Chikungunya

Ayat bacaan: Yakobus 3:5
=====================
“Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar.”

chikungunya, jaga lidah, jaga perkataan

Baru-baru ini salah seorang teman di persekutuan saya terjangkit virus Chikungunya. Dari namanya kita bisa menebak bahwa asal penyakit ini adalah dari Afrika. Chikungunya dalam bahasa Swahili berarti “melengkung ke atas”, mengacu pada gejala penderitanya yang akan melengkung tubuhnya akibat nyeri hebat pada persendian. Gejalanya adalah demam disertai nyeri pada sendi, terutama pada lutut, pergelangan kaki, persendian kaki dan tangan. Penyakit ini disebabkan oleh sejenis virus yang ditularkan lewat nyamuk Aedes aegypti. Jenis nyamuk ini tidak asing lagi bagi kita karena juga merupakan “carrier” dari virus demam berdarah. Bayangkan nyamuk yang kecil, yang akan hancur lebur ketika dipencet sedikit saja, ternyata bisa mengakibatkan penyakit yang lumayan menyiksa, dalam kasus demam berdarah bisa pula mematikan. Chikungunya memang tidak termasuk penyakit yang mematikan, karena biasanya akan berlalu dengan sendirinya dalam jangka waktu tertentu. Namun tetap saja, rasa nyeri yang diakibatkan sungguh menyakitkan dan membuat orang menderita. Teman saya sempat tidak bisa berjalan, dan sempat merasa sakit luar biasa ketika bergerak. Sebulan penuh ia butuh waktu untuk memulihkan kondisinya. Puji Tuhan, sekarang dia sudah sembuh seperti sedia kala.

Kehancuran besar tidak harus mutlak berasal dari hal-hal besar saja. Little things can also cause massive destructions. Nyamuk yang kecil bisa mengakibatkan sakit yang luar biasa. Dalam Yakobus kita melihat sebuah analogi menarik. Yakobus menganalogikan lidah yang cuma kecil ukurannya dibanding tubuh manusia, namun bisa memberi dampak besar, entah itu membawa berkat luar biasa ataupun mendatangkan kutuk. “Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar.” (Yakobus 3:5). Lihatlah betapa api yang kecil sekalipun, dengan sepercik saja bisa membakar hutan yang besar. Begitu banyak kasus kebakaran hutan atau kebakaran rumah bukan berasal dari api yang besar, tapi hanya dari secuil kecil api saja. Demikian pula lidah. Yakobus melanjutkan demikian: “Lidahpun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka.” (ay 6). Lidah sangat sulit unuk dijinakkan. Lidah yang tidak terkendali bisa menjadi buas atau jahat, penuh racun yang mematikan. (ay 8). Lidah yang kecil ini dapat menimbulkan pengaruh yang sangat besar terhadap kehidupan kita maupun kehidupan orang-orang disekitar kita, apakah itu pengaruh yang positif atau negatif. “Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi.” (ay 9-10).

Kita harus mampu menjaga perkataan yang keluar dari mulut kita dengan cermat dan bijaksana. Kita harus berhati-hati dengan apa yang kita ucapkan. Salah satu syarat untuk menumpang dan diam di dalam Kerajaan Tuhan adalah dengan menjaga lidah agar tidak menyebarkan fitnah, celaan atau kejahatan-kejahatan lainnya lewat perkataan. “Mazmur Daud. TUHAN, siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu? Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus? Yaitu … yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya, yang tidak berbuat jahat terhadap temannya dan yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya” (Mazmur 15:1-3). Lidah bisa menjadi setajam pedang, atau mengeluarkan kata-kata pahit seperti panah, yang siap menyerang dan mematikan siapa saja. ( Mazmur 64:3-5). Seperti apa yang kita baca dalam renungan kemarin, “Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.” (Amsal 18:21). Apakah mulut kita mengeluarkan ucapan syukur dan memberkati, atau berisi keluhan, umpatan atau bahkan kutuk, semua tergantung bagaimana kita mampu mencermati lidah secara bijaksana. Lidah lembut adalah pohon kehidupan (Amsal 15a), yang mampu mendatangkan berkat lewat ucapan-ucapan syukur dan puji-pujian kepada Tuhan. Hendaklah kita senantiasa menjaga ucapan-ucapan yang keluar dari mulut kita. Jagalah sungguh-sungguh agar perkataan kita jangan sampai menjadi racun yang mematikan. Penuhi mulut kita dengan ucapan syukur dan pujian, hormat dan kemuliaan bagi Tuhan.

Kuasai lidah, karena lidah yang kecil ini bisa menjadi celah iblis untuk membinasakan kita

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply