Dari Mulut Yang Sama

Ayat bacaan: Yakobus 3:10
================
“Dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi.”

mulut yang sama

“Negara ini sebenarnya berpotensi besar untuk menjadi hebat, sayangnya banyak di antara penduduknya hanya pintar komplain tapi sulit bersyukur.” Itu kata seorang teman yang prihatin melihat kondisi negara yang terus carut marut. Ganti pemimpin tidak berarti segala sesuatu menjadi lebih baik. Terlepas dari tegas tidaknya pemerintah dalam memimpin, teman saya melihat rongrongan dari berbagai elemen masyarakat pun turut andil dalam memperkeruh masalah. “Bagaimana orang bisa kerja kalau digerogoti atau dikomentari terus menerus?” katanya lagi. Apa yang ia bilang memang ada benarnya. Sudah menjadi kebiasaan bagi banyak di antara kita untuk terus mengeluh, memprotes dan mengomel. Certified whiners, katanya, dan sedikit banyak itu tentu akan mempersulit sistem berjalan. Di satu sisi kritikan yang membangun itu memang perlu, dan kita memang dianjurkan untuk mau berlapang dada menerima kritik, tapi di sisi lain kritik yang terus menerus dan berlebihan tentu akan mengganggu proses apapun untuk berjalan dengan baik. Ada banyak orang yang di gereja pintar mengucap syukur, tapi di hari kerja omongannya hanya berisi keluh kesah, bersungut-sungut dan hal-hal negatif lainnya. Alkitab jelas menegur kita mengenai sikap seperti ini.

Yakobus mengingatkan hal tersebut. “Dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi.” (Yakobus 3:10). Ucapan syukur dan umpatan, ucapan berkat dan kutuk, keduanya bisa keluar dari mulut yang sama, dan justru itulah yang seringkali terjadi. Firman Tuhan mengingatkan bahwa itu tidaklah boleh kita lakukan. Apa yang seharusnya keluar dari anak-anak Tuhan seharusnya hanyalah ucapan syukur. Mungkin mudah bagi kita untuk mengucap syukur ketika kita sedang diberkati, tetapi bisakah kita tetap mengeluarkan ucapan yang sama ketika kita sedang mengalami berbagai masalah, mengalami ketidakadilan, tekanan atau problema hidup? Banyak yang memilih untuk mengeluarkan kata-kata negatif, dan itu memang jauh lebih mudah ketimbang mencoba untuk mencari sesuatu yang tetap bisa disyukuri dalam keadaan yang tidak kondusif. Yang terbaik tentu adalah tetap mengucap syukur dalam situasi atau kondisi apapun. Bagaimana caranya? Firman Tuhan berkata: “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (Amsal 4:23). Lalu ayat selanjutnya berkata: “Buanglah mulut serong dari padamu dan jauhkanlah bibir yang dolak-dalik dari padamu.” (ay 24).  Hati disebutkan adalah sumber kehidupan. Kalau begitu, hati yang tetap terjaga baik dan bersyukur akan membuat pikiran kita pun penuh dengan ucapan syukur. Lalu dari sana itu akan berimbas kepada kata-kata yang kita keluarkan lewat mulut kita. Dan lihatlah sebuah ayat yang tidak asing lagi bagi kita sesungguhnya sudah berkata tegas: “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” (1 Tesalonika 5:18). Perhatikanlah kata dalam segala hal, itu artinya bukan pada saat baik saja, tetapi dalam keadaan sulit atau dalam penderitaan sekalipun kita harus pula mampu memandangnya dari sisi positif, sehingga kita bisa tetap mengucap syukur. Dan dikatakan disana, itulah sesungguhnya yang dikehendaki Tuhan dalam Yesus untuk dilakukan.

Keteladanan telah diberikan Yesus sendiri pada masa kedatanganNya pertama kali ke muka bumi ini.Dalam banyak kesempatan Yesus mencontohkan sendiri bagaimana pentingnya mengucap syukur ini. Mari kita ambil contoh ketika Yesus hendak menggandakan lima roti dan dua ikan. “Dan setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, supaya dibagi-bagikan kepada orang-orang itu; begitu juga kedua ikan itu dibagi-bagikan-Nya kepada semua mereka.” (Markus 6:41). Mengucap berkat, atau dikatakan “mengucap syukur kepada Allah” (BIS). Lihatlah kondisi pada saat itu. Menurut logika kita, tentu itu situasi yang rasanya tidak mungkin teratasi. Bagaimana mungkin lima roti dan dua ikan sanggup memberi makan ribuan orang, apalagi mengenyangkan semuanya? Tapi perhatikanlah bahwa Tuhan Yesus mengajarkan untuk tetap mengucap syukur terhadap apa yang masih ada, meski sedikit sekalipun. Kemudian kita bisa menyaksikan sendiri bagaimana ucapan syukur itu bisa menjadi awal dari terbukanya pintu berkat dari Tuhan buat umatNya.

Benar, memang tidaklah mudah untuk bisa tetap bersyukur ketika berada dalam situasi yang tidak baik. Tentu saja jauh lebih mudah untuk mengeluh, menyalahkan kondisi, situasi atau orang lain atas kesulitan yang kita alami. Tapi itu bukanlah gambaran dari anak-anak Tuhan yang berjalan dengan ketaatan penuh kepada kehendak Tuhan. Tuhan tidak pernah menginginkan kita menjadi certified whiners, alias pengeluh/pengomel sejati. Pertanyaannya, adakah yang masih bisa kita syukuri ketika segalanya seolah tidak memihak kita? Tentu saja ada. “Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut.” (Ibrani 12:28). Dalam situasi sesulit apapun, bukankah Tuhan sudah membuka kesempatan bagi kita untuk menerima kerajaanNya yang kekal dan tidak tergoncangkan? Bukankah Tuhan sudah menganugerahkan sebuah kehidupan kekal yang tidak lagi berisi ratap tangis kesedihan atau penderitaan melainkan hanya penuh dengan sukacita kelak, dan itu akan berlaku kekal? Tidakkah itu adalah sesuatu yang seharusnya bisa kita syukuri?

Bagi saya pribadi, kesulitan adalah kesempatan untuk belajar sesuatu yang baru terlebih untuk menyaksikan sendiri bagaimana kuasa Tuhan yang ajaib terjadi secara nyata dalam hidup kita. Bentuk pemikiran seperti itu biasanya bisa membuat saya lebih tenang dan tegar dalam menghadapi persoalan. Berulang kali dalam Alkitab kita bisa melihat bahwa masalah merupakan lahan yang subur bagi Allah untuk menyatakan kuasaNya. Dan itu akan membuat kita mampu untuk terus berpengharapan kepada Tuhan dan terus bersyukur dalam situasi apapun. Saya sudah membuktikannya sendiri, dan jika itu berlaku bagi saya, saya percaya bagi anda pun demikian juga. Mumpung sebentar lagi kita memasuki tahun yang baru, ini merupakan saat yang tepat bagi kita untuk memperhatikan baik-baik apa yang keluar dari mulut kita. Apakah mulut kita sudah berisi ungkapan syukur, kata-kata yang memberkati, menyemangati dan membangun atau justru bersungut-sungut, keluh kesah, meratapi nasib bahkan makian dan kutukan kepada orang lain atau diri sendiri? Berhati-hatilah agar kita tidak jatuh ke dalam sikap bangsa Israel di jaman Musa yang terus bersungut-sungut, meski mereka berulang kali menyaksikan sendiri kebesaran Tuhan dalam perjalanan mereka. Peringatan Tuhan turun lewat Paulus berbunyi seperti ini “Dan janganlah bersungut-sungut, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka dibinasakan oleh malaikat maut.” (1 Korintus 10:10). Sebaliknya, hendaklah kita terus mengeluarkan ucapan syukur dari mulut kita bukan hanya dalam keadaan baik atau satu dua hal melainkan dalam segala hal, karena itulah yang dikehendaki Tuhan dalam Kristus Yesus. Bersiaplah untuk Tahun baru dengan semangat baru, termasuk untuk membenahi hal ini dan mulai serius untuk memperhatikannya.

Dari hati yang terjaga baik akan keluar kata-kata yang baik pula, termasuk didalamnya ucapan syukur

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply