Dari Konflik Menuju Sinergi

Mgr Puja bersama petaniDALAM kehidupan, konflik bisa muncul karena berbagai perbedaan. Perbedaan itu bermacam-macam. Perbedaan cara merasa, cara menilai, kemilikan, prioritas, usia dan sebagainya. Itu bisa menjadi pemicu konflik. Konflik bisa muncul dari internal maupuan eksternal. Di antara kaum agamawan sekomunitas –meskipun spiritualitasnya cukup mendalam– juga bisa muncul konflik. Konflik yang terjadi di antara para pemimpin biasanya berdampak pada umat dan masyarakat. Begitu menyebar di kalangan umat, konflik bisa menjadi lebih hebat. Muncul klik-klikan dan sebagainya. Bahkan ada agamawan menggunakan mimbar kotbah untuk menyerang yang lain. Konflik bisa bermulai dari hal yang sangat sederhana dan manusiawi. Entah masalah kompetensi, senioritas, popularitas, perasaan luka, iri hati dan sebagainya. Konflik bisa menjadi semakin meruncing karena alat komunikasi global. Resolusi konflik Bagaimana pun juga, konflik mesti diselesaikan. Pembicaraan internal berdasarkan iman dan spiritualitas untuk mencari solusi biasanya merupakan cara baik. Kadang kala perlu melibatkan pihak eksternal. Manajemen konflik bisa juga dijalankan. Ini penting tatkala ada pengalaman luka yang tak tersembuhkan dan memiliki dampak luas. Kita hidup dalam realitas Indonesia yang perlu kita sikapi dengan baik. Perbedaan penghayatan beragama kadang menjadi pemicu. Pendirian rumah ibadat menjadi bahan konflik. Pembangunan tempat ziarah juga begitu. Aliran fundamentalisme tidak hanya menyerang gereja, tapi juga tempat ibadah. Ini memprihatinkan masyarakat. Dari satu pihak ada penghayatan keagamaan begitu rupa sehingga muncul sikap komunalisme. Ada juga arus besar sekularisme yang mengarah pada indiferentisme bahkan ateisme. Orang cari jalan baru. New Age adalah bagian dari penghayatan misterium secara baru. Tiga dimensi khas Asia Federation of Asian Bishops’ Conference (FABC) menyebut tiga dimensi khas Asia yakni budaya, agama dan kemiskinan. Keberagaman budaya, di satu pihak bisa menjadi pemicu konflik tapi tatkala disikapi secara lain, bisa menjadi berkah. Inkulturasi atau dialog iman – kebudayaan bisa merupakan salah satu arah solusi. Keragaman agama juga bisa menjadi pemicu konflik namun kita memilih dialog. Keprihatinan besar lain adalah kemiskinan. Ini bukan hanya soal statistik, tapi kita berhadapan dengan realitas orang miskin. Setiap tahun di Indonesia ada 150 ribu anak kecil mati karena soal kesehatan. Solusinya adalah membangun hidup sehat. Pemberdayaan kaum kecil lemah miskin tersingkir dan diffable (KLMTD) kita canangkan sebagai arah dasar (ARDAS) pengembangan dan perwujudan iman. Inilah realitas ini yang kita hadapi. Arah kita adalah menjadikan budaya sebagai strategi pewartaan kabar sukacita. Inkulturasi begitu penting. Intereligius dialog menjadi keniscayaan bukan optional. Keterlibatan pada orang miskin juga merupakan keniscayaan. Munculnya kekerasan Dari konflik yang sering muncul adalah violence. Kita tidak memilih kekerasan. Kekerasan akan berkembang mengikuti hukum spiral. Kini dari hari ke hari, kita melihat semakin keras. Ini akan memunculkan korban. Kekerasan dimana pun yang membawa korban selalu membuat orang terhenyak. Akan selalu muncul spiral kekerasan dan pembunuhan. Bahkan di tempat pendidikan pun ada unsur kekerasan. Di sekolah tertentu, anak-anak kecil diisiksa, dipukul oleh senior. Pernah suatu kali ada anak kelas yang kuat, menantang kakak kelas dan redalah masalah. Spiral kekerasan kadang berhenti sejenak, tapi kadang muncul lagi karena insting itu masih ada di dalam. Kalau terjadi pembunuhan siapa yang bertanggungjawab? Otak. Tapi otak itu tersembunyi, sulit diketemukan. Siapa yang menjadi otak? Tak ada yang bisa menjawab. Setiap tahun mencatat begitu banyak kekerasan bahkan pembunuhan. Bahkan karena tidak yang bisa dibunuh, lantas orang membunuh diri sendiri (suicide). Ada juga vandalisme ke tempat ziarah. Menghadapi kekerasan Bagaimana kita menghadapi kekerasan yang muncul dari perbedaan itu? Saya terinspirasi dari kisah orang Yahudi dan Samaria. Di sana ada perbedaan cara beragama. Yang satu pusatnya di Yerusalem dan satunya di Samaria. Percakapan Yesus dengan wanita Samaria memberi inspirasi. Yesus mengatakan kita membutuhkan penyembah-penyembah yang benar. Ini jalan ketiga. Bukan ekstrem, tapi jalan ketiga. Menjadi penyembah-penyembah yang benar, penyembah Bapa dalam Roh dan kebenaran. Arah solusi yang harus kita tempuh adalah mengalami pengalaman Allah yang sejati dan kita mengambil ke arah yang betul. Dalam hubungan antar agama dan kepercayaan, sekarang dirasakan bahwa toleransi itu tidak cukup. Kalau toleraansi dimengerti membangun kerjasama dengan saudara saja, itu tidak cukup. Kalau toleransi dimengerti menghormati keberadaan juga belum cukup. Dialog intereligius harus dicari dari pengalaman religius yang benar, pengalaman yang menggetarkan dan mempesona (wedi asih). Mesti ada hormat dan juga asih. Tatkala berhadapan dengan agama lain, kita mesti membangun mutual respect dan mutual love. Pengalaman dengan Allah bisa menjadi sumber menyelesaikan konflik dalam kehidupan kita dan dalam masyarakat. Bagaimanapun kita tak boleh membalas kekerasan dengan kekerasan. Kasih akan semakin cemerlang sebagai kasih ketika ditolak. Pada waktu itu kasih akan tampil sebagai kerahiman Allah. Ini salah satu pesan dari ensiklik Deus caritas est (Allah adalah kasih). Sinergi Setiap paguyuban umat beragama kini ditantang untuk berefleksi. Dalam Gereja Katolik, Konsili Vatikan II menyebut gereja sebagai communio, paguyuban. ereja di Asia sebagaimana dirumuskan dalam FABC, tahun 1990 di Bandung, menyatakan gereja sebagai dinamic communion of communities. Di sana ada tegangan antara kesatuan communion dan keberagaman communities. Ini bisa kita hayati dalam perpaduan iman. Ada banyak komunitas yang berdasar pada spiritualitas yang berbeda. Perlu jaringan dan komunikasi agar ada persekutuan. Terinspiriasi dynamic communion of communities itu muncullah jaringan komunitas doa (KODOK). Dari sana diharapkan muncul adorasi, penyembah-penyembah benar dalam Roh dan kebenaran. Dari saja juga diharapkan muncul kesadaran bahwa kelompok mesti hidup dalam jaringan, mereka bersatu sebagai garam dan terang dalam masyarakat. Dengan arah dasar seperti itu, kita perlu suatu sinergia (sun dan ergon). Kita membangun sikap gotong royong, kerja bersama-sama. Ada sinergy by vision and mission, kita bekerjasama karena memiliki visi dan misi yang sama. Kita berpadu karena kesamaan arah dan dasar. Ada sinergy by programs, orang bekerja bersama-sama untuk mengerjakan program yang sama. Akhirnya sinergi itu menjadi energi yang Cberkobar yang mempersatukan. Inilah sinergy by heart. Bukankah gotong royong itu muncul dalam kearifan lokal, keutamaan semenjak Mpu Tantular yang merumuskan Bhinneka Tunggal Ika? Satu hal yang membahagiakan dan perlu dicatat adalah adanya kerjasama dalam membangun komunitas. Ini mesti dipupuk dengan spiritualitas yang bisa menjawab konteks realitas. Kalau konflik menjadi pusat, energi kita habis. Kalau bisa diredam, banyak hal yang bisa disampaikan dan energi konflik menjadi kekuatan untuk solusi. Disarikan dari masukan Mgr. Pujasumarta saat Hari-hari MSF di Muntilan

Mgr Puja bersama petani

DALAM kehidupan, konflik bisa muncul karena berbagai perbedaan. Perbedaan itu bermacam-macam. Perbedaan cara merasa, cara menilai, kemilikan, prioritas, usia dan sebagainya. Itu bisa menjadi pemicu konflik. Konflik bisa muncul dari internal maupuan eksternal. Di antara kaum agamawan sekomunitas –meskipun spiritualitasnya cukup mendalam– juga bisa muncul konflik.

Konflik yang terjadi di antara para pemimpin biasanya berdampak pada umat dan masyarakat. Begitu menyebar di kalangan umat, konflik bisa menjadi lebih hebat. Muncul klik-klikan dan sebagainya. Bahkan ada agamawan menggunakan mimbar kotbah untuk menyerang yang lain.

Konflik bisa bermulai dari hal yang sangat sederhana dan manusiawi. Entah masalah kompetensi, senioritas, popularitas, perasaan luka, iri hati dan sebagainya. Konflik bisa menjadi semakin meruncing karena alat komunikasi global.

Resolusi konflik
Bagaimana pun juga, konflik mesti diselesaikan. Pembicaraan internal berdasarkan iman dan spiritualitas untuk mencari solusi biasanya merupakan cara baik. Kadang kala perlu melibatkan pihak eksternal. Manajemen konflik bisa juga dijalankan. Ini penting tatkala ada pengalaman luka yang tak tersembuhkan dan memiliki dampak luas.

Kita hidup dalam realitas Indonesia yang perlu kita sikapi dengan baik. Perbedaan penghayatan beragama kadang menjadi pemicu. Pendirian rumah ibadat menjadi bahan konflik. Pembangunan tempat ziarah juga begitu. Aliran fundamentalisme tidak hanya menyerang gereja, tapi juga tempat ibadah.

Ini memprihatinkan masyarakat. Dari satu pihak ada penghayatan keagamaan begitu rupa sehingga muncul sikap komunalisme. Ada juga arus besar sekularisme yang mengarah pada indiferentisme bahkan ateisme. Orang cari jalan baru. New Age adalah bagian dari penghayatan misterium secara baru.

Tiga dimensi khas Asia
Federation of Asian Bishops’ Conference (FABC) menyebut tiga dimensi khas Asia yakni budaya, agama dan kemiskinan. Keberagaman budaya, di satu pihak bisa menjadi pemicu konflik tapi tatkala disikapi secara lain, bisa menjadi berkah. Inkulturasi atau dialog iman – kebudayaan bisa merupakan salah satu arah solusi. Keragaman agama juga bisa menjadi pemicu konflik namun kita memilih dialog.

Mgr Puja 1
Bersama orang sederhana menjadi kebahagiaan tersendiri.

Keprihatinan besar lain adalah kemiskinan. Ini bukan hanya soal statistik, tapi kita berhadapan dengan realitas orang miskin. Setiap tahun di Indonesia ada 150 ribu anak kecil mati karena soal kesehatan. Solusinya adalah membangun hidup sehat. Pemberdayaan kaum kecil lemah miskin tersingkir dan diffable (KLMTD) kita canangkan sebagai arah dasar (ARDAS) pengembangan dan perwujudan iman.

Inilah realitas ini yang kita hadapi. Arah kita adalah menjadikan budaya sebagai strategi pewartaan kabar sukacita. Inkulturasi begitu penting. Intereligius dialog menjadi keniscayaan bukan optional. Keterlibatan pada orang miskin juga merupakan keniscayaan.

Munculnya kekerasan
Dari konflik yang sering muncul adalah violence. Kita tidak memilih kekerasan. Kekerasan akan berkembang mengikuti hukum spiral. Kini dari hari ke hari, kita melihat semakin keras. Ini akan memunculkan korban. Kekerasan dimana pun yang membawa korban selalu membuat orang terhenyak. Akan selalu muncul spiral kekerasan dan pembunuhan.

Bahkan di tempat pendidikan pun ada unsur kekerasan. Di sekolah tertentu, anak-anak kecil diisiksa, dipukul oleh senior. Pernah suatu kali ada anak kelas yang kuat, menantang kakak kelas dan redalah masalah. Spiral kekerasan kadang berhenti sejenak, tapi kadang muncul lagi karena insting itu masih ada di dalam.

Kalau terjadi pembunuhan siapa yang bertanggungjawab? Otak. Tapi otak itu tersembunyi, sulit diketemukan. Siapa yang menjadi otak? Tak ada yang bisa menjawab. Setiap tahun mencatat begitu banyak kekerasan bahkan pembunuhan. Bahkan karena tidak yang bisa dibunuh, lantas orang membunuh diri sendiri (suicide). Ada juga vandalisme ke tempat ziarah.

Menghadapi kekerasan
Bagaimana kita menghadapi kekerasan yang muncul dari perbedaan itu?

Saya terinspirasi dari kisah orang Yahudi dan Samaria. Di sana ada perbedaan cara beragama.

Yang satu pusatnya di Yerusalem dan satunya di Samaria. Percakapan Yesus dengan wanita Samaria memberi inspirasi. Yesus mengatakan kita membutuhkan penyembah-penyembah yang benar.

Ini jalan ketiga. Bukan ekstrem, tapi jalan ketiga. Menjadi penyembah-penyembah yang benar, penyembah Bapa dalam Roh dan kebenaran. Arah solusi yang harus kita tempuh adalah mengalami pengalaman Allah yang sejati dan kita mengambil ke arah yang betul.

Dalam hubungan antar agama dan kepercayaan, sekarang dirasakan bahwa toleransi itu tidak cukup. Kalau toleraansi dimengerti membangun kerjasama dengan saudara saja, itu tidak cukup. Kalau toleransi dimengerti menghormati keberadaan juga belum cukup. Dialog intereligius harus dicari dari pengalaman religius yang benar, pengalaman yang menggetarkan dan mempesona (wedi asih). Mesti ada hormat dan juga asih.

Tatkala berhadapan dengan agama lain, kita mesti membangun mutual respect dan mutual love. Pengalaman dengan Allah bisa menjadi sumber menyelesaikan konflik dalam kehidupan kita dan dalam masyarakat. Bagaimanapun kita tak boleh membalas kekerasan dengan kekerasan. Kasih akan semakin cemerlang sebagai kasih ketika ditolak. Pada waktu itu kasih akan tampil sebagai kerahiman Allah. Ini salah satu pesan dari ensiklik Deus caritas est (Allah adalah kasih).

Sinergi
Setiap paguyuban umat beragama kini ditantang untuk berefleksi. Dalam Gereja Katolik, Konsili Vatikan II menyebut gereja sebagai communio, paguyuban.

ereja di Asia sebagaimana dirumuskan dalam FABC, tahun 1990 di Bandung, menyatakan gereja sebagai dinamic communion of communities. Di sana ada tegangan antara kesatuan communion dan keberagaman communities. Ini bisa kita hayati dalam perpaduan iman. Ada banyak komunitas yang berdasar pada spiritualitas yang berbeda. Perlu jaringan dan komunikasi agar ada persekutuan.

Mgr Puja bersama petani
Bersama petani sederhana. (Ist)

Terinspiriasi dynamic communion of communities itu muncullah jaringan komunitas doa (KODOK). Dari sana diharapkan muncul adorasi, penyembah-penyembah benar dalam Roh dan kebenaran. Dari saja juga diharapkan muncul kesadaran bahwa kelompok mesti hidup dalam jaringan, mereka bersatu sebagai garam dan terang dalam masyarakat.

Dengan arah dasar seperti itu, kita perlu suatu sinergia (sun dan ergon). Kita membangun sikap gotong royong, kerja bersama-sama. Ada sinergy by vision and mission, kita bekerjasama karena memiliki visi dan misi yang sama.

Kita berpadu karena kesamaan arah dan dasar. Ada sinergy by programs, orang bekerja bersama-sama untuk mengerjakan program yang sama. Akhirnya sinergi itu menjadi energi yang Cberkobar yang mempersatukan.

Inilah sinergy by heart. Bukankah gotong royong itu muncul dalam kearifan lokal, keutamaan semenjak Mpu Tantular yang merumuskan Bhinneka Tunggal Ika?

Satu hal yang membahagiakan dan perlu dicatat adalah adanya kerjasama dalam membangun komunitas. Ini mesti dipupuk dengan spiritualitas yang bisa menjawab konteks realitas. Kalau konflik menjadi pusat, energi kita habis. Kalau bisa diredam, banyak hal yang bisa disampaikan dan energi konflik menjadi kekuatan untuk solusi.

Disarikan dari masukan
Mgr. Pujasumarta saat Hari-hari MSF di Muntilan

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply