Crazy Little Thing Called Love (2)

(sambungan)

Ada sebuah ayat yang sangat menarik dalam 1 Korintus 13:8. Disana disebutkan “Kasih tidak berkesudahan.” Dalam versi English Amplified bunyinya terdengar jauh lebih indah. “Love never fails”. Cinta tidak pernah gagal. Ini adalah sebuah pernyataan yang sungguh kuat tentang kasih. Kasih tidak akan pernah gagal untuk membuat perubahan-perubahan dalam kehidupan kita menuju ke arah yang lebih baik. Saya sering menyatakan ini, seandainya alkitab diperas habis, maka inti sari yang akan kita peroleh adalah kasih. Semua bermuara kepada kasih. Ini pula yang menjadi dua hukum yang terutama yang diberikan Yesus sendiri. “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Matius 22:37-40).

Sekarang pikirkanlah ini. Apabila Allah mengasihi kita sebegitu besar, bukankah kita pun harus mengasihi Tuhan kembali, dan harus pula bisa mengaplikasikan kasih yang sama kepada sesama? Bukankah itu bunyi hukum yang terutama dimana seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi tercakup di dalamnya seperti yang dikatakan oleh Yesus sendiri? Tidakkah keterlaluan jika kita malah mengisi hidup dengan banyak kebencian, iri hati, dengki, ketidakpedulian, kesombongan dan sebagainya? Alkitab sudah mengingatkan dengan keras: “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” (1 Yohanes 4:8). Dan itu benar, mengingat Allah sendiri mengasihi kita semua dengan kasih setiaNya yang melimpah dan sudah membuktikan itu semua. Kita bisa saja mengelak dan berkata bahwa kadar kasih dalam setiap orang itu berbeda-beda, tetapi perhatikan pula bahwa Alkitab sudah menyebutkan bahwa kita semua telah memiliki bentuk kasih yang seperti itu dalam hidup kita! Dalam Roma 5:5 dikatakan: “Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” Dari ayat ini kita bisa membaca dengan jelas bahwa kasih Tuhan TELAH dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita. Bukan akan, bakal atau mudah-mudahan dicurahkan, tetapi SUDAH. Artinya, semua itu sebenarnya sudah kita miliki sepenuhnya lewat Roh Kudus. Tinggal kita yang memutuskan apakah kita mau berjalan dalam hidup ini dengan digerakkan oleh kasih atau kita masih terus berpusat pada kepentingan diri sendiri dan sulit untuk mengasihi dan bersyukur buat orang lain.

Kasih merupakan elemen terpenting yang seharusnya menjadi pola dasar kehidupan kekristenan. Ketika yang lain akan berakhir, tidak demikian halnya dengan kasih. Kasih punya kekuatan yang sangat besar, bahkan Tuhan sendiri bisa digerakkan oleh kasih ini dengan begitu luar biasanya.  Kasih akan terus menuntun kita ke dalam koridor yang benar menuju keselamatan, dan masih akan berlaku di kehidupan kekal nanti. Begitu besarnya arti kasih bagi Tuhan, demikian pula seharusnya bagi kita. Mengasihi bukan hanya kepada sanak saudara, keluarga atau kekasih saja, melainkan harus pula menyentuh orang-orang lain terlebih mereka yang tersisihkan, terbuang, teraniaya dan tengah bertarung melawan kejamnya dunia ini sendirian. Kasih harus mampu menggerakkan kita sejauh itu. That’s how crazy the little thing called love can and should be.

Kasih punya kekuatan besar yang bahkan sanggup menggerakkan Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: