Christian The Lion

Ayat bacaan: 1 Korintus 13:8
=====================
“Love never fails” (Amplified Bible)

christian the lion

Sebuah kisah nyata mengenai persahabatan antara manusia dengan singa 40 tahun yang lalu di London kembali beredar di youtube dan menyentuh perasaan banyak orang. Kisah ini bermula pada suatu hari di tahun 1969 ketika dua orang teman John dan Ace melihat seekor anak singa dijual di Harrods, sedang tergeletak kesepian di dalam sebuah kandang berukuran kecil. Mereka pun membeli anak singa itu. Anak singa yang sehari-hari bermain di halaman gereja itu diberi nama Christian. Ketika Christian tumbuh semakin besar, pekarangan gereja tidak lagi dapat menampungnya. Kota London jelas bukan habitat yang baik bagi kehidupannya. Dengan berat hati John dan Ace kemudian merelakan Christian untuk tinggal di Afrika agar ia bisa bertumbuh dalam habitat yang sebenarnya di alam bebas. Setelah setahun berjalan, kerinduan kedua sahabat ini akan Christian membuat mereka ingin mengunjunginya lagi ke Afrika. Ternyata di sana Christian sudah tumbuh menjadi pemimpin kelompoknya dan dikatakan sudah berubah menjadi singa liar. Tetapi rasa rindu mereka ternyata jauh melebihi rasa takut. Mereka pun memutuskan untuk pergi ke Afrika dan menjumpai Christian. Apa yang terjadi ketika mereka bertemu? Ternyata Christian masih mengingat mereka! Christian segera berlari menghampiri dan memeluk mereka. Anda bisa melihat videonya di bawah renungan hari ini. Suasananya begitu mengharukan. Sebuah reuni antara dua manusia dan seekor singa yang sangat menyentuh, sebuah demonstrasi akan betapa luar biasanya kasih yang tumbuh melebihi batas-batas normal. Tidak hanya menyambut dengan mesra, Christian juga kemudian memperkenalkan istrinya kepada John dan Ace. Kisah nyata yang saya angkat hari ini yang juga bisa anda lihat langsung dalam video di bawah adalah sebuah bukti nyata akan kasih, sebuah anugerah luar biasa yang diberikan Tuhan bukan saja kepada manusia ciptaanNya yang istimewa, tetapi juga ternyata diberikan kepada ciptaan-ciptaanNya yang lain, termasuk hewan yang terkenal buas seperti singa.

Yohanes dengan tegas menyatakan bahwa “Allah adalah kasih.” (1 Yohanes 4:8). God is love. God is all about love. Ini sebuah pendeskripsian yang tepat menuju sasaran. Ada banyak orang yang beranggapan bahwa Tuhan itu kejam, pilih kasih, tidak peduli atau terlalu lambat bertindak ketika mereka tengah berhadapan dengan kesulitan. Tetapi Yohanes menegaskan bahwa Tuhan bukanlah seperti apa yang mereka pikirkan. God is love. Dan itu bisa terlihat dari ciptaanNya. Bukan hanya manusia yang diberikan kasih sebagai sebuah anugerah yang sangat indah, tetapi hewan-hewan yang notabene ciptaan Tuhan juga, mereka pun ternyata memiliki kasih sayang. Lewat ciptaan-ciptaanNya kita bisa melihat sendiri cerminan Tuhan sebagai kasih ini, bahkan lewat seekor singa yang seharusnya buas dan liar sekalipun. Atau cobalah bayangkan jika anda duduk dengan seseorang yang anda cintai di sebuah taman yang indah, penuh bunga berwarna warni berkarpet rumput hijau dan beratapkan langit biru cerah, tidakkah anda segera merasakan rasa cinta yang begitu kuat? Tuhan adalah kasih, dan lewat ciptaan-ciptaanNya kita bisa merasakan sendiri bukti dari pernyataan itu.

Jika seekor singa saja bisa memiliki kasih, alangkah ironis jika kita sebagai manusia, ciptaan Tuhan yang istimewa, justru tidak memilikinya. Manusia seringkali menjadi predator bagi sesamanya, dengan tega mengorbankan orang lain demi kepentingan dirinya sendiri atau sekedar tidak peduli terhadap kesulitan orang lain, bahkan temannya sendiri. Sementara hewan-hewan yang buas sekalipun ternyata masih bisa menyatakan kasih, banyak manusia ternyata gagal untuk mencerminkan hal itu. Dan dengan tegas Yohanes menyatakan bahwa “barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” (1 Yohanes 4:8).

Paulus pun menggambarkan penting dan begitu istimewanya kasih dalam banyak kesempatan. Misalnya dalam 1 Korintus 13:1-13, kita bisa melihat bagaimana Paulus memberi gambaran lengkap mengenai kasih ini. “Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.” (ay 1). Menguasai banyak bahasa di dunia? Bahkan bahasa malaikat sekalipun? Tanpa kasih semua itu tidaklah ada apa-apanya, bagaikan gong dan canang yang hanya berbunyi tanpa bermakna apa-apa. Ia melanjutkan “Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.” (ay 2). Memiliki banyak karunia? Mengerti banyak mengenai rahasia-rahasia Kerajaan Allah? Tahu segalanya? Bahkan punya iman yang sanggup memindahkan gunung? Tanpa kasih, semua itu tidaklah ada gunanya. Lalu ia mengatakan “Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.” (ay 3). Suka amal? Rajin menyumbang untuk gereja? Memberi persepuluhan dalam jumlah yang sangat besar? Atau bahkan rela mati demi agama yang dianut? Semua itu tidaklah ada manfaatnya sama sekali apabila tidak didasari oleh kasih. Banyak orang mengira bahwa jika kita semakin banyak memberi sumbangan maka itu artinya kasih pun semakin besar. Padahal kita tahu ada begitu banyak motif dibalik sebuah gerakan amal atau pemberian. Dan apabila apa yang kita beri itu bukan berdasarkan kasih, maka sia-sialah semua itu.

Kasih memang tidak main-main besarnya. Bahkan kasih inilah yang mampu menggerakkan hati Tuhan untuk melakukan misi penyelamatan umat manusia hingga rela mengorbankan Anaknya sendiri, Yesus Kristus untuk mati demi kita semua. Begitulah besarnya dampak sebuah kasih. Maka Paulus pun kemudian menyimpulkannya seperti ini: Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap…Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.” (1 Korintus 13:8,13). Lihatlah bahwa kasih merupakan elemen yang paling besar dan terpenting di antara yang lain. Mengapa? Sebab Allah sendiri adalah kasih. Kata “kasih tidak berkesudahan” dalam ayat 8 di atas dalam versi Amplified Bible diterjemahkan dengan sangat indah: “Love never fails.” Kasih tidak akan pernah gagal untuk menghasilkan perubahan-peruahan dalam kehidupan kita untuk menuju fase yang semakin baik dari hari ke hari.

Dari kisah Christian the Lion di atas kita juga bisa melihat bukti bahwa cinta bisa menembus dan mendobrak sekat-sekat pembatas. Lihatlah bagaimana kasih ternyata mampu tumbuh antara seekor singa dan dua orang manusia. Love knows no limit. Dan jangan lupa pula bahwa sebuah ikatan persahabatan yang tulus dan sejati akan mampu bertahan selamanya. A true friendship last a lifetime. Apa yang kita baca dan lihat dari kisah nyata seekor singa bernama Christian ini hendaknya mampu membuka mata kita akan besarnya nilai sebuah kasih sebagai sesuatu yang merepresentasikan Tuhan sendiri. Sudahkah anda menyatakan kasih hari ini kepada orang lain? Sudahkah anda menunjukkan kasih lewat tindakan-tindakan nyata atau anda masih melupakan teman-teman anda yang terdekat sekalipun? Get back in touch with someone today, and spread the love. You’ll be glad you did.

Singa yang buas saja ternyata memiliki kasih, alangkah ironis apabila kita tidak memilikinya

Video Christian the Lion

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply