Testimonial Orangtua: Sangat Gampang, Carikan Anak Beasiswa Kuliah ke Taiwan

MENIKMATI suasana mendung sore ini, sungguh nikmat ditemani oleh secangkir kopi dan sepiring ubi rebus, sungguh makanan langka di kota besar Jakarta, bahkan menjadi mahal ketika dihidangkan di resto atau cafe.

Sambil menyeruput kopi, saya berbincang dengan anak kedua yang kuliah di Taiwan, saat ini sedang berlibur (Imlek) dan tidak terasa sudah harus bersiap kembali ke Keelung, desa disebelah utara Taipei (kira-kira dua  jam) kalau naik MRT, dan ongkos yang murah karena menggunakan kartu mahasiswa.

Dalam perbincangan dengan Rey (panggilan anak kedua saya), ia bercerita bagaimana enaknya sekolah di sana, karena semua dosen adalah profesor atau doktor, dan yang bergelar master hanya boleh sebagai assistant. Tidak seperti di Indonesia, banyak Sarjana Strata 1 sudah mengajar, dan mengajar dengan modal nekat (dalam hati, saya yang hanya lullusan D3 pun pernah mengajar satu semester).

Dan untuk sekolah d iluar itu ternyata mudah dan murah, hanya saja kebanyakan para ortu di Indonesia sering lebih percaya katanya, issue, gossip atau percaya pada agent pendidikan yang pasti memberikan cerita tidak benar, bahkan hanya ingin mendapatkan uang jasa para ortu calon mahasiswa.

Saat ini adalah waktu ortu untuk berpikir mencari universitas buat  anak-anak yang lulus SMA.

Ketika lulus SMA dari Kolese Santo Yusuf di  Malang, Rey sudah menyatakan ingin sekolah keluar, pilihannya beberapa negara barat, sepeti Aussie, Kanada, Inggris dan Amerika. Saya hanya bisa tepok jidat, seperti kebanyakan ortu disini, menjadi bingung dan duit dari mana?

Akhirnya setelah tanya sana-sini, browsing dan mendatangi kedubes-kedubes tersebut, saya mendapatkan titik terang. Maka saya menyarankan kepada sahabat semua, jika anak anda ingin sekolah keluar negeri, sebaiknya datang ke keduataan besar negara yang hendak dituju dan temui bagian pendidikan, maka anda akan mendapatkan keterangan yang sangat jelas.

Perlu diketahui, sistem penerimaan mahasiswa baru di LN kadang berubah. Ternyata mereka juga memberikan peluang beasiswa dengan persyaratan masing-masing, dari sekian negara tersebut, Rey memilih Taiwan, dengan pertimbangan:

  1. Syarat dan cara menempuh pendidikan di sana mudah dan tidak banyak macam-macam. Termasuk jaminan uang deposito. Konon, beberapa negara Barat mensyaratkan hal ini.
  2. Biaya sangat murah. Khusus biaya akan saya bahas dibawah.
  3. Perwakilan dagang (TETO) Taiwan, bidang pendidikan, sangat membantu dan memberikan keterangan yang jelas.
  4. Ada ikatan pelajar Indonesia di Taiwan yang suka rela membantu. Ini bagian dari penerapan sikap dan etika Confucianisme.
  5. Sekali belajar di negara ini akan menguasai dua bahasa: Inggris dan Mandarin.
  6. Waktu kuliah pasti 4 Tahun dan pasti selesai, tanpa harus bayar lagi untuk mengulang pelajaran yang belum lulus.
  7. Ada bantuan dari sekolah dan negara untuk biaya pendidikan dan biaya hidup.
  8. Banyak pekerjaan sambilan yang membuat anak menjadi mandiri.
  9. Negara Taiwan adalah negara teraman nomor dua di dunia.
  10. Mudah dan banyak penerbangan untuk kembali ke Indonesia (JIka mendesak).

Berapa biaya kuliah?

Untuk biaya, tentu sangat murah jika satu semester (6 bulan) hanya membayar 40.000 NT$ (1 NT$ = Rp 420) untuk uang kuliah, uang buku, uang dormitori (Kalau di kurs rupiah = Rp16.500.000) –

Bandingkan dengan kuliah di sebuah universitas swasta di kawasan Serpong, Tangerang Selatan. Konon,  uang smeter Rp 5 juta + kost 2 juta/bulan x 6 = R 17.000.000,00

Kalau tidak dapat beasiswa bagaimana?

Kemudian Rey mendapat bantuan 3.000 NT$/bulan dari pemerintah + kerja di kampus setelah selesai kuliah dari Senin sampai Jumat mendapat 5.000 NT$ (Total 8.000 NT$) dan jumlah ini sudah cukup untuk biaya makan di sana yang sehari, hanya 200 NT$, bahkan bisa menabung.

Apakah Rey puas. Ternyata tidak. Iia bekerja Sabtu-Minggu di sebuah resto sebagai pelayan, setiap bulan mendapat bayaran 10.000 NT$.  Uang ini ditabung untuk biaya S2, katanya. Total penghasilan Rey sebulan 18.000 NT$ x Rp.420= Rp ………….(silakan menghitung sendiri)

Jadi praktis saya tidak lagi terbeban mengirimkan biaya bulanan. Lalu bagaimana dengan uang semester?

Ternyata di Taiwan ada libur panjang selama dua bulan pada saat musim panas, biasanya para mahasiswa dari negara luar Taiwan mencari kerja sambilan, dan bayarannya lumayan, kira-kira 30.000 NT$ – 40.000 NT$ dan ini cukup menambah tabungan untuk bayar uang kuliah setiap semester.

Bagaimana mudahnya untuk sekolah di Taiwan?

Banyak ortu atau mahasiswa yang kuatir dengan Bahasa Mandarin, padahal untuk universitas nomor 1 s.d. 10, ada kelas-kelas internasional dengan bahasa pengantar untuk kuliah adalah bahasa Inggris. jadi tidak perlu kuatir, bagaimana dengan mendaftar di sana?

Jika calon Mahasiswa nilai rapor dan STTB nya bagus, maka bisa langsung mendaftar universitas terbaik di Taiwan (negara ini menganut menyetaraan nilai.)  Jadi tidak usah kuatir.

Lalu bagaimana jika nilainya pas-pas-an?

Caranya juga mudah sekali, yaitu:

  1. Terjemahkan semua rapor SMA dan STTB dalam bahasa Mandarin (Kanji). -Di Jakarta ada namanya Pak Hengky yang menjadi perwakilan negara Taiwan untuk mengurusi calon mahasiswa dari Jakarta.
  2. Legalisir Hasil terjemahan tersebut ke Perwakilan Dagang Taiwan – di gedung Artha Graha lantai 12
  3. Urus Visa (Untuk awal visa turis berlakuk 3 bulan).
  4. Melalui TETO akan didaftarkan sebagai mahasiswa yang masuk kelas Infuppan – Belajar bahasa dan kultur di negara tersebut selama 3 bulan – (Biaya belajar termasuk tinggal, kira2: 20.000 NT$ ) – setelah 3 bulan akan ada testpenerimaan yang menentukan calon mahasiswa diterima di kampus mana.

Sebagai catatan, kalau nilainya rendah, maka akan diarahkan ke Universitas Swasta yang biayanya 1,5 sampai 2 kali universitas negri. Kebetulan Rey masuk NTOU adalah Univ. Negeri 10 besar di Taiwan.

Jadi sejak awal (Tahun 2014) hingga sekarang, biaya yang saya keluarkan untuk Rey kuliah di taiwan hanya Rp. 50 Juta saja, setelah itu saya dan istri tidur nyenyak tanpa harus pusing dengan biaya selanjutnya.

Maka saran saya, jangan pernah percaya denagn agen pendidikan sekolah ke LN, karena orientasi mereka adalah uang, dan sebaiknya cari info yang jelas melalui kedutaan negara-negara yang akan dituju. Saat ini, Jerman dan Perancis adalah negara Eropa yang membebaskan uang pendidikan untuk universitas negeri.

Demikian sekilas cerita saya untuk anak-anak yang ingin sekolah di LN, daripada sekolah swasta di dalam Negri.

Srupp… Ah, nikmatnya kopi Flores yang hangat ini….

Mutiara Filosofi Jawa dari Pujangga Ronggowarsito

Pengantar

Salah seorang rekan mengirim naskah bagus ini di sebuah grup milis internal katolik. Karena bagus, kami tertarik mengangkatnya dan mempostingkan naskah ini kepada pembaca. Terima kasih kepada Mas L. Suryoto atas postingannya.

Raden Ngabehi Ranggawarsita atau Ronggowarsito adalah pujangga besar budaya dan filosofi Jawa. Beliau lahir di Surakarta (Solo), Jateng, 15 Maret 1802 dan meninggal di Solo, 24 Desember 1873.

———————-

Rejeki iku ora iså ditiru…,

rejeki itu tidak bisa

ditiru..

Senajan pådå lakumu…,

walau sama

cara hidupmu

Senajan pådå dodolan mu…,

walau sama

jualanmu

Senajan pådå nyambut gawemu…,

walau sama

pekerjaanmu…

Kasil sing ditåmpå bakal bedå2….,

hasil yang

diterima akan berbeda

satu sama lain

Iså bedå nèng akèhé båndhå…,

bisa lain dalam

banyaknya harta

Iså ugå ånå nèng råså lan ayemé ati,

 Yåaa iku sing jenengé bahagia….,

bisa lain dalam

rasa bahagia dan

ketenteraman hati

Kabèh iku såkå tresnané Gusti kang måhå kuwåså…..,

semua itu atas

kasih dari tuhan yang

maha kuasa

Såpå temen bakal tinemu…,

barang siapa bersungguh-sungguh

akan menemukan

Såpå wani rekåså bakal nggayuh mulyå… ,

barang siapa berani

bersusah payah

akan menemukan

kemuliaan

Dudu akèhé, nanging berkahé kang dadèkaké cukup lan nyukupi…..,

bukan banyaknya

melainkan berkah

nya yang menjadikan

cukup dan

mencukupi

Wis ginaris nèng takdiré menungså yèn åpå sing urip kuwi wis disangoni såkå sing kuwåså.

sudah digariskan

oleh takdir bahwa

semua yang hidup

itu sudah diberi

bekal oleh yang

maha kuasa

Dalan urip lan pangané wis cemepak cedhak kåyå angin sing disedhot bendinané….,

jalan hidup

dan rejeki sudah

tersedia.. dekat..

seperti udara yang

kita hirup setiap

harinya

Nanging kadhang menungså sulap måtå lan peteng atiné, sing adoh såkå awaké katon padhang cemlorot ngawé-awé,

Nanging sing cedhak nèng ngarepé lan dadi tanggung jawabé disiå-siå kåyå orå duwé gunå…,

tetapi kadang

manusia silau mata

dan gelap hati,

yang jauh kelihatan

berkilau dan

menarik hati..

tetapi yang dekat

didepannya dan

menjadi tanggung

jawabnya disia sia

kan seperti tak ada

guna

Rejeki iku wis cemepak såkå Gusti, ora bakal kurang anané kanggo nyukupi butuhé menungså såkå lair tekané pati….,

rejeki itu sudah

disediakan oleh

tuhan, tidak bakal

berkurang untuk

mencukupi

kebutuhan manusia

dari lahir sampai

mati

Nanging yèn kanggo nuruti karep menungså sing ora ånå watesé, rasané kabèh cupet, nèng pikiran ruwet, lan atiné marahi bundhet.

tetapi kalau

menuruti kemauan

manusia yang tidak ada

batasnya, semua

dirasa kurang

membuat ruwet di hati

dan pikiran

Welingé wong tuwå, åpå sing ånå dilakoni lan åpå sing durung ånå åjå diarep-arep, semèlèhké lan yèn wis dadi duwèkmu bakal tinemu, yèn ora jatahmu, åpå maneh kok ngrebut såkå wong liyå nganggo cårå sing ålå, yå  waé, iku bakal gawé uripmu lårå, rekåså lan angkårå murkå sak jeroning kaluwargå, kabeh iku bakal sirnå balik dadi sakmestiné.

petuah orang tua,

jalanilah apa yang

ada didepan mata

dan jangan terlalu

berharap lebih untuk

yang belum ada

kalau memang

milikmu pasti akan

ketemu..

kalau bukan jatahmu..

apalagi sampai

merebut milik orang

memakai càra tidak

baik, itu akan

membuat hidupmu

merana, sengsara

dan angkara murka

semua itu akan sirna

kembali ke asalnya

Yèn umpåmå ayem iku mung biså dituku karo akèhé båndhå dahnå rekasané dadi wong sing ora duwé…,

seumpama

ketenteraman itu

bisa dibeli dengan

hàrta, alangkah

sengsaranya orang

yang tidak punyà

Untungé ayem isà diduwèni såpå waé sing gelem ngleremké atiné ing bab kadonyan, seneng tetulung marang liyan, lan pasrahké uripé marang GUSTI KANG MURBENG DUMADI…,

untungnya,

ketenteraman bisa

dimiliki oleh siapa

saja yang tidak

mengagungkan

keduniawian, suka

menolong orang lain dan

mensyukuri hidupnya.

Kredit foto: Ist

Mutiara Filosofi Jawa dari Pujangga Ronggowarsito

Pengantar

Salah seorang rekan mengirim naskah bagus ini di sebuah grup milis internal katolik. Karena bagus, kami tertarik mengangkatnya dan mempostingkan naskah ini kepada pembaca. Terima kasih kepada Mas L. Suryoto atas postingannya.

Raden Ngabehi Ranggawarsita atau Ronggowarsito adalah pujangga besar budaya dan filosofi Jawa. Beliau lahir di Surakarta (Solo), Jateng, 15 Maret 1802 dan meninggal di Solo, 24 Desember 1873.

———————-

Rejeki iku ora iså ditiru…,

rejeki itu tidak bisa

ditiru..

Senajan pådå lakumu…,

walau sama

cara hidupmu

Senajan pådå dodolan mu…,

walau sama

jualanmu

Senajan pådå nyambut gawemu…,

walau sama

pekerjaanmu…

Kasil sing ditåmpå bakal bedå2….,

hasil yang

diterima akan berbeda

satu sama lain

Iså bedå nèng akèhé båndhå…,

bisa lain dalam

banyaknya harta

Iså ugå ånå nèng råså lan ayemé ati,

 Yåaa iku sing jenengé bahagia….,

bisa lain dalam

rasa bahagia dan

ketenteraman hati

Kabèh iku såkå tresnané Gusti kang måhå kuwåså…..,

semua itu atas

kasih dari tuhan yang

maha kuasa

Såpå temen bakal tinemu…,

barang siapa bersungguh-sungguh

akan menemukan

Såpå wani rekåså bakal nggayuh mulyå… ,

barang siapa berani

bersusah payah

akan menemukan

kemuliaan

Dudu akèhé, nanging berkahé kang dadèkaké cukup lan nyukupi…..,

bukan banyaknya

melainkan berkah

nya yang menjadikan

cukup dan

mencukupi

Wis ginaris nèng takdiré menungså yèn åpå sing urip kuwi wis disangoni såkå sing kuwåså.

sudah digariskan

oleh takdir bahwa

semua yang hidup

itu sudah diberi

bekal oleh yang

maha kuasa

Dalan urip lan pangané wis cemepak cedhak kåyå angin sing disedhot bendinané….,

jalan hidup

dan rejeki sudah

tersedia.. dekat..

seperti udara yang

kita hirup setiap

harinya

Nanging kadhang menungså sulap måtå lan peteng atiné, sing adoh såkå awaké katon padhang cemlorot ngawé-awé,

Nanging sing cedhak nèng ngarepé lan dadi tanggung jawabé disiå-siå kåyå orå duwé gunå…,

tetapi kadang

manusia silau mata

dan gelap hati,

yang jauh kelihatan

berkilau dan

menarik hati..

tetapi yang dekat

didepannya dan

menjadi tanggung

jawabnya disia sia

kan seperti tak ada

guna

Rejeki iku wis cemepak såkå Gusti, ora bakal kurang anané kanggo nyukupi butuhé menungså såkå lair tekané pati….,

rejeki itu sudah

disediakan oleh

tuhan, tidak bakal

berkurang untuk

mencukupi

kebutuhan manusia

dari lahir sampai

mati

Nanging yèn kanggo nuruti karep menungså sing ora ånå watesé, rasané kabèh cupet, nèng pikiran ruwet, lan atiné marahi bundhet.

tetapi kalau

menuruti kemauan

manusia yang tidak ada

batasnya, semua

dirasa kurang

membuat ruwet di hati

dan pikiran

Welingé wong tuwå, åpå sing ånå dilakoni lan åpå sing durung ånå åjå diarep-arep, semèlèhké lan yèn wis dadi duwèkmu bakal tinemu, yèn ora jatahmu, åpå maneh kok ngrebut såkå wong liyå nganggo cårå sing ålå, yå  waé, iku bakal gawé uripmu lårå, rekåså lan angkårå murkå sak jeroning kaluwargå, kabeh iku bakal sirnå balik dadi sakmestiné.

petuah orang tua,

jalanilah apa yang

ada didepan mata

dan jangan terlalu

berharap lebih untuk

yang belum ada

kalau memang

milikmu pasti akan

ketemu..

kalau bukan jatahmu..

apalagi sampai

merebut milik orang

memakai càra tidak

baik, itu akan

membuat hidupmu

merana, sengsara

dan angkara murka

semua itu akan sirna

kembali ke asalnya

Yèn umpåmå ayem iku mung biså dituku karo akèhé båndhå dahnå rekasané dadi wong sing ora duwé…,

seumpama

ketenteraman itu

bisa dibeli dengan

hàrta, alangkah

sengsaranya orang

yang tidak punyà

Untungé ayem isà diduwèni såpå waé sing gelem ngleremké atiné ing bab kadonyan, seneng tetulung marang liyan, lan pasrahké uripé marang GUSTI KANG MURBENG DUMADI…,

untungnya,

ketenteraman bisa

dimiliki oleh siapa

saja yang tidak

mengagungkan

keduniawian, suka

menolong orang lain dan

mensyukuri hidupnya.

Kredit foto: Ist

Berdoa “Doa Bapa Kami”

Selasa, 16 Februari 2016
Pekan Prapaskah I
Yes 55:10-11; Mzm 34:4-7.16-19; Mat 6:7-15

DALAM khotbah di bukit Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Dalam doamu janganlah kamu bertele-tele… Karena itu berdoalah begini: “Bapa kami yang di sorga …”

Dalam Injil hari ini Yesus mengajarkan kepada kita cara berdoa. Pertama, dalam berdoa, hendaklah tidak bertele-tele. Dengan sabda ini Yesus mengajak kita memahami bahwa berdoa itu lebih mendengarkan dari pada berkata-kata.

Kedua, Ia menyampaikan kepada kita bahwa Allah adalah Bapa kita yang mengetahui kebutuhan kita sebelum kita meminta kepada-Nya. Maka, kita harus mohon kepada Allah hal-hal yang sungguh paling kita perlukan demi keselamatan kita.

Ketiga, Ia memberi kita model doa yang terbaik. Kita menyebutnya “Doa Bapa Kami”. Dalam berdoa “Doa Bapa Kami” secara mendasar kita memusatkan perhatian pada tiga hal. Pertama, Allah harus mendapat tempat yang utama dalam kehidupan kita dengan memuliakan nama-Nya. Kedua, Bapa akan memberikan kepada kita keperluan kita baik materi maupun rohani. Ketiga, Bapa akan mengampuni kita hingga kita juga harus mengampuni sesama dan Bapa akan membebaskan kita dari segala yang jahat.

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi kita menyembah Yesus Kristus dalam keheningan. Kita dapat mendaraskan doa terbaik yang diajarkan Yesus dengan penuh kasih dan iman kepercayaan.

Tuhan Yesus Kristus, terima kasih telah mengajar kami berdoa kepada Bapa. Bantulah kami untuk berdoa lebih dan lebih baik lagi. Bantulah kami dengan segenap hati berupaya mengutamakan Allah dalam hidup kami. Ampunilah dosa kami seperti kami pun mengampuni kesalahan sesama dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari segala yang jahat kini dan selamanya. Amin.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Berdoa “Doa Bapa Kami”

Selasa, 16 Februari 2016
Pekan Prapaskah I
Yes 55:10-11; Mzm 34:4-7.16-19; Mat 6:7-15

DALAM khotbah di bukit Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Dalam doamu janganlah kamu bertele-tele… Karena itu berdoalah begini: “Bapa kami yang di sorga …”

Dalam Injil hari ini Yesus mengajarkan kepada kita cara berdoa. Pertama, dalam berdoa, hendaklah tidak bertele-tele. Dengan sabda ini Yesus mengajak kita memahami bahwa berdoa itu lebih mendengarkan dari pada berkata-kata.

Kedua, Ia menyampaikan kepada kita bahwa Allah adalah Bapa kita yang mengetahui kebutuhan kita sebelum kita meminta kepada-Nya. Maka, kita harus mohon kepada Allah hal-hal yang sungguh paling kita perlukan demi keselamatan kita.

Ketiga, Ia memberi kita model doa yang terbaik. Kita menyebutnya “Doa Bapa Kami”. Dalam berdoa “Doa Bapa Kami” secara mendasar kita memusatkan perhatian pada tiga hal. Pertama, Allah harus mendapat tempat yang utama dalam kehidupan kita dengan memuliakan nama-Nya. Kedua, Bapa akan memberikan kepada kita keperluan kita baik materi maupun rohani. Ketiga, Bapa akan mengampuni kita hingga kita juga harus mengampuni sesama dan Bapa akan membebaskan kita dari segala yang jahat.

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi kita menyembah Yesus Kristus dalam keheningan. Kita dapat mendaraskan doa terbaik yang diajarkan Yesus dengan penuh kasih dan iman kepercayaan.

Tuhan Yesus Kristus, terima kasih telah mengajar kami berdoa kepada Bapa. Bantulah kami untuk berdoa lebih dan lebih baik lagi. Bantulah kami dengan segenap hati berupaya mengutamakan Allah dalam hidup kami. Ampunilah dosa kami seperti kami pun mengampuni kesalahan sesama dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari segala yang jahat kini dan selamanya. Amin.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Berdoa “Doa Bapa Kami”

Selasa, 16 Februari 2016
Pekan Prapaskah I
Yes 55:10-11; Mzm 34:4-7.16-19; Mat 6:7-15

DALAM khotbah di bukit Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Dalam doamu janganlah kamu bertele-tele… Karena itu berdoalah begini: “Bapa kami yang di sorga …”

Dalam Injil hari ini Yesus mengajarkan kepada kita cara berdoa. Pertama, dalam berdoa, hendaklah tidak bertele-tele. Dengan sabda ini Yesus mengajak kita memahami bahwa berdoa itu lebih mendengarkan dari pada berkata-kata.

Kedua, Ia menyampaikan kepada kita bahwa Allah adalah Bapa kita yang mengetahui kebutuhan kita sebelum kita meminta kepada-Nya. Maka, kita harus mohon kepada Allah hal-hal yang sungguh paling kita perlukan demi keselamatan kita.

Ketiga, Ia memberi kita model doa yang terbaik. Kita menyebutnya “Doa Bapa Kami”. Dalam berdoa “Doa Bapa Kami” secara mendasar kita memusatkan perhatian pada tiga hal. Pertama, Allah harus mendapat tempat yang utama dalam kehidupan kita dengan memuliakan nama-Nya. Kedua, Bapa akan memberikan kepada kita keperluan kita baik materi maupun rohani. Ketiga, Bapa akan mengampuni kita hingga kita juga harus mengampuni sesama dan Bapa akan membebaskan kita dari segala yang jahat.

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi kita menyembah Yesus Kristus dalam keheningan. Kita dapat mendaraskan doa terbaik yang diajarkan Yesus dengan penuh kasih dan iman kepercayaan.

Tuhan Yesus Kristus, terima kasih telah mengajar kami berdoa kepada Bapa. Bantulah kami untuk berdoa lebih dan lebih baik lagi. Bantulah kami dengan segenap hati berupaya mengutamakan Allah dalam hidup kami. Ampunilah dosa kami seperti kami pun mengampuni kesalahan sesama dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari segala yang jahat kini dan selamanya. Amin.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Praying The “Our Father”

MY daily reflection and prayer:
Tuesday, February 16, 2016
The first Week of Lent

Dear my friends,
Here is the Gospel for us today according to St. Matthew 6:7-15

Jesus teaches, “And in praying do not heap up empty phrases as the Gentiles do; for they think that they will be heard for their many words. Do not be like them, for your Father knows what you need before you ask him. Pray then like this: Our Father who art in heaven, Hallowed be thy name. Thy kingdom come. Thy will be done, On earth as it is in heaven. Give us this day our daily bread; And forgive us our debts, As we also have forgiven our debtors; And lead us not into temptation, But deliver us from evil. For if you forgive men their trespasses, your heavenly Father also will forgive you; but if you do not forgive men their trespasses, neither will your Father forgive your trespasses.”

This is the Gospel of the Lord. Praise to you Lord Jesus Christ.

***

IN today’s Gospel Jesus teaches us how to pray. First, “in praying do not heap up empty phrases.” With this word he wants us to understand that prayer is more about listening than about talking.

Second, he tells us that God is our Father who knows what we need before we ask him. So, we have to ask God what we most need for our salvation.

Third, he gives us the best model of prayer. We call it the “Our Father” prayer. In praying the “Our Father,” we essentially focus on three things. First, God must have the first place in our lives by hallowing his name. Second, he will give us our material and spiritual sustenance. Third, he will grant us his forgiveness so we must forgive others and he will lead not into temptation but deliver us from every evil.

In the Perpetual Adoration of the Eucharist, we worship Jesus Christ in silence. We can recite the best prayer of Jesus with love and confidence.

Let’s pray: Lord Jesus Christ, thank you for teaching us to pray to the Father. Help us to pray more and better. Help us to want with all our heart to give God the first place in our lives. Forgive us our sins as we forgive others and lead us not to temptation but deliver us from every evil now and forever. Amen.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Praying The “Our Father”

MY daily reflection and prayer:
Tuesday, February 16, 2016
The first Week of Lent

Dear my friends,
Here is the Gospel for us today according to St. Matthew 6:7-15

Jesus teaches, “And in praying do not heap up empty phrases as the Gentiles do; for they think that they will be heard for their many words. Do not be like them, for your Father knows what you need before you ask him. Pray then like this: Our Father who art in heaven, Hallowed be thy name. Thy kingdom come. Thy will be done, On earth as it is in heaven. Give us this day our daily bread; And forgive us our debts, As we also have forgiven our debtors; And lead us not into temptation, But deliver us from evil. For if you forgive men their trespasses, your heavenly Father also will forgive you; but if you do not forgive men their trespasses, neither will your Father forgive your trespasses.”

This is the Gospel of the Lord. Praise to you Lord Jesus Christ.

***

IN today’s Gospel Jesus teaches us how to pray. First, “in praying do not heap up empty phrases.” With this word he wants us to understand that prayer is more about listening than about talking.

Second, he tells us that God is our Father who knows what we need before we ask him. So, we have to ask God what we most need for our salvation.

Third, he gives us the best model of prayer. We call it the “Our Father” prayer. In praying the “Our Father,” we essentially focus on three things. First, God must have the first place in our lives by hallowing his name. Second, he will give us our material and spiritual sustenance. Third, he will grant us his forgiveness so we must forgive others and he will lead not into temptation but deliver us from every evil.

In the Perpetual Adoration of the Eucharist, we worship Jesus Christ in silence. We can recite the best prayer of Jesus with love and confidence.

Let’s pray: Lord Jesus Christ, thank you for teaching us to pray to the Father. Help us to pray more and better. Help us to want with all our heart to give God the first place in our lives. Forgive us our sins as we forgive others and lead us not to temptation but deliver us from every evil now and forever. Amen.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Praying The “Our Father”

MY daily reflection and prayer:
Tuesday, February 16, 2016
The first Week of Lent

Dear my friends,
Here is the Gospel for us today according to St. Matthew 6:7-15

Jesus teaches, “And in praying do not heap up empty phrases as the Gentiles do; for they think that they will be heard for their many words. Do not be like them, for your Father knows what you need before you ask him. Pray then like this: Our Father who art in heaven, Hallowed be thy name. Thy kingdom come. Thy will be done, On earth as it is in heaven. Give us this day our daily bread; And forgive us our debts, As we also have forgiven our debtors; And lead us not into temptation, But deliver us from evil. For if you forgive men their trespasses, your heavenly Father also will forgive you; but if you do not forgive men their trespasses, neither will your Father forgive your trespasses.”

This is the Gospel of the Lord. Praise to you Lord Jesus Christ.

***

IN today’s Gospel Jesus teaches us how to pray. First, “in praying do not heap up empty phrases.” With this word he wants us to understand that prayer is more about listening than about talking.

Second, he tells us that God is our Father who knows what we need before we ask him. So, we have to ask God what we most need for our salvation.

Third, he gives us the best model of prayer. We call it the “Our Father” prayer. In praying the “Our Father,” we essentially focus on three things. First, God must have the first place in our lives by hallowing his name. Second, he will give us our material and spiritual sustenance. Third, he will grant us his forgiveness so we must forgive others and he will lead not into temptation but deliver us from every evil.

In the Perpetual Adoration of the Eucharist, we worship Jesus Christ in silence. We can recite the best prayer of Jesus with love and confidence.

Let’s pray: Lord Jesus Christ, thank you for teaching us to pray to the Father. Help us to pray more and better. Help us to want with all our heart to give God the first place in our lives. Forgive us our sins as we forgive others and lead us not to temptation but deliver us from every evil now and forever. Amen.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Sabda Hidup: Selasa, 16 Februari 2016

Hari Biasa Pekan I Prapaskah

warna liturgi Ungu

Bacaan

Yes. 55:10-11; Mzm. 34:4-5,6-7,16-17,18-19; Mat. 6:7-15. BcO Kel. 6:29-7:25

Bacaan Injil: Mat. 6:7-15.

7 Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. 8 Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. 9 Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, 10 datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. 11 Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya 12 dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; 13 dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. (Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.) 14 Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. 15 Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.”

Renungan:

MEMBACA kalimat ini “Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya” (Mat 6:8) aku teringat ketika masih menjadi seminaris dan frater. Setiap kali pulang ke rumah, bapak ibu selalu memberi sangu walau aku tidak meminta. Dan memang kalau pulang sebetulnya karena uangku sudah habis. Andai saat pulang itu mereka tidak memberi uang maka sebulan berikutnya aku akan mlompong. Namun tanpa kata-kata meminta, bapak ibu sudah paham anaknya membutuhkan dan mereka memberi.

Kiranya Tuhan jauh lebih paham akan keperluan kita daripada orang tua kita. Ia mengetahui apa yang kita butuhkan. Ia pun akan memberi selaras dengan kemampuan kita menggunakan. Takarannya sang pas. Ia tidak akan memberi melebihi kemampuan kita mengelola. Ia juga tidak akan membiarkan kita mengalami kekurangan.

Marilah kita berserah kepada Allah. Kita pasrahkan hidup kita sebagaimana doa yang Ia ajarkan pada kita (bc. Mat 6: 9-13). Dalam kesatuan dengan doa itu kita pun akan makin peka menangkap kebutuhan keluarga dan sesama kita. Tuhan menjagai hidup kita.

Kontemplasi:

Bayangkan orang tuamu mencukupi kebutuhanmu sekalipun engkau tidak memintanya.

Refleksi:

Tulislah pengalamanmu dikenali dan diperhatikan orang tuamu.

Doa:

Tuhan terima kasih Engkau mengenali kebutuhanku. Terima kasih juga karena telah memberikan orang tua yang menyayangiku. Amin.

Perutusan:

Aku bersyukur atas kebaikan-kebaikan yang kuterima walau aku tidak meminta. -nasp-

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Sabda Hidup: Selasa, 16 Februari 2016

Hari Biasa Pekan I Prapaskah

warna liturgi Ungu

Bacaan

Yes. 55:10-11; Mzm. 34:4-5,6-7,16-17,18-19; Mat. 6:7-15. BcO Kel. 6:29-7:25

Bacaan Injil: Mat. 6:7-15.

7 Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. 8 Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. 9 Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, 10 datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. 11 Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya 12 dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; 13 dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. (Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.) 14 Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. 15 Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.”

Renungan:

MEMBACA kalimat ini “Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya” (Mat 6:8) aku teringat ketika masih menjadi seminaris dan frater. Setiap kali pulang ke rumah, bapak ibu selalu memberi sangu walau aku tidak meminta. Dan memang kalau pulang sebetulnya karena uangku sudah habis. Andai saat pulang itu mereka tidak memberi uang maka sebulan berikutnya aku akan mlompong. Namun tanpa kata-kata meminta, bapak ibu sudah paham anaknya membutuhkan dan mereka memberi.

Kiranya Tuhan jauh lebih paham akan keperluan kita daripada orang tua kita. Ia mengetahui apa yang kita butuhkan. Ia pun akan memberi selaras dengan kemampuan kita menggunakan. Takarannya sang pas. Ia tidak akan memberi melebihi kemampuan kita mengelola. Ia juga tidak akan membiarkan kita mengalami kekurangan.

Marilah kita berserah kepada Allah. Kita pasrahkan hidup kita sebagaimana doa yang Ia ajarkan pada kita (bc. Mat 6: 9-13). Dalam kesatuan dengan doa itu kita pun akan makin peka menangkap kebutuhan keluarga dan sesama kita. Tuhan menjagai hidup kita.

Kontemplasi:

Bayangkan orang tuamu mencukupi kebutuhanmu sekalipun engkau tidak memintanya.

Refleksi:

Tulislah pengalamanmu dikenali dan diperhatikan orang tuamu.

Doa:

Tuhan terima kasih Engkau mengenali kebutuhanku. Terima kasih juga karena telah memberikan orang tua yang menyayangiku. Amin.

Perutusan:

Aku bersyukur atas kebaikan-kebaikan yang kuterima walau aku tidak meminta. -nasp-

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Sabda Hidup: Selasa, 16 Februari 2016

Hari Biasa Pekan I Prapaskah

warna liturgi Ungu

Bacaan

Yes. 55:10-11; Mzm. 34:4-5,6-7,16-17,18-19; Mat. 6:7-15. BcO Kel. 6:29-7:25

Bacaan Injil: Mat. 6:7-15.

7 Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. 8 Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. 9 Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, 10 datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. 11 Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya 12 dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; 13 dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. (Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.) 14 Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. 15 Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.”

Renungan:

MEMBACA kalimat ini “Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya” (Mat 6:8) aku teringat ketika masih menjadi seminaris dan frater. Setiap kali pulang ke rumah, bapak ibu selalu memberi sangu walau aku tidak meminta. Dan memang kalau pulang sebetulnya karena uangku sudah habis. Andai saat pulang itu mereka tidak memberi uang maka sebulan berikutnya aku akan mlompong. Namun tanpa kata-kata meminta, bapak ibu sudah paham anaknya membutuhkan dan mereka memberi.

Kiranya Tuhan jauh lebih paham akan keperluan kita daripada orang tua kita. Ia mengetahui apa yang kita butuhkan. Ia pun akan memberi selaras dengan kemampuan kita menggunakan. Takarannya sang pas. Ia tidak akan memberi melebihi kemampuan kita mengelola. Ia juga tidak akan membiarkan kita mengalami kekurangan.

Marilah kita berserah kepada Allah. Kita pasrahkan hidup kita sebagaimana doa yang Ia ajarkan pada kita (bc. Mat 6: 9-13). Dalam kesatuan dengan doa itu kita pun akan makin peka menangkap kebutuhan keluarga dan sesama kita. Tuhan menjagai hidup kita.

Kontemplasi:

Bayangkan orang tuamu mencukupi kebutuhanmu sekalipun engkau tidak memintanya.

Refleksi:

Tulislah pengalamanmu dikenali dan diperhatikan orang tuamu.

Doa:

Tuhan terima kasih Engkau mengenali kebutuhanku. Terima kasih juga karena telah memberikan orang tua yang menyayangiku. Amin.

Perutusan:

Aku bersyukur atas kebaikan-kebaikan yang kuterima walau aku tidak meminta. -nasp-

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Kunjungan ke Meksiko: Paus Pertama Amerika Latin  Tatap Mata Bunda Maria dari Guadalupe ...

Pope Francis leaves at the end of a mass for Santa Maria de Guadalupe at St Peter's basilica on December 12, 2015 at the Vatican. (Photo by Massimo Valicchia/NurPhoto)

PAUS Fransiskus mengatakan, “Misteri Penampakan Bunda Maria di Guadalupe dipelajari, terus dipelajari, dan dipelajari terus – menerus… Namun yang jelas fenomena Maria Guadalupe itu telah menanamkan iman yang kuat dalam bangsa Meksiko.”

Paus berkata di hadapan para uskup di Meksiko, “Dapatkah penerus tahta Santo Petrus, yang dipanggil dari ujung Amerika Latin, tidak mengkhususkan diri untuk mengunjungi “La Virgine Morenita” (Bunda Maria Guadalupe)?

Maka tidak heran bahwa hari pertama kunjungan Paus di Meksiko diawali dengan Misa Kudus bersama dengan umat di Guadalupe di tempat Ziarah  Bukit “Tepeyac” di atas kota Meksiko dimana Bunda Maria menampakkan diri kepada Juan Diego pada lima abad yang lalu.

Kisah penampakan itu bermula ketika tahun 1519 (berarti 2 tahun setelah munculnya protestantisme di Jerman tahn 1517), pada hari Jumat Agung seorang komandan serdadu Spanyol  Hernan Cortés dan pasukannya mendarat di pantai Amerika untuk menaklukkan suku bangsa Indian. Dua hari kemudian para imam Fransiskan yang berlayar bersama-sama dengan dia menancapkan Salib kayu di pasir pantai. Segeralah Hernan Cortés dan pasukannya bergegas menuju kerajaan Aztec yang waktu itu mempraktikkan korban-korban manusia yang mengerikan.

Walaupun secara militer serdadu Spanyol berhasil menundukkan suku Indian, namun para misionaris Fransiskan tidak mudah untuk mentobatkan suku Indian. Mereka berusaha dengan keras dengan mempelajari bahasa Aztec dan membiasakan dengan dialek bahasa itu yang sangat sulit untuk lidah Eropa. Dan usaha itu ada hasilnya, beberapa orang Aztec percaya dan mau dibaptis. Dan pada tahun 1532 (13 tahun setelah  Cortés mendarat) terjadi sesuatu yang aneh atau luar biasa (tidak biasa maksudnya) pada diri salah seorang yang telah dibaptis itu yang bernama Juan Diego.

Peristiwa itu terjadi di perbukitan yang benama Tepeyac di atas danau biru di kota Tenochtitlàn yang sekarang menjadi Mexico City. Apa yang terjadi itu dipercaya oleh bangsa atau penduduk Aztec yang telah percaya kepada agama Katolik sebagai “suatu penampakan Bunda Maria.” Dan peristiwa penampakan itu diberi nama oleh orang-orang Spanyol: Bunda Maria dari Guadalupe.

Dalam penampakan itu Bunda Maria menampilkan kebudayaan Spanyol dan Aztecs bersama-sama, karena Bunda Maria nampak sebagai “mestizo” (of mixed race – perpaduan dua bangsa) – seperti kita lihat dalam penampilan Bunda Maria pada penampakan yang keempat kepada Juan Diego dalam pakaian jubah sederhana yang menutup sampai di pundak yang dikenal dengan nama “tilma”. Lukisan dan teks yang berasal dari abad 16 itu semua adalah bukti peninggalan yang menjelaskan bahwa setelah terjadinya peristiwa penampakan itu maka 8 juta orang Indian Amerika kemudian menjadi katolik.

Pada abad ke-20 Paus Pius ke XI menyatakan bahwa Bunda Maria Guadalupe menjadi Ratu Meksiko dan Pelindung Amerika Latin dan Filipina. Dan Paus yang kemudian, Pius XII menyatakan Bunda Maria dari Guadalupe menjadi Pelindung seluruh Benua Amerika.

Dan sekarang pada abad ke-21 ini Paus pertama dari benua Amerika Latin itu mempersembahkan misa bersama umat di Guadalupe. Paus Fransiskus meneguhkan devosi itu dengan mengenakan mahkota emas dan perak kepada Bunda Maria Guadalupe.

Penampakan itu terjadi bagaimana dan peristiwanya seperti apa mungkin hanya Juan Diego yang tahu dan Paus Fransiskus secara terus terang menyatakan bahwa peristiwa itu dipelajari dan dipelajari terus menerus.

Mungkin secara rasional dan sekular orang bisa menafsirkan bahwa  hal itu adalah tehnik penginjilan saja dari bangsa Spanyol dan misionaris Fransiskan. Kalau melihat bahwa Bunda Maria juga ditampilkan dalam perpaduan budaya Aztec dan Spanyol, maka bisa timbul kecurigaan bahwa kisah itu direkayasa oleh misionaris spanyol untuk mentobatkan suku Indian.

Namun fakta historis yang tidak bisa disangkal adalah bahwa peristiwa itu yang diceritakan dan diceriterakan terus menerus, bukan hanya dari tempat yang satu ke tempat yang lain di seluruh Meksiko, melainkan juga dari generasi ke generasi telah mewarnai iman bangsa itu. Peristiwa Guadalupe telah membimbing bangsa Aztec untuk sampai kepada iman katolik sampai sekarang dan seluruh Amerika Latin kebanyakan beragama katolik. Dan fakta yang tidak bisa disangkal sekarang adalah bahwa iman katolik seorang anak yang tumbuh dan berkembang di Amerika Latin, tepatnya di Argentina, kini telah menjadi Paus di Roma. Secara langsung atau tidak langsung peristiwa Paus Fransiskus berdoa dengan menatap mata Madona Guadalupe adalah peristiwa iman yang sederhana dan indah.

Iman kepada Allah yang Mahakuasa dan terasa jauh, sehingga bisa diberi banyak nama oleh banyak agama dan kepercayaan itu, menjadi lebih sederhana kalau melalui perantara-perantara. Orang Katolik memakai perantara Yesus Kristus dari Nazaret yang menampakkan wajah Allah. Devosi kepada Bunda Maria juga menjadi perantara yang sederhana untuk sampai kepada Allah.

Menggapai Kekudusan Melalui Perbuatan Baik pada Sesama

Senin, 15 Februari 2016
Pekan Prapaskah I
Im 19:1-2.11-18; Mzm 19:8.9.10.15; Mat 25:31-46

Yesus bersabda, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”

DALAM Injil hari ini Yesus Kristus menganugerahkan hidup abadi kepada mereka yang berbuat baik kepada sesama, yang oleh Yesus disamakan dengan Diri-Nya sendiri. Maka Yesus bersabda, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Kuyang paling hina ini., kami telah melakukannya untuk Aku.”

Sebaliknya. Yesus mencampakkan ke hukuman abadi mereka yang tidak berbuat baik kepada saudaranya yang paling hina, yang disamakan dengan Diri-Nya sendiri. Dengan jelas Yesus bersabda, “Sesungguhnya, segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, itu juga tidak kamu lakukan untuk Aku.”

Apa yang dapat kita petik sebagai pelajaran dari sabda ini? Pertama, kekudusan secara mendasar merupakan upaya berbuat baik bagi sesama. Itulah sebabnya, Gereja Katolik mengajarkan bahwa tindakan karitatif merupakan jiwa dari kekudusan yang merupakan panggilan kita semua (Bdk. Katekismus Gereja Katolik, 826). Kedua, saat kita berbuat baik kepada sesama, kita juga menyatakan kerahiman Allah dalam kehidupan kita. Paus Fransiskus mengingatkan kita bahwa kita tidak bisa mengabaikan sabda Yesus ini. Itulah tolok ukur untuk penghakiman kita, apakah kita memberi makan yang lapar, minum yang haus, menyambut orang asing, memberi pakaian yang telanjang, mengunjungi yang sakit dan dipenjara (Bdk. Misericordiae Vultus 15).

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi sementara kita bersembah sujud di hadirat Yesus Kristus, kita mohon kepada-Nya agar kita diteguhkan untuk berbuat baik kepada sesama dengan tindakan karitatif kerahiman. Di sana kita juga melakukan karya rohani kerahiman dengan mendoakan sesama kita.

Tuhan Yesus Kristus, Engkau memanggil kami untuk menggapai kekudusan dengan berbuat baik kepada sesama yang membutuhkan karya kasih kami. Bukalah mata kami kepada semua hal yang baik yang dapat kami lakukan kepada sesama dan menunjukkan kasih dan kerahiman-Mu kepada dunia ini kini dan selamanya. Amin.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Seeking Holiness By Doing Good To Others

MY daily reflection and prayer:
Monday, February 15, 2016
The first Week of Lent

Dear my friends,
Here is the Gospel for us today according to St. Matthew 25:31-46

Jesus says, “When the Son of man comes in his glory, and all the angels with him, then he will sit on his glorious throne. Before him will be gathered all the nations, and he will separate them one from another as a shepherd separates the sheep from the goats, and he will place the sheep at his right hand, but the goats at the left. Then the King will say to those at his right hand, `Come, O blessed of my Father, inherit the kingdom prepared for you from the foundation of the world; for I was hungry and you gave me food, I was thirsty and you gave me drink, I was a stranger and you welcomed me, I was naked and you clothed me, I was sick and you visited me, I was in prison and you came to me.’

Then the righteous will answer him, `Lord, when did we see you hungry and feed you, or thirsty and give you drink And when did we see you a stranger and welcome you, or naked and clothe you? And when did we see you sick or in prison and visit you?’ And the King will answer them, `Truly, I say to you, as you did it to one of the least of these my brethren, you did it to me.’

Then he will say to those at his left hand, `Depart from me, you cursed, into the eternal fire prepared for the devil and his angels; for I was hungry and you gave me no food, I was thirsty and you gave me no drink, I was a stranger and you did not welcome me, naked and you did not clothe me, sick and in prison and you did not visit me.’ Then they also will answer, `Lord, when did we see you hungry or thirsty or a stranger or naked or sick or in prison, and did not minister to you?’ Then he will answer them, `Truly, I say to you, as you did it not to one of the least of these, you did it not to me.’ And they will go away into eternal

This is the Gospel of the Lord. Praise to you Lord Jesus Christ.

***

IN today’s Gospel Jesus Christ grants eternal life to those who do good to others, whom he identifies as his very self. So he says, “Truly, I say to you, as you did it to one of the least of these my brethren, you did it to me.”

Contrariwise, he sends to eternal damnation those who did nothing to help others, whom he identifies as his very self. Clearly he says, “Truly, I say to you, as you did it not to one of the least of these, you did it not to me.”

What can we learn from these words? First, holiness is essentially seeking the good of others. It is why the Catholic Church teaches us that “charity is the soul of the holiness to which all are called. (Cfr. Catechism of the Catholic Church, 826). Second, when we do good to others we also manifest God’s mercy in our lives. Pope Francis reminds us that we cannot escape this Lord’s words. It is the criteria upon which we will be judged: whether we have fed the hungry, given drink to the thirsty, welcomed the stranger and chlothed the naked, spent time with the sick and those in prison (Cf. “Misericordiae Vultus” 15).

In the Perpetual Adoration of the Eucharist, while worshipping Jesus Christ, we ask him that we are encouraged to do the best to others with charity works of mercy. There we also do spiritual works of mercy by praying for others.

Let’s pray: Lord Jesus Christ, you call us to seek holiness by doing good to those need our charity. Help us to make our holiness real. Open our eyes to all the good that we can do for others and show this world your love and mercy now and forever. Amen.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Pengadilan Terakhir

YESUS menegaskan bahwa Ia akan datang kembali untuk mengadili semua manusia. Saat itulah manusia diminta untuk mempertanggungjawabkan seluruh perbuatan mereka di hadapanNya. Ia akan memisahkan manusia berdasarkan seberapa jauh Hukum Kasih yang diajarkanNya, telah dilaksanakan di dalam hidup mereka.

Tidaklah cukup menyatakan kasih kepada Allah di bibir saja. Kita harus peka, peduli dan membuka hati terhadap penderitaan sesama. Tebarkan kasih kepada orang di sekitar kita tanpa memandang status, agama dan latar belakang mereka. Sadari bahwa Yesus hadir di dalam diri setiap manusia, termasuk di dalam diri orang miskin, menderita dan tersingkirkan.

Tempat kita kelak ditentukan oleh cara kita menjalani kehidupan di masa kini. Oleh sebab itu, mari jalani kehidupan dengan lebih baik, ulurkan tangan kepada sesama dan layani mereka dengan tulus dan penuh kasih, tanpa mengharapkan balas jasa, imbalan dan juga pujian.

Semoga kelak kita layak untuk ikut serta dalam perjamuan abadi bersamaNya.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Kata Mutiara – Senin 15 Februari 2016

[unable to retrieve full-text content]JADILAH tangan yang menjangkau. Jadilah senyum bagi mereka yang tidak memiliki alasan untuk tersenyum. Jadilah terang bagi mereka yang hidup dalam kegelapan.

Umat Katolik KAJ dan Usulan E-Budget DKI Jakarta

KALAU melihat judul paparan  ini, mungkin ada yang bertanya apa urusannya: Usulan Budget DKI 2017 dengan Komsos dan umat Katolik KAJ?

100% katolik, 100% Indonesia

Umat KAJ yang juga warga DKI merupakan bagian yang tidak terpisahkan, kita 100% Katolik sekaligus 100% warga DKI. Salah satu sasaran Ardas KAJ 2016 adalah meningkatkan partisipasi umat KAJ dalam hidup bermasyarakat.  Jadinya kita tidak cukup hanya misa, devosi, novena, pendalaman kitab suci, rosario tapi harus diwujudkan dalam kehidupan sehari hari termasuk ditengah masyarat tempat tinggal kita.

Selain sebagai komsos paroki saya juga sebagai pengurus RW. Beberapa hari lalu di balai warga RW kami berlangsung acara pertemuan 21 RT di wilayah RW kami.  Agenda pertemuannya selain perkenalan dengan lurah kami yang baru 2 bulan; sekaligus disosialisasikan tentang Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) 2017 yang muaranya nanti adalah rencana pembangunan DKI 2017 dalam E-Budget DKI 2017.

E-Budget DKI Jakarta 

Salah satu hulu dari E-Budget DKI 2017 adalah usulan dari RT.  Setiap RT bisa mengusulkan mana saja diwilayahnya (sarana umum/sosial) yang perlu di ganti/ditambah/diperbaiki. Misalnya saluran air, lampu jalan, soal sampah dll.  Selain sarana umum juga ada kesempatan pelatihan wagi warga yg masih nganggur dan perlu ketrampilan,

Ada sekitar 92 item yg dapat digunakan sebagai panduan, termasuk juga diberikan peluang untuk mengusulkan hal lain diluar 92 item diatas. Jadinya proses yang menggunakan online langsung ke DKI ini dimulai dari usulan RT kemudian diinput oleh 1 orang pengurus RW yg sudah mendapat otoritas input, langsung ke DKI

Nantinya usulan RT akan dikaji/verifikasi oleh tim teknis DKI.

Karena umat katolik KAJ merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari warga DKI maka umat KAJ mempunyai kewajiban membuat lingkungan tempat tinggalnya menjadi lebih baik, dan kesempatan partisipasi sudah disediakan melalui RT.  Oleh karena itu silakan usulan terseut di komunikasikan dengan RT setempat.

Karena waktu yang terbatas, maka lebih cepat ya makin lebih baik.

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama bersama jajaran anggota Forum Kerukunan Umat Beragama dalam rangkaian kegiatan memantau pelaksanaan Ibadah Malam Natal 2015 di Gereja Kathedral, Jakarta Pusat, DKI Jakarta, Kamis (24/12). Suasana ibadah Malam Natal kali ini mendapatkan pengamanan yang ketat. Hal ini untuk mengantisipasi segala tindak kriminalitas, terutama terkait isu serangan teroris. Kompas/Adrian Fajriansyah (DRI) 24-12-2015Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama bersama jajaran anggota Forum Kerukunan Umat Beragama dalam rangkaian kegiatan memantau pelaksanaan Ibadah Malam Natal 2015 di Gereja Kathedral, Jakarta Pusat, DKI Jakarta, Kamis (24/12). Courtesy of Kompas/Adrian Fajriansyah.

Melalui paparan singkat ini, saya mohon bantuannya untuk menginformasikannya ke pastor/dewan paroki. Selanjutnya, ya  terserah mereka apakah hal ini dianggap penting dan akan diteruskan ke umatnya atau tidak itu cerita lain.

Anda pun juga berkewajiban membangun dunia melalui sekitar tempat tinggal Anda. Yang pasti,  Ardas KAJ 2016 mengajak umat berpartisipasi dalam masyarakat.

Semoga nantinya umat katolik KAJ tidak hanya akbrab dengan pastor/umat parokinya saja tapi juga akrab dengan Ketua RT atau tetangganya.

Harapan dunia adalah harapan Gereja, Kesedihan dunia adalah kesedihan Gereja, Kegembiraan dunia adalah kegembiraan Gereja,

Berkah dalem,

Dodo

GEMA Paroki Kristus Raja – Pejompongan

www.kristusraja.com

Kerendahan Hati

Old and New

Firman Tuhan Meneguhkan

Belajar Dari Masa Lalu