Chiayi, Taiwan: Misa Berbahasa Indonesia Pertama Kali di Masa Adven 2014

1. taiwan

AKHIRNYA, terjadilah misa berbahasa Indonesia pertama kali di Chiayi, Taiwan

Waktu menunjukan pukul 16.30 waktu Taiwan. Ada tujuh orang sudah berkumpul di ruangan gereja, cuaca musim dingin menusuk, semua diam tapi gelisah. Hari itu, 14 Desember 2014, dimana harusnya terjadwal pada jam 16.00 ada perayaan ekaristi atau misa Bahasa Indonesia pertama di wilayah Chiayi, yang diadakan oleh KITA Selatan yang meliputi daerah Taiwan bagian selatan (Tainan Kaohsiung,Pingtung dan Chiayi).

Bersama Romo Rudy Usabatan

Sudah setengah jam Romo Rudy Usabatan, seorang romo asal Nusa Tenggara Timur, Indonesia belum ada di situ. Ia sekarang melayani umat katolik Indonesia di Alishan, suatu kawasan pegunungan terkenal Taiwan di wilayah Chiayi yang berlokasi lumayan jauh sekitar 70 km dari tempat acara. Pada akhirnya, pastor yang ditunggu datang juga selang beberapa menit kemudian. Wajahnya sumringah terlukis di antara hadirin. Ternyata pastor terkena juga macet ketika turun gunung menuju ke Minxiong, suatu distrik di Chiayi tempat gereja katolik Saint Theresia berada. (Baca juga: Misa Bersama Keluarga Katolik Indonesia di Taiwan Selatan (KITA)

Romo Rudy bergegas bersiap, dan akhirnya misa berbahasa Indonesia pertama di wilayah Chiayi dimulai. Ada perasaan lega, bersyukur dan bahagia bercampur jadi satu, walau umat yang hadir tidaklah banyak bila dibanding misa di tanah air. Tapi rasa bangga dan syukur bisa bersekutu dan mengadakan misa dengan bahasa Indonesia tercinta di negeri rantau sungguh tak bisa terlukiskan kata-kata indahnya sekaligus bertepatan dengan masa Adven dan waktu itu adalah Minggu Advent ketiga dimana bacaan-bacaan mengacu kepada berita bahagia akan kelahiran sang juru selamat, Tuhan kita terkasih Yesus Kristus.

2.taiwan

Organis dadakan pun jadi untuk memeriahkan misa berbahasa Indonesia pertama di Chiayi, Taiwan.

5.taiwan

Firman Tuhan dibacakan dan didengar dalam bahasa Indonesia di Taiwan.

3.taiwan

Sinergi antar warga katolik Indonesia di Taiwan.

Kerinduan sejak lama

Lengkap sudah kebahagiaan yang dirasakan teman-teman di Chiayi, kerinduan akan kedatangan Imanuel dilengkapi dengan terpenuhinya cita-cita untuk adanya misa berbahasa Indonesia in. Bila di homili pastor berpesan untuk bersiap mewartakan kebahagiaan Natal, maka itu sungguh pasti diamini oleh hadirin sekalian, dimana mereka merasa Bapa sudah memberikan early Christmas gift buat mereka semua dengan diadakannya misa berbahasa Indonesia yang pertama kali di Chiayi ini.

8.taiwan

Menembus dinginnya winter di Taiwan demi kebersamaan merayakan iman di negeri asing, jauh dari tanahair Indonesia tercinta.

Selama ini, teman-teman di Chiayi menghadiri misa berbahasa Mandarin di sekitar Chiayi. Bahkan seringnya misa dengan bahasa Taiyu, dialek asli Taiwan, yang pasti tidak 100% mereka pahami. Dan sungguh suatu kebetulan yang indah, dimana sebelum misa, mereka tidak berharap banyak, pemusik mereka tak ada, solis juga tak ada, lagu pun tak disiapkan, mereka hanya siapkan diri untuk berkumpul dan bersiap merayakan ekaristi bersama.

Tapi sambil menunggu kedatangan pastor, akhirnya terungkap, ada di antara mereka yang bisa memainkan piano, dan ada yang bisa menyanyi, sehingga akhirnya mazmur bisa dinyanyikan dengan solis dadakan. Dan juga ada pula dulunya putri altar, sehingga bisa membantu persiapan misa, sungguh kasih Tuhan bekerja di antara mereka.

Menembus dinginnya winter

Untuk hadirin yang hadir, sebagian besar dari National Chung Cheng University di Minxiong, Chiayi, dan hadir pula perwakilan dari Tainan dengan perjalanan sekitar 1 jam lebih naik kereta. Datang juga seorang saudari KITA (Keluarga Katolik Indonesia di Taiwan Selatan), pekerja Indonesia di Taiwan, yang harus berjuang mendapat izin dari majikan dan menempuh jarak yang lumayan dari daerah pegunungan Guanzhiling di Tainan harus naik bus dan taksi kemudian dijemput dengan sepeda motor, menembus dinginnya udara Taiwan yang sedang ditengah-tengah musim dingin sehingga akhirnya bisa hadir di misa ini.

6.taiwan

Makan bersama usai perjamuan iman bersama Romo Rudy.

Semoga semangat dan kasih Tuhan terus hadir bersama semua hadirin pelopor Misa Indonesia di Chiayi ini sehingga terus berkembang dan bertumbuh di dalam penyelenggaraan Nya terus mengobati kerinduan akan tanah air tercinta.

Seusai misa, seperti kebiasaan kegiatan di KITA Selatan, mereka makan bersama, membuka bekal yang sudah dipersiapkan, sambil beramah tamah untuk saling mengenal satu sama lain. Suasana hangat dan cair, senyum kebahagiaan terus terlihat di wajah-wajah kedelapan orang itu, keluarga baru sudah terbentuk dan beraktivitas bersama.

Kebahagiaan Natal sudah hadir dan nyata di antara mereka. Semoga keluarga kecil bahagia ini terus kuat dalam iman, bertumbuh dalam kasih dan hidup terus dalam pengharapan, dan bisa terus bersatu dengan keluarga besar kami di KITA Selatan dan KITA secara menyeluruh. Amin.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: