Damai Sejahtera

Ayat bacaan: Yesaya 26:3
===================
“Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya.”

damai sejahtera

Bisakah kita mengontrol situasi dan kondisi di sekitar kita sepenuhnya? Tentu saja tidak. Tidak peduli bagaimanapun kita berusaha, masalah dan konflik akan selalu hadir pada waktu-waktu tertentu, bahkan tidak jarang pada saat yang tidak disangka-sangka. Situasi buruk bisa terjadi kapan saja, mulai dari yang paling sepele atau sederhana hingga yang terparah sekalipun. Pernahkah anda merasa bahwa itulah ujian yang terberat, tetapi kemudian datang masalah lagi yang ternyata jauh lebih berat daripada itu? Semua itu rasanya pernah kita alami, atau jangan-jangan ada diantara teman-teman yang tengah merasakannya. Rasa itu tentu akan bertambah parah kita rasakan ketika menjelang Natal seperti ini, dimana banyak orang sedang bersukacita, berkumpul bersama keluarga, berlibur, bergembira dengan orang-orang yang dikasihinya. Saya tidak sedang menakut-nakuti atau mencoba melemahkan semangat anda. Jika ada di antara anda yang tengah merasakan kepedihan saat ini, saya pun pernah merasakannya. Dan itu adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari. Tapi jangan lupa, dalam keadaan segelap apapun selalu ada titik terang yang berasal dari Tuhan. Dalam keadaan seberat apapun, ada damai sejahtera yang masih bisa kita peroleh. Itu berasal dari Tuhan, dan itu tidak tergantung oleh situasi dan kondisi.

Damai sejahtera di hati kita, itu sangat diinginkan Tuhan untuk kita miliki. Dia bahkan telah mengutus Rohnya untuk itu. Dalam kitab Roma kita bisa melihat hal ini. “Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera. (Roma 8:6). Pikirkanlah itu. Jika Roh Allah tinggal di dalam kita, mengapa kita masih juga bisa kehilangan damai sejahtera? Salah satu alasannya jelas, kita tidak berbuat apa-apa untuk menjaga rasa itu agar tetap tinggal di dalam diri kita. Kita terpengaruh dengan segala situasi bagaikan bunglon yang terus berubah warna tergantung di mana ia berada. Kita tidak mau terus melatih diri kita, dan jika saya ibaratkan dengan otot-otot manusia, bagaimana mungkin otot bisa menjadi kekar dan kuat jika tidak pernah kita latih sama sekali? Otot rohani pun demikian. Itulah sebabnya Paulus mengingatkan Timotius bahwa “Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.” (1 Timotius 4:8). Jika latihan jasmani saja sudah bermanfaat bagi tubuh, apalagi sebuah latihan yang jauh lebih berguna tidak saja dalam kehidupan di dunia, tetapi juga akan sangat berfaedah bagi hidup yang akan datang. 

Jika demikian, apa yang bisa membuat kita tetap memiliki damai sejahtera? Mari kita lihat ayat dalam kitab Yesaya berikut ini. Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya. (Yesaya 26:3). Lihatlah bahwa damai sejahtera akan selalu hadir dari Tuhan kepada orang-orang yang hatinya teguh dan selalu mempercayakan hidup sepenuhnya kepada Tuhan. Itulah kunci agar kita bisa mendapatkan damai sejahtera sejati yang tidak akan terpengaruh oleh situasi dan kondisi yang tengah menimpa kita . Keteguhan hati tidak datang secara instan. Ini adalah sesuatu yang harus terus kita latih agar terus bertumbuh lebih baik dari hari ke hari. Ingatlah bahwa sebenarnya tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bisa berdiri teguh, karena Kristus sesungguhnya sudah memerdekakan kita jauh sebelumnya. Firman Tuhan berkata “Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.” (Galatia 5:1). Sebuah dasar yang sangat kuat sudah diberikan kepada kita. Apa yang harus kita lakukan tinggal melatihnya terus agar tidak menjadi lemah lagi.

Sebuah kunci untuk bisa meneguhkan kita secara jelas disampaikan oleh Petrus. “Dengan demikian kami makin diteguhkan oleh firman yang telah disampaikan oleh para nabi. Alangkah baiknya kalau kamu memperhatikannya sama seperti memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap sampai fajar menyingsing dan bintang timur terbit bersinar di dalam hatimu.” (2 Petrus 1:19). Apa yang meneguhkan kita menurut pengalaman Petrus dan rekan-rekan sekerjanya sesungguhnya jelas, yaitu firman Tuhan, yang telah disampaikan oleh para nabi, yang semuanya hingga hari ini bisa kita renungkan dalam ayat-ayat yang tercantum di dalam Alkitab. Terus membaca dan merenungkan firman Tuhan dengan sepenuh hati akan mampu meneguhkan kita. Lihatlah bagaimana Petrus dan rekan-rekan sekerjanya bisa tetap berdiri teguh tanpa rasa takut dalam mewartakan berita keselamatan, meski bahaya yang mereka hadapi sungguh tidaklah ringan. Nyawa mereka sekalipun mereka serahkan, dan itu semua mereka hadapi tetap dengan damai sejahtera yang memenuhi hati mereka. Apa yang kita hadapi mungkin tidaklah seberat mereka. Jika mereka saja bisa, mengapa kita tidak? Para Rasul sudah membuktikannya sendiri, dan itu sama berlaku bagi kita.

“Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” (1 Korintus 15:58). Perhatikanlah janji Tuhan yang indah ini. Dia sudah berkata bahwa keteguhan kita dalam menghadapi situasi apapun tidak akan pernah berakhir sia-sia. Sebuah otot yang kuat akan mampu mengangkat beban yang lebih berat dibanding kesanggupan orang biasa, demikian pula otot rohani yang kuat akan memampukan kita untuk tetap berpegang teguh dalam pengharapan dan kepercayaan kepada Tuhan. Itulah saat dimana kita tidak akan kehilangan damai sejahtera dan sukacita dalam menghadapi konflik seberat apapun. Itulah saat dimana kita tidak akan bisa digoncangkan oleh badai seganas apapun. Konflik dan masalah akan terus hadir dalam eskalasi yang beragam, tetapi semua itu tidak akan sanggup merampas damai sejahtera dari dalam diri kita jika kita tetap berdiri teguh. Percayakan semuanya kepada Tuhan, jangan goyah, maka tidak ada satupun yang bisa merampas damai sejahtera itu dari diri kita. Mari kita rayakan Natal tahun ini dengan damai sejahtera sejati.

Damai sejahtera berasal dari Tuhan bukan tergantung oleh situasi di sekeliling kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: