[CERPEN] Gereja Tak Mampu Berteriak

HARI itu, tanggal dua puluh lima bulan sepuluh tahun dua ribu sembilan, aku menerima surat dari orangtuaku. Surat yang berstempel tanggal, bulan dan tahun sekian. Surat yang dikirim dari desa. Surat orang kampung. Tentunya, bahasanya pun orang kampung. Suratnya orang kampung identik bau karena jarang mandi. Buta huruf. Hidup dari belis/ adat. Suka main judi. […]

HARI itu, tanggal dua puluh lima bulan sepuluh tahun dua ribu sembilan, aku menerima surat dari orangtuaku. Surat yang berstempel tanggal, bulan dan tahun sekian. Surat yang dikirim dari desa. Surat orang kampung. Tentunya, bahasanya pun orang kampung. Suratnya orang kampung identik bau karena jarang mandi. Buta huruf. Hidup dari belis/ adat. Suka main judi. Suka naik istri/ suami orang. Suanggi. Pemabok. Pemalas. Pemokol. Pencuri. Malas ke tempat ibadat untuk berdoa bersama. Malas mengikuti aturan desa. Rambut tidak pernah disisir. Gigi tidak pernah disikat. Pakaian dicuci dengan asam. Air untuk mandi, cuci dan masak selalu kotor.

Banyak hewan tapi gadis gadisnya dijadikan budak seks dengan alasan pergi bekerja ke luar negeri. Anak laki laki berlaku preman dan sok bupati kecil jika ada warga baru yang menetap untuk beberapa lama di desa. Kematian dan kelahiran datang silih berganti. Makanannya cuman singkong, jagung, talas/ maek, jagung titi, tapi gayanya minta ampun. Parfum pewanginya dipinjam tetangga sebelah rumah buat pewangi tubuh bila mau mengikuti pesta. Dan di pesta makannya segunung, kayak babi kelaparan. Padahal, diundang untuk bantu pasang tenda, tidak mau. Rambutnya berkutu kepala.

Tubuhnya berpanu, kadas, kurap dan epilepsy. Wajahnya berjerawat. Rambut keriting. Hidungnya pesek kayak hidung babi. Punya handpone, tapi handpone curian. Makan sehari cuman sekali, tapi selingkuh, adat, berkelahi, suanggi jalan terus. Hidup boros kayak anak orang kaya, padahal di dompet cuman terisi surat cinta. Dikirim orangtua buat kuliah, tapi sampai di kampus cuman baku naik, buat anak. Jika ketahuan hamil, kandungannya digugurkan dengan beragam cara. Terlibat seks bebas dan narkoba.
Surat itu beramplop warna putih. Aku tidak tahu, kenapa orangtuaku mengirim surat untukku? Batinku berkelahi dalam menemukan jawabannya. Pikiranku kacau balau, kayak barusan orgasme. Aku membuka surat itu.

Isi suratnya demikian. Anak, kabar kami di desa baik adanya. Mama dan Bapak selalu bekerja keras, buat kecukupan rumah tangga kita. Kedua adikmu masih kecil, sehingga masih digendong. Lopez barusan berusia empat tahun semenjak kau pergi ke daerah lain untuk menuntut ilmu. Sedangkan Agatha kini genap berusia dua tahun. Terkadang, Mama dan Bapak memikirkan kau. Bapak tipe pekerja keras, sehingga jarang di rumah. Mama memanfaatkan waktu yang ada dengan menenun. Mama hanya mempunyai bekal keterampilan cuman menenun. Bapak bisa bekerja apa saja, karena Bapakmu itu banyak pengalaman walau pun cuman sebatas SMP. Mama cuman sebatas kelas 4 SD.

Mama sengaja tidak mau melanjutkan pendidikan di SD karena keluarganya Mama miskin. Kedua orangtuanya Mama telah tiada. Sehingga setelah Mama menerima Komunio pertama di Gereja, Mama memutuskan untuk berhenti sekolah. Waktu itu, Bapakmu yang berpura-pura membantu Mama untuk melanjutkan sekolah. Namun tak disangka-sangka, Bapakmu telah dua kali meniduri Mama di rumahnya. Perlahan-lahan Mama merasakan betapa nikmatnya melakukan seks. Hampir setiap malam Bapak dan Mama melakukan seks di kamarnya. Waktu itu, Mama sudah berusia dua belas tahun. Dan juga Mama sudah datang haid. Pada minggu ketiga, sehabis Mama datang haid, Bapak membujuk Mama untuk melakukan hubungan seks. Sehingga dari itu, pada bulan berikutnya Mama merasakan aneh di dalam tubuh Mama. Dimana Mama tidak datang haid.

Selama itu, Mama sudah tinggal di rumah Bapakmu karena Mama sudah ceritakan semuanya itu kepada kedua orangtuanya. Kedua orangtuanya Bapakmu itu awalnya keberatan. Lama kelamaan, kedua orangtuanya mau menerima Mama sebagai menantunya. Karena waktu itu, usia kandungan Mama sudah dua bulan. Bapakmu adalah lelaki pemberani yang bertanggung jawab atas perbuatannya. Mama salud dan bangga terhadap Bapakmu karena keberaniannya untuk bertanggung jawab. Setiap hari Mama bekerja seadanya yakni mencuci, memasak dan menyapu. Rumah Bapakmu itu terbuat dari pelepah bambu. Atapnya terbuat dari rumput alang-alang. Kedua orangtua Bapakmu itu adalah tipe pekerja keras dan sangat dihargai di desanya.
Mama sangat bersyukur sekali, karena pada akhirnya kedua orangtua Bapakmu itu memberikan kasih sayang dan perhatian yang lebih buat Mama.

Di saat itu, Mama sempat menangis dipelukan Mamanya Bapakmu itu. Mama menangis karena, Mama belum pernah merasakan kasih sayang dan perhatian dari kedua orangtuanya Mama yang telah meninggal. Hingga kini Mama belum tahu penyebabnya apa, sampai kedua orangtua Mama meninggal. Waktu kedua orangtuanya Mama meninggal, Mama baru berusia satu tahun enam bulan. Wajah kedua orangtuanya Mama yang seperti apa, karakternya seperti apa, pembawaannya seperti apa, sifatnya seperti apa, Mama tidak tahu sama sekali.

Mama cuman mendapat sedikit cerita tentang kedua orangtuanya Mama dari Om Agus. Om Agus itu adalah adik kandungnya Mama. Om Agus tidak beristri. Om Agus yang membesarkan Mama. Om Agus bekerja sebagai petani sawah. Kebetulan kedua orangtuanya Mama mempunyai beberapa petak sawah, sehingga dikelola sama Om Agus. Om Agus sangat baik hati. Kalau pada saat jam makan siang, Mama belum dikasih makan, Om Agus selalu katakan, “sabar ya nak, om masih bekerja. Lima menit lagi kita makan ya.”  Kata-katanya Om Agus itu telah tertanam rapi di dalam otaknya Mama. Sehingga Mama mampu beradaptasi dengan keluarganya Bapakmu itu.

Tapi sayang, begitu ketahuan bahwa Mama hamil, Om Agus tega membunuh diri. Memang sih, Mama bersalah dan sangat berdosa sekali terhadap Om Agus. Makanya setiap sore, Mama berdoa seorang diri untuk keselamatan jiwanya. Mama yakin, Om Agus pasti sudah diterima di surga. Maafkan Mama ya. Mama menulis surat ini dalam situasi batin yang tidak tenang. Mama menangis ketika Mama harus berkata jujur terhadap kau lewat surat yang berdosa ini. Surat berdosa inilah yang telah menghadirkan kau di muka ini. Mama berharap, kau dapat memahami perasaan Mama di saat kau menerima dan membaca isi surat ini. Memang, Mama telah berdosa terhadap kedua orangtua Mama dan juga terhadap Om Agus.
Mau buat bagaimana lagi. Waktu itu, memang Mama berada di posisi yang serba salah. Walau pun Om Agus sangat baik hati, tapi ada satu kalimat yang diucap Om Agus terhadap Mama, sehingga Mama merasa luka batin. Luka batin itu hingga saat ini belum sembuh. Mama tidak tahu dan sampai kapan luka batin itu akan disembuhkan. Mama juga tidak akan pernah tahu, siapa yang akan menyembuhkan luka batin itu. Kalimat itulah yang membuat Mama nekad mengambil jalan pintas. Bayangkan saja, diusianya Mama yang masih belia tapi Mama sudah nekad melakukan hal di luar batas kewajaran yakni Mama nekad dan mau melakukan hubungan seks dengan Bapakmu itu. Usia dua belas tahun. Bayangkan saja. Maafkan Mama ya, jika selama ini Mama menyembunyikan aib ini terhadap kau. Inilah sebagian sisi kehidupan Mama. Terkadang

Mama merasa malu dan jijik, bila membayangkan kembali peristiwa itu. Dan kadang juga Mama merasa menyesal, kenapa secepat itu Mama tega dan mau diajak berhubungan seks?? Tidak apa-apalah. Asalkan Mama sehat, bahagia dan mau bekerja demi masa depan kau dan kedua adikmu ini. Kau saat ini berada di perantauan, jadi Mama cuman berpesan jaga diri baik-baik dan kalau bisa jauhi perempuan dan seks. Apabila kau sudah dekat perempuan, tidak menutup kemungkinan kau akan terjebak oleh permainan mereka. Karena sesungguhnya perempuan itu jahat. Kenapa Mama katakan perempuan itu jahat??

Ketika kau jatuh hati atau jatuh cinta terhadap seorang perempuan, maka kau akan termakan dengan cinta dan seksnya. Apalagi kau belum pernah merasakan apa itu seks dan apa itu perempuan. Mama cuman berpesan itu saja. Mama tidak mau pendidikan kau terputus di tengah jalan hanya karena perempuan dan seks. Kau pernah melihat silet? Nah, perempuan dan seks diindektikkan seperti itu. Tapi, Mama percayakan semuanya itu kepada kau. Jika kau mau sukses dalam pendidikan, jauhi perempuan dan seks.

Setiap malam sebelum tidur, Mama masih berdoa. Mama berdoa buat rumah tangga kita. Buat Bapakmu. Buat kedua adikmu. Buat kau. Dan buat mereka semua yang sudah mendukung dan membantu kita selama ini. Bila ada waktu senggang, Mama bercerita tentang kau di kedua adikmu itu. Walau pun kedua adikmu itu belum mengerti apa yang diceritakan Mama tentang kau, namun naluri kedua adikmu itu dapat menerima dan mengerti. Kedua adikmu ini kadang-kadang menjengkelkan juga.

Tapi kadang-kadang membuat Mama gemas dan harus menggigit keduanya karena rasa sayang dan cinta. Pernah suatu ketika, adikmu Lopez, entah sengaja atau tidaknya mengambil uang yang ada di saku celana Bapakmu. Setelah diambil Lopez, uang itu tidak dipakai cuman disembunyikan di bawah bantal. Di saat itu, Bapakmu sehabis mandi sore dan mau mengambil uang di saku celananya buat membeli gula untuk minum teh, uang tidak ada. Apa yang terjadi? Bapakmu mulai memanggil Lopez dan Agatha.

Di hadapan Bapakmu, Lopez dan Agatha nampak ketakutan. Karena wajah Bapakmu itu sudah berubah. Mama cuman melihat dari belakang, kira-kira apa yang mau dilakukan Bapakmu terhadap kedua adikmu itu. Bapakmu mulai bertanya baik-baik. Seperti begini pertanyaan Bapakmu itu. “Lopez dan Agatha, apa kalian berdua yang mengambil uangnya Bapak di saku celana? Katakan dengan jujur karena Bapak tidak marah dan tidak menyiksa kalian berdua. Kalian berdua adalah anak yang baik.”

Lopez duluan menjawab. Bapak, memang Lopez yang mengambil uang itu. Uang itu tidak dipakai. Lopez cuman menaruhnya di bawah bantal. Kenapa Lopez mengambil uang itu? Karena Lopez kecewa sama Bapak. Dimana pernah Lopez melihat Bapak marah-marah Mama. Bapak juga pernah memukul Mama. Kalau cinta, kenapa Bapak mesti ringan tangan?? Bapak sudah naik Mama pada malam hari, sehingga lahirlah kami bertiga. Sekarang Bapak bermain pukul segala. Jadilah orangtua yang baik. Malam naik Mama. Siang-siang begini tampar mama.

Buat malu-malu. Kalau tidak mampu menghidupi kami semua, katakan secara jujur. Anjing saja masih punya rasa malu. Dasar Bapak tidak tahu diri betul. Itu saja bentuk protes dari Lopez. Sekarang uang itu mau diambil Lopez dan mau dikasih ke Bapak buat beli gula, tapi lain kali tolong jangan marah-marah Mama ya. Bila Mama berbuat salah, tegurlah Mama secara baik-baik. Karena Mama adalah istrinya Bapak sekaligus Mama buat Lopez dan Agatha. Hentikan kekerasan. Jika kita sekeluarga hidup dan berkembang dalam kekerasan, maka tidak dapat menyelesaikan masalah. Setiap masalah dapat diselesaikan dengan bicara baik-baik dan bukannya main kekerasan.

Kekerasan itu bukan hanya secara fisik, tapi bisa juga melalui sikap, tutur kata dan bahasa. Lopez tidak suka kekerasan. Sambil menanti Lopez membawa uang yang ditaruh di bawah bantal, Agatha pun bersuara. Bapak, Agatha tidak suka kalau hidup berumah tangga selalu ada pertengkaran. Agatha jenuh. Agatha malu kalau kita selalu ribut-ribut terus. Kapan baru ada kedamaian di rumah ini? Agatha juga pernah mendengar bahwa Bapak suka minum mabuk, berjudi dan perempuan. Boleh tidak Bapak berhenti dari semua itu?? Bapak dan Mama harus saling mencintai, menyayangi dan rukun selalu. Biar kita hidup susah dan miskin menurut pandangan orang atau tetangga, tidak apa-apa.

Asalkan kita bahagia. Kita sedang berusaha untuk mencapai harta dan kekayaan yang banyak kan? Agatha berjanji Bapak, jika Agatha sudah besar dan sudah sekolah tinggi seperti Kakak, Agatha akan membeli apa saja yang masih kurang dan tidak ada di dalam rumah kita. Jangankan mobil, pesawat saja Agatha dapat membelinya. Berapa sih harga pesawat itu? Agatha kan punya kemampuan dan otak yang dapat dipakai buat menghasilkan uang. Di daerah kita ini, Nusa Tenggara Timur atau Indonesia bagian Timur ini, selalu identik dengan kekerasan. Baik kekerasan dalam seks maupun kekerasan dalam bentuk apa saja. Sebagai contohnya saja yakni tentang kehidupan kita di dalam rumah.
Cukup sudah kekerasan itu. Boleh Bapak dan Mama hidup dalam kasih, kesetiaan dan perhatian? Itu jauh melebihi emas atau harta benda lainnya. Kenapa banyak rumah tangga yang hancur berkeping-keping? Karena kasih, kesetiaan dan perhatian tidak ada di dalam rumah tangga mereka. Yang ada cuman kekerasan. Di media massa selalu menurunkan atau menayangkan berita yang berbau kekerasan. Kapan masyarakat dan Bangsa Indonesia khususnya Nusa Tenggara Timur hidup dalam damai? Apa sedikit, pakai kekerasan.

Itu jaman kuno. Maaf ya jika Agatha lancang dalam berbicara seperti ini. Selesai Agatha angkat bicara, dari kejauhan Lopez berteriak inilah uang yang telah disembunyikan Lopez di bawah bantal. Lopez mendekati Bapaknya dan menaruh uang itu di dalam tangan Bapaknya. Kemudian Lopez berkata, silahkan Bapak pergi beli gula. Atau Lopez yang pergi beli? Bapaknya menjawab, ya Lopez saja yang pergi beli. Mamanya pura-pura keluar dari dalam dapur dan serta menyapa Agatha dan suaminya. Dipeluknya suaminya di depan Agatha.

Agatha pun maju dan memeluk kedua orangtuanya. Basahlah kekerasan. Basahlah penyesalan. Airmata ketiganya tidak dapat ditolak lagi. Ketiganya menangis dalam kesedihan yang telah mengantarnya untuk kembali hidup dalam damai. Hujan pun pelan-pelan membasahi daun seng rumah. Ketiganya berhamburan karena pakaian diserang hujan. Agatha berusaha mengangkat singkong kering yang dijemur Mamanya. Bapak dan Mamanya sibuk mengangkat jemuran pakaian dan kayu bakar yang mulai basah karena guyuran hujan.

Petir dan angin pun bersahutan dalam menurunkan airmata hujan. Jaun jendela rumah mereka basah karena derasnya angin. Pepohonan pun bergoyang akibat terpaan angin. Bahkan beberapa pohon pun ikut tumbang karena tidak kuat menahan goncangan angin yang semakin tidak tahu diri dan kayak kesetanan. Agatha sudah berada di dalam dapur bersama Mamanya. Sedangkan Bapaknya sementara membereskan singkong yang barusan dijemur namun basah terkena air hujan.

Kayu bakar dipisahkan antara yang sudah kering dengan yang masih mentah. Sebagian yang sudah kering namun karena ulah hujan sehingga belum dapat dipakai buat memasak. Mamanya mencari bawang di tempat toples yang ditaruh di atas lemari. Agatha terus mengipas api agar nasi yang sedang dimasak itu bisa cepat matang. Lopez masih terjebak hujan sehingga belum tiba di rumah. Terdengar suara Bapak memanggil Agatha. Agatha berlari meninggalkan dapur menuju ke dalam rumah. Setibanya di dalam rumah,

Bapaknya sedang duduk di kursi. Agatha mendekati Bapaknya. Bapaknya memeluk Agatha. Agatha, Bapak minta maaf ya, bila selama ini Bapak sudah berkata dan bersikap kasar terhadap Mama. Bapak berjanji untuk tidak akan mengulanginya lagi. Bapak berjanji. Tadi mendengar kata-katanya Agatha, Bapak merasa malu. Bapak disadarkan lewat perkataanmu tadi. Sebagai manusia, Bapak atau Mama atau bisa jadi Agatha lalai dan jatuh dalam kesalahan. Asalkan setelah jatuh dan lalai, mau bangkit berdiri serta mau memperbaiki kesalahan itu. Tuhan itu maha pengampun dan penyayang. Maukah Agatha memaafkan Bapak?

Tanpa menjawab perkataan Bapaknya, Agatha telah mencium kening Bapaknya. Entah dengan cara apa, kening Bapaknya telah basah lewat kecupan Agatha. Bapaknya bingung bercampur aneh. Ditanya malah dicium. Agatha berlalu dan pergi ke dapur. Bapaknya menyusul ke dapur. Mamanya sedang mengiris bawang buat memasak sayur. Dipeluknya Agatha dari belakang oleh Bapaknya seraya bertanya dekat daun telinganya, apa maksud dari kecupan tadi? Bapak tidak tahu apa yang Agatha perbuat barusan. Ayolah, katakan. Agatha balik dan menjawab, kecupan itu pertanda Agatha telah memaafkan Bapak. Karena Agatha sayang sama Bapak. Jam dinding berbunyi sebanyak enam kali pertanda bahwa saat itu telah jam enam sore. Hujan belum berhenti menangis. Angin telah reda. Pucuk pucuk daun kemangi yang berada dekat kamar mandi terlihat segar dan menghijau, karena beberapa hari itu hujan tak henti hentinya memuntahkan airmatanya ke atas tanah. Bebek-bebek berkejaran dalam kolam buatan Bapaknya dekat tempat cucian. Sesekali bebek-bebek itu menyelam ke dalam air. Juga sesekali bebe-bebek itu pun saling mencumbu. Agatha cuma melihat adegan tersebut dengan senyum. Bapak dan Mamanya sibuk memotong sayur. Entah siapa yang mengantar pulang Lopez, tiba-tiba Lopez telah berada di depan Bapak dan Mamanya. Lopez basah kuyup.

 

Diserahkan gula kepada Bapaknya. Lopez ke dalam rumah untuk mengganti pakaian. Agatha tidak tahu, bila kakaknya Lopez basah kuyup. Agatha masih menikmati adegan cinta yang dipertontonkan bebek-bebek piaraan Bapaknya. Agatha kembali ke dalam dapur. Lopez keluar dari dalam kamar dan menuju dapur. Dilihatnya Bapak, Mama dan Agatha sedang duduk dan bercerita bersama. Terlontar dari mulut Mamanya bahwa Lopez dan Agatha adalah yang baik. Anak yang patuh terhadap orang tua. Lopez dengan ciri-ciri putih. Mata agak siput. Berambut air tapi dipotong pendek. Kelak dewasa dapat diperkirakan akan menjadi pejabat di daerahnya. Tampanganya rupawan dan sangat menggoda wanita-wanita, bila didekatinya. Juga mempunyai napsu dan libido yang sama dengan kuda. Tatapan matanya tentu membuat wanita-wanita untuk segera mengajaknya bercinta. Sedangkan Agatha adalah seorang anak perempuan. Diramalkan kelak akan menjadi wanita tersukses di daerahnya, berkat kepandaian dalam mengelola restorannya. Paras Agatha yang kelihatan sangat menggoda lelaki hidung belang, pasti akan menjajah sebagian tubuhnya agar restorannya laris manis. Bibirnya yang ranum dan merah merona serta kelihatan halus, akan dipakai untuk mengisap setiap lelaki yang mencoba mengajaknya untuk berkelahi di atas ranjang. Daun telinganya yang sangat apik dan indah seperti buah melon, tentunya akan memampukan lelaki mana saja yang kelak akan menikahinya dan juga bisa menjualnya jika kalah dalam pertarungan seks sebagai suami istri. Mamanya bercerita panjang lebar. Bapaknya sedang asyik membuat teh untuk diminum bersama kedua anaknya.

 

Keesokan harinya, hari kembali terbuka lebar dengan hawa dan udara yang sejuk. Jam di dinding menunjukkan pukul enam pagi. Lopez dan Agatha masih terbaring. Bapaknya sudah ke sawah untuk mengecek padi yang barusan ditanam. Mamanya mulai mencuci peratalan rumah tangga yang semalam tidak jadi dicuci, karena sudah larut malam. Lagi pula, kalau sudah larut malam segala peralatan rumah tangga seperti tacu, piring, senduk, gelas dan priuk, dilarang dicuci pada tengah malam karena menurut tradisi adat di desanya, bahwa jika mencuci semua peralatan rumah tangga pada tengah malam, maka secara tidak langsung telah membunuh dan atau menghambat datangnya rejeki. Bebek-bebek pun kembali menyambut pagi dengan bersahut-sahutan sembari berbaris di bawah tempat cucian piring untuk menanti puing-puing nasi yang jatuh untuk dimakan. Beberapa bebek yang masih sedang bertumbuh menuju dewasa dan pubertas, tidak terlihat dalam barisan tersebut. Bahkan beberapa bebek itu telah mencakar genangan air yang berada di samping kamar mandi untuk mencari sesuap kehidupan. Sesekali mendapat cacing dan langsung dimakan tanpa membagi kepada yang lain.

 

Sementara yang lain karena antrian menanti jatuhnya nasi dari tempat cucian, akhirnya memilih mengalah dan mundur secara diam-diam dan pergi mencakar genangang air. Dedaunan yang telah menjadi kotoran yang terdapat di samping kamar mandi, ikut tercerabut karena tensi amarah dari beberapa bebek yang belum kebagian makanan. Sesekali beberapa bebek yang telah mendahului mencakar genangan air itu, menoleh serta mengejek rekan-rekannya yang barusan merapat ke barisan mereka. Sangat kelihatan sekali bentuk sindiran dari beberapa bebek yang perlahan namun pasti perutnya telah terisi beberapa cacing dan makanan enak lainnya. Karena kesal diperlakukan dengan cara seperti itu, akhirnya seekor bebek betina menendang dan merobek bebek yang sedari tadi menujukkan tingkah yang sangat tidak baik yang ternyata melukai perasaan bebek-bebek lainnya. Mamanya cuman tersenyum dan melihat atraksi perkelahian mereka. Rupanya di antara beberapa bebek itu, ada yang saling sentimen dalam kmunitasnya. Walau pun sesama bebek, namun rasa iri, dengki, mencari muka, sok sombong, sok pahlawan kesiangan, penipu, dan pelacur nampak dari cara mereka menyapa dan memberikan senyuman. Dalam batin, Mamanya bisa merasakan itu. Pagi itu merupakan pagi yang sangat baik, buat mamanya seorang untuk melihat dari dekat bentuk sentimen di antara bebek-bebek piaraan Bapaknya itu.

 

Melihat bebek-bebek itu belum mau saling mengalah, terdengar Lopez membuka pintu kamar dan langsung menuju ke kamar mandi. Rupanya Lopez sakit perut karena kemasukan angin semalam. Agatha pun ikut terbangun dan langsung menuju ke dapur untuk memanggang tubuhnya. Kebetulan di saat itu udara sangat dingin menikam. Sebagian tubuh Agatha kelihatan menolak udara yang sangat dingin dan menikam sebagian paru-parunya. Sehabis membuang hajat, Lopez ke dalam rumah dan menyapu rumah. Agatha berusaha menarik air di sumur untuk menyiram tanaman bunga yang digantung Mamanya. Bunga-bunga itu ketika melihat Agatha menarik air, mereka kelihatan bahagia karena mendapat siraman air demi proses kelanjutan mereka untuk hidup, bertumbuh, berkembang biak serta mengeluarkan putik yang indah sebagai mahkota terindah mereka dalam mendamaikan dunianya sendiri dan dunia tempat berpijaknya manusia-manusia berdosa dan pendosa yang sedang berjuang keras mempertahankan kehidupannya masing-masing.

 

Mendekati siang, Bapaknya pulang ke rumah untuk makan siang. Ketika Bapaknya tiba di rumah, didapati Mamanya sedang tidur. Lopez dan Agatha sedang bermain di rumah tetangga yang berjarak kurang lebih lima ratus meter dari rumahnya. Dipanggil dan dibangunkan Mamanya oleh Bapaknya, namun Mamanya tidak mau terbangun. Karena kesal, Bapaknya pergi ke kamar mandi dan mengambil air seember serta menyiram Mamanya. Mamanya telah basah kuyup. Digoyang-goyang tubuh Mamanya, ternyata Mamanya telah kehilangan napas. Bapaknya berteriak histeris. Tetangga pada berdatangan satu per satu. Tenda mulai terpasang. Krans bunga segera dibuat. Lopez dan Agatha dijemput oleh salah satu tetangganya. Setiba di rumah, Lopez dan Agatha pecah dalam tangisan. Bapaknya semakin berteriak. Suasana terbawa dalam duka nestapa. Lopez menggoyang-goyang tubuh Mamanya, namun Mamanya tidak memberikan reaksi apa-apa. Agatha yang belum mengerti dengan apa yang terjadi, terbawa juga isak tangis dan ratapan duka nestapa. Rupanya, dewi fortuna telah merancang perjalanan hidup Lopez dan Agatha bersama Kakak dan Bapaknya.

 

Seorang cewek yang tubuhnya sangat tinggi, cantik, berambut pirang air, bertahi lalat dan berlesung pipit, diminta sama Bapaknya untuk menghubungi Kakaknya Lopez dan Agatha melalui telepon. Cewek itu melakukan permintaan Bapaknya. Segera cewek itu berlari ke counter dan mengisi pulsa lima puluh ribu rupiah. Pulsa telah terisi. Dipencet nomor telepon Kakaknya Lopez dan Agatha. Ditelepon berkali-kali oleh cewek itu, namun tak diangkat juga oleh Kakaknya Lopez dan Agatha. Cewek itu berusaha meningglkan pesan singkat. Cewek itu kembali ke rumah duka. Ditemui Bapaknya Lopez dan Agatha serta mengatakan bahwa Kakaknya Lopez dan Agatha tidak mau menjawab teleponnya. Serta dijelaskan lagi bahwa cewek itu cuman meninggalkan pesan singkat. Pesan singkat seperti apa tidak dijelaskan juga. Airmata bersama hujan yang sudah menyatu menjadi satu dalam ratap tangis. Tenda yang telah terpasang, mulai sobek karena tidak mampu menampung air hujan.

 

Beberapa pemuda tambun menusuk terpal dengan kayu agar keluarlah air hujan dari terpal tersebut. Kaki-kaki pelayat telah bercampur dengan lumpur dan pasir. Ibu-ibu tetangga sibuk memasak di dapur yang cuman berukuran empat kali enam meter itu. peralatan-peralatan buat memasak diturunkan dari gantungannya. Api-api ratapan segera mematangkan masakan. Gelas-gelas pun perlahan lahan terisi dengan cairan kopi bubuk yang sudah disiapkan oleh Mamanya, sebelum Mamanya pergi untuk selamanya. Kopi-kopi itu diedarkan ke semua pelayat yang datang dan telah menduduki halaman tenda ratapan kematian. Seorang tokoh Agama diminta untuk membawakan doa dalam mengiring kepergian Mamanya. Tokoh Agama itu mengajak semua pelayat untuk mengangkat hati serta meminta Tuhan untuk mengampuni segala bentuk dosa dan kesalahan dari Mamanya, sewaktu Mamanya masih bernapas.

 

Suara tokoh Agama yang serak serak basah itu mengundang itu beberapa gadis yang barusan naik badan dan mengalami haid pertama, melirik-lirik kepada tokoh Agama tersebut. Jual beli senyuman dan tatapan dalam berdoa tidak dapat dikalahkan. Sehabis doa, cewek-cewek itu memperkenalkan diri terhadap tokoh Agama. Terjadi diskusi menarik dan hangat di antara mereka. Bahkan tukar menukar nomor telepon pun terjadi. Ratusan mata pelayat tertuju kepada mereka. Seorang ibu yang barusan menikah dan belum mempunyai anak, mendekati tokoh Agama tersebut. Perkenalan pun semakin hangat. Jam telah menunjukkan pukul tujuh malam. Tokoh Agama itu berpamitan sama semua pelayat dan Bapaknya serta Lopez dan Agatha. Diucapkan terima kasih oleh Bapaknya, Lopez dan Agatha. suasana ratapan masih terjadi lewat beberapa pelayat yang datang memberikan penghormatan terakhir buat Mamanya Lopez dan Agatha yang telah terbaring kaku di dalam peti. Nampak wajah Mamanya tersenyum.
Hari pun berganti dengan cepat. Semua pelayat serta tetangga sudah bersiap-siap untuk mengantar dan menurunkan Mamanya ke dalam liang lahat. Pada pukul sepuluh pagi menjelang siang hari, Mamanya resmi dikuburkan ke dalam liang lahat. Teriakan dan tangisan histeris dari semua yang hadir dan menyaksikan drama penguburan Mamanya pecah menjadi satu irama lagu. Langit, cuaca beserta sekawanan burung pun turut mengantar peristirahatan Mamanya. Tanah-tanah bekas galian digaruk dan diturunkan kembali untuk menutup peti jenazah. Lopez dan Agatha berteriak tak karuan. Lopez sesekali mau melompat dan menjemput Mamanya yang telah terkubur. Agatha menangis dalam pelukan Bapaknya. Bapaknya sesekali mengeluarkan kalimat-kalimat penyesalan. Semua yang hadir terbawa dalam duka nestapa. Ibu pertiwi sedih melihat anak-anak bangsanya menangis dalam mengantar sesamanya ke liang lahat. Langit pecah kesedihan.

 

Burung-burung bersama bebek-bebek piaraan Bapaknya turut berbela sungkawa atas meninggalnya Mamanya Lopez dan Agatha. Burung-burung dan bebek-bebek itu menunjukkan kesedihannya dengan cara berlutut dan mencium tanah. Walau pun cuman sebagai hewan yang tidak punya suara untuk berbicara, tapi melalui cara-caranya dapat dibaca oleh semua pelayat. Lilin-lilin ratapan kesedihan dinyalakan di sekitar kubur. Aroma bunga melati telah menyatu dengan Mamanya di surga berkat doa-doa yang barusan disampaikan oleh semua pelayat. Rupanya Tuhan tidak sedang tidur. Tuhan segera mengabulkan doa-doanya manusia-manusia pendosa, agar sesamanya diterima di surga. Lantunan lagu-lagu kematian diperdengarkan dari surga melalui speaker yang terpasang di tenda dukacita. Suasana semakin menyatu ketika sekawanan kupu-kupu yang bercampur warna-warni bulunya, datang dan memberikan penghormatan serta berdoa bersama yakni mengitari kubur sebanyak tiga kali dengan cara terbang. Satu di antara kupu-kupu itu sebagai pemimpinnya, dan terdengar aba-aba untuk mencium kubur Mamanya. Semua mata menyaksikan dengan penuh hikmat dan khusyuk.
Jam telah menghantar pelayat untuk kembali ke rumah masing-masing. Di rumah dukacita itu, terdapat beberapa ibu dan seorang gadis yang sedari tadi telah dimintanya untuk mengontak Kakaknya Lopez dan Agatha. Agatha kembali ke dalam dapur. Entah untuk apa Agatha ke dapur. Lopez masuk ke dalam rumah dan duduk seorang diri. Bapaknya dibantu beberapa ibu membongkar tenda serta membereskan semua kursi pinjaman dan peralatan masak lainnya. Cewek itu sedang mencuci piring-piring kotor. Beberapa ibu pun sibuk membereskan sebagian peralatan yang telah dicuci untuk dikembalikan kepada pemiliknya. Tenda telah selesai dibongkar. Bapaknya sedang melipat terpal-terpal pinjaman untuk dibawa kembali kepada pemiliknya. Lubang bekas galian untuk ditanam tiang tenda, telah ditutupi tanah oleh seorang bocah yang kebetulan datang memanggil Ibunya yang masih berada di rumah dukacita. Bapaknya mengucapkan terima kasih pada bocah itu yang telah membantunya. Bocah itu menuju ke dapur serta membisikkan pesan kepada Ibunya agar segera pulang.

 

Agatha dihinggap rasa lapar yang semakin tidak tahu diri. Lopez terkapar di dalam kamar karena semenjak kematian Mamanya, Lopez kurang tidur. Agatha cuman mengendok sediikit nasi dan sayur. Kemudia kembali ke dapur dan mendayung makanan agar tidak lapar. Jam pun telah menunjukkan pukul delapan malam. Agatha tertidur di dapur dan kemudian digotong Bapaknya ke dalam kamar. Lopez tak sadarkan diri. Malam itu Lopez tidur tanpa mengisi sedikit pun perutnya dengan makanan. Cewek itu terjebak hujan, sehingga belum pulang ke rumahnya. Hujan semakin deras disertai angin. Petir pun sambil bersahut-sahutan dalam menemani hujan. Kali ini pepohonan tidak ada yang patah, walau pun angin semakin kencang terpaannya. Bapaknya Lopez sementara membereskan barang-barang di dapur. Pintu dapur pun dikunci. Bebek-bebek piaraannya dikasih masuk ke dalam kandang serta dikasih makan malam dengan sisa-sisa makanan yang masih tertampung di dalam dua piring sedang. Bapaknya Lopez kembali ke dalam rumah. Dilihatnya cewek itu sedang menanti redanya hujan. Cewek itu sedang duduk seorang diri dan membungkus badannya dengan kain yang sudah sobek. Nyamuk pun tak mau kalah dalam berebutan mengambil setetes darah dari cewek itu, untuk kelangsungan hidup.

 

Bapaknya Lopez mendekati cewek itu. Dibawanya cewek itu ke dalam kamar. Cewek itu terbangun dan terkejut. Bapaknya Lopez menutup mulutnya cewek itu dengan melumat habis seluruh tubuhnya. Cewek itu tidak bisa melawan. Satu per satu pakaiannya dilepas. Cewek itu ditindih dari atas oleh Bapaknya Lopez. Perawannya telah direnggut. Sperma Bapaknya dan cewek itu telah bercampur menjadi satu. Cewek itu dipakaikan kembali pakaiannya oleh Bapaknya Lopez. Cewek itu diminta untuk kembali tidur. Bapaknya Lopez mengambil secarik kertas dan pena. Menyalakan lampu neon berukuran kecil di kamarnya serta tangan melukai kertas itu dengan tinta. “Dear Lopez, Agatha dan Kakaknya. Dengan kepergian Mama kamu yang secara tiba-tiba itu, telah membuat Bapak untuk segera meninggalkan kalian. Entah dengan cara apa, kalian mesti melunasi kehidupan kalian masing-masing. Memang, Bapak tahu bahwa Lopez dan Agatha masih butuh bantuan dari Bapak. Tetapi maafkan Bapak ya, karena kalian berdua telah mempermalukan Bapak dengan kata-kata kalian. Bapak masih menaruh dendam terhadap kalian berdua. Suatu saat, kita pasti bertemu jika kita mau saling memaafkan satu sama lain. Memang sih, kalimatnya kalian berdua bernada sopan. Cuman Bapak belum mau dikritik. Selama ini Bapak berusaha menyembunyikan sakit hatinya Bapak terhadap kalian berdua. Bapak berpura-pura baik sama kalian berdua. Bapak juga berpura-pura menyayangi kalian berdua. Tapi kalian berdua tidak tahu seperti apa yang Bapak akan balaskan kepada kalian bedua. Kalian berdua ditambah Kakakmu itu, telah bersusah payah dibesarkan oleh Bapakmu ini. Setelah kalian dewasa dan mulai mengenal ini dan itu, kalian seenak perut melakukan kritik terhadap Bapak. Siapakah kalian? Makan sudah dari remah-remah, masih mau melakukan kritikan terhadap Bapak. Anak sialan kalian. Anak durhaka kalian. Anak terkutuk kalian. Selamat menempuh hidup masing-masing. Mau jadi pelacur, silahkan. Mau jadi preman, silahkan. Itu bukan urusan Bapak. Silahkan mencari hidup dengan cara kalian sendiri. Selamat tinggal. Dari Bapakmu, yang telah kalian kritik. Salam pembalasan.”
Lopez dan Agatha terbangun pada pukul enam pagi. Bapaknya telah pergi. Cewek itu juga terbangun, ketika mendengar suaranya Lopez memanggil Bapaknya. Cewek itu keluar dari dalam kamar dan menghampiri keduanya. Diajaknya kedua ke kamar sebelah. Di atas kasur, telah disimpan surat ringkas yang ditinggalkan Bapaknya untuk Lopez, Agatha dan Kakaknya. Cewek itu mengambil dan membuka dari lipatannya. Lopez meminta cewek itu untuk membacakannya. Lopez dan Agatha mendengar setiap kata yang diucapkan oleh cewek itu. Perlahan airmata Lopez dan Agatha pecah menjadi dengan airmatanya cewek itu. Cewek itu pun mengaku kepada Lopez dan Agatha bahwa semalam dirinya telah diperkosa oleh Bapaknya. Keperawanannya telah diambil oleh Bapaknya. Cewek itu menangis sambil memeluk Lopez dan Agatha. Suasana berubah bencana besar. Kehilangan Mama. Kehilangan Bapak.

 

Kabar Kakaknya tidak jelas. Juga kehilangan mahkota kegadisan karena telah direnggut seorang Bapak jahanam. Lopez bertumbuh dewasa dan menjadi seorang lelaki gagah perkasa. Lopez kini telah berusia dua puluh delapan tahun. Agatha pun sedang beranjak dewasa. Lopez bekerja sebagai buruh kasar di toko bangunan. Sedangkan Agatha bekerja sebagai tukang masak di sebuah rumah. Setiap hari Lopez, Agatha, cewek dan bayinya tinggal di rumahnya. Uang hasil kerja kerasnya Lopez dan Agatha dipakai berempat buat keberlangsungan hidup. Karena keseringan bersama, perlahan namun pasti pucuk-pucuk cinta tumbuh dan bermekaran. Akhirnya, Lopez mempersunting cewek itu sebagai istrinya dan anak itu sebagai darah gadingnya sendiri. Lopez dan cewek itu tidak menikah di depan penghulu, tetapi karena atas kesepakatan bersama,  maka rumah tangga pun dibangun. Agatha pun menghilang bersama bos lelakinya, karena istrinya tidak dapat mengandung dikarenakan penyakit kandungan. Karena kesal, istrinya nekad membunuh diri sebagai solusinya. Warga desa pun dihebohkan dengan berita-berita aneh dan kawin cerai yang marak belakangan ini. Gereja pun tak mampu berteriak.*****

 

Oleh : Felixianus Ali, sastrawan NTT, Penulis Buku, Novelis, Wartawan dan Koordinator PADMA Indonesia Propinsi NTT.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply