Dari Penampilan Luar

Ayat bacaan: Yakobus 2:1
=====================
Saudara-saudaraku, sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Tuhan kita yang mulia, janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka.

orang miskin, renungan harian

Saya masih ingat ketika mal pertama kali hadir di kota kelahiran saya. Pada waktu itu, satpam yang menjaga di depan, terutama di depan supermarket seakan-akan memiliki dua wajah. Ketika yang datang orang yang berpakaian rapi dan bersepatu, kelihatan mewah, mereka pun memasang wajah ramah. Tapi sebaliknya bagi yang berpenampilan lusuh, atau sendal jepit. Jangankan belanja, masuk pun mereka tidak diijinkan. Saya merasa heran, kenapa mereka menilai seseorang hanya dari penampilan luar. Apakah orang tidak mampu sudah pasti akan mencuri? apakah orang yang berpenampilan luar mewah sudah pasti tidak mencuri? Kenyataannya begitu banyak orang-orang kaya yang terus menerus korupsi, mencuri uang negara bermilyar bahkan trilyunan. Saya pun jadi ingat sebuah anekdot yang pernah saya baca sekian waktu yang lalu, yang saya lupa sumbernya.

Pada suatu kali ada seorang peminta-minta yang tergerak hatinya untuk datang ke gereja. Di depan pintu dia dihadang oleh para penyambut jemaat, dan diusir ke luar,karena tidak boleh meminta-minta di dalam gereja. Begitu kata mereka. Dia pun duduk di parkiran, dan hanya mendengar sayup-sayup pujian-penyembahan dan kotbah dari luar. Tiba-tiba ada seseorang yang datang mendekatinya dan bertanya, “Sedang apa bapak disini?” Dia menjawab, “saya sedang mengikuti kebaktian..” Kemudian orang itu bertanya, “kenapa tidak masuk saja? Kan lebih jelas kalau duduk di dalam?” Sang peminta-minta menjawab,”saya tidak diijinkan masuk, karena saya kotor..” Si orang menghela nafas dan berkata, “namaku Yesus, saya pun tidak mereka ijinkan ke dalam.”

Perhatian para diaken, para pelayan Tuhan, dan terutama kita anak-anak Tuhan! Sadar atau tidak, kita seringkali memandang sesama kita berdasarkan penampilan luar. Yakobus telah mencontohkan langsung bagaimana orang dengan penampilan mewah disanjung dan diberi perlakuan spesial, diprioritaskan, di beri tempat duduk nyaman dan lain lain. Sementara orang yang biasa-biasa, terlihat lusuh tidak dipandang sama sekali. Beberapa evangelis yang pernah saya dengar kotbahnya juga menceritakan bahwa di beberapa gereja yang pernah mereka datangi hal tersebut masih terjadi. “dari pintu masuk pun sudah begitu terasa perbedaannya..” Yakobus mengingatkan kita bahwa Allah bisa memilih orang miskin sekalipun untuk menjadi ahli waris KerajaanNya, dan menjadi kaya dalam iman (Yakobus 2:5). Di sisi lain, orang-orang kaya juga bisa jahat dan menghujat Tuhan (Yakobus 2:6-7).

Kita perlu belajar agar tidak menilai orang hanya dari penampilan luar saja. Hati kita harus tetap dipasangi kacamata kasih, agar kita bisa melihat dan memperlakukan orang secara adil tanpa memandang siapa orang itu. Ketika kita melihat mereka yang kumal dan tidak mampu, ingatlah bahwa Yesus mencintai mereka. “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Matius 25:40).

Yesus tidak membeda-bedakan dan mengasihi semua manusia, bagaimana dengan kita?

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Comment