas untuk meminta tolong mengantar ke Lapas terdekat. Kami disarankan untuk ke Lapas Pasir Putih. Barangkali, ada petugas mau ke pelabuhan.

Kami pun berjalan di siang hari yang penuh terik. Jarak Permisan ke Pasir Putih sekitar 1 km. Kami pun tiba di Lapas Pasir Putih. Kami masuk ke pos dan bertemu dengan seorang petugas dengan wajah galak.

Tanpa disengaja, kami bertemu dengan seorang petugas yang merupakan umat katolik Paroki Cilacap. Kami menceritakan kejadian yang terjadi hingga kami ke Pasir Putih. Lagi-lagi tanpa disengaja, petugas itu menawari kami untuk pelayanan misa di Pasir Putih.

Ke Pasir Putih

Sebab, Romo Carolus OMI yang biasanya memberi pelayanan tidak hadir. Kami menimbang dan memutuskan untuk pelayanan di Pasir Putih.

Lapas Pasir Putih merupakan Lapas Super Maximum Security dimana tempat para napi kelas berat mendapat hukuman. Kami digeledah seluruh tas dan barang bawaan. Setelah dirasa aman, kami diantar petugas ke gereja. Tatapan curiga, tidak bersahabat para napi sungguh mengganggu konsentrasi saya.

Saya terkejut kaget ketika melihat sebuah gereja indah ada di dalam Lapas. Kami masuk dan merasakan keteduhan gereja. Seorang napi yang baru saja membereskan peralatan liturgi kaget. Koq tiba-tiba ada rombongan datang dan mau misa. Mereka tahu bahwa Romo Carolus tidak hadir. Sehingga mereka kembali ke sel dan pekerjaan mereka masing-masing.

Tatapan curiga

Petugas tadi meminta seorang napi tadi untuk mengumumkan ada pelayanan misa. Seorang napi tadi kaget, tetapi senang karena ada pelayanan misa. Kami menunggu 30 menit. Satu per satu napi hadir dengan tatapan tidak bersahabat. Mungkin mereka kesal karena seperti dipermainkan. Sebut saja X, koordinator. Orang kristiani ini tahanan hukuman mati dan minta kami untuk memberi penjelasan adanya pelayanan misa.

Saya memperkenalkan diri sebagai imam katolik. Mereka bingung karena biasanya Romo Carolus yang hadir. Namun kali ini seorang romo pribumi yang hadir. Sebab beberapa dari mereka adalah warga negara asing. Mereka mencurigai saya apakah benar saya seorang romo atau romo gadungan.

Tuhan punya rencana indah di balik kesalahpahaman di Permisan. Setelah kami menjelaskan, ekspresi wajah mereka berubah. Mereka tidak lagi curiga. Hati saya tergerak melihat kesedihan hati mereka. Mereka merindukan Yesus sebagai pegangan hidup mereka. Hidup mati mereka ada di Lapas. Pilihan lagu pembuka ekaristi sungguh muncul dari hati.

Ada dari mereka menangis, memegang dada tanda tobat, dan melambaikan tangan.

Bacaan I Ekaristi kemarin tentang Roh dan Daging. Saya mengajak mereka untuk melihat dua sisi yang ada di dalam diri kita. Saya bertanya kepada mereka, “lebih banyak mana daging atau roh?”.

Mereka berteriak semangat “Daging”. Saya merenungkan Salib Yesus. Salib Yesus menyimbolkan relasi kita dengan sesama dan Allah. Jika kita kuat akan daging, maka kita memutus hubungan dengan sesama dan Allah. Yesuslah pemersatu relasi kita dengan sesama dan Allah.

“Siapa yang mau dikuasai Roh Kudus?”, tanya saya.

Seperti halnya anak kecil, mereka berteriak,”saya romo. Saya mau mencintai,rendah hati,penguasaan diri”.

Saya merasa terharu mendengar jawaban mereka tanda pertobatan mereka.

Ekaristi selesai pukul 12. Saya mendekati tahanan X.Ia sudah bisa berbahasa Indonesia. Ia berjanji untuk selalu mohon Roh Kudus menguasai hidupnya. Ia merasa senang karena keluarganya dari luar negri datang mengunjungi. Ia bersyukur karena campur tangan Tuhan sehingga proses hukuman mendapat titik cerah.

Saudara-saudari terkasih, perjumpaan dengan saudara-saudara kita di Lapas mengusik hati untuk menyapa dan mendukung. Hari ini, Yesus dicurigai oleh Orang Farisi untuk bersaksi. Kita pun sering dicurigai. Namun Yesus tetap memegang prinsip teguh untuk tetap bersaksi. Jangan takut tetap bersaksi meski kita dicurigai macam-macam asal memang niat dan maksud kita benar. Yesus selalu beserta kita.

Feel free untuk bersaksi atas nama Yesus Kristus.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply