Renungan Harian

Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Renungan Harian - Kumpulan Renungan Iman Kristiani

2 Nov

PERINGATAN ARWAH SEMUA ORANG BERIMAN: 2Mak 12:43-46;1Kor 15:12-34; Yoh 6:37-40
“Semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman.”
Pada hari ini kita diajak untuk mengenangkan mereka yang telah dipanggil Tuhan atau meninggal dunia: kakek/nenek, orangtua, kakak/adik, sahabat dan kenalan. Maka pada hari ini pada umumnya juga diselenggarakan doa bersama atau Perayaan Ekaristi di tempat pemakaman untuk mendoakan mereka yang telah dipanggil Tuhan. Dalam rangka mengenangkan mereka yang telah dipanggil Tuhan mungkin kita lalu ingat cara hidup dan cara bertindak mereka, nasihat dan saran mereka, kenakalan, kelucuan mereka dst… Kami percaya bahwa kita akan mengingat-ingat apa yang baik, mulia, luhur dan indah yang dihayati oleh mereka yang telah meninggalkan kita. Kiranya kita semua memiliki harapan, sebagaimana disabdakan oleh Yesus, yaitu semoga “semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman”.  Maka marilah pada hari ini kita mawas diri perihal iman dan harapan kita.
Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku. Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman” (Yoh 6:37-39)
Semua orang kiranya berkendak baik, namun  karena situasi lingkungan hidup dimana kita dilahirkan dan dibesarkan berbeda satu sama lain, maka tidak mustahil kehendak baik kita berbeda satu sama lain atau bahkan saling berlawanan; terjadi pemahaman atau pengertian perihal ‘apa yang baik’ berbeda-beda. Dengan kata lain masing-masing diri kita memiliki keterbatan-keterbatasan atau kelemahan-kelemahan, dan hanya karena kasih dan kemurahan hati Allah kita akhirnya dapat melakukan apa yang lebih baik daripada apa yang kita bayangkan atau pikirkan. Demikianlah kita mengenal mereka yang hidup dekat dengan kita dan telah dipanggil Tuhan, dan mungkin kita tahu kelemahan dan kekuatan, kekurangan dan kelebihannya, serta kita ragu-ragu apakah yang bersangkutan hidup mulia selamanya bersama Allah di sorga kembali. Marilah kita imani kasih dan kemurahan hati Allah.
Dasar iman kita akan kasih dan kemurahan hati Allah adalah sabda Yesus di puncak kayu salib dalam menanggapi permohonan/doa salah seorang penjahat yang disalibkan bersamaNya "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” (Luk 23:43). Karena keterbatasan dirinya ada kemungkinan orang berkehendak baik namun dalam perilakunya tidak baik, maka orang yang demikian ini pada detik-detik terakhir hidupnya akan berdoa seperti salah seorang penjahat yang disalibkan bersamaNya  "Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja." (Luk 23:42). Kejahatan yang dilakukannya karena keterbatasan dirinya atau lingkungan hidupnya.  Maka marilah kita imani bahwa saudara-saudari kita yang telah meninggal dunia telah hidup mulia kembali di sorga bersama Allah selamanya karena kasih dan kemurahan hatiNya.
Kita semua yang masih hidup kiranya juga berharap bahwa setelah meninggal dunia nanti akan hidup mulia selamanya di sorga. Maka marilah kita wujudkan harapan kita dengan gairah, gembira dan dinamis melaksanakan aneka nasihat dan saran dari mereka yang telah meninggal dunia atau meneladan cara hidup dan cara bertindaknya yang baik. Dengan kata lain kita tidak terpisahkan dari mereka yang telah meninggal dunia jika kita hidup bersama dan bersatu dengan Tuhan. Harapan kita wujudkan dengan melaksanakan semua kehendak Tuhan seoptimal dan sebaik mungkin, dan kiranya usaha tersebut akan berhasil jika kita bekerjasama. Maka sebagaimana kita hari ini berdosa bersama-sama, marilah kita wujudkan kebersamaan tersebut dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari.  
Jadi, bilamana kami beritakan, bahwa Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, bagaimana mungkin ada di antara kamu yang mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan orang mati? Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan” (1Kor 15:12-13)
Sebagai orang beriman kita percaya akan kebangkitan orang mati di akhir zaman, apalagi orang yang beriman kepada Yesus Kristus. Dengan kata lain kita percaya kepada apa yang belum atau tidak kelihatan, itulah cirikhas orang beriman. Dengan kata lain beriman berarti tidak hidup dan bertindak secara materialistis, hanya mengandalkan diri pada yang kelihatan dan tidak percaya kepada Yang Ilahi. Memang percaya kepada yang tak kelihatan pada umumnya juga membuat percaya kepada yang kelihatan semakin handal dan tangguh. Sebagai orang beriman percaya kepada apa yang kelihatan, entah itu manusia, binatang atau tanaman atau harta benda dan percaya kepada Yang Ilahi bagaikan mata uang bermuka dua, dapat dibedakan namun tak dapat dipisahkan.
Tanda bahwa kita percaya kepada Yang Ilahi antara lain ketika kita menghadapi tugas berat, tantangan, hambatan serta masalah kita akan tetap tegar, gembira, ceria, bersemangat dan dinamis, karena Allah senantiasa menyertai dan mendampingi hidup dan perjalanan kita. Sendirian di tengah malam kelam di jalanan atau di rumah pun juga tak takut dan tak gentar, karena ditemani oleh Allah. Aneka tantangan, hambatan, masalah dan tugas berat justru membangkitkan dan menggairahkan cara hidup dan cara bertindak kita, maka orang sungguh beriman suka akan tantangan, hambatan, masalah  dan tugas-tugas berat. Ia akan berusaha mencari celah-celah guna mengatasi atau menerobos masalah, tantangan, hambatan dan tugas berat tersebut. Masalah, tantangan, hambatan dan tugas berat menjadi wahana perkembangan  dan pertumbuhan.
Orang beriman yang percaya kepada kebangkitan bagaikan kecambah yang sedang tumbuh dan ditutupi dengan dedauan atau jerami, dimana ia justru semakin tumbuh alias tambah tinggi atau besar serta terus berusaha menatap sang matahari, pemberi kehidupan. Maka orang beriman akan mencari celah-celah di tengah kekacauan dan keributan untuk menemukan Allah, dengan kata lain mencari dan menemukan apa yang baik, kekuatan dan kesempatan guna mengatasi kekacauan atau keributan yang sedang berlangsung. Orang beriman dapat ‘topo ing rame’, menemukan Tuhan dalam keramaian dan keributan. Ia mengusahakan kesucian hidup dengan sungguh mendunia, membumi, berpartisipasi dalam seluk-beluk duniawi di bumi ini. Ia sungguh penyelamat yang menyelamatkan apa yang tidak selamat.
Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya TUHAN! Tuhan, dengarkanlah suaraku! Biarlah telinga-Mu menaruh perhatian kepada suara permohonanku. Jika Engkau, ya TUHAN, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan, Tuhan, siapakah yang dapat tahan? Tetapi pada-Mu ada pengampunan, supaya Engkau ditakuti orang.” (Mzm 130:1-4)
Ign 2 November 2011

1 Nov

HR SEMUA ORANG KUDUS: Why 7:2-4.9-14; 1Yoh 3:1-3; Mat 5:1-12a
“Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah”
Kiranya kita semua tahu atau kenal dengan Ibu Teresa dari Calcuta, entah melalui bacaan buku atau media cetak atau media elektronik. Ia adalah seorang biarawati yang tersentuh dan tergerak hatinya atas penderitaan jutaan manusia yang miskin dan berkekurangan serta kurang menerima perhatian; ia meninggalkan kemegahan biara dan sekolah yang diasuhnya dan kemudian ‘menggelandang’ di jalanan untuk menemani orang yang hampir mati atau sakit, bayi yang dibuang oleh yang melahirkannya, memberi makan apa adanya kepada mereka yang kelaparan dst.. Pribadi dan karyanya begitu memikat, mempesona dan menarik banyak orang, dan pada suatu saat diwawancari oleh seorang wartawan TIME. “Ibu menurut kata banyak orang ibu adalah orang suci atau santa yang masih hidup. Sebenarnya orang suci itu semacam apa ibu?”, demikian kurang lebih pertanyaan sang wartawan kepada Ibu Teresa. Dan dengan rendah hati dan mantap Ibu Teresa menjawab:”Orang suci itu bagaikan lobang kecil dimana orang dapat mengintip siapa itu Tuhan, siapa itu manusia dan apa itu harta benda”. Memang dari cara hidup dan cara bertindak ibu Teresa kita dapat mendalami kebenaran perihal ‘siapa Tuhan, siapa manusia dan apa harta benda’.  Maka marilah pada Hari Raya Semua Orang Kudus hari ini kita mawas diri, entah dengan cermin ibu Teresa dari Calcuta, santo-santa pelindung kita masing-masing atau bacaan-bacaan hari ini. Perkenankan saya merefleksikan secara sederhana apa yang tertulis dalam Injil hari ini.
"Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” (Mat 5:3)
Miskin di hadapan Allah”  berarti menggantungkan atau mengandalkan diri sepenuhnya kepada Allah, menyadari dan menghayati bahwa hidup dan segala sesuatu yang kita miliki, kuasai dan nikmati sampai saat ini adalah anugerah Allah, cara hidup dan cara bertindaknya dikuasai atau dirajai oleh Allah sehingga hidup dan bertindak menurut kehendak Allah. Dalam keadaan atau kondisi dan situasi apapun orang yang ‘miskin di hadapan Allah’ senantiasa bergembira dan berbahagia, karena bersama dan bersatu dengan Allah, dan tidak takut menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan dalam penghayatan iman. Ia dapat menemukan Allah dalam segala sesuatu atau menghayati segala sesuatu dalam Allah.
Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.” (Mat 5:4)
Menemukan Allah dalam segala sesuatu atau menghayati segala sesuatu dalam Allah” memang butuh perjuangan dan pengorbanan alias siap sedia untuk berdukacita. Berdukacita berarti ada yang meninggal atau ditinggalkan, dan tentu saja dalam hal ini bukan orang, melainkan keinginan, nafsu, harapan atau dambaan pribadi yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita.
 Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia.” (Yoh 16:20-21), demikian sabda Yesus. Marilah sabda Yesus ini kita renungkan, refleksikan dan hayati dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari.
Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.” (Mat 5:5)
Buah atau dampak ketahanan dan ketabahan dalam berdukacita atau penderitaan adalah lemah lembut, sabar dan tekun, tidak kasar dan tidak terburu-buru dalam menghadapi segala sesuatu. Yang bersangkutan juga hidup membumi, memperhatikan hal-hal sederhana dengan penuh cintakasih, ia mengerjakan hal-hal sederhana dan kecil dengan kasih yang besar. Kami percaya bahwa pada umumnya rekan-rekan perempuan atau para ibu lebih lemah lembut dari pada rekan-rekan laki-laki atau para bapak, maka kami berharap rekan-rekan perempuan atau para ibu dapat menjadi teladan dalam kelemah lembutan dalam hidup sehari-hari di dalam lingkungan hidup maupun lingkungan kerjanya, dan kepada rekan-rekan laki-laki atau para bapak hendaknya tidak malu-malu belajar lemah lembut juga dari rekan-rekan perempuan atau para ibu. 
Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan” (Mat 5:6).
Perkembangan dari lemah lembut adalah ‘lapar dan haus akan kebenaran’, yang bersangkutan sungguh membuka diri sepenuhnya terhadap aneka macam nasihat, saran, ajaran , informasi dst.. dalam rangka menemukan kebenaran. Kebenaran sejati antara lain adalah bahwa kita adalah orang-orang lemah, rapuh dan berdosa yang dikasihi dan dipanggil oleh Allah untuk berpartisipasi dalam karya penyelamatanNya. Maka yang bersangkutan sungguh menghayati diri sebagai yang diperhatikan, banyak orang memperhatikannya, dan dengan demikian ia sungguh dipuaskan dengan berbagai bentuk perhatian.    
Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.” (Mat 5:7)
Orang yang menghayati diri sebagai yang diperhatikan banyak orang berarti kaya akan kemurahan hati, maka yang bersangkutan akan bermurah hati juga kepada orang lain atau siapapun juga. Murah hati berarti hatinya dijual murah alias siapapun boleh minta diperhatikan atau ia memperhatikan siapapun tanpa pandang bulu. Masing-masing dari kita kiranya telah menerima kemurahan hati Allah, terutama dan pertama-tama melalui orangtua kita masing-masing, khususnya ibu kita yang telah mengandung dan melahirkan serta membesarkan dan  mengasuh kita dengan sepenuh hati. Maka selayaknya sebagai umat beriman kita saling bermurah hati atau memperhatikan.   
Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.” (Mat 5:8)
Buah bermurah hati adalah suci atau  sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci” (1Yoh 3:2-3). Orang suci adalah “orang yang menaruh pengharapan kepadaNya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci”. Orang suci mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah, sehingga semakin dikasihi oleh Allah dan sesamanya. Ia sungguh menjadi ‘kekasih Allah’
Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” (Mat 5:9)
“Menjadi kekasih Allah” secara otomatis akan “membawa damai” dimana pun ia berada atau kemana pun ia pergi, terutama damai di hati. Bersama dan bergaul dengan ‘kekasih Allah’ akan terasa sejuk, damai dan tenteram serta aman. Perdamaian menjadi dambaan atau kerinduan semua orang, maka marilah kita sebagai orang beriman atau kekasih Allah senantiasa menjadi saksi atau teladan perdamaian serta menyebarluaskan perdamaian kepada siapapun dan dimanapun . “There is no peace without justice, there is no justice without forgiveness” (= Tiada perdamaian tanpa keadilan, tiada keadilan tanpa kasih pengampunan), demikian pesan Paus Paulus II memasuki millennium ketiga yang sedang kita jalani ini. Pembawa damai berarti senantiasa mengampuni siapapun yang telah menyalahi atau menyakitinya.    
Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” (Mat 5:10)
Memang ketika kita disalahi atau disakiti segera mengampuninya dan tidak balas dendam , kita akan merasa ‘teraniaya’. Baiklah jika demikian adanya marilah kita memandang dan menatap Dia yang tergantung di kayu salib. Untuk mewujudkan Kerajaan Allah/Sorga atau Allah yang meraja di dunia ini memang harus melalui penderitaan bahkan sampai wafat di kayu salib. Teraniaya atau menderita karena kebenaran adalah jalan keselamatan atau kebahagiaan sejati, maka nikmati saja apa adanya.
Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat” (Mat 5:11)
Tibo kebrukan ondho” = Jatuh tertimpa tangga, demikian kata pepatah Jawa. Ada kemungkinan dalam keadaan teraniaya dan menderita karena kebenaran kita masih dicela dan difitnah. Sekali lagi nikmati dan hayati aneka celaan dan fitnahan dalam dan bersama Tuhan, meneladan Yesus, Penyelamat Dunia, yang telah mengalaminya.
TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya. Sebab Dialah yang mendasarkannya di atas lautan dan menegakkannya di atas sungai-sungai. "Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?" "Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan” (Mzm 24:1-4b)
Ign 1 November 2011

31 Okt

“Engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang  benar”

(Rm 11:29-36; Luk 14:12-14)

Yesus berkata juga kepada orang yang mengundang Dia: "Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula dan dengan demikian engkau mendapat balasnya. Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta. Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar.” (Luk 14:12-14), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Alfonsus Rodriguez, biarawan/bruder Yesuit, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Alfonsus Rodriguez dikenal sebagai biarawan atau bruder SJ yang sederhana dan pendoa, maka ia boleh dikatakan termasuk orang-orang yang dikehendaki oleh Yesus maupun melaksanakan sabdaNya , sebagaimana disabdakan dalam Warta Gembira hari ini “undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta”. Tugas utamanya sebagai bruder Yesuit adalah menerima tamu atau menjaga pintu gerbang, dengan demikian ia bertemu dengan aneka macam orang yang datang atau memiliki kepentingan dengan segenap anggota kolese/komunitas dimana ia tinggal dan bekerja. Dengan keramahan dan kerendahan hati ia menerima tamu-tamunya, dan sementara tidak ada tamu ia berdoa untuk mendoakan sahabat-sahabat atau siapapun yang minta didoakan. Dengan kata lain Alfonsus Rodriguez sungguh menjadi ‘man for/with others’, seluruh hidup dan dirinya dipersembahkan kepada Tuhan melalui sesamanya tanpa pandang bulu. Kita dipanggil untuk meneladannya, dan sesama yang perlu kita perhatikan pada masa kini adalah ‘orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta”, dengan kata lain mereka yang miskin dan berkekurangan. Maka marilah kita hayati dan sebarluaskan salah satu prinsip hidup menggereja, yaitu ‘preferential option for/with the poor’. Kemiskinan merupakan salah satu keprihatinan yang hendaknya kita tanggapi dengan sungguh-sungguh, karena terjadi keserakahan sementara orang maka banyak orang menjadi semakin miskin. Dari diri kita sendiri hendaknya hidup dan bertindak sederhana, tidak boros dan tidak berfoya-foya.

·   Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya? Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” (Rm 11:34-36), demikian kesaksian iman Paulus kepada umat di Roma, kepada kita semua umat beriman. Sebagai orang Kristen atau Katolik sering menerima ejekan dari orang lain bahwa Allah orang Kristen dan Katolik adalah Tiga dengan menyatakan diri Allah Tritunggal. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang secara sempurna mengetahui dan memahami siapa itu Allah, melainkan hanya sampai pada gambaran sebagai Yang Maha Kuasa, Maka Kasih, Maha Adil, Maka Pemurah dst.. Sebagai orang Kristen atau Katolik kita menggambarkan Allah sebagai Bapa, maka benarlah kata Paulus bahwa “segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selamanya”. Maaf tanpa bermasksud melecehkan rekan-rekan perempuan dan mungkin sedikit porno: bukankah masing-masing dari kita ada karena kreatifitas dan usaha keras dari sperma yang mencari dan menyatu dengan sel telor. Konon kita ini laki-laki atau perempuan juga ditentukan jenis sperma yang menyatu dengan sel telor. Dalam masyarakat paternalistis peranan bapa/laki-laki dalam keluarga sangat dominan juga, dan semua anggota keluarga seolah-olah tergantung sepenuhnya kepada bapa/ayah. Diri kita dan segala sesuatu yang kita miliki, kuasai dan nikmati sampai saat ini berasal dari Allah, anugerah Allah yang kita terima karena kasih, kemurahan dan kebaikan Allah melalui orang-orang atau siapapun yang mengasihi dan memperhatikan kita. Maka selayaknya  kita hidup dan bertindak dengan rendah hati, sebagaimana juga dihayati oleh Alfonsus Rodriguez. Sekali lagi kami ingatkan: semakin tua, semakin tambah usia, semakin berpengalaman, semakin kaya, semakin cerdas atau pandai, semakin  suci, dst.. hendaknya semakin rendah hati. Ingat pepatah “bulir/batang padi semakin tua dan berisi semakin menunduk”.

Tetapi aku ini tertindas dan kesakitan, keselamatan dari pada-Mu, ya Allah, kiranya melindungi aku! Aku akan memuji-muji nama Allah dengan nyanyian, mengagungkan Dia dengan nyanyian syukur; Lihatlah, hai orang-orang yang rendah hati, dan bersukacitalah; kamu yang mencari Allah, biarlah hatimu hidup kembali! Sebab TUHAN mendengarkan orang-orang miskin, dan tidak memandang hina orang-orang-Nya dalam tahanan” (Mzm 69:30-31.33-34)

Ign 31 Oktober 2011

Incoming search terms:

Mg Biasa XXXI

Mg Biasa XXXI: Mal 1:14b-2:2b.8-10; 1Tes 2:7b-9.13; Mat 23:12
” Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.”
Kerajaan Allah berbeda atau bertolak bertolak belakang dengan Kerajaan Dunia. Para raja, presiden, perdana menteri atau kepala Negara di dunia ini pada umumnya gila harta benda, kedudukan/jabatan dan kehormatan duniawi dan jika perlu melakukan KKN (Kolusi, Korupsi dan Nepotisme). Mungkin yang melakukan korupsi bukan pemimpin yang bersangkutan, melainkan isterinya/suaminya, anak-anaknya atau kerabat dekatnya. Ketika mereka ketahuan melakukan korupsi maka pemimpin yang bersangkutan berusaha melindungi dan menutup-nutupi dengan berbagai cara dan usaha. Mereka juga tak segan-segan menyingirkan orang-orang yang menghalangi cita-cita atau dambaannya, yang hanya mencari keuntungan pribadi, keluarga atau kerabat/kelompoknya. Berbeda dengan pemimpin agama yang sejati dan baik, dimana dalam menghayati fungsi kepemimpinannya dengan semangat melayani atau mengabdi, sebagaimana diusahakan oleh para pemimpin Gereja Katolik (Paus dan para Uskup), yang menyatakan diri sebagai hamba yang hina dina, tidak gila harta benda, kedudukan/jabatan dan kehormatan duniawi. Sabda Yesus hari ini mengajak dan mengingatkan kita semua umat beriman atau  beragama, terutama para pemimpinnya di tingkat dan bidang kehidupan bersama macam apapun, untuk hidup dan bertindak dengan semangat melayani atau mengabdi.
Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.” (Mat 23:11).
Berrefleksi perihal melayani kiranya kita dapat bercermin pada pelayan yang baik entah di dalam keluarga/komunitas biara atau pastoran atau tempat kerja. Cirikhas pelayan yang baik antara lain datang/bangun lebih lebih awal dan pulang/istirahat lebih kemudian daripada anggota keluarga/komunitas atau para pekerja di tempat kerja, imbal jasa kecil, senantiasa ceria, tanggap dan cekatan, berusaha membahagiakan yang dilayani dst.. Jika pelayan tidak memiliki cirikhas tersebut diatas pada umumnya langsung dipecat tanpa pesangon, karena yang bersangkutan tidak layak menjadi pelayan.
Berusaha membahagiakan yang dilayani itulah yang kiranya baik kita refleksikan atau renungkan serta hayati.  Maka pertama-tama kami mengajak dan mengingatkan siapapun yang merasa ‘terbesar’ dalam kehidupan dan kerja bersama untuk senantiasa berusaha membahagiakan orang lain yang harus dilayani atau yang membantu tugas dan fungsinya. Cirikhas pemimpin yang baik dan sukses dalam melaksanakan fungsinya ialah semua yang dipimpinnya atau menjadi bawahannya hidup dalam damai sejahtera baik lahir maupun batin, phisik maupun spiritual. Tugas membahagiakan orang lain juga menjadi tugas semua umat beriman atau beragama, maka marilah kita hidup dan bertindak saling membahagiakan dan menyelamatkan terutama kebahagiaan atau keselamatan jiwa.
Megingat dan memperhatikan bahwa mayoritas dari kita adalah hidup berkeluarga alias menjadi orangtua dari anak-anak yang dianugerahkan oleh Tuhan, maka dengan ini kami mengingatkan dan mengajak semua orangtua untuk senantiasa berusaha membahagiakan anak-anaknya. Kebahagiaan sejati orangtua terkait dengan anak-anaknya hemat saya adalah ketika anak-anak tumbuh berkembang menjadi orang yang sehat dan cerdas beriman. Pelayan senantiasa mengasihi yang dilayani dengan memboroskan waktu dan tenaga mereka bagi yang dilayani. Maka kami berharap kepada orangtua untuk dengan rela dan besar hati memboroskan tenaga dan waktu bagi anak-anaknya, terutama bagi anak-anak selama masa balita.
Pemborosan waktu dan tenaga sebagai wujud kasih pelayanan kiranya juga baik untuk dihayati oleh para pemimpin di dalam kehidupan atau kerja dimanapun dan kapanpun. Sekali lagi kami ajak dan ingatkan hendaknya para pemimpin karya atau hidup bersama ‘turba’/turun ke bawah untuk menyapa dan memberi perhatian kepada anggota  atau bawahannya, tidak duduk manis di kamar ambil minum-minum atau melamun. Marilah meneladan Yesus “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Fil 2:6-7).  Kami juga mengingatkan para guru atau pendidik di sekolah-sekolah untuk mendidik dan mendampingi para peserta didik dalam hal semangat melayani, misalnya sering mengajak peserta didik untuk hidup dan bekerja sama dengan para pemulung, ‘live in’, mengunjungi panti asuhan dst..
Sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya. Demikianlah kami, dalam kasih sayang yang besar akan kamu, bukan saja rela membagi Injil Allah dengan kamu, tetapi juga hidup kami sendiri dengan kamu, karena kamu telah kami kasihi” (1 Tes 2:7b-8)
Apa yang dikatakan oleh Paulus kepada umat di Tesalonika di atas ini hendaknya juga menjadi kata-kata yang menjadi tindakan bagi para pemimpin atau atasan dalam hidup dan kerja bersama dimanapun dan kapanpun, serta dalam bentuk apapun. Para ibu yang pernah atau sedang ‘mengasuh dan merawati anaknya” kiranya dapat mensharingkan pengalamannya kepada siapapun yang berfungsi sebagai pemimpin atau atasan. Ada lagu yang menggambarkan kasih ibu kepada anak-anaknya, yaitu “Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagaikan sang surya menyinari dunia”.
Bagai sang surya menyinari dunia”, itulah yang kiranya baik kita renungkan, refleksikan dan hayati. Surya atau matahari yang menyinari dunia selain memberi terang juga menghidupi dan menggairahkan apa yang disinari. Kedatangan atau kehadiran kita dimanapun dan kapanpun sebagai umat beriman atau beragama hendaknya ‘menerangi, menghidupi dan menggairahkan, maka marilah kita saling menerangi, menghidupi dan menggairahkan satu sama lain. Untuk itu kiranya masing-masing dari kita hendaknya bagaikan ‘orang gila/sinting’ yang senyum-senyum terus dan tidak pernah menyakiti sesamanya; siapapun kiranya akan terhibur dengan kedatangannya.
Bukankah kita sekalian mempunyai satu bapa? Bukankah satu Allah menciptakan kita? Lalu mengapa kita berkhianat satu sama lain dan dengan demikian menajiskan perjanjian nenek moyang kita” (Mal 2:10). Apa yang dikatakan oleh nabi Maleaki ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita. Kita semua tanpa pandang bulu ‘mempunyai satu bapa, satu Allah menciptakan kita’, maka selayaknya kita semua bersaudara atau bersahabat dengan siapapun. Persaudaraan atau persahabatan sejati masa kini sedang mengalami erosi karena dirongrong oleh sekelompok orang yang radikal dan vocal. Marilah kita hadapi mereka dengan persaudaraan atau persahabatan sejati. Ingat dan sadari bahwa kita baru saja mengenangkan hari Sumpah Pemuda: satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa. Semoga apa yang telah diikrarkan oleh sekelompok pemuda sekian tahun yang lalu itu terus merasuk hati sanubari kita serta menggema dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimanapun dan kapanpun.
TUHAN, aku tidak tinggi hati, dan tidak memandang dengan sombong; aku tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar atau hal-hal yang terlalu ajaib bagiku. Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku; seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, ya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku. Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel, dari sekarang sampai selama-lamanya!” (Mzm 131)
Ign 30 Oktober 2011
 

29 Okt

“Barangsiapa meninggikan diri  ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri  ia akan ditinggikan”
(Rm 11:1-2a.11-12.25-29; Luk 14:1.7-11)
Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin dari orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama…. Karena Yesus melihat, bahwa tamu-tamu berusaha menduduki tempat-tempat kehormatan, Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: "Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat dari padamu, supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah. Tetapi, apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu: Sahabat, silakan duduk di depan. Dan dengan demikian engkau akan menerima hormat di depan mata semua tamu yang lain. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan." (Luk 14:1.7-11), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Kerendahan hati merupakan keutamaan utama dan pertama, kebalikan dari sombong. Sebagai orang beriman atau beragama kita semua dipanggil untuk hidup dan bertindak dengan rendah hati kapanpun dan dimanapun. “Rendah hati adalah sikap dan perilaku yang tidak suka menonjolkan dan menomor-satukan diri, yaitu dengan menenggang perasaan orang lain. Meskipun dalam kenyataannya lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak menonjolkan dirinya” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Menenggang perasaan orang lain atau menahan diri untuk tidak menonjolkan dirinya kiranya sungguh merupakan pengorbanan atau penderitaan. Maka wujud konkret rendah hati pada masa kini hemat kami adalah tidak mengeluh ketika harus berkorban atau menderita, ketika menghadapi tugas atau pekerja berat yang sarat dengan tantangan, hambatan atau masalah. Mengeluh merupakan tindakan lembut dari marah, yang berarti mengehendaki apa yang menyebabkan saya mengeluh atau marah jangan ada; dengan kata lain mengeluh merupakan salah satu wujud ‘budaya kematian’, tindakan atau perilaku yang mematikan. Maka kami mengajak segenap umat beriman atau beragama yang setia pada iman atau agamanya: hendaknya tidak mengeluh ketika menghadapi tantangan, hambatan atau masalah karena kesetiaan pada iman atau ajaran agama. Kami berharap kepada kita semua: hendaknya semakin tambah usia dan berpengalaman berarti semakin rendah hati, ingat pepatah “bulir/batang padi semakin berisi semakin menunduk”.   
·   Maka aku bertanya: Adakah Allah mungkin telah menolak umat-Nya? Sekali-kali tidak! Karena aku sendiri pun orang Israel, dari keturunan Abraham, dari suku Benyamin. Allah tidak menolak umat-Nya (Rm 11:1-2a). Allah adalah Mahakasih, maka kita sebagai umatNya dalam keadaan atau situasi apapun senantiasa akan diterima olehNya ketika kita menghadapNya dengan rendah hati. Maka ketika kita berdosa hendaknya dengan jujur mengaku dosa kepada Allah serta mohon kasih pengampunanNya, dan secara konkret juga minta kasih pengampunan dari mereka yang telah kita salahi atau sakiti karena kata-kata atau tindakan kita yang tak bermoral atau tak berbudipekerti luhur. Selanjutnya ketika kita telah menerima kasih pengampunan hendaknya juga menjadi saksi kasih pengampunan, artinya senantiasa rela dan besar mengampuni siapapun yang menyalahi atau menyakiti kita. Dengan kata lain sebagai umat Allah, entah agama atau keyakinannya apapun, kita diharapkan saling terbuka satu sama lain tanpa malu dan ragu-ragu. Maka dengan ini kami mengingatkan dan mengajak kita semua: hendaknya saling terbuka satu sama lain sungguh terjadi di dalam keluarga atau komunitas sebagai umat basis. Maka para orangtua atau bapak-ibu kami harapkan dapat menjadi teladan bagi anak-anaknya dalam saling terbuka satu sama lain. Maaf jika agak porno: para bapak-ibu, sebagai suami-isteri hendaknya tidak hanya terbuka satu sama lain secara phisik saja alias saling telanjang satu sama lain seperti saat berhubungan seksual, tetapi juga tebuka satu sama lain apa yang ada di dalam pikiran, hati maupun jiwa. Marilah kita sadari dan hayati kemurahan hati Allah dan kemudian kita salurkan kemurahan hati Allah kepada saudara-saudari kita dengan bermurah hati kepada mereka, artinya memberi perhatian kepada siapapun, terutama mereka yang kurang diperhatikan.
Berbahagialah orang yang Kauhajar, ya TUHAN, dan yang Kauajari dari Taurat-Mu, untuk menenangkan dia terhadap hari-hari malapetaka. Sebab TUHAN tidak akan membuang umat-Nya, dan milik-Nya sendiri tidak akan ditinggalkan-Nya; sebab hukum akan kembali kepada keadilan, dan akan diikuti oleh semua orang yang tulus hati.” (Mzm 94: 12-13a.14-15)
Ign 29 Oktober 2011

Incoming search terms:

Pohon Badam (2) : Berjaga-jaga

Ayat bacaan: Matius 24:42
===================
“Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.”

berjaga-jaga, pohon badamSeberapa pentingkah berjaga-jaga bagi kita? Ada banyak orang yang merasa masih terlalu muda untuk itu. Ada yang menganggap bahwa belum saatnya untuk hidup kudus, selagi masih muda, waktu yang ada sebaiknya dipakai untuk bersenang sepuas-puasnya. Urusan hidup kudus adalah urusan orang dewasa atau tua yang secara umum punya waktu yang lebih singkat dibandingkan anak-anak muda. Tapi sesungguhnya tidak seperti itu. Tidak ada yang tahu kapan waktu kita tiba. Bisa puluhan tahun lagi, bisa setahun lagi, bisa sejam, semenit bahkan bisa pula sedetik lagi. Itu adalah rahasia Tuhan yang tidak akan pernah bisa kita ketahui dengan pasti. Jika anda berada di lingkungan yang rawan bahaya, anda tentu akan berjalan lebih waspada. Anda tentu akan berjaga-jaga lebih dari biasanya. Seperti itu pula seharusnya kita berpikir dalam menjalani kehidupan, karena dunia hari ini adalah dunia yang jahat yang penuh dengan godaan dan ancaman dari berbagai arah. 

Kemarin kita sudah melihat bagaimana karakteristik pohon badam yang mampu terus tumbuh dan berbunga indah dalam keempat musim, termasuk di musim salju yang termasuk musim menyulitkan bagi sebagian besar pohon lainnya. Pohon Badam ini muncul ketika Yeremia mendapat sebuah visi atau penglihatan dari Tuhan. Ayatnya berbunyi demikian: “Sesudah itu firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya: “Apakah yang kaulihat, hai Yeremia?” Jawabku: “Aku melihat sebatang dahan pohon badam.” (Yeremia 1:11). Ayat ini dalam bahasa Inggris (Amp) nya dijelaskan lebih rinci. Pohon badam atau almond tree dikatakan sebagai “the emblem of alertness and activity, blossoming in late winter.” Pohon yang melambangkan kesiagaan dan keaktifan, dan mampu berbunga pada musim salju. Jika kita melihat dalam bahasa Ibrani, Badam diterjemahkan menjadi “yang berjaga” atau “yang bangun”. Tentu asal nama ini pada mulanya diambil dari sifat pohon ini yang seolah-olah tetap berjaga dan mampu tetap subur di musim apapun.

Jika kemarin kita sudah melihat bagaimana karakteristik pohon badam ini bisa menggambarkan bagaimana karakter kita seperti yang diinginkan Tuhan, yang tetap bisa bertumbuh meski dalam kondisi atau situasi apapun, hari ini mari kita lihat dari sifat lain sesuai namanya yaitu berjaga-jaga. Kehidupan bagai pohon badam disediakan bagi orang percaya yang tetap setia untuk berjaga-jaga. Tetap stand by, tetap bersiap sedia dan siap siaga, karena tidak satupun dari kita yang tahu kapan akhir itu tiba.

Perumpamaan yang diberikan Yesus sendiri mengenai lima gadis yang bijaksana dan lima gadis yang bodoh dalam Matius 25:1-13 menggambarkan hal ini secara jelas. “Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka.” (ay 3-4). Perhatikanlah lima gadis ceroboh dan menganggap sepele tugas mereka, tetapi lima lainnya menyiapkan segalanya dengan baik. Maka ketika pada malam hari sang mempelai pria datang, kedua kelompok ini memperoleh hasil yang berbeda. Gadis-gadis yang bijaksana sudah mempersiapkan minyak sehingga mereka bisa langsung masuk ke dalam ruang perjamuan, tetapi sebaliknya gadis-gadis yang bodoh luput dari kesempatan itu karena mereka masih kalang kabut menyiapkan segala sesuatu ketika saatnya tiba. “Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup.” (ay 10). Lewat perumpamaan ini jelas kita melihat seruan untuk berjaga-jaga. Tuhan Yesus sendiri menyimpulkan perumpamaan ini dengan satu kalimat singkat yang tegas: “Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.” (ay 13).

Dalam kesempatan lain kembali Yesus mengingatkan hal yang sama seperti yang bisa kita lihat pada Matius 24:37-44 yang diberi judul “Nasihat supaya berjaga-jaga”. Yesus mengatakan: “Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.” (ay 42). Lalu: “Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.” (ay 44). Seperti halnya pohon badam yang terus mampu bertahan bahkan berbunga, berbuah dalam keempat musim bahkan pada musim yang bagi sebagian besar tumbuhan lainnya akan sangat sulit untuk sekedar bertahan, demikianlah kita semua anak-anakNya yang percaya. Kita harus mampu seperti pohon badam yang terus berjaga-jaga setiap saat sehingga sanggup bertunas, berbunga dan berbuah dalam kondisi seperti apapun. Hendaklah kita terus berjaga, siap siaga kapanpun dan tidak menunda-nunda waktu lagi. Jangan sampai kita lengah atau lalai agar kita tidak luput dari keselamatan yang telah dianugerahkan Tuhan lewat penebusan Yesus. Memang tidak mudah bagi kita, karena setiap saat ada banyak godaan yang siap menjatuhkan kita. Adalah penting bagi kita untuk memperhatikan betul agar jangan lalai dan terus terlena dalam dosa. Tidak ada yang tahu berapa lama lagi kesempatan untuk bertobat dan membersihkan diri dari segala noda dosa itu ada bagi kita. Untuk itulah kita harus senantiasa berjaga-jaga. karena tidak satupun dari kita yang tahu kapan hari itu akan tiba.

Jangan lalai, tetapi berjaga-jagalah senantiasa agar kita tidak luput dari keselamatan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Pohon Badam (1) : Terus Tumbuh dalam Segala Kondisi

Ayat bacaan: Yeremia 1:11
=====================
“Sesudah itu firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya: “Apakah yang kaulihat, hai Yeremia?” Jawabku: “Aku melihat sebatang dahan pohon badam.”

pohon badamAda sebuah pohon yang disebutkan dalam beberapa kesempatan di dalam Alkitab tapi kurang kita kenal dan jarang sekali disebut namanya, yaitu Pohon Badam. Pohon Badam merupakan pohon yang mampu tumbuh pada keempat musim. Bahkan ketika musim salju, ketika pohon-pohon lainnya kebanyakan meranggas, pohon badam mampu berbunga dengan indahnya. Bunganya yang putih berpadu dengan kemilau salju akan memberi kesan keindahan tersendiri bagi mata kita. Pohon badam ini juga seringkali diasosiasikan dengan pohon yang berbunga lebih awal, karena kemampuannya untuk berbunga disaat pohon-pohon lain masih “tidur” ketika musim salju tiba. Tidak banyak pohon yang bisa bertahan selama empat musim penuh dan terus berbunga, tetapi pohon badam memiliki kelebihan itu. Adalah menarik apabila pohon badam ini berulang kali disebutkan di dalam Alkitab, Tentu ada alasan tertentu mengapa pohon ini dipakai Tuhan dalam beberapa kesempatan untuk menyampaikan sesuatu bagi kita.

Hari ini mari kita lihat sebuah kisah yang tertulis dalam kitab Yeremia. Ketika Yeremia mendapatkan tugas dari Tuhan, Tuhan memberikannya dua buah penglihatan. Yang pertama ia lihat adalah sebatang dahan pohon badam.”Sesudah itu firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya: “Apakah yang kaulihat, hai Yeremia?” Jawabku: “Aku melihat sebatang dahan pohon badam.” (Yeremia 1:11). Apa yang ia lihat merupakan visi yang diberitahukan Tuhan kepadanya. Kita bisa mengetahui bahwa apa yang dilihat Yeremia itu memang benar dahan pohon badam, sebab kemudian Tuhan membenarkan apa yang ia lihat. (ay 12). Kemudian penglihatan kedua pun datang. “Firman TUHAN datang kepadaku untuk kedua kalinya, bunyinya: “Apakah yang kaulihat?” Jawabku: “Aku melihat sebuah periuk yang mendidih; datangnya dari sebelah utara.” (ay 13). Jika penglihatan pertama terlihat indah, penglihatan kedua tidaklah demikian. Yeremia menyaksikan datangnya periuk yang mendidih dari utara. Ini menyatakan akan adanya malapetaka yang bakal menimpa penduduk yang jahat di mata Tuhan berasal dari utara. Bahkan Tuhan sendiri memberi penjelasan tentang penglihatan ini. “Lalu firman TUHAN kepadaku: “Dari utara akan mengamuk malapetaka menimpa segala penduduk negeri ini. Sebab sesungguhnya, Aku memanggil segala kaum kerajaan sebelah utara, demikianlah firman TUHAN, dan mereka akan datang dan mendirikan takhtanya masing-masing di mulut pintu-pintu gerbang Yerusalem, dekat segala tembok di sekelilingnya dan dekat segala kota Yehuda.” (ay 14-15). Ini merupakan hukuman Tuhan atas segala kejahatan bangsa Yehuda yang sudah sangat keterlaluan pada masa itu. Lihatlah apa kata Tuhan selanjutnya. “Maka Aku akan menjatuhkan hukuman-Ku atas mereka, karena segala kejahatan mereka, sebab mereka telah meninggalkan Aku, dengan membakar korban kepada allah lain dan sujud menyembah kepada buatan tangannya sendiri.” (ay 16). Menduakan Allah, itu fatal akibatnya. Bagi mereka yang jahat ini Tuhan menghukum dengan kemurkaanNya seperti periuk mendidih. Namun lihatlah di sisi lain, dahan pohon badam tersedia bagi Yeremia dan siapapun yang tetap teguh, taat dan setia kepada Tuhan. Tuhan mengatakan kepada Yeremia: “Tetapi engkau ini, baiklah engkau bersiap, bangkitlah dan sampaikanlah kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadamu. Janganlah gentar terhadap mereka, supaya jangan Aku menggentarkan engkau di depan mereka!” (ay 17). Inilah tugas Yeremia, menyampaikan bahwa saatnya sudah tiba bagi hukuman Tuhan untuk jatuh kepada bangsa itu atas kejahatan mereka. pesan Tuhan agar mereka segera berbalik dari kejahatan mereka, kembali kepada Bapa yang telah begitu banyak menunjukkan kasih dan kebaikanNya kepada mereka. Bertobatlah, agar jangan sampai periuk mendidih ini jatuh atas mereka. Janganlah periuk mendidih yang menjadi bagian mereka, tetapi hendaknya pohon badam, pohon yang terus tumbuh, berbunga dan berbuah empat musim penuh.

Saya tertarik untuk membandingkan ayat ini dengan apa yang tertulis pada awal kitab Mazmur. “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” (Mazmur 1:1-3). Pohon badam memiliki karakteristik seperti itu. Ia tidak layu dan terus berhasil tumbuh meski dalam iklim atau musim yang berbeda. Dan kitab Mazmur ini memberikan kunci bagi kita agar bisa memiliki karakteristik yang sama, sama seperti seruan dari Tuhan yang diberikan kepada Yeremia untuk mengingatkan bangsa Yehuda pada saat itu agar bertobat.

Umat Tuhan yang benar seharusnya hidup seperti pohon badam. Di tengah badai apapun, ditengah kesulitan atau lingkungan yang tidak mendukungpun tetap bisa mengeluarkan tunas, berbunga dan berbuah. Seperti itulah gambaran umat Tuhan yang ideal, dan seperti itu pula sebenarnya Tuhan menginginkan kita. Tuhan sendiri telah menyediakan segala yang diperlukan agar kita bisa seperti itu. Dia siap untuk terus menggendong kita sampai tua, “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.” (Yesaya 46:4), Tuhan bahkan siap untuk berperang bagi kita. “Janganlah takut kepada mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berperang untukmu.” (Ulangan 3:22). Atau lihat pula apa yang dikatakan Yahaziel ketika ia dihinggapi Roh Tuhan dalam kitab 2 Tawarikh: “Camkanlah, hai seluruh Yehuda dan penduduk Yerusalem dan tuanku raja Yosafat, beginilah firman TUHAN kepadamu: Janganlah kamu takut dan terkejut karena laskar yang besar ini, sebab bukan kamu yang akan berperang melainkan Allah.” (2 Tawarikh 20:15). Tentu saja ada banyak lagi janji-janji Tuhan lainnya yang akan memampukan kita untuk terus tumbuh berbunga dan berbuah subur sepanjang musim yang akan luput apabila kita tidak tertarik untuk mencari tahu ribuan janji Tuhan yang terdapat di dalam Alkitab. Bagian mana yang akan hadir pada kita dari penglihatan Yeremia, apakah pohon badam atau periuk yang mendidih, semua tergantung dari keputusan kita sendiri dalam menjalani hidup. Oleh karena itu mari kita perhatikan baik-baik cara hidup kita. Sudah sejauh mana kita mengaplikasikan Firman Tuhan dalam hidup, sudah seberapa jauh kita taat dan setia kepadaNya. Itu akan sangat menentukan apa yang akan menjadi bagian kita, apakah pohon badam atau periuk mendidih.

Hidup bagai pohon badam, itulah yang diinginkan Tuhan untuk menjadi bagian kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Incoming search terms:

Tuhan Mengerti

Ayat bacaan: Mazmur 139:1
=======================
“TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku”

Tuhan mengertiPernahkah anda merasa kecewa bahwa tidak ada satupun orang yang sepertinya mau mengerti anda? Saya pernah mengalaminya, dan terkadang masih juga merasakan hal itu pada waktu-waktu tertentu. Perasaan seperti ini bisa muncul ketika kita merasa semua orang sibuk dengan dirinya masing-masing. Terkadang kita bisa merasa bahwa orang hanya mementingkan dirinya sendiri dan tidak mau tahu tentang kita. Dalam keluarga sekalipun hal seperti ini bisa kita rasakan. Orang tua terlalu sibuk, mereka hanya menginginkan anak mereka untuk mengikuti perintah mereka secara sepihak tanpa mau melihat apa yang menjadi masalah dalam diri anak-anaknya. Suami terlalu sibuk kerja sehingga tidak lagi punya cukup waktu untuk mendengarkan istrinya. Istri terlalu sibuk mengurusi rumah dan sebagainya sehingga tidak lagi punya waktu untuk suaminya. Teman-teman tidak mengikuti secara serius apa yang anda rasakan, atau bagai lenyap ditelan angin justru disaat anda membutuhkan mereka. Pendeknya, tidak ada orang yang mau mengerti, tidak ada yang peduli apakah anda sedang bergembira atau bersedih. “I’m nobody’s child..nobody cares”, ucap seorang teman di twitternya hari ini. Apakah anda termasuk orang yang merasakannya saat ini? Apakah benar sama sekali tidak ada satupun yang mengerti dan peduli?

Ada kalanya kita berada dalam situasi seperti itu. Terkadang kita sulit mengharapkan orang untuk mengerti atau peduli keadaan kita, karena mereka pun seringkali bergumul dengan banyak masalah juga. Atau mungkin mereka peduli, tetapi mereka tidak tahu bagaimana menunjukkannya sehingga terlihat seperti tidak bagi kita. Tidak menutup kemungkinan pula mereka memang tidak peduli, dan kita tidak bisa memaksa mereka. Jika anda tengah menghadapi masa-masa seperti itu, ingatlah satu hal: ada Tuhan yang sangat mengenal anda. Dia tahu pasti apa yang menjadi permasalahan anda. Dia mengenal anda luar dalam dengan sangat baik. Tidak ada yang tersembunyi bagiNya, Dia tahu isi hati kita yang terdalam sekalipun. Dia yang menciptakan kita, tentu Dia pula yang paling tahu segalanya tentang kita. Dan Tuhan adalah Bapa yang sangat mengasihi kita. Bentuk kasih itu pun diwujudkan dengan kepedulian yang luar biasa besar pula terhadap anak-anakNya. Dia siap tertawa gembira bersama kita, Dia pun turut bersedih bersama kita. Daud menyadari betul hal itu. “TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku(Mazmur 139:1). Ayat ini adalah pembuka dari sebuah perikop yang berjudul “Doa di hadapan Allah yang maha tahu” (Mazmur 139:1-24), yang menggambarkan pemahaman Daud akan pengenalan Tuhan tentang dirinya secara penuh. Lanjut Daud lagi: “Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi.” (ay 2-3).

Sebuah Firman Tuhan dalam Yesaya 29 menggambarkan betapa Tuhan sungguh mengetahui kita, karena kita adalah ciptaanNya sendiri. Jika Tuhan diibaratkan sebagai tukang periuk, dan kita adalah bejana yang dibentuk dari tanah liat olehNya sendiri, mungkinkah Tuhan, Sang Pencipta, tidak mengenal apa-apa tentang kita? “..Apakah tanah liat dapat dianggap sama seperti tukang periuk, sehingga apa yang dibuat dapat berkata tentang yang membuatnya: “Bukan dia yang membuat aku”; dan apa yang dibentuk berkata tentang yang membentuknya: “Ia tidak tahu apa-apa”? (Yesaya 29:16). Jika orang tua kita di dunia saja mengenal kita secara pribadi dan mendalam, apalagi Bapa di Surga. Tuhan sungguh mengenal kita dengan baik, Dia sungguh peduli, namun seringkali kita-lah tidak mau mengenal Dia dengan sungguh-sungguh. Ketika Tuhan peduli, kita malah tidak peduli padaNya dan hanya menggantungkan harapan kepada manusia. Kita hanya berharap bisa dimengerti oleh orang lain dan melupakan kasih Tuhan yang selalu dicurahkan atas kita semua. Manusia bisa mengecewakan, tapi Tuhan tidak akan pernah mengecewakan. Karenanya, andalkanlah Tuhan selalu.“Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!” (Yeremia 17:7). Ayat ini menyebutkan dengan jelas bahwa menaruh pengharapan kepada Tuhan tidak akan pernah berujung sia-sia.

Sebuah penegasan lainnya disampaikan pula oleh Yesus yang mengenal hati BapaNya dengan sangat baik. “Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekorpun dari padanya yang dilupakan Allah,bahkan rambut kepalamupun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.” (Lukas 12:6-7). Kalau burung saja diperhatikan Tuhan, apalagi kita yang diciptakan secara sangat istimewa menurut gambarNya sendiri. Bayangkan, sampai jumlah rambut kita helai demi helai pun Dia ketahui. Sedekat-dekatnya dan sepeduli-pedulinya manusia, adakah yang sampai tahu jumlah rambut kita? Tuhan tahu itu. Itu menunjukkan bagaimana kepedulian dan pengenalanNya akan kita dengan sangat detail. Betapa indahnya janji Tuhan akan penyertaan dan perlindunganNya atas kita yang tertulis berulang kali di dalam Alkitab. Lihatlah ayat berikut: “Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati.” (Ulangan 31:8). Atau lihatlah pesan berikut: “Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik, maka engkau akan tetap tinggal untuk selama-lamanya; sebab TUHAN mencintai hukum, dan Ia tidak meninggalkan orang-orang yang dikasihi-Nya. Sampai selama-lamanya mereka akan terpelihara.. (Mazmur 37:27-28). Peringatan yang disampaikan Penulis Ibrani pun mengacu akan hal ini: Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” (Ibrani 13:5). Tuhan Yesus sendiri sudah berjanji untuk menyertai kita senantiasa sampai kepada akhir zaman (Matius 28:20), dan siap memberi kita kelegaan. “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (11:28). Ini janji yang menunjukkan betapa Tuhan mengenal kita dan betapa Dia peduli terhadap segala pergumulan kita.

Ketika tidak ada orang mengerti, ada Tuhan yang mengerti. Ketika tidak ada yang peduli, Tuhan selalu peduli. Ketika tidak ada yang mau mengenal anda lebih jauh, Tuhan sudah mengenal anda bahkan lebih dari anda mengenal diri anda sendiri. Tuhan tahu pasti apa yang menjadi pergumulan anda saat ini. Bahkan hal-hal yang mungkin terlalu berat untuk dikemukakan, sulit untuk diucapkan, Tuhan pun mengetahui itu semua. Tuhan sungguh mendengar jeritan hati kita. Anda merasa sendirian saat ini menghadapi segala sesuatu? Datanglah pada Tuhan. Dia sangat mengenal anda, mengerti anda, dan peduli.

Tuhan tidak pernah mengecewakan, Dia sangat mengenal kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tahayul

Ayat bacaan: 1 Timotius 4:7
====================
“Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah.”

tahayulAnda suka punya gigi ompong? Hampir pasti orang akan tertawa minimal tersenyum mendengar pertanyaan itu. Tetapi hari ini teman saya bercerita bahwa anaknya malah bangga dengan gigi ompongnya. Bagaimana bisa? Itu karena dia mengatakan kepada anaknya bahwa ompong itu tanda menjadi dewasa, semata-mata agar anaknya tidak sedih ketika gigi susunya harus dicabut. Ternyata apa yang ia ajarkan itu membuat anaknya bangga. Si anak pun bercerita dengan bangga kepada teman-temannya bahwa ia sudah ompong, dan kata mamanya itu artinya ia sudah dewasa. Maka keesokan harinya datanglah salah seorang temannya yang tinggal dekat, dengan bangga pula memamerkan gigi ompongnya. Beberapa teman yang belum pun kemudian mereka tertawakan, karena dianggap masih kecil sebab giginya belum ada yang copot. Saya tertawa mendengar ceritanya, membayangkan anak-anak itu sibuk memamerkan keompongannya dan menganggap bahwa diri mereka sudah dewasa. Dan saya pun berpikir, hal yang sama dalam bentuk berbeda seringkali membuat kita tertipu. Betapa banyaknya tahayul atau kepercayaan-kepercayaan yang kita anggap benar padahal itu malah menjauhkan kita dari ajaran Allah yang sebenarnya.

Ada begitu banyak bentuk-bentuk kepercayaan turun temurun atau ajaran-ajaran yang dipercaya dunia yang sebenarnya tidak sesuai dengan apa yang diajarkan Tuhan seperti yang tertulis di dalam Alkitab. Dan seringkali itu semua menyesatkan kita, membuat antara mana yang benar dan tidak menjadi kabur atau semu terlihat di mata kita. Tidak jarang diantara orang-orang yang sudah menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamatnya ternyata masih mempertahankan kepercayaan-kepercayaan turun temurun yang bahkan bertentangan. Dan banyak orang mengelompokkannya ke dalam adat istiadat untuk menunjukkan pemisahan antara agama dan budaya. Tidak jarang pula semua ini dikemas dalam bentuk-bentuk yang terlihat seolah ilmiah atau bahkan mirip dengan ajaran Kristus. Pertanyaannya, bagaimana jika apa yang dipercaya itu ternyata jelas-jelas bertentangan dengan Firman Tuhan? Yang jelas, Tuhan sudah mengatakan bahwa kita tidak bisa menghamba kepada dua hal yang berbeda.Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Matius 6:24). Secara khusus ayat ini memang menuju kepada peringatan untuk tidak terikat kepada harta kekayaan duniawi, tetapi jika kita baca keseluruhan ayat ini, maka kita bisa melihat bahwa inti dari segalanya adalah peringatan untuk tidak menduakan Tuhan dengan apapun. Ketika Yesus dicobai iblis di padang gurun, satu sentakan keras Yesus berbunyi: “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” (Matius 4:10).

Paulus pun mengingatkan hal yang sama. “Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah.” (1 Timotius 4:7). Ada hubungan erat antara menjauhi tahayul dan dongeng-dongeng yang dalam bahasa Inggrisnya dikatakan “irrevent legends (profane and impure and godless fictions, mere grandmothers’ tales) and silly myths” dengan melatih diri beribadah. Beribadah bukanlah berbicara secara sempit mengenai pergi ke gereja atau berdoa saja, tetapi aspek yang lebih luas tercakup disana. “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Roma 12:1). Itulah bentuk ibadah sejati, ketika kita mempersembahkan hidup kita sepenuhnya sebagai sebuah persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah. Sebuah ibadah yang sejati bukanlah hanya mengenai kerajinan kita rutin beribadah tiap minggu, meski itu tidak salah, tetapi lebih jauh lagi menyangkut bagaimana kita mengerti kebenaran Firman Tuhan dan mengaplikasikannya dalam setiap sendi hidup kita. Masalahnya, bagaimana mungkin kita bisa melakukan itu kalau kita masih saja kabur dengan kebenaran-kebenaran Firman Tuhan, tidak bisa membedakan mana yang benar dan tidak? Dan pertanyaan selanjutnya, bagaimana kita bisa membedakan itu semua jika kita tidak tahu pasti apa saja yang dikatakan Tuhan? Alkitab berisi petunjuk lengkap mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan keselamatan. Disana ada perintah, larangan, peringatan, janji-janji Tuhan, apa yang harus dilakukan dan harus dihindari, ada solusi atas berbagai permasalahan dan bagaimana seharusnya kita menghadapinya. Firman itu hidup dan punya kuasa. “Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.” (Ibrani 4:12). Kita akan luput dari semua ini apabila kita terus mengabaikan pentingnya membaca Alkitab dan membiarkan Tuhan berbicara banyak kepada kita lewat itu.

Ada hubungan antara menjauhi tahayul dengan melatih diri untuk beribadah. Kita harus tahu terlebih dahulu apa yang dikatakan Tuhan mengenai kebenaran dan melakukannya secara nyata dalam hidup kita. Itulah yang bisa membuat kita menjauhi berbagai kepercayaan atau pengajaran yang bertentangan dengan ajaran Tuhan. Jika kita tidak tahu, bagaimana mungkin kita menjauhkan diri? Kitapun akan terus disesatkan semakin jauh lagi dan lagi. Apalagi berbagai ajaran yang menyesatkan akan terus ada, dan Yesus sudah mengingatkan kita terlebih dahulu untuk waspada. “Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga.Camkanlah, Aku sudah mengatakannya terlebih dahulu kepadamu.” (Matius 24:24-25).

Berbagai tahayul ini seringkali terlihat bertujuan baik. Jika tidak, maka kita tidak akan terpengaruh olehnya. Di luar kelihatan baik, tapi di dalam menghancurkan dan membawa manusia pada kebinasaan. Pengaruh ini bukan hanya marak terjadi di jaman sekarang seperti tawaran-tawaran okultisme dan sebagainya yang bisa dengan mudah membanjiri berbagai media, tapi jauh sebelumnya sudah pula menimpa jemaat Galatia. Kita bisa melihat bagaimana Paulus pun menegur mereka. “Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain,yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus.” (Galatia 1:6-7). Anak teman saya yang masih kecil beserta sahabat-sahabatnya menganggap benar bahwa mereka sudah dewasa jika bergigi ompong, namun kita tahu bahwa itu tidak benar. Seperti itu pula kita bisa tersesat jika tidak mengetahui kebenaran. Kita tidak akan pernah tahu apa yang benar dan salah jika kita tidak pernah mau meluangkan waktu untuk membaca berbagai suara Tuhan yang sudah dituliskan di dalam Alkitab. Kita harus mulai mendisplinkan diri untuk menyediakan waktu-waktu khusus untuk itu agar kita bisa membedakan dengan baik apa yang benar dan mana yang tidak, mana yang tahayul atau dongeng dan mana yang berasal dari Tuhan. Jangan biarkan Alkitab anda terus berdebu tanpa disentuh, mulailah gali kebenaran Firman Tuhan sekarang juga dan jadilah pelaku-pelakunya dalam kehidupan nyata.

Tanpa mengetahui kebenaran Firman Tuhan kita akan gampang disesatkan berbagai tahayul, dongeng atau pengajaran-pengajaran sesat

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Belalang dan Persatuan

Ayat bacaan: Amsal 30:27
========================
“The locusts have no king, yet they go forth all of them by bands”

belalangKetika masih kecil, ada salah satu jenis belalang yang saya sukai bentuknya karena terlihat seperti sedang memasang kuda-kuda kungfu. Saya pun menyebutnya belalang kungfu, yang belakangan saya ketahui disebut dengan praying mantis karena bagi sebagian orang belalang ini pun terlihat seperti melipat tangan mengambil posisi berdoa. Saya tidak tahu pasti apakah praying mantis tergolong belalang atau tidak, tetapi yang pasti postur fisik dan warnanya memang menyerupai belalang. Hewan ini termasuk jenis karnivora. Tidak seperti belalang biasa yang memakan tanam-tanaman seperti daun, gandum, serbuk bunga dan sebagainya, praying mantis memakan serangga-serangga lainnya seperti belalang biasa, lalat, kumbang atau bahkan laba-laba. Meski tergolong karnivora, sesungguhnya belalang ini pun tidak bisa dikatakan kuat. Ukurannya kecil dan begitu rawan dimangsa oleh predator-predator yang lebih besar seperti burung misalnya. Jika jenis yang karnivora ini saja sudah termasuk lemah, apalagi belalang biasa yang berlompatan di rerumputan. Ukurannya rata-rata lebih kecil dan tidak memiliki pertahanan apa-apa selain daya lompatnya yang cukup jauh dan bisa pula terbang. Bayangkan betapa lemahnya seekor belalang jika berada sendirian di lingkungan yang keras. Setiap saat ia bisa mati menjadi santapan pemangsanya. Bagi kita seekor belalang kecil dan lemah mungkin terlihat lucu. Tetapi apa yang terjadi ketika belalang secara beramai-ramai menyerbu pertanian? Hasil tani bisa ludes seketika. Bagi para petani, serangan belalang ini tergolong hama yang tidak boleh diabaikan. Berabad-abad lamanya serangan belalang ini mengancam penghasilan pertanian di berbagai belahan bumi. Bahkan di Alkitab kita pun bisa menyaksikan bagaimana dahsyatnya serangan yang dilakukan belalang jika berkelompok.

Perhatikanlah apa yang tertulis dalam Alkitab mengenai serangan belalang ini. Serentetan situasi mengerikan pernah terjadi di Mesir pada jaman Musa ketika Firaun tetap mengeraskan hatinya untuk melepaskan Israel dari perbudakan di negaranya Mesir. Meski sudah diingatkan Tuhan lewat Musa dan Harun, ia ternyata masih memilih untuk membangkang. Akibatnya serangkaian tulah pun hadir menimpa bangsanya. Tulah ke delapan yang dijatuhkan adalah segerombolan belalang dalam jumlah yang begitu besar. Persisnya situasi pada saat itu adalah sebagai berikut. “Datanglah belalang meliputi seluruh tanah Mesir dan hinggap di seluruh daerah Mesir, sangat banyak; sebelum itu tidak pernah ada belalang yang demikian banyaknya dan sesudah itupun tidak akan terjadi lagi yang demikian. Belalang menutupi seluruh permukaan bumi, sehingga negeri itu menjadi gelap olehnya; belalang memakan habis segala tumbuh-tumbuhan di tanah dan segala buah-buahan pada pohon-pohon yang ditinggalkan oleh hujan es itu, sehingga tidak ada tinggal lagi yang hijau pada pohon atau tumbuh-tumbuhan di padang di seluruh tanah Mesir.” (Keluaran 10:14-15). Lihatlah bagaimana mengerikannya belalang yang lucu, lemah dan kecil itu jika sudah bergabung dalam menyerang. Jika kita pernah melihat bagaimana kesulitan yang dihadapi penduduk di suatu daerah ketika menghadapi serangan belalang, disini dikatakan bahwa pada saat itu serangan jauh lebih besar dari yang pernah ada, dan tidak akan pernah ada serangan belalang yang lebih besar lagi setelahnya. Dalam sekejap mata Mesir berubah menjadi lautan belalang yang mengubah Mesir menjadi gurun gersang dalam waktu singkat.

Satu belalang tidak akan berpengaruh apa-apa. Ia hanya akan melompat-lompat dan mudah kita tangkap. Tapi dalam jumlah banyak belalang bisa sangat merepotkan dan sulit dikendalikan. Hal ini dijadikan contoh oleh Agur bin Yake yang mengatakan: “belalang yang tidak mempunyai raja, namun semuanya berbaris dengan teratur.” (Amsal 30:27). Dalam versi Bahasa Inggris Amplified ditulis: “The locusts have no king, yet they go forth all of them by bands”. Kata berbaris dengan teratur dalam bahasa Inggrisnya digambarkan dengan bergabung dalam sebuah kelompok besar. Satu kelompok besar yang bergerak bersama untuk tujuan yang sama pula. Jika melihat bagaimana manusia hari-hari ini yang begitu sulit untuk bersatu, selalu memperbesar jurang perbedaan dan terus bertikai, kita pantas merasa malu terhadap belalang ini. Satu gereja sekalipun masih juga bisa saling curiga, apalagi dengan saudara saudari seiman yang berbeda tempat bertumbuhnya. Segala perbedaan selalu dijadikan alasan, kita terus menerus merendahkan, memandang negatif dan curiga terhadap saudara seiman yang memiliki tata cara peribadatan yang berbeda dengan kita. Padahal kita memiliki Raja yang sama, Raja diatas segala raja, Tuhan Yesus. Jika belalang yang tidak memiliki raja bisa bersikap demikian, betapa menyedihkannya kita yang memiliki Raja tidak bisa melakukannya.

Alkitab dalam banyak kesempatan menyatakan pentingnya bagi kita untuk tidak berjalan sendiri-sendiri. Lihatlah apa yang dikatakan Pengkotbah berikut: “Berdua lebih menguntungkan daripada seorang diri. Kalau mereka bekerja, hasilnya akan lebih baik. Kalau yang seorang jatuh yang lain dapat menolongnya. Tetapi kalau seorang jatuh, padahal ia sendirian, celakalah dia, karena tidak ada yang dapat menolongnya.” (Pengkotbah 4:9-10 BIS). Dalam Perjanjian Baru pun demikian. Meski Perjanjian Baru banyak memberi penekanan kepada pertumbuhan iman kita masing-masing, tetapi Tuhan tidak pernah menginginkan kita untuk menjadi individu-individu yang eksklusif dan merasa paling hebat tanpa merasa perlu untuk bergandeng tangan bersama saudara-saudari lainnya. Gereja tidak akan pernah bisa menjadi terang dan garam jika jemaatnya memelihara sikap egois dan menutup diri dari yang lain, gereja pun tidak akan bisa berfungsi jika hanya dibatasi oleh dinding-dinding tanpa pernah berpikir untuk bersatu dengan saudara seiman lainnya. Jika sikap seperti ini terus dipertahankan, jangan bermimpi untuk menjangkau lebih banyak jiwa yang berada di luar sana. Penulis Ibrani menyampaikan firman Tuhan yang berbunyi: “Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik.” (Ibrani 10:24). Prinsip saling yang positif harus terus kita kembangkan, karena kita harus menyadari bahwa kita ini terbatas dan lemah, seperti halnya belalang. Menghadapi hari-hari yang semakin sukar ini, kita harus lebih menekankan kebersamaan, membangun hubungan kekeluargaan dan persaudaraan erat dengan saudara-saudari kita lainnya. Apa yang dikatakan Tuhan sesungguhnya jelas. Berhentilah menjadi pribadi yang egocentris. Belalang akan sangat lemah dan rentan jika sendirian di tengah rerumputan luas. Begitu banyak ancaman yang bisa mencelakakan hidupnya. Kita pun demikian di tengah dunia yang jahat ini. Sehebat-hebatnya kita, kita tidak akan bisa mencapai apa-apa jika kita terus menutup diri dari orang lain.

Kita harus mulai berpikir sedini mungkin untuk membangun hubungan atau relasi dengan orang lain, juga membangun link atau network untuk bisa mencapai terobosan-terobosan besar. Tidak hanya dalam urusan pertumbuhan iman, tetapi dalam pekerjaan dan berbagai aspek-aspek kehidupan lainnya pun sama. Kita bisa belajar memulainya dengan membangun hubungan yang erat dimana kita beribadah. Dan Firman Tuhan pun menganjurkan hal yang sama. “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” (Ibrani 10:25). Lanjutan hikmat dari Pengkotbah diatas selanjutnya berkata: “Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan.” (Pengkotbah 4:12). Ingatlah bahwa bekerja sama dengan sikap saling tolong menolong ini begitu penting untuk kita lakukan, begitu pentingnya sehingga dikatakan bahwa sikap ini merupakan bentuk dari pemenuhan/penerapan hukum Kristus. (Galatia 6:2). Bacalah 1 Korintus 12:12-31 dimana Paulus berbicara dengan rinci mengenai “Banyak Anggota tetapi satu tubuh”, maka anda akan mendapatkan gambaran yang lebih lengkap lagi. Belalang cuma mahluk yang ukurannya jauh lebih kecil dari kita dan tidak berbahaya. Tetapi kita perlu melembutkan hati untuk mau belajar dari hewan ini. Belalang jika hanya seekor akan mudah dipatahkan, tetapi akan memiliki kekuatan yang luar biasa yang bahkan sanggup mengalahkan kita yang jauh lebih besar, lebih pintar dan lebih kuat ketika mereka bersatu. Hari-hari yang kita jalani sesungguhnya sulit. Oleh karena itu marilah kita lebih giat lagi bersekutu, saling dukung, saling bantu, saling dorong, agar kita bisa bertumbuh bersama-sama di dalam Tuhan dan kemudian menjadi terang dan garam yang membawa manfaat besar bagi sesama.

Satu lidi mudah dipatahkan, tapi sulit jika seikat

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Incoming search terms: