Create Your Own God?

Ayat bacaan: Maleakhi 2:17====================”Kamu menyusahi TUHAN dengan perkataanmu. Tetapi kamu berkata: “Dengan cara bagaimanakah kami menyusahi Dia?” Dengan cara kamu menyangka: “Setiap orang yang berbuat jahat adalah baik di mata TUHAN; kepada o…

Ayat bacaan: Maleakhi 2:17
====================
“Kamu menyusahi TUHAN dengan perkataanmu. Tetapi kamu berkata: “Dengan cara bagaimanakah kami menyusahi Dia?” Dengan cara kamu menyangka: “Setiap orang yang berbuat jahat adalah baik di mata TUHAN; kepada orang-orang yang demikianlah Ia berkenan–atau jika tidak, di manakah Allah yang menghukum?”

image yang salah tentang Tuhan

Ada banyak restoran saat ini mengijinkan konsumennya untuk merangkai pesanan mereka sesuai dengan keinginan. Jika dahulu semua tergantung pada menu yang tertulis, saat ini semakin banyak yang memberikan kebebasan bagi konsumen dalam meracik pesanannya seperti yang mereka mau. Penyedia pizza misalnya, banyak diantara mereka yang membebaskan konsumen dalam memilih apa saja yang mereka inginkan untuk dibubuhi di atas pizza. Atau yoghurt yang juga memperbolehkan kita dalam memilih topping. Create your own food, create your own taste, or even create your own flavor. Ini merupakan sebuah strategi jitu untuk menjaring konsumen, karena mereka bias memperoleh sesuatu yang tepat sesuai dengan selera. Itu mungkin baik untuk bisnis, tapi sadarkah kita bahwa terkadang kita pun melakukan hal yang sama dalam memandang Tuhan? Jangan-jangan kelak akan ada istilah create your own God. Apa yang saya maksudkan adalah kecenderungan manusia untuk menempatkan Tuhan tidak pada posisi sesungguhnya melainkan hanya disesuaikan dengan apa yang menjadi selera atau keinginan mereka, atau membentuk image Tuhan seenaknya yang disesuaikan dengan kepentingan pribadi menurut pendapat sendiri.

Mari kita lihat apa yang tertulis dalam kitab Maleakhi berikut ini. “Kamu menyusahi TUHAN dengan perkataanmu. Tetapi kamu berkata: “Dengan cara bagaimanakah kami menyusahi Dia?” Dengan cara kamu menyangka: “Setiap orang yang berbuat jahat adalah baik di mata TUHAN; kepada orang-orang yang demikianlah Ia berkenan–atau jika tidak, di manakah Allah yang menghukum?” (Maleakhi 2:17). Perhatikanlah bagaimana orang bisa dipengaruhi oleh ilusinya sendiri, hingga berani membentuk image baru akan Tuhan yang akan menganggap baik orang yang berbuat jahat, bahkan dikatakan berkenan terhadap kejahatan. Ini adalah sebuah bentuk “create your own God”, yaitu menempatkan Tuhan pada posisi sesuai keinginan kita. Jika kita menikmati dosa, maka kita menganggap Tuhan akan memberi toleransi terhadap dosa-dosa itu. “Ah, sekali-kali tidak apa-apa…Tuhan pasti mengerti.” Atau, “Tuhan kan Maha Baik dan Maha Pengampun, Dia pasti tidak akan apa-apa kalau menyimpang sedikit saja.” Jika tidak hati-hati kita bisa terjebak pada konsep pemikiran demikian, dimana kita tidak lagi peduli terhadap kebenaran firman Tuhan yang sesungguhnya sudah menjelaskan secara rinci seperti apa sebenarnya Tuhan itu dan kemudian berpikir bahwa Tuhan bisa dibentuk sesuai keinginan kita. 

Banyak orang terjebak pada pemahaman yang salah tentang Tuhan. Mereka mengira, jika Tuhan tegas terhadap perbuatan-perbuatan dosa, maka Tuhan pasti akan segera mengganjar langsung di tempat. Bentuk pemikiran ini bahkan bisa ekstrim seperti misalnya langsung tersambar petir atau lenyap seketika ditelan bumi. Tuhan tidak pernah berkenan terhadap perbuatan jahat, dan pada saatnya nanti semua harus dipertanggungjawabkan sepenuhnya. “Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.” (Ibrani 4:13). Itu kebenaran firman Tuhan. Artinya, cepat atau lambat, ganjaran akan datang, dan tidak akan pernah sebuah perbuatan jahat itu berkenan di mata Tuhan. Perhatikan bahwa bahkan dikatakan hal tersebut menyusahi Tuhan. Ilusi tentang Tuhan seperti yang disebutkan dalam ayat dari Maleakhi di atas jelas merupakan sebuah ilusi yang akan sangat fatal akibatnya.

Hati kita merupakan pintu masuk buat berbagai pengaruh, mulai dari yang baik hingga yang buruk. Dalam Yeremia kita bisa membaca: “Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?” (Yeremia 17:9). Hati bisa begitu licik lebih dari apapun. Ketika hati itu sudah membatu maka sulit bagi kita untuk bisa menimbang mana yang benar dan mana yang salah. Hati yang tidak terjaga akan mampu mendatangkan berbagai ilusi-ilusi yang salah mengenai pengenalan akan Tuhan. Disaat demikian kita pun terjebak untuk merancang Tuhan kita sendiri, menurut keinginan dan selera kita sendiri. Betapa berbahayanya jika hal ini terjadi. Itulah sebabnya kita harus selalu menjaga hati kita dengan benar, seperti apa yang diingatkan lewat Firman Tuhan “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (Amsal 4:23). Selain itu kita harus selalu mengisi hati kita dengan Firman Tuhan setiap hari. Menabur Firman itu di tanah yang gembur sehingga bisa tertanam baik, bertumbuh dan berbuah. “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” (2 Timotius 3:16). Mendidik orang dalam kebenaran, itu penggalan terakhir dari ayat tadi. Kita tidak akan tahu apa-apa mengenai kebenaran jika kita tidak mengetahui apa saja isi tulisan-tulisan yang diilhamkan Allah itu seperti yang sudah tertulis dalam Alkitab. Dengan kata lain, bagaimana kita bisa terhindar dari penggambaran Tuhan yang salah apabila kita tidak mengetahui apa-apa mengenai Firman yang berkuasa dan hidup, yang berasal dari Tuhan sendiri?

Ilusi menyimpang mengenai Tuhan bisa fatal akibatnya. Jangan sampai kita tergoda untuk memaksakan Firman Tuhan agar sesuai dengan keinginan pribadi kita, membuatnya sedemikian fleksibel sehingga menghilangkan esensi kebenaran yang terkandung dalam ayat demi ayat. Kita sama sekali tidak punya hak untuk membentuk image tentang Tuhan seenak perut kita sendiri. Jangan sampai kita terjebak untuk membentuk gambaran yang salah mengenai Tuhan dan mengira kita bisa bermain-main dengan bebas dalam dosa. Tuhan telah mengilhamkan sendiri tulisan-tulisan di dalam Alkitab untuk kita sebagai penuntun, penunjuk jalan menuju keselamatan kekal. Berhentilah mentolerir dosa sekecil apapun. Berhati-hatilah dan jangan biarkan ilusi-ilusi negatif membuat kita tergoda untuk membentuk image Tuhan sesuai dengan kepentingan, keinginan atau selera kita sendiri.

Membentuk image Tuhan sesuai keinginan kita bisa membawa konsekuensi fatal bagi keselamatan kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply