[Cerpen] Ayahku Ibarat “Belut Sawah”

AYAHKU bernama Nai Lapis. Di desa, ayahku ini terkenal sebagai pemabuk, perakus, pemokol dan juga pengkhianat. Walau pun dikata sebagai pengkhianat, orang-orang desa masih taat dan menghargai ayahku. Satu hal yang masih dipegang teguh oleh ayahku yakni jangan pernah memberikan kesempatan kepada siapa pun termasuk teman sekali pun untuk bermimpi sebagai pemimpin. Prinsip inilah yang dipegang teguh dan serta selalu senantiasa meliliti seluruh tubuh ayahku. Kalau mau dikata secara jujur, ayahku ini seorang egois dan pemain perempuan. Pernah suatu ketika, tanpa disengaja ibuku berpura-pura mengambil semua pakaian kotor ayahku, untuk dicuci. Disaat itu, ibuku mendapati secarik kertas yang bertuliskan kalimat seperti ini. “Nai Lapis, kau sungguh seorang lelaki perkasa tambun yang telah membantaiku berkali-kali di atas kasur, ketika kau datang berlibur ke kota kami. Seluruh tubuhku telah kau peras. Seluruh napasku telah kau hisap. Dan seluruh pakaianku telah kau gantung. Kini, aku masih menanti kehadiranmu di kota kami. Ada satu hal yang membuat kami tidak mau melupakan kau adalah, karena kau adalah lelaki jantan.”

Setelah membaca, air muka ibuku berubah drastis. Ibuku berusaha tenang. Ibuku bertanya dalam hati. “Perempuan siapakah yang telah meniduri suamiku?” Batin dan seluruh adrenalin ibuku beradu kekuatan, antara panik dan marah. Antara sayang dan sakit hati. Antara jujur dan tidak jujur. Ibuku terduduk lesuh. Seluruh pipinya telah digenangi kolam kecil, yang sedari tadi telah perlahan membasahinya. Ibuku terdiam dan bertanya dalam hati. Satu per satu kalimat dan atau perkataan yang pernah diucapkan ayah kepada ibuku, kini telah didapati dalam lorong batin yang masih terluka dikarenakan lecetan yang dimainkan ayah sewaktu setan betina menaiki akal sehat dan pikirannya. Air mata perlahan berguguran bak daun-daun kering diterpa angin. Kursi yang sedari tadi dipakai ibuku buat meletakkan pantatnya, tidak dapat berkata selain mendiamkan problem yang sedang dihadapi ibuku. Ayahku masih bertugas ke luar kota, persiapan akan dimulainya pemilihan pemimpin baru di desa kami. Setiap hari di desa kami, terdengar ucapan-ucapan liar yang mengatakan bahwa akibat ulah ayahku, desa kami nyaris tidak mempunyai pemimpin baru. Dana yang berbunyi sekitar triliunan rupiah telah disiapkan. Ayahku berpura-pura bahwa tahun ini dan tahun itu belum bisa dapat dilakukan pemilihan. Dikarenakan terdapat kesalahan administrasi. Semua masyarakat desa membicarakan ayahku. Ayahku seolah-olah Tuhan Allah kecil yang telah melacurkan masyarakatnya sendiri dengan menunda pemilihan pemimpin baru. Desa kami merupakan desa yang sangat biadab. Itu merupakan ucapan media massa yang dengan seenak perut memvonis desa kami akibat ulahnya ayahku.

Membaca media massa, membuatku semakin memarahi ayahku. Aku pun terlibat membela masyarakat desa kami yang telah tertipu dengan politik busuk dan politik pelacur yang tengah dipertontonkan ayahku terhadap masyarakat desanya. Malu rasanya mendengar ucapan-ucapan miring yang menyudutkan keluarga besar. Nama baik keluarga besar telah tercemar akibat ulah ayahku. Dulu ayahku tidak sebagai pengecut dan bencong. Tetapi karena terlibat politik busuk dan politik pelacur, ayahku bermandikan semuanya. Beruntung sekali karena di desa yang berlangganan Koran cuman kami sendiri. Sehingga setiap hari kami sekeluarga dapat mengikuti perkembangan desa kami. Dan juga dapat mengikuti perkembangan ayahku di media massa. Ibuku tidak mau membaca Koran, karena baginya Koran merupakan provokasi terbesar dalam kemajuan desa. Bahasa Koran dapat mematikan. Dan sekaligus dapat menghidupkan. Tergantung perilaku kita seperti apa, dalam memandang bahasa Koran. Pernah suatu ketika terdapat sebuah pemberitaan yang menyudutkan ayahku. Tukang Koran yang mengantar ke rumah. Judul pemberitaan itu yakni, “Nai Lapis Ibarat “Belut sawah” Yang Sangat Licik.” Sehabis membaca judul berita, ibuku langsung menyobeknya. Untung saja ibuku tidak langsung membakarnya, sehingga membuatku untuk mencari tahu apa tulisan di Koran itu. Aku mengambil Koran itu dan membacanya perlahan dalam hati.

Alinea pertama dalam Koran itu menuliskan. “Telah terjadi “pembantaian” secara besar-besaran yang dilakukan Nai Lapis terhadap masyarakatnya. Masyarakat telah dibunuh dengan cara yang tidak diketahui publik. Sungguh perbuatan yang sangat mulia. Nai Lapis merupakan “anak” desa yang tidak tahu berterima kasih. Justru mematikan masyarakat dengan egois dan kerakusannya akan jabatan yang masih diembannya.” Aku termenung sejenak. Aku tidak habis berpikir, kenapa ayahku berulah seperti binatang piaraan kami di rumah? Kenapa bahasa Koran begitu keras dan tajam dalam menelanjangi ayahku? Apakah ayahku salah dalam memakai pakaian? Apakah ayahku seorang pengecut ya, terhadap masyarakatnya sendiri? Apakah…. Oh Tuhan, sadarkanlah ayahku. Karena ayahku telah menyimpang dari sumpah setianya, ketika dilantik dan diambil sumpahnya sebagai pemimpin di desa kami waktu itu. Setelah itu, ayahku meninggalkan semua janji sumpah setianya. Masyarakat merasa sakit hati karena telah dikibuli oleh ayahku. Aku pernah mendengar ucapan sindiran yang diucapkan seseorang terhadap ayahku, ketika aku diajak ayah ke kantornya. “Ayahmu itu ibarat pembunuh berdarah dingin. Di depan bersikap baik dan manis. Di belakang, menikam sambil tertawa riang gembira. Bahkan tertawaannya itu telah menelanjangi dirinya sendiri.” Itulah kalimat sindiran yang masih aku ingat dengan sangat baik di dalam benakku.

Alinea kedua dan seterusnya berbunyi. “Semenjak dilantik dan diambil sumpahnya sebagai pejabat di desanya, kini Nai Lapis telah berpaling dari semuanya. Semua masyarakat telah dipaksakan untuk segera menelan pil pahit buatannya. Pil pahit itu dinamakan tidak tahu diri atas segala dukungan yang telah diberikan kepadanya, sewaktu terjadi pemilihan. Masyarakat memakan hatinya sendiri karena telah salah memberikan dukungan. Masyarakat dibiarkan berkeliaran dalam pencarian identitas diri dan lain sebagainya. Masyarakat sampai kurus tak terurus, karena politik. Politik busuk dan politik pelacur yang dimainkannya, telah meyatimkan semua masyarakat. Namun, ada perkembangan juga yang telah diperbuatnya yakni hampir semua masyarakat desanya menikmati kesejahteraan. Kesejahteraan itu berupa program beras miskin alias raskin. Sangat disayangkan, hanya mensejahterakan masyarakatnya dengan raskin.” ******

Oleh: Felixianus Ali.
Sastrawan NTT, Penulis Buku, Novelis, Wartawan dan Koordinator PADMA Indonesia Propinsi NTT.
Atambua, 6 Agustus 2013- pada tengah malam yang menggigit.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply