Cerpen “OLAN” (4)

SETELAH kejadian itu aku tidak pernah bertemu lagi dengan Olan. Tentu saja dia sudah pergi selama-lamanya. Aku bersyukur. Biasanya setiap bulan Olan pasti nongol. Menyapa dan mengangguku dengan lawakan-lawakan membosankan. Pikiran tentang Olan segera kugeser urusan-urusan yang lebih penting. Malam ini setelah menghadiri resepsi pernikahan teman sejawat di hotel aku pulang dengan istriku. ”Hati-hati, jangan sembarangan […]

SETELAH kejadian itu aku tidak pernah bertemu lagi dengan Olan. Tentu saja dia sudah pergi selama-lamanya. Aku bersyukur. Biasanya setiap bulan Olan pasti nongol. Menyapa dan mengangguku dengan lawakan-lawakan membosankan. Pikiran tentang Olan segera kugeser urusan-urusan yang lebih penting.

Malam ini setelah menghadiri resepsi pernikahan teman sejawat di hotel aku pulang dengan istriku. ”Hati-hati, jangan sembarangan naik taksi.” pesannya. Aku mencegat taksi. Tentu saja taksi pilihan istriku. Aku segera naik, menjejal ke sudut.
”Mau ke mana Pak?”

Sopir itu menoleh ke arahku. Senyumnya hangat menyapa. Tapi, dengan segera aku terpekik ketika tahu siapa yang duduk di bangku sopir. Olan! Dia berada di depanku sambil mengenakan seragam sopir taksi! Astagfirullah, bukankah dia sudah mati? Bukankah dia sudah menemui ajalnya jatuh dari bis? Tubuhku lunglai. Sayup-sayup masih kudengar suara istriku di sebelah. Dia kebingungan melihatku mendadak pingsan.*

Rawamangun, Februari 2001.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply