Colosseum berubah menjadi merah hari ini guna mengenang umat Kristiani yang teraniaya

Red-Colosseum

Peninggalan bersejarah paling terkenal di Roma, Colosseum, akan menyala merah hari ini, Sabtu, 24 Februari 2018, sebagai tanda solidaritas dengan semua orang yang dianiaya karena imannya. Perubahan warna, yang akan terjadi hari ini pukul 18.00 waktu Roma atau pukul 24.00 waktu Jakarta, merupakan prakarsa Aid to the Church in Need (Bantuan bagi Gereja yang Membutuhkan), yayasan  kepausan pendukung umat Kristiani yang menderita di lebih dari 140 negara di seluruh dunia.

Philippa Hitchen dari Vatican News melaporkan dari Kota Vatikan bahwa di saat yang sama, di Suriah, Katedral Maronite Santo Elia di kota Aleppo yang dilanda perang dan gereja Santo Paulus di kota Mosul, Irak, akan juga diterangi dengan warna merah, yang melambangkan darah banyak martir umat Kristiani baru-baru ini di sana.

Peristiwa di Roma akan mencakup kesaksian dua keluarga yang menjadi target karena iman Kristiani mereka: suami dan putri bungsu dari Asia Bibi dari Pakistan, yang menerima hukuman mati tahun 2010, serta Rebecca Bitrus dari Nigeria yang selama dua tahun menjadi sandera kelompok ekstrimis Boko Haram.

Eisham Ashiq, anak perempuan dari Asia Bibi, mengatakan kepada wartawan Vatican News itu bahwa keluarga itu yakin ibunya akan segera dibebaskan dari penjara, meskipun mereka harus segera meninggalkan Pakistan, karena keamanannya tidak dapat dijamin. Mereka meminta kepada presiden untuk memberikan pengampunan dan mereka berharap bisa bertemu Paus Fransiskus pada hari Sabtu untuk memintanya mendoakan kebebasannya.

Sedangkan Rebecca Bitrus mengatakan, meskipun menderita di tangan Boko Haram, dia tidak pernah kehilangan kepercayaannya kepada Tuhan. Tidak juga ketika anak laki-lakinya yang berusia satu tahun terbunuh, atau saat dia disiksa dan diperkosa, yang mengakibatkan kelahiran anak lainnya.

Ketika akhirnya berhasil melarikan diri, dia mengatakan bahwa banyak orang mendesaknya untuk menyingkirkan anak itu, namun dengan bantuan para pemimpin Gereja setempat dia belajar menerima dan bahkan mencintai anak dari penculiknya.

Dia mendorong wanita-wanita lain yang disandera di Nigeria untuk terus percaya kepada Tuhan dan dia ingin meminta kepada Paus Fransiskus kalau mungkin untuk benar-benar memaafkan orang-orang yang menyebabkan begitu banyak kesakitan dan penderitaan.

2000 tahun lalu, umat Kristiani disiksa dan dibunuh di Colosseum karena menolak meninggalkan iman mereka. Di banyak negara di seluruh dunia, hal itu masih berlanjut hingga hari ini. Lebih dari 3.000 orang martir Kristen terbunuh tahun 2017 saja. Meskipun cerita mereka jarang menjadi berita utama, para penyelenggara peristiwa kali ini berharap apa yang mereka laksanakan sekarang akan membuat suara mereka terdengar dan ketidakpedulian yang melingkungi mereka berakhir.(pcp berdasarkan Vatican News)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: