Category: Renungan Pagi

Meminta Tidak Pada Tempatnya

Ayat bacaan: Markus 6:25
====================
“Maka cepat-cepat ia pergi kepada raja dan meminta: “Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam!”

meminta tidak pada tempatnyaKarena tidak tahan anaknya meminta baju baru, seorang tukang ojek nekad menjadi kurir ganja. Saya membaca berita ini kira-kira setahun lalu di sebuah harian ibukota. Ketika ia tertangkap ia pun menyesali perbuatannya, tetapi semuanya sudah terlambat, karena ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di depan hukum dan harus mendekam di di dalam penjara. Ini baru satu dari sekian banyak berita yang menunjukkan betapa banyaknya orang yang terjerumus dalam kejahatan karena tidak ingin mengecewakan permintaan anak atau anggota keluarga lainnya. Tidak jarang pula kejahatan itu menjadi sedemikian parahnya sehingga harus menghilangkan nyawa orang lain. Khilaf akan selalu menjadi alasan mereka. Penyesalan akan selalu ada, tetapi konsekuensi jelas harus ditanggung, karena mereka tidak akan pernah bisa kembali ke waktu lalu dan mengubah keputusan mereka untuk melakukan kejahatan. Ada banyak contoh kasus kejahatan yang dimulai dari permintaan atau tuntutan dalam keluarga. Bisa karena terlalu sayang anak/istri sehingga tidak tega menolak, bisa karena terbeban hutang budi, dan sebagainya, dan mereka akan terjebak dalam sebuah tindak kejahatan yang seringkali fatal. Bukan hanya mencuri, namun dalam banyak kasus sampai membunuh karena terdesak dan sebagainya.

Bagi teman-teman yang sudah mempunyai anak yang sedang beranjak dewasa anda mungkin sudah sering mendengar rengekan permintaan anak akan banyak hal. Minta blackberry karena semua teman-teman sudah punya, atau takut diejek teman ketinggalan jaman. Kalau sudah beranjak dewasa mereka akan mulai minta dibelikan kendaraan dan sebagainya. Kalau memang mampu memang tidak masalah. Namun bagaimana jika tidak mampu, bagaimana rasanya telinga dan hati merasakannya? Ini sering membuat orang tua menjadi gelap mata dan mengambil keputusan yang salah. Dosa mengintai disana, siap menerkam dan menelan kita, hingga pada suatu ketika kita akan berada pada sebuah situasi dimana penyesalan menjadi tidak lagi ada gunanya.

Ayat bacaan hari ini mencatat kisah tragis dari kematian Yohanes Pembaptis yang dilakukan dengan sangat sadis. Meski Herodes pernah ditegur oleh Yohanes karena mengambil istri saudaranya sendiri, namun dalam hatinya ia tahu Yohanes benar dan suci. Sementara Herodias, istri saudaranya yang ia ambil menaruh dendam akan Yohanes dan berusaha mencari jalan untuk membunuhnya karena merasa sakit hati. Pada suatu kali, anak perempuan Herodias menari dan menghibur tamu-tamu Herodes. Herodes merasa senang sekali sehingga kelepasan memberi janji akan mengabulkan apapun yang ia minta, bahkan setengah dari kerajaannya sekalipun. (Markus 6:22-23). Lalu si anak berdiskusi pada ibunya, dan sang ibu melihat kesempatan emas untuk membunuh Yohanes. Dan inilah yang terjadi. “Maka cepat-cepat ia pergi kepada raja dan meminta: “Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam!” (ay 25). Karena terlanjur berjanji dan takut malu, Herodes pun dengan terpaksa memerintahkan untuk memenggal kepala Yohanes dan menghadirkannya di atas talam/baki sesuai permintaan. Karena malu jika tidak memenuhi janji kepada seorang gadis kecil, mungkin juga karena cintanya yang begitu dalam akan Herodias, ia pun menghilangkan nyawa Yohanes yang ia tahu tidak bersalah apa-apa.

Bagi teman-teman yang masih remaja, berhati-hatilah dalam meminta. Dalam kondisi ekonomi yang semakin berat ini, permintaan-permintaan yang terlalu berat bagi orang tua bisa menyusahkan hati orang tua bahkan bisa membuat mereka terjerumus jatuh ke dalam dosa. Apakah dengan melakukan korupsi, mencuri, bahkan tindakan kekerasan yang merugikan orang lain dapat terjadi karena mereka tidak tahan mendengar tuntutan anak-anaknya. Tekanan atas tuntutan di luar kemampuan bisa menjerumuskan orang ke dalam jurang dosa yang mematikan. Janganlah karena ingin tampil lebih di hadapan orang, kita kemudian tega mengorbankan orang tua kita sendiri. Jagalah diri kita selalu agar jangan menghambakan uang dan kekayaan, seperti yang diingatkan Paulus. “Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” (1 Timotius 6:9-10).

Para remaja yang masih tinggal dengan orang tuanya harus mau belajar untuk mampu melihat kondisi orang tuanya. Janganlah terlalu banyak menuntut atau meminta sesuatu yang akhirnya bisa membuat orang tua merasa tertekan, malu atau sedih hatinya. Ada banyak tindak kejahatan dan kekerasan bisa timbul dari sini. Jika orang tua merasa tertekan karena tidak mampu memenuhi permintaan, mereka suatu saat bisa terdesak dan melakukan tindak kekerasan/kejahatan. Demikian juga antara pasangan suami istri. Istri pun hendaknya bisa mengetahui batas kemampuan suaminya dan tidak menuntut jauh di atas kemampuan suaminya. Pikirkan dulu baik-baik sebelum meminta sesuatu, agar kita tidak menghancurkan hidup orang yang kita sayangi dan orang lain. Herodes mengambil sebuah keputusan yang fatal hanya karena kelepasan bicara dan tidak sanggup menutupi rasa malunya jika menolak. Marilah kita sama-sama belajar agar tidak terperosok ke dalam kesalahan yang sama.

Sebuah permintaan yang tidak pada tempatnya bisa membawa konsekuensi buruk

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tags : , , , , ,

8 Nov

(Keb 2:23-3:9; Luk 17:7-10)

"Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan! Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum. Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan." (Luk 17:7-10), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Ketaatan dan kesetiaan itulah dua keutamaan yang hendaknya kita refleksikan sesuai dengan Warta Gembira hari ini.  Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan”, inilah kata-kata yang hendaknya menjadi pegangan hidup dan cara bertindak kita kapan pun dan dimana pun. “Aku sendiri pun berkeinginan agar kalian lengkap sempurna dalam setiap keutamaan dan anugerah rohani. Namun, pertama-tama agar kalian menjadi unggul dalam keutamaan ketaatan”, demikian kutipan surat Ignatius Loyola kepada para pengikutnya. Taat satu sama lain akan menghasilkan atau berbuahkan kehidupan bersama yang membahagiakan, menarik dan mempesona bagi orang lain; kehidupan bersama dijiwai oleh kesatuan hati dan budi, sehingga segar dan sehat. Kita dapat belajar dari anggota-anggota tubuh kita yang taat satu sama lain, dan masing-masing anggota setia di tempatnya masing-masing. Atau kita juga dapat bercermin pada para hamba, pelayan atau pembantu rumah tangga/komunitas yang baik, yang senantiasa setia dan taat melaksanakan tugas pengutusan apapun yang diberikan kepadanya. Jika mencermati apa yang terjadi di jalanan, yang dilakukan oleh para pengendara sepeda motor maupun mobil atau pejalan kaki, rasanya penghayatan keutamaan ketaatan dan kesetiaan masih memprihatinkan, hal itu nampak dalam pelanggaran rambu-rambu lalu lintas. Bukankah apa yang terjadi di jalanan merupakan cermin kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara? Kami harap ketaatan dan kesetiaan ini sedini mungkin dibiasakan dan dididikkan pada anak-anak dan kemudian diperdalam dan diperkembangkan di sekolah-sekolah.

·   “Allah telah menciptakan manusia untuk kebakaan, dan dijadikan-Nya gambar hakekat-Nya sendiri. Tetapi karena dengki setan maka maut masuk ke dunia, dan yang menjadi milik setan mencari maut itu” (Keb 2:23-24). Kita semua dipanggil untuk setia pada jati diri kita sebagai manusia, yaitu sebagai ‘gambar Allah’. Dengan kata lain cara hidup dan cara bertindak kita mencerminkan Allah yang telah menciptakan kita.  Sebagai gambar Allah kita diharapkan memiliki dan menghayati ‘budaya kehidupan’ bukan ‘budaya kematian’, kehadiran, sepak terjang dan kesibukan kita senantiasa menggairahkan dan memberdayakan atau menghidupkan saudara-saudari kita maupun lingkungan hidup dimana kita hadir atau berada. Kebalikan dari ‘budaya kehidupan’ adalah ‘budaya kematian’ dimana orang hidup dan bertindak sesuai dengan dorongan setan, dan dengan demikian cara hidup dan cara bertindaknya merusak dirinya sendiri,  saudara-saudarinya maupun lingkungan hidupnya; yang bersangkutan menuju ke kebinasaan atau kehancuran. Sebagai umat beriman atau beragama kita semua dipanggil untuk ‘berbudaya kehidupan’ yang menuju ke kebakaan hidup mulia selamanya di sorga. Kami berharap ‘budaya kehidupan’ ini sedini mungkin dibiasakan pada anak-anak di dalam keluarga dengan teladan konkret para orangtua. Berbudaya kehidupan berarti hidup dan bertindak sesuai dengan Roh Kudus dan berbuahkan keutamaan-keutamaan seperti “sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal 5:22-23). Maka para orangtua diharapkan menjadi teladan dalam penghayatan keutamaan-keutamaan di atas ini, antara lain yang mungkin baik kita hayati dan sebarluaskan pada masa ini adalah kebaikan, artinya kapanpun dan dimanapun kita baik adanya serta senantiasa berbuat baik kepada orang lain. Apa yang disebut ‘baik’ senantiasa berlaku secara universal, kapan saja dan dimana saja.

Mata TUHAN tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong; wajah TUHAN menentang orang-orang yang berbuat jahat untuk melenyapkan ingatan kepada mereka dari muka bumi. Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya.TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.” (Mzm 34:16-19)

Ign 8 November 2011

Tags : , , , , ,

7 Nov

"Tambahkanlah iman kami!"
(Keb 1:1-7; Luk 17:1-6)
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan, tetapi celakalah orang yang mengadakannya. Adalah lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya, lalu ia dilemparkan ke dalam laut, dari pada menyesatkan salah satu dari orang-orang yang lemah ini. Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia." Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: "Tambahkanlah iman kami!" Jawab Tuhan: "Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu." (Luk 17:1-6), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefeksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Kita semua mengakui diri sebagai umat beriman, namun apakah sungguh hidup dan bertindak dijiawai oleh iman kiranya boleh ditanyakan. Beriman berarti mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, sehingga hidup dan bertindak dalam kesatuan atau kebersamaan dengan Tuhan. Yesus bersabda:”  "Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.". Melaksanakan tugas atau pekerjaan dengan iman berarti ‘mengerahkan sepenuhnya hati, jiwa, akal budi dan kekuatan atau tubuh’ pada tugas atau pekerjaan. Yang berbeda pada umumnya adalah akal budi dan kekuatan phisik, sedangkan hati dan jiwa hemat saya sama-sama kita miliki. Maka baiklah saya ajak untuk mengerahkan hati dan jiwa sepenuhnya dalam mengerjakan segala sesuatu. Mengerahkan hati berarti sungguh memperhatikan apa yang sedang dikerjakan, sedangkan mengerahkan jiwa berarti dengan penuh gairah dan semangat dalam mengerjakan alias penuh minat. Jika kita sungguh memperhatikan dengan penuh minat maka apapun yang menjadi tugas atau pekerjaan kita pasti dapat diselesaikan dengan baik, maka milikilah keteguhan hati dan jiwa dalam mengerjakan segala sesuatu. Maka perkenankan sekali lagi saya angkat salah satu motto Bapak Andrie Wongso, yaitu “Selama kita memiliki kemauan, keuletan dan keteguhan hati, besi batangan pun bila digosok terus-menerus, pasti akan menjadi sebatang jarum…Milikilah keteguhan hati”.
·   Pikiran bengkang-bengkung menjauhkan dari pada Allah, dan kekuasaan-Nya yang diuji mengenyahkan orang bodoh. Sebab kebijaksanaan tidak masuk ke dalam hati keruh, dan tidak pula tinggal dalam tubuh yang dikuasai oleh dosa. Roh pendidik yang suci menghindarkan tipu daya, dan pikiran pandir dijauhinya. Sebab kebijaksanaan adalah roh yang sayang akan manusia, tetapi orang penghujat tidak dibiarkannya terluput dari hukuman karena ucapan bibirnya. Memang Allah menyaksikan hati sanubarinya, benar-benar mengawasi isi hatinya dan mendengarkan ucapan lidahnya” (Keb 1:3-6), demikian kutipan dari Kitab Kebijaksanaan. “Allah menyaksikan hati sanubari, mengawasi isi hati dan mendengarkan ucapan lidah”, inilah kiranya yang baik kita renungkan atau refleksikan. Kita dapat menyembunyikan isi hati kita kepada orang lain atau saudara-saudari kita, namun tak mungkin menyembunyikan isi hati pada Allah; apa yang ada di dalam hati kita semuanya diketahui oleh Allah. Iman juga erat kaitannya dengan hati, maka marilah mawas diri apakah kita memiliki hati beriman. Jika kita memiliki hati beriman berarti hati kita bersih dan jernih, tidak pernah berbohong atau melakukan tipu daya dalam bentuk apapun, dan kita juga akan tumbuh berkembang menjadi pribadi yang bijaksana. Kata-kata dan tindakan kita tidak pernah melukai atau menyakiti orang lain, melainkan senantiasa membahagiakan dan menyelamatkan orang lain, tentu saja terutama dan pertama-tama adalah keselamatan jiwa. Ada peristiwa menarik: seorang pemuda pada malam minggu sedang mengunjungi pacar pujaannya, gadis cantik. Kebetulan musim penghujan dan akhirnya kunjungan pacar tersebut sampai larut malam. Sang pemuda tergerak untuk mengadakan hubungan seksual dengan pacarnya, dan sang gadis menjawab tidak karena takut ketahuan orangtua dan adik-adiknya. Sang pemuda menanggapi bahwa orangtua dan adik-adiknya telah tidur pulas, maka tak akan tahu. Namun sang gadis masih menolak, karena takut ketahuan peronda malam yang berkeliling, dan sang pemuda pun mengecek para peronda malam dan ternyata mereka juga telah tertidur pulas. Hal itu disampaikan kepada sang gadis, dan akhirnya sang gadis tetap menolak, karena Tuhan tahu. Tuhan tahu dan melihat apapun yang kita lakukan dalam kesunyian, sendirian dan tertutup.
“TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi. Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN. Dari belakang dan dari depan Engkau mengurung aku, dan Engkau menaruh tangan-Mu ke atasku.Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu, terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya.” (Mzm 139:1-6)
Ign 7 November 2011

5 pencarian oleh pembaca:

  1. renungan bacaan lukas 17:1-6
  2. Renungan Lukas 17:1-6
  3. warta gembira lukas 17:1-6
  4. makna lukas 17 : 1-5 menurut alkitab
  5. renungan 17:1-6
Tags : , , , , ,

Homili Mgr F.X Hadisumarta O.Carm – MINGGU BIASA XXXII/A/2011 Keb 6:13-17 Tes 4:13-18 Mat 25:1-13

PENGANTAR

Hari ini Yesus mengajar kita dengan perumpamaan tentang gadis-gadis yang bijaksana dan yang bodoh. Kerajaan Allah, yaitu tata kehidupan umat manusia yang diwartakan dan didirikan oleh Yesus berkali-kali digambarkan sebagai pesta pernikahan. Pesta pernikahan adalah gambaran sukacita dan kebahagiaan. Suatu kehidupan kristiani, jasmani maupun rohani sejati, yang harus disiapkan dengan baik, tekun, sungguh-sungguh. Gadis-gadis yang bijaksana dan yang bodoh atau teledor, keduanya itu merupakan gambaran perbedaan sikap sadar terhadap kehidupan kristiani sejati.

HOMILI

Perumpamaan tentang sepuluh gadis yang bijaksana dan bodoh/teledor itu hanya terdapat dalam Injil Matius. Tafsiran pertama perumpamaan ini menunjukkan situasi yang dihadapi Yesus. Secara singkat: ada orang-orang yang mendengarkan ajaran Yesus dan mau menerimanya, dan ada pula yang menolaknya. Kesimpulannya: "Siap sedialah selalu, sebab engkau tidak tahu kapan Ia akan datang". Tafsiran kedua yang lebih mendalam: perempumaan itu menggambarkan Gereja dan pribadi warga-warganya. Kristus Almasih sudah datang, tetapi meskipun sudah dibaptis menjadi warga Gereja, menjadi orang kristen, namun belum melihat, mengalami dan merasakan adanya kegembiraan dan kebahagiaan Kerajaan Allah bagaikan pesta pernikahan, sebab bersikap acuh tak acuh sebagai orang beriman. Padahal siapsiaga dan tekun mendengarkan dan melaksanakan sabda Allah adalah suatu syarat mutlak untuk menyambut kedatangan Kristus.

Apa sebenarnya kesiapsiagaan yang harus dimiliki dan dilakukan untuk sungguh merasa gembira dan bahagia dalam Kerajaan Allah, atau sebagai komunitas orang-orang pengikut Yesus? Tak lain tak bukan ialah berbuat baik terhadap orang lain/sesama. Perbuatan baik apa? Dalam Injil Matius ditegaskan di banyak teks apa yang harus kita lakukan untuk berbuat baik, yaitu: menghindari perbuatan jahat (15:19), mengasihi musuh (5:44), saling mengasihi (25:12), mengampuni orang-orang yang telah berbuat jahat kepada kita (18:21-35), memiliki iman yang teguh (21-21), setia kepada Yesus (10:32) dan mengasihi Allah sepenuhnya (22:37). – Memiliki dan melakukan semua itu, itulah kesiapsiagaan sebagai syarat mutlak untuk bertemu dengan Allah dan merasa sungguh bahagia!

Kita sungguh membutuhkan minyak untuk hidup kita . Gadis-gadis bodoh/teledor bersikap acuh tak acuh, tidak ambil using, tak peduli, tak menyiapkan pelaksanaan tugas mereka. Dalam khotbah-Nya di bukit Yesus berkata: "Hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga" (Mat 5:16) . Nah, minyak yang dimaksudkan dalam perumpamaan itu adalah berbuat baik terhadap sesama. Orang-orang yang bijaksana ialah mereka, yang selalu menaruh perhatian dan ikut prihatin akan kebutuhan-kebutuhan sehari-hari, baik dalam keluarga masing-masing, dalam tetangga atau lingkungan, bahkan kepada orang-orang yang tidak dikenalnya.

Kita kerapkali memiliki lampu/pelita, namun kita tidak punya minyak untuk menyalakannya! Beata Teresa dan Kalkuta berkata:

“Apakah minyak untuk pelita kita dalam hidup kita?
Minyak pelita kita ialah hal-hal kecil sehari-hari:
Kesetiaan, tepat waktu, kata-kata lembut, prihatin
terhadap orang lain, tahu berdiam diri bila perlu,
tahu memilih waktu, tahu kapan berbicara, kapan bertindak.
Inilah tetesan-tetesan air kasih, yang mampu membuat
hdup kita bersinar terang sebagai orang beriman”.

Itulah yang dilakukan Beata Teresa dari Kalkuta. Sumber minyak itu baginya adalah Allah dalam diri Yesus, yang siap siaga terhadap kehendak Allah.

Apakah sumber minyak kita? Sama! Sumber minyak yang kita butuhkan supaya pelita kita dapat menyala dengan terang ialah Allah sendiri. Karena itu hubungan kita dengan Allah harus selalu ada dan dipelihara. Kita harus selali siap dan siaga mendengarkan dan melaksanakan sabda-Nya. Dan Allah justru berbicara melalui keadaan dan kebutuhan orang-orang sesama kita. Perbuatan-perbuatan baik kita kepada sesama, itulah pelita terang yang menunjukkan kita kedatangan Kristus sebagai Mempelai Gereja dalam hati kita, bagaikan dalam pesta pernikahan!

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm http://www.imankatolik.or.id/homili_mgr_hadisumarta_ocarm.html

Tags : , , , , ,

Mg Biasa XXXII

Mg Biasa XXXII: Keb 6: 13-17; 1Tes 4:13-18; Mat 25:1-13
“Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki”
Persiapan merupakan salah satu usaha atau kegiatan yang penting dalam mengerjakan segala sesuatu, misalnya persiapan ujian atau ulangan umum, persiapan saling menerimakan Sakramen Perkawinan, persiapan pesta, persiapan menerima tahbisan imamat atau kaul kekal hidup membiara, persiapan melahirkan anak dst..  Persiapan yang baik serta memadai merupakan awal kesuksesan atau keberhasilan, sebaliknya orang yang tidak mempersiapkan dengan baik dan memadai pasti akan mengalami kegagalan. Sabda hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua untuk mawas diri perihal persiapan, maka baiklah kita renungkan sabda Yesus hari ini, dan saya akan mencoba secara sederhana membahas aneka persiapan.
Hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki. Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana.” (Mat 25:1-2)
Sebagai umat beriman atau beragama kita semua dipanggil untuk menjadi bijaksana seperti lima gadis bijaksana yang senantiasa siap sedia menyongsong kedatangan sang penganten.”Bijaksana adalah sikap dan perilaku yang dalam segala tindakannya selalu menggunakan akal budi, penuh pertimbangan dan rasa tanggungjawab. Ini diwujudkan dalam perilaku yang cakap bertindak dan kehati-hatian dalam menghadapi berbagai keadaan yang sulit. Keputusan yang diambil berdasarkan pemikiran dan renungan yang mendalam sehingga tidak merugikan siapa pun dan dapat diterima oleh semua pihak” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka-Jakarta 1997, hal 14-15).
“Pemikiran dan renungan yang mendalam” itulah kiranya merupakan bentuk persiapan yang baik dalam melaksanakan segala sesuatu atau tugas pengutusan atau pekerjaan, yang berarti kita kerahkan pikiran atau otak dan hati kita untuk memperdalam dan memahami aneka macam masalah sebelum melaksanakan segala sesuatu. Maka baiklah secara terinci dan terbatas saya angkat berbagai persiapan sebagai berikut:
1)                  Pelajar dan mahasiswa. Selama didalam pembelajaran anda harus menghadapi ulangan dan ujian, ujian sebenarnya juga merupakan ulangan. Dengan kata lain ulangan atau ujian merupakan tindakan mengulangi atau mengenangkan kembali apa-apa yang telah diajarkan. Maka persiapan untuk menghadapi ulangan atau ujian yang terbaik adalah selama pembelajaran di kelas, ketika diajar oleh guru atau dosen hendaknya sungguh mendengarkan. Ketika anda dapat mendengarkan dengan baik dan memadai apa yang diajarkan oleh guru atau dosen, maka apa yang disebut dengan ulangan atau ujian merupakan hal yang mudah, dan anda pasti sukses atau berhasil dalam ulangan atau ujian. Kerahkan otak dan hati anda untuk mendengarkan apa yang sedang diajarkan. 
2)                  Mereka yang akan menikah. Tahap-tahap menuju ke pernikahan adalah perkenalan, pacaran dan tunangan, yang sebenarnya semuanya itu adalah masa perkenalan. Memang ada perbedaan sedikit, yaitu kenalan mungkin baru anda berdua yang tahu, sedangkan pacaran pada umumnya sudah diketahui oleh orangtua dan sahabat atau kenalan, sedangkan tunangan berarti sudah direstui secara resmi dalam ikatan yang masih dapat diputuskan. Jika anda berdua mendambakan untuk sukses dan berbagai sebagai suami-isteri sampai mata hendaknya jangan mensia-siakan masa perkenalan tersebut; hendaknya dijauhkan aneka bentuk sandiwara atau kepalsuan atau kebohongan. Mungkin saat masa pacaran masih saling bersandiwara, namun hendaknya hal itu segera diselesaikan selama masa tunangan. Saling terbuka dengan jujur dan iklas dari anda berdua sebelum menjadi suami-isteri merupakan langkah awal yang meyakinkan untuk menelusuri hidup bersama sebagai suami-isteri sampai mati.     
3)                  Mereka yang akan ditahbiskan imam atau kaul kekal. Ditahbiskan menjadi imam dan berkaul kekal dalam hidup membiara berarti hidup tidak menikah, dan diharapkan juga tidak medambakan aneka bentuk kenikmatan sebagaimana didambakan oleh suami-isteri, entah secara psikologis maupun phisik. Selama persiapan kiranya anda semua diajak untuk belajar, entah yang bersifat ilmiah, secular atau profan, spiritual atau rohani beserta aneka pelatihan praktis yang terkait dengan spiritualiatas atau charisma lembaga  hidup bakti maupun imamat. Kami harapkan apa yang dipelajari juga dicecap dalam-dalam di hati sanubari sehingga merasuki atau menjiwai cara hidup dan cara bertindak dan kelak ketika telah ditahbiskan menjadi imam atau kaul kekal dapat setia menghayati panggilannya sampai mati.
Akhirnya kami mengingatkan kita semua bahwa hidup kita di dunia ini hemat saya juga merupakan persiapan, yaitu persiapan untuk mati atau dipanggil Tuhan alias pindah ke hidup mulia selamanya bersama Allah di sorga. Maka marilah kita senantiasa hidup baik dan berbudi pekerti luhur, agar ketika dipanggil Tuhan nanti kita langsung hidup mulia selamanya di sorga.
Selanjutnya kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan. Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia.” (1Tes 4:13-14)
Sapaan atau peringatan Paulus kepada umat di Tesalonika di atas ini kiranya baik kita renungkan atau refleksikan bersama. Kita diajak untuk mengenangkan orangtua, kakak-adik, saudara atau sahabat atau kenalan yang telah dipanggil Tuhan atau meninggal dunia, mendahului perjalanan menuju hidup abadi, mulia selamanya di sorga. Marilah kita imani bahwa mereka yang telah dipanggil Tuhan telah menikmati hidup mulia selamanya di sorga karena kemurahan hati dan belaskasih Tuhan  yang tak terbatas.
Mengimani mereka yang telah dipanggil Tuhan telah hidup mulia selamanya di sorga berarti kita diajak untuk mengingat-ingat atau mengenangkan aneka anugerah Tuhan yang telah diterima oleh mereka yang telah meninggal dunia selama masih hidup di dunia, yaitu aneka sifat budi pekerti luhur yang telah dihayatinya. Dengan kata lain marilah kita meneladan cara hidup dan cara bertindaknya yang baik dan bermoral atau kita laksanakan pesan-pesannya yang baik sebelum meninggal dunia. Dalam iman kita hayati bahwa kita tidak pernah terpisahkan dengan mereka yang telah hidup mulia kembali di sorga jika kita senantiasa hidup bersama dan bersatu dengan Tuhan dalam situasi dan kondisi apa pun, kapan pun dan dimanapun. Maka marilah kita renungkan kutipan di bawah ini
Barangsiapa pagi-pagi bangun demi kebijaksanaan tak perlu bersusah payah, sebab ditemukannya duduk di dekat pintu. Merenungkannya merupakan pengertian sempurna, dan siapa yang berjaga karena kebijaksanaan segera akan bebas dari kesusahan” (Keb 6:14-15). Begitu bangun pagi kita diharapkan langsung merenungkan kebijaksanaan, maka baiklah apa yang saya kutipkan di atas perihal arti ‘bijaksana’ kiranya dapat menjadi bahan permenungan. Mungkin baik jika kutipan di atas dihafalkan atau ditulis besar-besar di dekat tempat tidur, sehingga ketika terbangun langsung dapat membaca dan merenungkannya. Misalnya perihal ‘tanggungjawab’ semoga sepanjang hari yang akan kita lalui kita sungguh berani bertanggungjawab atas apa yang kita katakan atau lakukan serta tidak dengan mudah melempar tanggungjawab kepada orang lain.
Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair. Demikianlah aku memandang kepada-Mu di tempat kudus, sambil melihat kekuatan-Mu dan kemuliaan-Mu. Sebab kasih setia-Mu lebih baik dari pada hidup; bibirku akan memegahkan Engkau. Demikianlah aku mau memuji Engkau seumur hidupku dan menaikkan tanganku demi nama-Mu. Seperti dengan lemak dan sumsum jiwaku dikenyangkan, dan dengan bibir yang bersorak-sorai mulutku memuji-muji.” (Mzm 63:2-6)
Ign 6 November 2011

5 pencarian oleh pembaca:

  1. apa yang diajarkan di pelatihan mahasiswa atmi di civita ciputat
  2. khotbah persiapan kelahiran
Tags : , , , , ,

5 Nov

Apa yang dikagumi manusia dibenci oleh Allah”
(Rm 16:3-9.16.22-27; Luk 16:9-15)
” Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi." "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu? Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." Semuanya itu didengar oleh orang-orang Farisi, hamba-hamba uang itu, dan mereka mencemoohkan Dia. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah” (Luk 16:9-15), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·    Pada umumnya manusia mengagumi apa-apa yang besar, megah dan kaya, misalnya para pejabat tinggi, rumah atau bangunan besar, perkara besar, perempuan cantik, laki-laki tampan, orang bergelar professor, doktor atau sarjana dst… Sementara itu mereka melalaikan atau kurang memperhatikan hal-hal atau perkara kecil, anak kecil, orang kecil dst..  Orang juga sering mengagumi gedung-gedung mewah rumah sakit, sekolah atau gereja/tempat ibadat. Mengagumi pada umumnya berada di luar dan tidak masuk. Bagi orang beriman atau beragama yang utama dan penting adalah dikasihi, bukan dikagumi; dikasihi berarti mempesona, memikat dan menarik sehingga banyak tergerak untuk mendekat dan memasuki. Sebagai orang beriman atau beragama kita dipanggil juga untuk mengasihi mereka yang kecil, miskin dan berkekurangan, yang pada umumnya tidak ada yang didunia ini yang dapat diandalkan dan mereka mengandalkan diri pada kemurahan hati Tuhan dan belaskasihNya melalui orang-orang yang baik hati dan berbelas kasih. Maka dengan ini kami mengajak anda sekalian untuk baik hati dan berbelas kasih kepada yang kecil, miskin dan berkekurangan. Secara khusus kami mengajak untuk memperhatikan anak-anak kecil, entah yang masih balita atau sudah duduk di Taman Kanak-Kanak maupun Sekolah Dasar. Ingat dan sadari bahwa mereka adalah masa depan kita, tidak baik hati, berbelas kasih dan memperhatikan mereka berarti tidak mendambakan masa depan yang baik, membahagiakan dan menyelamatkan.
·   Salam dalam Tuhan kepada kamu dari Tertius, yaitu aku, yang menulis surat ini. Salam kepada kamu dari Gayus, yang memberi tumpangan kepadaku, dan kepada seluruh jemaat. Salam kepada kamu dari Erastus, bendahara negeri, dan dari Kwartus, saudara kita” (Rm 16:22-23), demikian salam Paulus kepada umatnya. Memberi salam pada umumnya diungkapkan pada awal perjumpaan, entah perjumpaan secara phisik atau tatap muka, secara maya melalui tilpon, internet dll., misalnya selamat pagi, selamat jumpa, salam sejahtera, asalalamualaikum, dst..  Salam berarti selamat, maka saling memberi salam  berarti saling mendambakan keselamatan atau saling mendukung dalam mengusahakan keselamatan bersama. Marilah saling meningat dan mengenangkan sebagai saudara, sahabat atau kenalan, dan kita saling mendoakan agar kita semua dalam keadaan selamat, damai sejahtera lahir dan batin, phisik dan spiritual. Kita semua dipanggil juga untuk saling ‘memberi tumpangan’ entah secara phisik atau spiritual, secara phisik berarti ketika ada saudara, sahabat atau kenalan bertamu ke rumah kita, maka kita beri tempat yang layak, sedangkan secara spiritual berarti dalam hati kita tersedia ‘tempat’ untuk mengingat-ingat dan mengenangkan, dengan kata lain meskipun secara phisik kita sendirian namun secara spiritual kita banyak teman, sahabat dan kawan. Allah menghendaki kita semua umat beriman atau beragama untuk saling memperhatikan dan mendoakan guna menggalang, mengusahakan dan meneguhkan persaudaraan atau persahabatan sejati antar kita yang berbeda satu sama lain. Maka jauhkan aneka pandangan dan sikap sempit, yang hanya mementingkan atau mengutamakan kepentingan dan keinginan pribadi, marilah menjadi pribadi yang social.
Setiap hari aku hendak memuji Engkau, dan hendak memuliakan nama-Mu untuk seterusnya dan selamanya. Besarlah TUHAN dan sangat terpuji, dan kebesaran-Nya tidak terduga. Angkatan demi angkatan akan memegahkan pekerjaan-pekerjaan-Mu dan akan memberitakan keperkasaan-Mu. Semarak kemuliaan-Mu yang agung dan perbuatan-perbuatan-Mu yang ajaib akan kunyanyikan.”
 (Mzm 145:2-5)
Ign 5 November 2011

Tags : , , , , ,

Cuma Ikut-ikutan

Ayat bacaan: Amsal 1:10
====================
“Hai anakku, jikalau orang berdosa hendak membujuk engkau, janganlah engkau menurut”

ikut-ikutanAda banyak orang yang tadinya baik-baik tetapi kemudian terjerumus ke dalam berbagai bentuk kejahatan karena ikut-ikutan temannya. Mereka terpengaruh oleh lingkungan pergaulan yang buruk dan ikut terseret ke dalam kesesatan. Kita sering mendengar orang-orang yang ketika di tangkap mengaku bahwa mereka hanya ikut-ikutan saja. Tetapi sayangnya seringkali justru mereka inilah yang lebih sering tertangkap dan harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di depan hukum ketimbang orang-orang yang memang dengan sengaja menjerumuskan atau otak yang merencanakan sejak semula. Maka kita kerap mendengar orang yang menjadi rusak karena pergaulan yang salah. Tadinya orang itu hidup baik, namun ketika masuk ke dalam lingkungan pergaulan yang salah mereka terjerumus ikut-ikutan masuk ke dalam dosa. Awalnya mungkin bisa berkata tidak, namun lambat laun apa yang kita ketahui sebagai dosa itu akan mulai terlihat biasa-biasa saja, lalu kita pun mulai memberi toleransi. Yang terjadi selanjutnya, orang yang tadinya baik bisa berubah menjadi sosok baru yang tidak lagi peka terhadap dosa.

Hal seperti ini sering terjadi dalam hidup kita. Hidup di dunia yang penuh dengan keinginan-keinginan daging yang dikejar oleh orang-orang yang tidak takut akan Tuhan tidaklah mudah. Mereka ada di sekitar kita, terus menawarkan sesuatu yang sepintas terlihat menyenangkan, nikmat dan indah, namun ada banyak kejahatan di mata Tuhan yang mengintip di baliknya. Jika tidak mawas diri maka kita pun bisa terjerumus ke dalamnya, lalu lupa akibat atau konsekuensi yang harus kita tanggung ketika dosa-dosa itu menguasai kita. Sebuah lingkungan pertemanan yang tidak sehat seringkali menjerumuskan orang ke dalam dosa. Konsekuensinya kelak harus kita tanggung, dan penyesalan biasanya datang terlambat. Apakah ini berarti kita tidak boleh membuka diri seluas-luasnya untuk berteman dengan banyak orang? Tentu saja bukan demikian. Kita tidak dilarang untuk berteman dengan orang lain, hanya saja kita harus memperhatikan benar dengan siapa kita menjalin hubungan pertemanan karena tidak peduli sekuat apapun iman kita, ketika kita terus menerus memberi toleransi akan dosa maka cepat atau lambat kita bisa terpengaruh lalu menuruti bujukan-bujukan mereka.

Sejak dahulu kala Salomo sudah mengingatkan akan hal ini. “Hai anakku, jikalau orang berdosa hendak membujuk engkau, janganlah engkau menurut.” (Amsal 1:10). Ini sebuah pesan yang sangat penting. Salomo dengan hikmatnya sudah bisa melihat kecenderungan manusia yang gampang termakan bujukan untuk berbuat dosa. Orang-orang berdosa akan selalu mencari orang lain untuk mengikuti gaya hidup mereka yang salah. Dan kita kerap menuruti mereka dengan didasari banyak alasan. Takut dianggap ketinggalan jaman alias kampungan atau kuno, gengsi atau segan jika menolak, takut dikucilkan dari pergaulan dan sebagainya bisa menjadi awal kejatuhan kita.

Dalam begitu banyak ayat Firman Tuhan telah mengingatkan betapa berbahayanya bermain-main dengan dosa. Mungkin semua berawal dengan sederhana lewat keinginan-keinginan daging yang ditawarkan oleh orang-orang berdosa. Mungkin awalnya hanya coba-coba, mungkin hanya ingin tahu dan alasan lainnya, tetapi ingatlah bahwa meski terlihat sepele hal seperti ini bisa menjadi awal hadirnya masalah. Yakobus menyampaikan gambaran betapa berbahayanya ketika kita mulai bertoleransi dengan dosa. “Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.” (Yakobus 1:15). Berawal hanya dari keinginan, kemudian ketika dibuahi itu akanmelahirkan dosa. Dan ketika dosa menjadi matang dalam diri kita maka itu akan berujung pada maut. Ini adalah hal yang sangat serius yang harus kita perhatikan mengingat kita hidup di dunia yang dipenuhi orang-orang yang siap menyesatkan kita. Mereka akan terus menawarkan banyak kenikmatan yang sangat dirindukan oleh daging kita. Itulah sebabnya kita benar-benar harus berhati-hati dalam lingkungan pergaulan kita. Adalah baik apabila kita bisa menjadi pengaruh yang baik di tengah lingkungan yang buruk, membawa mereka masuk dalam pertobatan dan berbalik dari jalan-jalan yang jahat, tetapi kita harus berhati-hati agar jangan sampai bukannya menjadi terang dan garam tetapi malah kita yang terseret arus kejahatan.

Seperti apa saja bentuknya keinginan-keinginan yang bisa berbuah dosa dan melahirkan maut itu? Paulus sudah merincinya. “Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya.” (Galatia 5:19-21a). Dan terhadap pelaku dari semua itu tidak akan mendapatkan bagian dalam Kerajaan Allah. (ay 21b). Lihatlah poin-poin keinginan yang bisa melahirkan maut itu. Bukankah itu bukan lagi hal yang asing bagi kita hari ini? Dimana-mana ada potensi penyesatan, dan apabila tidak hati-hati maka kita pun akan terjerumus kedalamnya.

Alkitab telah mengingatkan kita agar berhati-hati dalam bergaul. “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” (1 Korintus 15:33). Kita harus memperhatikan dengan sungguh-sungguh kepada siapa kita bergaul. Kita memang tidak boleh memusuhi mereka, namun kita wajib berhati-hati agar jangan termakan bujukan mereka lalu masuk ke dalam jerat dosa. Perhatikanlah hikmat Salomo kemudian berkata:  “..mereka menghadang darahnya sendiri dan mengintai nyawanya sendiri” (Amsal 1:18). Peran kita adalah untuk menyadarkan dan menyelamatkan mereka dari kebinasaan bukannya malah ikut-ikutan masuk ke dalamnya. Kita harusnya contoh atau keteladanan bukannya malah dengan mudah terbujuk untuk ikut-ikutan. Firman Tuhan pun mengingatkan “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Roma 12:2). Segala perbuatan dosa sesungguhnya berasal dari Iblis. Dan Yesus pun sudah hadir ke dunia atas kebesaran kasih Allah pada diri kita untuk membayar lunas semua itu. Alkitab menyatakan demikian: “barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya. Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu.” (1 Yohanes 3:8). Dosa-dosa memang bisa dikemas dengan indah dan penuh kenikmatan, tetapi apa yang sesaat itu sama sekali tidak sebanding dengan akibat yang harus kita tanggung selamanya kelak. Hari ini marilah kita sama-sama mawas diri memperhatikan pergaulan kita dan terlebih lagi menjaga diri kita agar tidak termakan bujuk rayu mereka yang berdosa. Ikut-ikutan tidak akan pernah cukup menjadi alasan untuk mengelak dari konsekuensi yang harus kita tanggung kelak ketika kita terjerumus masuk ke dalam jebakan dosa.

Berikan pengaruh yang baik dalam lingkungan bukan sebaliknya malah ikut-ikutan menjadi jahat

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tags : , , , , ,

4 Nov

“Anak dunia ini lebih cerdik dari sesamanya anak terang”
(Rm 14:15-21; Luk 16:1-8)
“Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan, bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya. Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apakah yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungan jawab atas urusanmu, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara. Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu. Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka. Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah hutangmu kepada tuanku? Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, duduklah dan buat surat hutang lain sekarang juga: Lima puluh tempayan. Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Dan berapakah hutangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, buatlah surat hutang lain: Delapan puluh pikul. Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang.”(Luk 16:1-8), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Carolus Borromeus, uskup,  hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Berurusan dengan uang atau harta benda atau hal-hal duniawi memang harus cerdik jika mendambakan kesuksesan atau keberhasilan, sebagaimana dilakukan oleh para bankir atau pedagang saham di bursa-bursa saham maupun para pedagang di pasar-pasar tradisionil. Mereka pada umumnya juga tidak jujur guna mendukung dan memperkuat kecerdikannya. Maka paradigma para pengelola harta benda atau uang akan bertolak belakang dengan paradigma para rohaniwan-rohaniwati maupun pembantu-pembantunya dalam mengurus atau mengelola umat Allah, manusia beriman, sebagaimana juga dilakukan oleh Carolus  Borromeus. Sebagai uskup atau pelayan umat Allah Carolus Borromeus juga cerdik, namun juga tulus dan jujur, maka ia dapat melihat dan berpihak pada mereka yang kurang diperhatikan seperti orang-orang sakit maupun dengan tegas dan berani melawan dan memberantas semangat materialistis yang telah merasuki Gereja, para imam maupun tokoh-tokoh Gereja. Sebagai umat beriman kita dipanggil untuk cerdik dan beriman, tulus dan jujur, tidak cukup hanya cerdik saja. Marilah kita berantas semangat materialistis yang merasuki hidup beriman atau beragama, entah dengan keteladanan kita maupun gerakan bersama. Sesuatu yang sungguh memprihatinkan bahwa di dalam kehidupan menggereja di tingkat paroki misalnya, ada seksi sosial yang seharusnya berjiwa sosial namun dalam kenyataannya materialistis. Sungguh kontradiktif anara atribut dan pelaknasaannya. Sebagai contoh konkret adalah pengurusan orang mati, yang dengan mudah dikomersielkan oleh orang-orang bersikap mental materialistis, dan mungkin juga dalam pelayanan orang sakit.
·   Demikianlah dalam perjalanan keliling dari Yerusalem sampai ke Ilirikum aku telah memberitakan sepenuhnya Injil Kristus. Dan dalam pemberitaan itu aku menganggap sebagai kehormatanku, bahwa aku tidak melakukannya di tempat-tempat, di mana nama Kristus telah dikenal orang, supaya aku jangan membangun di atas dasar, yang telah diletakkan orang lain” (Rm 15:19b-20). Dalam melaksanakan tugas pengutusannya Paulus senantiasa ‘berjalan’, tidak berhenti di tempat, dengan kata ia menghayati panggilannya dengan semangat memperbaharui, entah memperbaharui diri maupun lingkungan hidupnya. Ia berani mengadakan inovasi maupun terobosan-terobosan seraya terus menerus mencari celah-celah yang harus dilaluinya. Paulus kiranya dapat menjadi teladan bagi kita semua dalam menghayati semangat missioner kita sebagai umat beriman atau beragama, yaitu semangat pembaharuan, tentu saja tidak asal baru, melainkan pembaharuan yang sungguh mengembangkan, menggairahkan serta membahagiakan atau menyelamatkan, terutama jiwa manusia. Memang terhadap apa-apa yang baru pada umumnya orang bergariah, maka marilah kita sadari dan hayati bahwa setiap detik, menit, jam, hari yang akan kita lalui adalah baru adanya, dengan kata lain marilah kita hadapi masa depan dengan gairah dan gembira. Secara khusus kami berharap kepada mereka yang bekerja dalam pelayanan terhadap orang sakit hendaknya dengan gairah dan gembira melayani setiap orang sakit atau pasien; kegembiraan dan kegairahan anda merupakan obat yang ampuh sekaligus wujud ‘markerting’ diri maupun karya anda. Semoga semangat Carolus Borromeus menjiwai siapapun yang berkarya dalam pelayanan orang-orang sakit.
“Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, sebab Ia telah melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan kepada-Nya oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus. TUHAN telah memperkenalkan keselamatan yang dari pada-Nya, telah menyatakan keadilan-Nya di depan mata bangsa-bangsa. Ia mengingat kasih setia dan kesetiaan-Nya terhadap kaum Israel, segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang dari pada Allah kita. Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi, bergembiralah, bersorak-sorailah dan bermazmurlah!” (Mzm 98:14)
Ign 4 November 2011. “Selamat pesta para mereka yang memiliki pelindung St.Carolus Borromeus

Tags : , , , , ,

3 Nov

“Akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat "
(Rm 14:7-12; Luk 15:1-10)
” Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka." Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: "Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.""Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu di antaranya, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya? Dan kalau ia telah menemukannya, ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dirhamku yang hilang itu telah kutemukan. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat." (Luk 15:1-10), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Yesus adalah Penyelamat Dunia, Ia datang untuk menyelamatkan semua yang ada di dunia ini yang tidak selamat, tentu saja pertama-tama dan terutama adalah manusia berdosa. Memang dalam kebiasaan banyak suku dan bangsa pada umumnya orang berdosa disingkiri, dijauhkan atau dikucilkan, karena ia mengganggu kehidupan bersama. Pengucilan dalam rangka mempertobatkan kiranya baik adanya, namun hanya sekedar mengucilkan hemat saya tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Sebagai umat yang beriman kepada Yesus Kristus saya mengajak anda sekalian untuk meneladanNya, yaitu “menerima orang-orang berdosa dan makan bersama dengan mereka”, artinya kita dekati, sikapi dan perlakukan orang-orang berdosa dengan kasih pengampunan. Konkretnya jika ada anak/peserta didik bodoh dan malas hendaknya didampingi dan dididik dalam dan dengan kasih serta kebebasan, jika ada anak nakal hendaknya didampingi untuk menyalurkan kenakalan atau kreatifitasnya pada apa yang baik dan menyelamatkan, jika ada orang kurangajar hendaknya diberi ajaran dengan rendah hati dan cintakasih, dst.. Mungkin untuk itu kita perlu bekerjasama, mengingat dan memperhatikan kebanyakan dari kita merasa baik, benar dan berbudi pekerti luhur. Jika kita tidak m baiklungkin mendekati secara phisik, baiklah kita dekati secara spiritual, artinya marilah kita doakan orang-orang berdosa agar bertobat dan memperbaharui diri. Dari diri kita sendiri hendaknya juga menghayati semangat pertobatan, yang berarti memperbaharui diri, menumbuh-kembangkan diri terus menerus sampai mati.
·   Tidak ada seorang pun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorang pun yang mati untuk dirinya sendiri. Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan.” (Rm 14:7-8), demikian kesaksian iman atau peringatan Paulus kepada umat di Roma, kepada kita semua segenap umat beriman. Hidup dan segala sesuatu yang menyertai hidup kita, yang kita miliki, kuasai dan nikmati sampai saat ini adalah anugerah Tuhan yang kita terima melalui sekian banyak orang yang telah berbuat baik kepada kita, memperhatikan dan mengasihi kita.  Kita diharapkan hidup penuh syukur dan terima kasih serta kemudian mewujudkan syukur dan terima kasih tersebut tidak hidup untuk dirinya sendiri melainkan hidup bagi orang lain, dengan kata lain kita hendaknya menjadi ‘man or woman with/for others’. Ingatlah, sadari dan hayati bahwa jati diri kita sebagai manusia adalah makhluk social, tak mungkin hidup sendirian saja. Marilah kita wujudkan jiwa social ini dengan memperhatikan saudara-saudari kita dimanapun dan kapanpun, tanpa pandang bulu, terutama mereka yang miskin dan berkekurangan. Ada 4(empat) prinsip hidup bersama sebagai umat beriman, yaitu: kemandirian, subsidiaritas, solidaritas dan keberpihakan kepada yang miskin dan berkekurangan. Empat prinsip tersebut saling terkait, tak dapat dipisahkan. Solidaritas dan keberpihakan kepada yang miskin dan berkekurangan inilah yang kiranya mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan, mengingat dan memperhatikan kemiskinan dan persaudaraan sejati sungguh menjadi keprihatinan kita masa kini. Kami berharap tidak ada orang serakah lagi di dunia ini, yang hanya menjadi kepentingan atau kenikmatan pribadi tanpa memperhatikan orang lain.
Sesungguhnya, aku percaya akan melihat kebaikan TUHAN di negeri orang-orang yang hidup! Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!”
 (Mzzm 27:13-14)
Ign 3 November 2011

Tags : , ,

Pohon Badam (3) : Tunas Baru dari Tongkat Mati

Ayat bacaan: Bilangan 17:8
===================
“Ketika Musa keesokan harinya masuk ke dalam kemah hukum itu, maka tampaklah tongkat Harun dari keturunan Lewi telah bertunas, mengeluarkan kuntum, mengembangkan bunga dan berbuahkan buah badam.”

pohon badam, tunas, buahSaya menanam sebuah pohon kamboja atau samoja, pohon yang bunganya biasanya dipakai untuk upacara-upacara keagamaan di Bali. Pohon ini memiliki bunga yang sangat khas baik bentuknya yang indah maupun wanginya. Di luar sana bunga ini disebut dengan Frangipangi. Aroma bunga ini pun sering dijadikan aromaterapi seperti yang bisa kita jumpai dalam banyak produk dengan berbagai bentuk. Pohon ini sempat tidak bereaksi apa-apa selama berbulan-bulan. Tidak ada apapun yang tumbuh, hanya batang yang botak tanpa memperlihatkan adanya gejala kehidupan sama sekali. Saya tidak tahu apakah pohon itu masih hidup atau tidak. Tapi saya merasa sayang untuk membuangnya dan membiarkan pohon itu terus di tempat meski terlihat seperti mati. Setelah beberapa bulan, dari pohon itu mulai muncul tunas dan daun. Untunglah saya belum membuangnya. Hari ini pohon itu tumbuh dengan suburnya penuh dengan bunga yang sangat cantik dan wangi. Apa yang terjadi pada pohon ini mengingatkan sebuah gambaran kehidupan baru yang lahir dari sesuatu yang sudah mati.

Dua hari kemarin renungan berbicara banyak mengenai pohon badam alias almond tree yang bisa tetap tumbuh dalam keempat musim, termasuk di dalam musim salju. Keindahan bunga badam yang berwarna putih dipadu dengan putihnya salju memberikan kesan tersendiri yang indah dipandang mata. Dalam bahasa Ibrani kata badam ini berarti “yang berjaga” atau “yang bangun”, menggambarkan karakteristik pohon badam yang berbeda dari pohon-pohon lainnya. Hari ini saya ingin mengangkat satu renungan lagi dari pohon badam, ketika pohon ini kembali disebutkan di dalam Alkitab pada jaman Musa dan Harun.

Pada saat itu Tuhan memerintahkan Musa untuk mengumpulkan tongkat dari pemimpin-pemimpin tiap suku dan menuliskan nama pemimpin pada masing-masing tongkat. Dalam pesan itu secara spesifik pula Tuhan menyuruh nama Harun ditulis pada tongkat suku Lewi. Tongkat itu kemudian harus diletakkan di dalam Kemah Pertemuan di mana peti yang berisi tabut Perjanjian berada. Tuhan lalu bersabda: “Dan orang yang Kupilih, tongkat orang itulah akan bertunas; demikianlah Aku hendak meredakan sungut-sungut yang diucapkan mereka kepada kamu, sehingga tidak usah Kudengar lagi.” (Bilangan 17:5). Keesokan harinya, ternyata tongkat Harun lah yang mengeluarkan tunas. “Ketika Musa keesokan harinya masuk ke dalam kemah hukum itu, maka tampaklah tongkat Harun dari keturunan Lewi telah bertunas, mengeluarkan kuntum, mengembangkan bunga dan berbuahkan buah badam.” (ay 8). Kemudian Tuhan berfirman kepada Musa, “Kembalikanlah tongkat Harun ke hadapan tabut hukum untuk disimpan menjadi tanda bagi orang-orang durhaka, sehingga engkau mengakhiri sungut-sungut mereka dan tidak Kudengar lagi, supaya mereka jangan mati.” (ay 10).

Tongkat berasal dari sebatang kayu yang sudah mati. Apa yang dialami oleh Harun menjadi momen bagi Tuhan untuk menunjukkan kuasaNya yang ajaib, untuk memperteguh iman agar bangsa itu tidak lagi bersungut-sungut dan karenanya tidak harus menerima hukuman. Di sisi lain, tunas dan bunga badam yang tumbuh di tongkat yang notabene benda mati berbicara mengenai kehidupan yang kembali muncul dari sesuatu yang sudah mati. Bagi anak-anak Tuhan, hidup ditengah keduniawian yang “mati” secara rohani bukan berarti bahwa kita harus ikut-ikutan mati. Kita mampu tetap bertunas, berbunga bahkan berbuah seperti halnya pohon badam. Disamping itu, jika kita mengalami kekeringan rohani dan kehilangan kasih mula-mula kemudian kehilangan damai sukacita,  mengalami banyak “kematian” dalam kehidupan kita, baik dalam pekerjaan, pendidikan, keluarga dan sebagainya, kita bisa kembali hidup, bertunas, berbunga dan berbuah pada saat kita kembali masuk ke dalam hadirat Tuhan lewat pertobatan sungguh-sungguh.

Dengan memberi diri dibaptis dan kemudian menerima Kristus pun sebenarnya kita telah dimatikan dari dosa dan kehidupan buruk kita yang lama kemudian menerima anugerah untuk kembali lahir baru, menjadi ciptaan baru, becoming the whole new creation. “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2 Korintus 5:17). Seperti itulah kita yang dimatikan dari dosa, lalu keluar kembali menjadi ciptaan baru, persis seperti tongkat Harun yang kemudian bertunas dan berbunga. Jika kita masih berselubung dosa maka lahir baru itu pun menjadi kehilangan makna. Kita tidak menjadi ciptaan baru yang benar-benar baru jika masih menghidupi kebiasaan-kebiasaan lama yang buruk. Maka kelahiran baru yang dianugerahkan Tuhan harusnya menjadi titik awal bagi kita untuk memulai sebuah hidup baru yang bersih, bukan sebaliknya malah dicemari lagi dengan dosa-dosa seperti dahulu. Paulus pun mengingatkan hal ini. “Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya? Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” (Roma 6:2-4). Kita semua yang dibaptis dalam Kristus telah mengenakan Kristus. (Galatia 3:27). Dengan demikian seharusnya tidak ada lagi tempat bagi dosa untuk terus bercokol bagi kita. Hidup dalam Kristus akan membuat kita bisa bertunas dan berbuah sepanjang musim, tanpa peduli apa kondisi, situasi atau iklim yang tengah kita hadapi.

Tongkat harun yang berbunga menunjukkan bagaimana Tuhan punya kuasa membangkitkan sebuah kehidupan baru dari sesuatu yang sudah mati. Bukan sekedar tumbuh, tetapi tunas-tunas segar dan bunga yang indah bisa keluar dari sana. Pertobatan adalah awal dari pemulihan. Tidak peduli sesulit atau separah apapun masa lalu kita, kita bisa mengalami pemulihan secara luar biasa apabila kita mau kembali kepada Tuhan dan menaati perintah-perintahNya. Mungkin kita sudah mengalami berbagai “kematian” baik dalam pekerjaan, usaha dan bahkan mengalami mati rohani, tetapi percayalah bahwa Tuhan mampu membalikkan itu semua dan kembali menumbuhkan tunas, buah dan bunga dalam sebuah kehidupan yang benar-benar baru.

Tuhan mampu memulihkan anda sepenuhnya dari beragam kematian dan menumbuhkan tunas-tunas segar baru dalam hidup anda

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

5 pencarian oleh pembaca:

  1. kayu badam
  2. contoh pohon badam
  3. apa itu kayu badam
  4. buah badam dalam alkitab
  5. arti buah badam dlm a
Tags : , ,