Cerpen “OLAN” (1)

Namanya Olan, temanku sewaktu di SMA. Badannya kurus pendek, terkesan tidak berbahaya. Wajahnya selalu cerah seperti piring baru dicuci sehingga sering disangka banyak rezeki. ”Anaknya” pintar, selalu dapat rangking, populer dalam pergaulan. Pendek kata tidak ada yang tidak mengenal Olan. Setelah lulus SMA praktis aku tidak pernah bertemu dengannya. Bahkan sampai aku kuliah, lulus, bekerja, berkeluarga dan mengontrak rumah. Sesungguhnya apa yang membuatku tiba-tiba hendak bercerita tentang Olan?
Tentu saja ada yang ingin aku ceritakan kepadamu. Kejadian ini bermula pada suatu malam yang cerah. Ketika aku sedang mengantre karcis di bioskop Megaria bersama istriku. Tiba-tiba seorang lelaki tersenyum kepadaku. Tepat di baris antrean loket sebelah dia menyapa. Mau tak mau kubalas juga senyumannya meski dalam hati aku bertanya: siapa orang ini?
”Mas, siapa sih?” bisik istriku di sebelah. Belum sempat aku menjawab lelaki itu menepuk pundakku.
”Lupa ya? Saya Olan, temanmu SMA.”
”O,” jawabku.
Aku pura-pura ingat. Sekedar basa-basi dan tentu saja tidak ingin mengecewakannya. Namanya juga basa-basi.
”Istrimu?” tanyanya.
”Ya,”
”Kau?”
”Sendirian.”
”Pulang kerja?”
”He-eh,”
Pembicaraan terputus. Di depanku loket karcis sudah dibuka. Dengan segera segenap perhatian beralih ke loket. Seperti dikomando masing-masing segera mengeluarkan dompet dari dalam tas atau saku celananya. Aku sudah tak menghiraukan Olan lagi sampai aku mendapatkan karcis, menonton film dan pulang ke rumah.
Perjumpaanku yang kedua dengan Olan terjadi di sebuah restoran. Kala itu aku hendak makan siang di restoran seberang kantor. Aku sengaja makan di sini karena bosan dengan menu kantin. Selain itu aku juga sedang ingin menyendiri. Cari suasana baru. Restoran ini sepi. Kakiku segera melangkah di pojok. Sekali-kali merasakan makanan mewah, pikirku. Bagiku ini termasuk hiburan. Bisa melupakan sejenak pekerjaan membaca laporan-laporan yang memualkan. Sayang, kesendirianku segera sirna. Seseorang menyapa. Dalam hati aku mengeluh, ada saja yang mengenalku.
”Hai! Ketemu lagi kita!”
Aku bengong. Tentu saja aku tidak ingat kapan pernah bertemu. Dia langsung mendekati diriku. Ia mengulurkan tangannya. Aku menjabat tangannya dengan gaya seorang Walikota berjabatan dengan Sultan, asal sentuh. Sebaliknya, lelaki ini menjabat tanganku dengan erat sekali, meremukkan dan mengguncang-guncang.
”Wah, senangnya. Aku bangga dapat mentraktir seorang seniman!”
Seniman? Apakah potonganku seperti seorang seniman? Orang ini siapa sih? Mati-matian aku berusaha mengingat-ingat.
”Bekerja di mana sekarang?” tanyanya.
”Di situ.” jawabku seraya menunjuk ke arah ruko yang letaknya berseberangan dengan restoran ini.
”Wah, hebat! Gajinya besar dong? Terakhir kita ketemu di bioskop kamu nonton dengan istrimu ya? Kapan menikah?” berondongnya.
Satu-satu aku menjawabnya meski dalam hati terus bertanya-tanya: siapa dia. Untung pertanyaan itu segera terjawab terutama ketika dia menyebut nama SMA-ku. Perlahan aku ingat, dialah Olan. Manusia paling populer di sekolah. Meski bukan termasuk teman dekatnya tapi siapa dulu nggak kenal Olan?
”Meski bekerja masih tetap menulis cerpen kan?”
Aku terkejut. Orang seperti Olan baca juga tulisan saya.
”Masih, masih.”
”Ada rencana membuat buku?”
”Ada. Tapi ditunda dululah. Biaya cetak sekarang mahal. Bukankah penulisnya sendiri juga harus punya duit? Ngomong-ngomong Olan sekarang kerja di mana?”
Olan terdiam sejenak. Ekspresinya berubah. Pertanyaan ini tampaknya kurang mengenakkan hatinya.
”Masih yang dulu…”
”Yang dulu apa? Kita kan sudah lama tidak ketemu…”
”Masak lupa? Waktu SMA…”
”O, jadi kamu pemain band? Musisi?”
Olan mengangguk. Aku segera teringat. Ya, ya. Olan dahulu membentuk band. Dia main gitar. Aku ingat bandnya sering memenangkan penghargaan festival musik sekolah dan tak pernah absen mengisi acara perayaan di sekolah kami.
”Sekarang aku main di Salsa Club setiap malam Minggu.”
”Baguslah. Kapan-kapan aku mampir.”
”Bagus apa? Aku bosan! Main memang rutin tiap malam Minggu tapi hari-hari lain kan sama saja seperti orang menganggur!”
”Bosan?”
”Niatku dulu kan masuk studio, rekaman, masuk tipi. Eh, nyatanya begini-begini terus.”
”Ya, sabarlah…”
”Sabar bagaimana? Aku kan sudah tua?”
”Kan bisa kerja lain? Katamu dulu sempat kerja di periklanan?”
”Iya, sih. Tapi aku masih nggak bisa melupakan obsesiku itu….”
Kami makan sambil ngobrol. Lumayan, katanya Olan yang traktir. Aku bersyukur. Barangkali memang Tuhan sengaja mengutus Olan datang kepadaku. Olan masih seperti dulu. Suka bergurau. Memang kebanyakan gurauan zaman dulu, basi. Tak apalah. Namanya juga ditraktir. Sekarang Olan tampil trendy, rambut disisir mengkilat, handphone tersangkut di pinggang.
”Eh, aku mau beli koran sebentar.” kata Olan.
Olan ngeloyor. Sebentar kemudian dia kembali lagi.
”Penjual koran nggak ada uang kecil. Pinjam dulu ya? Nanti habis makan aku kembalikan!”
Aku menyerahkan dua lembar ribuan.
”Wah, baca koran sekarang harus lebih dari satu, kawan. Sekarang biar kejadiannya sama, wawancaranya sama, beritanya beda!”
Aku menyodorkan selembar ribuan. Olan menghabiskan sisa makanannya sebelum mengambil uang yang kutaruh di depannya. Setelah menggenggam uang Olan menuju kasir. Entah dia bicara apa. Setelah itu dia keluar. Tapi setelah sekian lama Olan belum juga kembali. Aku gelisah. Makanan dan minuman di depanku sudah licin tandas. Aku bangkit dan berjalan ke pintu, celingak-celinguk, lihat kiri-kanan. Olan masih tetap tak kelihatan batang hidungnya.
Penjual koran yang kebetulan sedang mangkal dekat situ segera kutanya apa tadi ada orang kurus pendek membeli koran. Yang ditanya mengangkat bahu. Tapi ia melihat orang keluar dari restoran ini langsung naik metromini. Ha!?
Aku menuju kasir. Belum sempat ngomong kasir menyodorkan rekening.
”Engg…teman saya yang tadi itu ke mana ya?”
Dengan polosnya aku bertanya. Syukur-syukur dijawab.
”Sudah pulang. Katanya buru-buru ada urusan penting di rumah.”
”Lho?”
”O, ya dia juga pesan katanya Bapak yang bayar…”
”Sialan!” umpatku. Kepalang basah aku keluarkan uang dari dompetku.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply