Celoteh Supir Angkot

Ayat bacaan: Ayub 23:3-4
========================
“Ah, semoga aku tahu mendapatkan Dia, dan boleh datang ke tempat Ia bersemayam. Maka akan kupaparkan perkaraku di hadapan-Nya, dan kupenuhi mulutku dengan kata-kata pembelaan.”

Hari ini saya memutuskan untuk naik angkot untuk menghadiri sebuah seminar. Supir angkot yang saya naiki punya tempramen aneh. Dia tidak dalam keadaan marah, tidak mabuk, tidak gila, tapi dia ngomel sepanjang jalan. Mulai dari mobil yang berjalan pelan, penumpang yang minta turun tidak pada tempat yang dia suka, orang di pinggir jalan yang tidak mau naik angkotnya dan lain2. Karena dia ngomel tidak dalam keadaan marah, saya yang kebetulan duduk tepat di belakangnya mencoba bercanda, “mas, nanti umurnya pendek lho kalau seperti itu..” Jawabannya? “ah biarin. ngapain juga hidup lama-lama kalau susah gini..” dan sederetan kalimat-kalimat lain. Dari apa yang dia keluhkan, rasanya saya bisa mengambil kesimpulan kalau dia sedang mengalami kesusahan dari segi keuangan. Lama-lama ngomelnya sampai ke arah agama. “percuma atuh mah disuruh sembahyang, disuruh ini, itu..memangnya Allah bisa ngasi duit? nggak ada yang adil di dunia ini, apalagi buat orang miskin..”

Disaat itu saya berpikir, apa yang sebenarnya bisa kita jadikan alat pengukur sebuah keadilan yang berasal dari Tuhan? apakah ketika kita mengalami masalah ekonomi, masalah keluarga, masalah pekerjaan, atau sederet daftar persoalan kehidupan lainnya, itu berarti Tuhan adalah Allah yang tidak adil? Apa yang saya dengar di hati saya pada saat itu, “bagaimana jika tuntutan keadilan itu dibalikkan kepada manusia..?” wah, seram.. kita manusia yang tiap hari tidak luput dari dosa. Bagaimana jika setiap dosa yang kita lakukan langsung mendapat “imbalan” saat itu juga, tanpa ada kesempatan untuk bertobat? Artinya, saya tahu, bahwa Tuhan telah memberikan kita lebih dari sekadar keadilan. Kemudian saya mendengar lagi, “jika kekayaan dan kemakmuran akan membuat Aku dianggap adil, akankah manusia menyembahKu semata-mata karena mereka mengasihiKu?” Saya rasa tidak.. orang akan menyembah Tuhan karena mereka butuh sesuatu. Karena mereka ingin makmur, tidak pernah sakit, dan hal-hal duniawi lainnya yang sangat ego-sentris sifatnya. Banyak tokoh-tokoh di Alkitab yang mengalami proses luar biasa berat. Salah satunya adalah Ayub. Pada satu ketika Ayub pun ingin membela diri atau komplain pada Tuhan. Beratnya beban membuat dirinya merasa seakan-akan Tuhan tidak berada didekatNya. Ayub mencari Tuhan, dan ingin bertanya kenapa dia mengalami berbagai masalah.

Teman, masalah memang tidak pernah jauh dari kita. Ayub 14:1 mencatat “Manusia yang lahir dari perempuan, singkat umurnya dan penuh kegelisahan.” Tapi kita harus ingat, bahwa Tuhan pun tidak pernah jauh, apalagi meninggalkan kita. Tuhan terkadang mengijinkan hal tersebut ada, dengan tujuan membentuk kita, agar kita mampu mengandalkan Tuhan secara penuh. Kesesakan boleh saja hadir dalam hidup kita, tapi jika kita sungguh-sungguh percaya bahwa ada pengharapan dalam Kristus, percayalah, tidak akan ada kesesakan yang kita hadapi tanpa hadirnya Tuhan bersama kita. Kenapa saya berani berkata demikian? karena saya, sama seperti anda, hidup di dunia yang penuh masalah. Tapi sukacita senantiasa hadir karena saya merasakan hadirnya Tuhan dalam setiap langkah saya. Manusia yang lahir singkat umurnya, dan sayang jika kita hanya mengejar kekayaan atau kemakmuran di dunia yang hanya sesaat kita tempati ini. Pada saatnya nanti di sebuah tempat yang kekal, jika kita benar-benar taat dan hidup sesuai apa yang diinginkanNya kita akan hidup bebas dari semua problema, kesedihan dan kesukaran. “Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.” (Wahyu 21:4)



Hidup penuh pergumulan itu biasa, tapi menghadapinya dengan pengharapan dan sukacita bersama Tuhan, itu luar biasa

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Comment