Renungan Harian

Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Renungan Harian - Kumpulan Renungan Iman Kristiani

12Jan

“Ia harus makin besar tetapi aku harus makin kecil.”
(1Yoh 5:14-21; Yoh 3:22-30)
Sesudah itu Yesus pergi dengan murid-murid-Nya ke tanah Yudea dan Ia diam di sana bersama-sama mereka dan membaptis. Akan tetapi Yohanes pun membaptis juga di Ainon, dekat Salim, sebab di situ banyak air, dan orang-orang datang ke situ untuk dibaptis, sebab pada waktu itu Yohanes belum dimasukkan ke dalam penjara. Maka timbullah perselisihan di antara murid-murid Yohanes dengan seorang Yahudi tentang penyucian. Lalu mereka datang kepada Yohanes dan berkata kepadanya: “Rabi, orang yang bersama dengan engkau di seberang sungai Yordan dan yang tentang Dia engkau telah memberi kesaksian, Dia membaptis juga dan semua orang pergi kepada-Nya.” Jawab Yohanes: “Tidak ada seorang pun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga. Kamu sendiri dapat memberi kesaksian, bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya. Yang empunya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu. Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh. Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” (Yoh 3:22-30), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Hari ini ditampilkan Yohanes Pembaptis yang dibandingkan dengan Yesus, Penyelamat Dunia. “Rabi, orang yang bersama dengan engkau di seberang sungai Yordan dan yang tentang Dia engkau telah memberi kesaksian, Dia membaptis juga dan semua orang pergi kepada-Nya.”, demikian kata-kata atau laporan orang-orang Yahudi, pengikut Yohanes Pembaptis. Mendengarkan laporan atau kata-kata tersebut Yohanes menanggapinya dengan rendah hati:”Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh. Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil”. Hal ini kiranya menjadi bahan permenungan atau refleksi bagi para katekis atau pengajar agama maupun para gembala umat Allah. Marilah kita meneladan Yohanes dengan berkata dan menghayati “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil”, dengan kata lain hendaknya senantiasa menghayati diri, panggilan dan tugas pengutusan atau pelayanan sebagai alat atau sarana, sebagai bantuan bagi orang lain untuk bertemu dan berbakti kepada  serta bersatu dengan Tuhan. Dengan kata lain hendaknya anda para pewarta, katekis maupun gembala umat senantiasa hidup, bertindak dan melayani umat dengan rendah hati. Pada waktunya ketika umat menjadi dewasa dan mandiri dalam hidup beriman atau beragama, biarlah mereka berjalan sendiri sesuai dengan Penyelenggaraan Ilahi. Kami harapkan para pewarta, katekis atau gembala umat menghayati motto bapak pendidikan kita, Ki Hajar Dewantoro “ing arso asung tulodho, ing madyo ambangun karso, tut wuri handayani”. Hendaknya anda tahu diri kapan harus memberi teladan hidup beriman atau beragama, kapan harus memberdayakan dan mendorong umat Allah.
·   Dan jikalau kita tahu, bahwa Ia mengabulkan apa saja yang kita minta, maka kita juga tahu, bahwa kita telah memperoleh segala sesuatu yang telah kita minta kepada-Nya. Kalau ada seorang melihat saudaranya berbuat dosa, yaitu dosa yang tidak mendatangkan maut, hendaklah ia berdoa kepada Allah dan Dia akan memberikan hidup kepadanya, yaitu mereka, yang berbuat dosa yang tidak mendatangkan maut. Ada dosa yang mendatangkan maut: tentang itu tidak kukatakan, bahwa ia harus berdoa.” (1Yoh 5:15-16). Kami percaya bahwa kita semua adalah orang berdosa, sering melakukan dosa yang tidak mendatangkan maut alias dosa yang dapat diampuni. Maka sebagaimana dikatakan oleh Yohanes di atas marilah kita berdoa mohon kasih pengampunan Allah baik bagi diri kita sendiri maupun orang lain. Berdoa antara lain membuka diri sepenuhnya, selebar-lebarnya atas kehendak dan perintah atau sabda Allah atau Penyelenggaraan Ilahi. Sikap doa hendaknya senantiasa menjiwai cara hidup dan cara bertindak kita, sehingga ketika kita menerima saran, kritik, anjuran atau nasihat, dengan rendah hati kita dengarkan dan cecap dalam-dalam serta kemudian kita tanggapi secara positif dalam dan melalui cara hidup dan cara bertindak kita. Kami percaya setiap hari dan setiap saat ada hal-hal baru di lingkungan hidup kita, yang mengajak dan memanggil kita untuk menanggapinya secara positif. Dengan kata lain hendaknya dibangun dan diperdalam sikap mental ‘belajar terus-menerus’, ongoing formation atau ongoing education dalam diri kita. Orang-orang sukses di dunia ini sungguh dijiwai oleh sikap mental belajar, baik dalam tugas pekerjaan ataupun hidup dan tindakan setiap hari. Belajar tidak hanya di meja sekolah, tetapi juga dalam hidup sehari-hari, dalam kesibukan, pelayanan dan tugas pengutusan kita. Allah terus memperbaharui dunia seisinya, dan tentu kita manusia harus senantiasa siap sedia untuk diperbarui, berubah lebih baik, mulia, luhur, bermoral dan berbudi pekerti luhur sampai mati.
“Haleluya! Nyanyikanlah bagi TUHAN nyanyian baru! Pujilah Dia dalam jemaah orang-orang saleh. Biarlah Israel bersukacita atas Yang menjadikannya, biarlah bani Sion bersorak-sorak atas raja mereka! Biarlah mereka memuji-muji nama-Nya dengan tari-tarian, biarlah mereka bermazmur kepada-Nya dengan rebana dan kecapi! Sebab TUHAN berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan.” (Mzm 149:1-4)
Ign 12 Januari 2013

11jan

“Ia mengundurkan diri ke tempat yang sunyi dan berdoa”
(1Yoh 5:5-13; Luk 5:12-16)
” Pada suatu kali Yesus berada dalam sebuah kota. Di situ ada seorang yang penuh kusta. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia dan memohon: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu, dan berkata: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya. Yesus melarang orang itu memberitahukannya kepada siapa pun juga dan berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan seperti yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka.” Tetapi kabar tentang Yesus makin jauh tersiar dan datanglah orang banyak berbondong-bondong kepada-Nya untuk mendengar Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka.Akan tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa” (Luk 5:12-16), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Kehadiran Penyelamat Dunia memang sungguh menarik dan mempesona, karena apa yang dilakukan atau dikerjakan membuat segalanya baik atau lebih baik. Dalam Warta Gembira hari ini dikisahkan penyembuhan orang berpenyakit kusta. Orang berpenyakit kusta diimani sebagai orang berdosa dan senantiasa disingkirkan dari percaturan bersama di dalam masyarakat alias diasingkan. Maka mujizat penyembuhan orang berpenyakit kusta sungguh merupakan berita gembira yang menggembarkan banyak orang, sehingga banyak orang pun tergerak datang kepadaNya “untuk mendengar Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka”. Ada kekhawatiran dalam Diri Yesus, jangan-jangan mereka, orang kebanyakan salah mengerti atau salah tangkap perihal Dia yang sebenarnya, demikian juga Ia khawatir terjebak dalam suatu tempat saja, padahal Ia diutus ke seluruh dunia. Maka dari kelelahan kesibukan melayani dan menyembuhkan Ia “mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi untuk berdoa”. Apa yang dilakukan oleh Yesus kiranya baik kita renungkan dan refleksikan. Kami percaya bahwa kita semua karena tuntutan pekerjaan atau kebutuhan sehingga sering melupakan hidup doa. Dengan ini kami mengajak dan mengingatkan kita semua untuk tidak melupakan kehidupan doa dalam acara dan kegiatan harian kita. Misalnya sebelum dan sesudah bekerja atau melaksanakan tugas pengutusan kita berdoa dengan permohonan agar apa yang kita lakukan atau kerjakan sesuai dengan kehendak dan perintah Tuhan, sehingga diri kita maupun hasil kerja atau usaha kita senantiasa menarik, memikat dan mempesona banyak orang. Kami juga berharap kepada kita semua untuk menyembuhkan saudara-saudari kita yang menderita sakit, entah sakit hati, sakit jiwa, sakit akal budi maupun sakit tubuh.
·   Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah?Inilah Dia yang telah datang dengan air dan darah, yaitu Yesus Kristus, bukan saja dengan air, tetapi dengan air dan dengan darah. Dan Rohlah yang memberi kesaksian, karena Roh adalah kebenaran.Sebab ada tiga yang memberi kesaksian [di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu.Dan ada tiga yang memberi kesaksian di bumi]: Roh dan air dan darah dan ketiganya adalah satu” (1Yoh 5:5-8). Darah merupakan lambang kehidupan, air lambang kesegaran dan Roh atau jiwa adalah yang menggerakkan serta menggairahkan. Tiga unsur ini ada dalam diri kita masing-masing dan diharapkan kehadiran dan sepak terjang kita dimana-mana dan kapanpun senantiasa sungguh menghidupkan, menyegarkan dan menggairahkan atau mempesona bagi orang lain. Kiranya bukan hanya penampilan fisik yang kelihatan cantik, tampan, bersih dst, tetapi hemat saya yang terutama dan pertama-tama adalah bersih dan cantik hati, jiwa dan akal budinya, dengan kata lain kita sungguh suci dan membaktikan diri sepenuhnya kepada Penyelenggaraan Ilahi dalam cara hidup dan cara bertindak kita. Maka marilah kita saling membantu dan mengingatkan agar kita senantiasa mengusahakan kecantikan dan kebersihan hati, jiwa dan akal budi, sehingga tubuh kita pun juga akan bersih dan cantik atau tampan. Bukti kebersihan dan kecantikan diri kita secara utuh antara lain apa yang kita lakukan dan kerjakan senantiasa membuat segala sesuatu menjadi baik atau lebih baik. Bagi yang sedang bertugas belajar berarti semakin terampil dalam belajar, sehingga semakin cerdas dan pandai, bagi yang sedang bekerja berarti semakin terampil bekerja sehingga menghasilkan buah kerja yang lebih banyak dan baik. Tentu saja kami berharap kepada semua umat beragama semakin setia dan taat melaksanakan ajaran agamanya, sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci masing-masing.
Megahkanlah TUHAN, hai Yerusalem, pujilah Allahmu, hai Sion! Sebab Ia meneguhkan palang pintu gerbangmu, dan memberkati anak-anakmu di antaramu. Ia memberikan kesejahteraan kepada daerahmu dan mengenyangkan engkau dengan gandum yang terbaik.Ia menyampaikan perintah-Nya ke bumi; dengan segera firman-Nya berlari” (Mzm 147:12-15)

Ign 11 Januari 2013

10Jan

“Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.”
(1Yoh 4:19-5:4; Luk 4:14-22a)
“Dalam kuasa Roh kembalilah Yesus ke Galilea. Dan tersiarlah kabar tentang Dia di seluruh daerah itu. Sementara itu Ia mengajar di rumah-rumah ibadat di situ dan semua orang memuji Dia. Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab. Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis: “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku  untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya. Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.” Dan semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya” (Luk 4:14-22a), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Yesus datang ke Nazaret berarti mudik atau pulang ke tempat asalnya, di tempat Ia dibesarkan. Di tempat asalNya Ia membacakan teks Kitab Suci, Kitab Yesaya perihal ratmat Allah yang mendatangi orang pilihNya atau Tahun Rahmat Allah. Seraya dan selesai membacakan Ia bersabda:”Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya”. Hal ini kiranya dapat menjadi bahan refleksi atau permenungan kita: apa artinya ketika kita ‘pulang ke rumah’, entah itu pulang dari sekolah atau kerja atau dari bepergian. Benarkah di dalam rumah atau tempat tinggal, di dalam keluarga kita, terjadi penggenapan atau pemenuhan sabda Tuhan alias pelaksanaan kehendak dan perintah Tuhan? Keluarga dimulai, dibangun dan diperkembangkan serta diperdalam dalam dan oleh kasih, maka diharapkan semua orang yang ada di dalam keluarga alias semua anggota keluarga senantiasa hidup saling mengasihi. Hendaknya semua anggota keluarga senantiasa berpedoman “apa yang saya katakan sekaligus saya kerjakan atau lakukan”. Cintakasih memang pertama-tama dan terutama menjadi tindakan atau terwujud dalam cara hidup dan cara bertindak, dan hemat saya kita semua berkehendak untuk hidup dan bertindak saling mengasihi. Biarlah siapapun yang melihat cara hidup anggota keluarga kita heran dan akhirnya terpesona dan tertarik untuk mendekati dan mendatangi kita. Tentu saja kami juga berharap agar desa atau kota kita maupun tempat kerja atau tugas kita menarik, memikat dan mempesona. Pada masa kini ada motto di masing-masing kota, misalnya ‘kota ATLAS’, ‘kota SANTRI’, dst.. semoga motto tersebut tidak tinggal dalam tulisan saja tetapi sungguh menjadi nyata dalam cara hidup dan cara bertindak warga kota yang bersangkutan.
·   Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.” (1Yoh 4:21). Kasih kepada Allah dan sesama manusia memang tak dapat dipisahkan, melainkan hanya dapat dibedakan, bagaikan mata uang bermuka dua. Dengan kata lain berdoa tak dapat dipisahkan dari bekerja atau bertindak, “ORA et LABORA”. Doa hendaknya menjiwai kerja atau tindakan dan sebaliknya kerja atau tindakan menjiwai doa. Setiap manusia diciptakan sesuai dengan gambar  atau citra Allah, maka kami harapkan Allah sungguh hidup dan berkarya dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini, sehingga akhirnya kita dapat menghayati kutipan sabda di atas, yaitu “barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya”. Kiranya kita semua mengakui diri sebagai orang beriman, yang percaya kepada Allah, maka dengan ini kami mengharakan kita semua hidup dan bertindak saling mengasihi. Kepada mereka yang masih membenci, mendendam atau memusuhi saudara atau sesamanya kami harapkan segera bertobat, berdamai. Tidak ada alasan terlambat untuk berdamai, atau kalau merasa terlambat yang penting adalah selamat dan berdamai. Di jalanan sering kita baca dan lihat spanduk yang bertuliskan “DAMAI ITU INDAH”, yang kiranya dipasang oleh rekan-rekan Angkatan Bersenjata, melihat dan memperhatikan latar belakangnya. Ada motto “welfare state is warfare state” (=Negara damai sejahtera adalah Negara siap perang), moga-moga kita semua memerangi kebencian, dendam dan permusuhan demi perdamaian, demi hidup saling mengasihi. Sekali lagi kami serukan tak henti-hentinya: kami mengajak dan mengingatkan agar anak-anak sedini mungkin dididik dan dibina untuk saling mengasihi satu sama lain, sehingga kelak mereka tumbuh-berkembang hidup saling mengasihi dengan siapapun tanpa pandang bulu.
Ya Allah, berikanlah hukum-Mu kepada raja dan keadilan-Mu kepada putera raja!Kiranya ia mengadili umat-Mu dengan keadilan dan orang-orang-Mu yang tertindas dengan hukum!” (Mzm 72:1-2)
 Ign 10 Januari 2013

9Jan

“Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”
(1Yoh 4:11-18; Mrk 6:45-52)
“Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan berangkat lebih dulu ke seberang, ke Betsaida, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Setelah Ia berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa. Ketika hari sudah malam perahu itu sudah di tengah danau, sedang Yesus tinggal sendirian di darat. Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan Ia hendak melewati mereka. Ketika mereka melihat Dia berjalan di atas air, mereka mengira bahwa Ia adalah hantu, lalu mereka berteriak-teriak,sebab mereka semua melihat Dia dan mereka pun sangat terkejut. Tetapi segera Ia berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” Lalu Ia naik ke perahu mendapatkan mereka, dan angin pun redalah. Mereka sangat tercengang dan bingung, sebab sesudah peristiwa roti itu mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil” (Mrk 6:45-52), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Masalah, tantangan dan hambatan akan ada dimana-mana dan kapan saja, apalagi ketika orang setia pada imannya pasti akan menghadapi aneka tantangan, hambatan atau masalah, yang tidak lain merupakan ‘gelombang kehidupan’. Kiranya kita hampir semuanya pernah berwisata ke pantai untuk menikmati keindahan laut beserta gelombangnya. Memang secara rational kita ketahui bahwa gelombang laut terjadi karena angin, dan angin terjadi karena perbedaan suhu di tempat yang berbeda. Namun secara iman kiranya kita semua akan mengimani bahwa gelombang laut terjadi karena Allah berkarya melalui ciptaan-ciptaanNya. Maka baiklah ketika kita menghadapi ‘gelombang kehidupan’ yang menakutkan, hendaknya kita temukan dan hayati Allah yang hidup dan berkarya dalam ‘gelombang kehidupan’ tersebut. Untuk itu hendaknya ‘tenanglah, jangan takut’ dalam menghadapi ‘gelombang kehidupan’. Dalam ketenangan dan keheningan kita akan mampu menemukan dan mengimani Allah yang hidup dan berkarya dalam ‘gelombang kehidupan’. “Topo ing rame” (=bertapa didalam keramaian), demikian kata peribahasa Jawa, yang tidak lain adalah merupakan ajakan untuk tetap hening hati dalam aneka keramaian atau kegaduhan alias memiliki ‘ati kang wening’ (= hati yang bersih atau suci).  Anda yang pernah mengikuti Latihan Doa Sadhana, karya Anton de Mello SJ, pernah mengalami pelatihan dalam hal menemukan kehendak Allah atau karya Allah dalam keramaian atau kebisingan. Baiklah jika pernah menerima pelatihan tersebut, hendaknya terus-menerus diperkembang-kan dan diperdalam, sehingga sabda Yesus “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” menjadi nyata atau terwujud dalam cara hidup dan cara bertindak kita.
·   Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Dalam hal inilah kasih Allah sempurna di dalam kita, yaitu kalau kita mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman, karena sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini” (1Yoh 4:16-17). Allah telah ‘mendunia’ artinya hadir dan berkarya melalui ciptaan-ciptaanNya di dunia ini, maka selayaknya kita yang percaya kepada Allah juga hidup ‘mendunia’ atau ‘membumi’, berpartisipasi dalam aneka seluk beluk duniawi. Maka hendaknya aneka sarana-prasarana yang mendukung usaha kita berpartisipasi dalam seluk-beluk duniawi sungguh kondusif dalam usaha menghayati iman kita kepada Allah. Aneka sarana-prasarana atau harta benda diciptakan oleh Allah bekerjasama dengan manusia merupakan bantuan bagi manusia untuk mengejar tujuan manusia diciptakan, yaitu keselamatan jiwa manusia. Maka segala sesuatu yang mengganggu atau menghalangi keberadaan kita ‘dalam kasih Allah’ hendaknya disingkirkan atau dimusnahkan. Aneka sarana-prasarana atau harta benda yang kita miliki dan kuasai hendaknya sungguh fungsional mendukung usaha kita menyelamatkan dunia seisinya. Maka hendaknya jangan bersikap mental ‘hanya membeli’, dimana harga dirinya ada pada kemampuan membeli aneka produk baru, melainkan pilihlah dan pilahlah serta kemudian belilah apa-apa yang sungguh membantu kita untuk semakin beriman, semakin membaktikan diri sepenuhnya kepada Allah, kepada Penyelenggaraan Ilahi. Dengan demikian kita boleh dikatakan “mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman”, alias sewaktu-waktu kita siap sedia dipanggil Allah atau meninggal dunia.
“Kiranya raja-raja dari Tarsis dan pulau-pulau membawa persembahan-persembahan; kiranya raja-raja dari Syeba dan Seba menyampaikan upeti! Kiranya semua raja sujud menyembah kepadanya, dan segala bangsa menjadi hambanya! Sebab ia akan melepaskan orang miskin yang berteriak minta tolong, orang yang tertindas, dan orang yang tidak punya penolong;ia akan sayang kepada orang lemah dan orang miskin, ia akan menyelamatkan nyawa orang miskin” (Mzm 72:10-13)
Ign 9 Januari 2013

7Jan

“Bertobatlah sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!”
(1Yoh 3:22-4:6; Mat 4:12-17.23-25)
“Tetapi waktu Yesus mendengar, bahwa Yohanes telah ditangkap, menyingkirlah Ia ke Galilea. Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali, supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: “Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain, — bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang.” Sejak waktu itulah Yesus memberitakan: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!”Yesus pun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu. Maka tersiarlah berita tentang Dia di seluruh Siria dan dibawalah kepada-Nya semua orang yang buruk keadaannya, yang menderita pelbagai penyakit dan sengsara, yang kerasukan, yang sakit ayan dan yang lumpuh, lalu Yesus menyembuhkan mereka. Maka orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Mereka datang dari Galilea dan dari Dekapolis, dari Yerusalem dan dari Yudea dan dari seberang Yordan.” (Mat 4:12-17.23-25), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Allah hidup dan berkarya dimana saja dan kapan saja, tak terikat oleh ruang dan waktu, maka marilah kita hayati seruan Yesus:”Bertobatlah, sebab Kerajaan Allah sudah dekat!”. Apakah kita semua butuh pertobatan? Jika kita jujur mawas diri kiranya kita semua perlu bertobat atau memperbaharui diri terus-menerus. Bertobat atau memperbaharui diri berarti senantiasa siap sedia untuk berubah, tentu saja berubah ke lebih baik, lebih luhur, lebih mulia, lebih bermoral dan lebih berbudi pekerti luhur. Barangsiapa tidak berubah akan ketinggalan dan terlindas oleh perkembangan dan pertumbuhan zaman. Segala sesuatu yang ada di dunia ini saat ini berubah begitu cepat, lebih-lebih yang terkait dengan aneka macam produk tehnologi, dan anggota tubuh kita pun juga berubah, terjadi pembaharuan sel-sel dalam tubuh kita. Para peserta didik, pelajar atau mahasiswa karena ketekunannya dalam belajar juga telah tumbuh dan berkembang, mengalami perubahan luar biasa, demikian juga kiranya para pekerja yang rajin dan tekun serta bekerja keras pasti mengalami perubahan dalam hal keterampilan. Kami berharap cara melihat, cara merasa, cara berpikir, cara bersikap dan cara bertindak kita juga berubah, tumbuh berkembang semakin mantap dan handal sesuai dengan kehendak dan perintah Tuhan. Jika kita sungguh berubah lebih baik, mulia, luhur, bermoral dan berbudi pekerti, maka banyak orang akan tertarik, terpesona, dan tergerak untuk mendatangi dan mengikuti cara hidup dan cara bertindak kita. Semoga para penjahat dan pendosa, koruptor segera bertobat, dan marilah kita doakan mereka agar siap sedia untuk bertobat.
·   Barangsiapa menuruti segala perintah-Nya, ia diam di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Dan demikianlah kita ketahui, bahwa Allah ada di dalam kita, yaitu Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita” (1Yoh 3:24). Marilah kita sadari dan hayati bahwa kita semua adalah ciptaan Allah, dan hanya dapat tumbuh berkembang dengan baik sebagaimana adanya pada saat ini tidak lain adalah karena Roh yang dikaruniakan kepada kita, orang yang lemah dan rapuh ini. Dengan kata lain hendaknya disadari dan dihayati bahwa apa yang baik dalam diri kita sungguh merupakan karya Allah, RohNya, yang hidup dan berkarya dalam diri kita. Maka jangan sekali-kali menyombongkan diri atas kebaikan dan keberhasilan yang telah anda capai dan nikmati, melainkan hendaknya semakin rendah hati, dan semakin menuruti segala perintahNya. Perintah Allah dapat kita temukan antara lain di dalam Kitab Suci serta aneka tata tertib dan aturan yang dijiwai oleh perintah Allah sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci. Maka pertama-tama kami mengajak anda sekalian untuk senantiasa mentaati dan melaksanakan aneka tata tertib atau aturan yang terkait dengan hidup dan panggilan serta tugas pengutusan kita, sebagaimana diserukan dalam pesan Natal Bersama PGI-KWI 2012. Jika dalam mentaati dan melaksanakan aneka tata tertib dan aturan  kita tidak ada masalah lagi alias tata tertib dan aturan sungguh menjadi kebutuhan hidup dan berindak untuk berubah, bertobat, maka hemat saya kita akan terbantu untuk mentaati dan melaksanakan perintah Allah, sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci, maupun yang dibisikkan oleh Roh ke dalam lubuk hati kita yang terdalam. Kami berharap anak-anak sedini mungkin dibiasakan dan dididik untuk mentaati dan melaksanakan aneka tata tertib atau aturan hidup bersama.
“Aku mau menceritakan tentang ketetapan TUHAN; Ia berkata kepadaku: “Anak-Ku engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini. Mintalah kepada-Ku, maka bangsa-bangsa akan Kuberikan kepadamu menjadi milik pusakamu, dan ujung bumi menjadi kepunyaanmu. Oleh sebab itu, hai raja-raja, bertindaklah bijaksana, terimalah pengajaran, hai para hakim dunia! Beribadahlah kepada TUHAN dengan takut dan ciumlah kaki-Nya dengan gemetar
 (Mzm 2:7-8.10-11)
Ign 7 Januari 2013

8Jan

“Kamu harus memberi mereka makan!”
(1Yoh 4:7-10; Mrk 6:34-44)
“Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka. Pada waktu hari sudah mulai malam, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya dan berkata: “Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah mereka pergi, supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa dan di kampung-kampung di sekitar ini.” Tetapi jawab-Nya: “Kamu harus memberi mereka makan!” Kata mereka kepada-Nya: “Jadi haruskah kami membeli roti seharga dua ratus dinar untuk memberi mereka makan?” Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!” Sesudah memeriksanya mereka berkata: “Lima roti dan dua ikan.” Lalu Ia menyuruh orang-orang itu, supaya semua duduk berkelompok-kelompok di atas rumput hijau. Maka duduklah mereka berkelompok-kelompok, ada yang seratus, ada yang lima puluh orang. Dan setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, supaya dibagi-bagikan kepada orang-orang itu; begitu juga kedua ikan itu dibagi-bagikan-Nya kepada semua mereka. Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti dua belas bakul penuh, selain dari pada sisa-sisa ikan.Yang ikut makan roti itu ada lima ribu orang laki-laki” (Mrk 6:34-44), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Kehadiran dan pelayanan Yesus, Penyelamat Dunia, semakin menarik dan memikat serta mempesona banyak orang, sehingga banyak orang tergerak untuk mengikutiNya serta mendengarkan pengajaran-Nya. Entah karena ketertarikan mereka pada Yesus atau karena kemiskinan mereka, tak ada satu pun dari mereka yang membawa bekal makanan untuk jaga-jaga kalau kelaparan. Kiranya hal itu tidak akan terjadi pada masa kini, dimana ketika ada perjumpaan banyak orang pada umumnya orang membawa bekal secukupnya atau yang mengundang menyediakan konsumsi secukupnya. Orang-orang yang mendengarkan pewartaan atau pengajaran Yesus memang kurang memperoleh perhatian dari mereka yang berwenang, maka Yesus pun tergerak memperhatikan mereka dengan memberi ajaran atau pengetahuan dan ketika mereka kelihatan kelaparan dan kelelahan Yesus pun tergerak untuk memberi makanan. Mujizat pun terjadi, karena tiada tersedia makanan untuk sekian banyak orang, maka Yesus mengadakan mujizat dengan penggandaan roti. Sebagai orang beriman kepada Yesus Kristus kita dipanggil untuk meneladanNya, maka marilah kita perhatikan saudara-saudari kita yang mengalami kekurangan dalam hal makanan dan minuman di lingkungan hidup atau masyarakat kita tanpa pandang bulu. Dengan kata lain marilah kita tingkatkan jiwa berbagi kepada saudara-saudari kita, kita kembangkan dan perdalam semangat solidaritas dan keberpihakan bagi mereka yang miskin dan berkekurangn dalam kehidupan beriman atau beragama kita.
·   Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah.Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” (1Yoh 4:7-8). Kita semua sebagai manusia adalah ‘buah kasih’ dari orangtua yang saling mengasihi sebagai wujud kerjasama dengan Allah dalam karya penciptaan manusia atau penghayatan kasih Allah. Dengan kata lain kita semua adalah anugerah Allah, dan kiranya para orangtua yang sungguh beriman pasti menghayati bahwa anak-anak yang dianugerahkan kepada mereka adalah anugerah Allah, dan kita semua pernah menjadi anak. Jika kita tidak hidup dan bertindak saling mengasihi berarti kita mengingkari diri kita, dan juga tidak beriman kepada Allah. Allah adalah kasih, maka jika kita percaya atau beriman kepada Allah marilah kita senantiasa hidup dan bertindak saling mengasihi satu sama lain. Allah hidup dan berkarya dimana saja dan kapan saja, dalam dan melalui ciptaan-ciptaanNya maupun dalam aneka karya usaha ciptaanNya sebagai wujud partisipasi dalam karya penciptaan. Aneka bentuk kegembiraan, kegairahan, keindahan, daya tarik, daya pikat, daya pesona dll..dalam ciptaan-ciptaanNya adalah karya Allah, maka hidup dan bertindak saling mengasihi antara lain dapat kita wujudkan dengan saling mengakui dan menghayati apa yang menggembirakan, menggairahkan, indah, menarik, memikat dan mempesona dalam diri saudara-saudari kita. Jika kita melakukan yang demikian itu secara otomatis hidup bersama dimana pun dan kapan pun akan enak dan nikmat adanya. Hidup dan bertindak saling mengasihi berarti senantiasa berpikir positif baik terhadap diri sendiri maupun orang lain.
Ya Allah, berikanlah hukum-Mu kepada raja dan keadilan-Mu kepada putera raja!Kiranya ia mengadili umat-Mu dengan keadilan dan orang-orang-Mu yang tertindas dengan hukum! Kiranya gunung-gunung membawa damai sejahtera bagi bangsa, dan bukit-bukit membawa kebenaran!” (Mzm 72:1-3)
Ign  8 Januari 2013

HR PENAMPAKAN TUHAN: Yes 60:1-6; Ef 3:2-3a.5-6; Mat 2:1-12

HR PENAMPAKAN TUHAN: Yes 60:1-6; Ef 3:2-3a.5-6; Mat 2:1-12
“Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.”
Kelahiran calon mahkota atau penerus tahta kerajaan senantiasa membuat daya tarik bagi banyak orang, sebagaimana terjadi di Kerajaan Inggris dll, atau di Indonesia di wilayah kesultanan, misalnya Daerah Istimewa Yogyakarta. Begitulah yang terjadi dengan kelahiran Yesus, Penyelamat Dunia: raja Herodes merasa akan tersaingi dan akhirnya membunuh semua anak-anak dibawah usia 2 (dua) tahun di kota Betlekem, sementara itu dalam Warta Gembira hari ini dikisahkan ‘orang-orang majus atau bijak’ dari Timur Jauh tergerak untuk bersembah sujud kepada Bayi, Penyelamat Dunia yang baru saja dilahirkan. Dengan kata lain kelahiran Penyelamat Dunia begitu cepat tersiarkan, yang berarti si Bayi mungil telah memiliki cirikhas missioner. Hari ini oleh Gereja juga dijadikan “Hari Anak Misioner Sedunia”, dengan harapan agar kita sedini mungkin membina anak-anak dalam hal penghayatan semangat missioner, diutus atau dalam bahasa lain disebut “to man or woman with/for others”. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan kita semua untuk senantiasa memberi perhatian yang memadai pada anak-anak kita, terutama anak-anak balita.
“Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.” (Mat 2:2)
Kutipan di atas ini, pertanyaan dari orang-orang majus dari Timur kepada raja Herodes, hendaknya juga menjadi pertanyaan kita semua. Bagi kita hal itu berarti kita diajak untuk ‘bersembah-sujud’ kepada anak-anak. Marilah kita sadari dan hayati bahwa anak-anak lebih suci dari orangtuanya maupun orang-orang dewasa, dan dalam hidup beriman hemat saya mereka yang lebih suci selayaknya kepada mereka kita bersembah-sujud. Di beberapa gereja atau kapel sering secara khusus imam memberkati anak-anak sesudah penerimaan komuni kudus. Bukankah hal itu merupakan salah satu bentuk perhatian kepada anak-anak? Yesus sendiri juga mengasihi anak-anak, memangku dan menciumi, sementara orang-orang dewasa sering merasa terganggu dengan kehadiran anak-anak.
Marilah kita sadari bahwa anak-anak adalah masa depan kita; mereka lah yang akan meneruskan apa yang kita usahakan dan lakukan pada masa kini, maka tidak memperhatikan anak-anak hemat saya kita ‘bunuh diri’ pelan-pelan. Kami berharap kepada rekan-rekan imam, bruder dan suster sungguh memperhatikan anak-anak dalam karya pelayanan, selain memberi perhatian kepada mereka sekaligus promosi panggilan, siapa tahu dari anak-anak akhirnya tergerak untuk menjadi imam, bruder atau suster. Tentu saja pertama-tama dan terutama kami berharap kepada para orangtua yang memiliki anak-anak balita untuk sungguh memperhatikan mereka, berani ‘memboroskan waktu dan tenaga bagi anak-anak balita’, dan jangan dengan mudah menitipkan anak-anak balita kepada pengasuh anak-anak maupun neneknya, sebagaimana sering dilakukan keluarga muda berada atau kaya. Kepada para ibu kami harapkan memberi ASI secara memadai kepada anak-anaknya, tidak cukup menyusui hanya selama tiga bulan saja; kata seorang dokter anak-anak dan ibu, hendaknya menyusui bayi atau anak sampai kurang lebih selama satu tahun.
Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali, bagi sang surya menyinari dunia”, demikian bunyi syair lagu yang menggambarkan kasih ibu kepada anak-anaknya. Semoga kasih ibu kepada anak-anaknya tidak hanya memberi aneka macam sarana permainan, melainkan ‘boroskan waktu dan tenaga’ bagi anak-anak anda. Kasih yang dihayati oleh anak-anak kelak kemudian hari akan menjadi bekal dan modal yang mendorong anak yang bersangkutan berjiwa missioner. Jika anak-anak merasa kurang dikasihi oleh orangtuanya, maka anak-anak yang bersangkutan akan tumbuh-berkembang sebagai pribadi egois, yang hanya mengutamakan kepentingan pribadi, cari enaknya sendiri, yang pada giliranya akan membuat orangtua resah dan menderita di masa tuanya.
Kepada semuanya kami harapkan untuk memperhatikan pembinaan kader dalam diri anak-anak. Kader sejati adalah orang yang fungsional menyelamatkan lingkungan hidupnya, maka hendaknya anak-anak sedini mungkin dididik dan dibina untuk fungsional dalam lingkungan keluarganya. Dengan kata lain jangan pernah memanjakan anak-anak, ajak dan didiklah anak-anak sedikit demi sedikit berfungsi dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari di dalam keluarga, misalnya mematikan lampu yang tak terpakai, mematikan kran air, menyapu dst..
“Memang kamu telah mendengar tentang tugas penyelenggaraan kasih karunia Allah, yang dipercayakan kepadaku karena kamu,yaitu bagaimana rahasianya dinyatakan kepadaku dengan wahyu” (Ef 3:2-3a)
Anak-anak adalah kasih karunia Allah, dan kiranya dalam diri anak-anak terkandung aneka harapan, dambaan dan cita-cita, sebagaimana menjadi nyata dalam pemberian nama pada anak-anak yang dianugerahkan oleh Allah, yang dilakukan oleh orangtuanya. Rahasia yang terkandung dalam diri anak-anak pelan-pelan akan terkuak alias dapat kita ketahui jika anak-anak diberi kemungkinan dan kesempatan untuk tumbuh berkembang dalam semangat ‘cintakasih dan kebebasan Injili’. Maka dengan ini kami berharap kepada para orangtua untuk senantiasa memberi aneka kesempatan dan kemungkinan pada anak-anaknya seluas mungkin, agar anak-anak dapat mengembangkan bakat, keterampilan serta anugerah Allah yang telah diterimanya. Kami berharap kepada para orangtua untuk tidak memproyeksikan dirinya kepada anak-anaknya.
“Semangat cintakasih dan kebebasan Injili” hendaknya juga menjiwai para pengelola dan pelasakna karya pelayanan pastoral pendidikan di sekolah-sekolah. Memang untuk itu di sekolah-sekolah perlu disediakan aneka kemungkinan dan kesempatan bagi para peserta didik untuk mengembangkan dan memperdalam bakat, keterampilan dan anugerah Allah, maka hendaknya anggaran belanja untuk pendidikan atau sekolah sungguh memadai. Kepada mereka yang kaya akan harta benda atau uang kami ajak untuk dengan besar hati memberi sumbangan kepada sekolah-sekolah yang sungguh membutuhkan. Ingat, sadari dan hayati bahwa anda dapat tumbuh berkembang sebagai orang kaya kiranya antara lain karena jasa pelayanan sekolah dimana anda pernah belajar, terutama pendidikan dasar, Sekolah Dasar dan Sekolah Lanjutan Pertama.
Kepada para penyelenggara dan pelaksana pemerintahan alias para petinggi Negara dan penentu kebijakan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, kami harapkan mengalokasikan dana anggaran untuk pendidikan yang memadai dan tentu saja juga tidak dikorupsi sebagaimana masih berlangsung sampai saat ini. Saya sungguh prihatian dan sedih jika mendengar dan melihat tindakan korupsi di jajaran Departemen Pendidikan di negeri tercinta ini. Semangat atau sikap mental ‘proyek’ kiranya masih menjiwai para pejabat dan petinggi di Negara kita ini: sudah menerima imbal jasa atau gaji cukup besar masih melakukan korupsi dengan topeng ‘proyek’. Jika departemen yang membina manusia saja sarat dengan korupsi apa yang dapat diharapkan di negeri kita ini?
Di semua jenjang dan jalur pendidikan atau sekolah hendaknya dibiasakan penghayatan keutamaan jujur dan disiplin. “Jujur adalah sikap dan perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat  curang, berkata-kata benar apa adanya dan berani mengakui kesalahan, serta rela berkoban untuk kebenaran”, sedangkan “berdisiplin adalah kesadaran akan sikap dan perilaku yang sudah tertanam dalam diri sesuai dengan tata tertib yang berlaku dalam suatu keteraturan secara berkesinambungan yang diarahkan pada suatu tujuan atau sasaran yang telah ditentukan” (lih: Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 10 dan 17).
Kiranya keadilan berkembang dalam zamannya dan damai sejahtera berlimpah, sampai tidak ada lagi bulan! Kiranya ia memerintah dari laut ke laut, dari sungai Efrat sampai ke ujung bumi! kiranya raja-raja dari Tarsis dan pulau-pulau membawa persembahan-persembahan; kiranya raja-raja dari Syeba dan Seba menyampaikan upeti! Kiranya semua raja sujud menyembah kepadanya, dan segala bangsa menjadi hambanya
 (Mzm 72:7-8.10-11)
Ign 6 Januari 2013

4jan

“Marilah dan kamu akan melihatnya.”
(1Yoh 3:7-10; Yoh 1:35-42)
“Pada keesokan harinya Yohanes berdiri di situ pula dengan dua orang muridnya. Dan ketika ia melihat Yesus lewat, ia berkata: “Lihatlah Anak domba Allah!” Kedua murid itu mendengar apa yang dikatakannya itu, lalu mereka pergi mengikut Yesus. Tetapi Yesus menoleh ke belakang. Ia melihat, bahwa mereka mengikut Dia lalu berkata kepada mereka: “Apakah yang kamu cari?” Kata mereka kepada-Nya: “Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?” Ia berkata kepada mereka: “Marilah dan kamu akan melihatnya.” Mereka pun datang dan melihat di mana Ia tinggal, dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan Dia; waktu itu kira-kira pukul empat. Salah seorang dari keduanya yang mendengar perkataan Yohanes lalu mengikut Yesus adalah Andreas, saudara Simon Petrus. Andreas mula-mula bertemu dengan Simon, saudaranya, dan ia berkata kepadanya: “Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus).”Ia membawanya kepada Yesus. Yesus memandang dia dan berkata: “Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus).” (Yoh 1:35-42), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Simon dan Andreas, para pengikut Yohanes Pembaptis, tertarik dan terpesona kepada Yesus, dan mereka pun bertanya kepadaNya dimana Ia tinggal. Mendengar pertanyaan tersebut Yesus menjawab: “Marilah dan kamu akan melihatnya”. Setelah melihat tempat tinggalNya mereka pun percaya bahwa Ia adalah Mesias, dan kemudian menceriterakan apa yang dilihatnya kepada saudara-saudaranya. Kepada Simon sendiri Yesus bersabda: “Engkau Simon, anak Yohanes, engkau dinamakan Kefas (artinya Petrus). Perjumpaan secara pribadi dengan Yesus memang akan merubah pribadi seseorang, tentu berubah lebih baik, dan perjumpaan denganNya akan mendorong untuk kemudian menceriterakan apa yang dilihat dan dialaminya kepada saudara-saudarinya. Pertama-tama kami mengajak anda sekalian mawas diri: sejauh mana anda bertemu dengan Yesus atau Tuhan secara pribadi dalam dan melalui cara hidup dan cara bertindak setiap hari. Marilah kita sadari dan hayati bahwa apa yang baik, mulia dan luhur dalam diri kita merupakan buah perjumpaan pribadi dengan Tuhan, dan selanjutnya marilah kita ceriterakan apa yang baik, mulia dan  luhur kepada saudara-saudari kita, tentu pertama-tama kepada segenap anggota keluarga atau komunitas alias kepada mereka yang setiap hari tinggal dan hidup bersama dengan kita, dan kemudian kepada rekan bekerja atau belajar, di tempat kerja atau tempat belajar. Selanjutnya kepada kita semua kami ajak dan ingatkan untuk senantiasa menceriterakan apa yang baik, mulia dan luhur, sehingga kehidupan bersama kita dimana pun senantiasa dalam keadaan baik, damai sejahtera dan bahagia.
·   Anak-anakku, janganlah membiarkan seorang pun menyesatkan kamu. Barangsiapa yang berbuat kebenaran adalah benar, sama seperti Kristus adalah benar; barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya. Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu. Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah” (1Yoh 3:7-9). Kita semua kiranya telah ‘lahir dari Allah’, maka baiklah kita tidak melakukan dosa lagi sekecil atau sedikitpun, dan ketika menghadapi godaan Iblis melalui aneka media atau cara hendaknya dihadapi bersama dengan Allah, karena Allah mampu mengatasi atau mengalahkan Iblis. Dengan kata lain bersama dan bersatu dengan Allah jangan takut sedikitpun untuk bertindak jujur serta memberantas ketidak-jujuran, kebohongan atau korupsi yang masih marak di negeri kita tercinta ini. Sebagaimana saya ingatkan dan angkat bahwa tahun 2013 adalah ‘Tahun ular’, maka hadapi dan sikapi godaan Iblis dengan sabar dan tekun, karena ada pepatah bahwa ‘orang sabar disayangi oleh Allah’. Hidup dan bertindak dengan sabar dan tekun pada masa kini hemat saya sungguh mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan, mengingat masih banyak orang kurang sabar dan kurang tekun dalam melaksanakan tugas pekerjaannya ataupun panggilannya. Budaya ‘instant’ yang begitu menjiwai banyak orang ini telah membuat banyak orang kurang atau tidak sabar dan tidak tekun: apa-apa serba ingin cepat. Ingatlah dan sadari bahwa apa-apa yang dengan cepat-cepat diperoleh pada umumnya dengan cepat juga hilang atau musnah. Marilah kita hidup dan bertindak mengikuti proses kehidupan sebagaimana dikehendaki oleh Allah; jangan mengintervensi dengan cara apapun proses kehidupan manusia, binatang maupun tumbuh-tumbuhan atau tanaman.
“Biarlah gemuruh laut serta isinya, dunia serta yang diam di dalamnya! Biarlah sungai-sungai bertepuk tangan, dan gunung-gunung bersorak-sorai bersama-sama di hadapan TUHAN, sebab Ia datang untuk menghakimi bumi. Ia akan menghakimi dunia dengan keadilan, dan bangsa-bangsa dengan kebenaran.” (Mzm 98:7-9)
Ign 4 Januari 2013

5jan

“Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?”
(1Yoh 3:11-21; Yoh 1:43-51)
” Pada keesokan harinya Yesus memutuskan untuk berangkat ke Galilea. Ia bertemu dengan Filipus, dan berkata kepadanya: “Ikutlah Aku!” Filipus itu berasal dari Betsaida, kota Andreas dan Petrus. Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya: “Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret.” Kata Natanael kepadanya: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” Kata Filipus kepadanya: “Mari dan lihatlah!” Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia: “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!” Kata Natanael kepada-Nya: “Bagaimana Engkau mengenal aku?” Jawab Yesus kepadanya: “Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara.” Kata Natanael kepada-Nya: “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!” Yesus menjawab, kata-Nya: “Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di bawah pohon ara, maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu.” Lalu kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia.”(Yoh 1:43-51), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Kiranya banyak orang dengan mudah curiga terhadap orang-orang yang baru saja dikenal, apalagi jika orang yang bersangkutan dikenal berasal dari daerah-daerah yang kurang dikenal oleh umum. Memang itulah suatu rahasia atau misteri yang sering terjadi dalam kehidupan kita. Jika dicermati mereka yang saat ini menjadi tokoh penting dalam hidup bersama yang sungguh mengabdi atau melayani, entah itu dalam hidup menggereja, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, berasal dari desa atau pelosok yang kurang dikenal. Sebagai contoh mereka yang tergerak menjadi imam melalui Seminari Menengah Mertoyudan, yang kemudian sukses sampai tahbisan imam maupun dalam penghayatan imamat  pada umumnya berasal dari desa-desa, pegunungan, yang miskin dan sederhana. “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?”, demikian keraguan dan kekurang-percayaan Natanael ketika menerima info dari Filipus bahwa ia telah bertemu dengan Penyelamat Dunia, Mesias, dan berasal dari Nazaret. Natanael kiranya bukan orang jelek atau jahat, melainkan orang baik, dan mungkin ia terlalu berpikir logis dan jujur. Warta Gembira hari ini kiranya mengajak dan mengingatkan kita semua untuk tidak meremehkan orang-orang desa atau pelosok. Bukankah tenaga-tenaga terampil dalam rumah tangga atau pembangunan gedung di kota-kota besar mayoritas adalah berasal dari desa atau pelosok? Dengan kata lain kami mengajak anda sekalian untuk ‘melihat’ lebih dahulu sebelum memberi komentar atau kritik.
·   Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu tahu, bahwa tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya.” (1Yoh 3:15). Membenci dalam menjadi konkret dalam aneka bentuk, misalnya menceriterakan kelemahan dan kekurangannya dengan ngrumpi atau ngrasani, memarahi, ‘mendiamkan’ dst… Apakah anda membenci seseorang, jika ya kami ajak untuk segera berdamai. Membenci memang dalam hatinya mengharapkan agar yang dibenci tidak ada alias musnah atau mati. Orang yang dengan mudah membenci makanan atau minuman yang tidak enak padahal sehat pada umumnya dengan mudah membenci saudara-saudarinya. Maka pelatihan untuk tidak membenci hemat saya antara lain dengan mencintai alias menikmati makanan atau minuman yang sehat meskipun tidak enak atau tidak nikmat. Mencintai situasi atau kondisi yang ada dalam lingkungan hidup juga merupakan pelatihan untuk tidak membenci saudara-saudarinya, misalnya cuaca panas atau dingin. Jika anda mendambakan hidup damai sejahtera dan bahagia selama di dunia ini dan juga di akhirat nanti, silahkan anda menikmati apapun yang mendatangi anda, termasuk orang yang mengritik, mencemooh maupun melecehkan. Marilah kita meneladan keluarga kudus dari Nazaret, yang pernah ‘dibenci oleh saudara-saudari mereka di Betlekem’, tetap setia pada kehendak Allah, tidak membenci orang-orang Betlekem, melainkan mendoakannya. Maka jika anda tidak berani bertatap muka dalam mengasihi orang lain, yang membenci dan melecehkan anda, silahkan didoakan. Kita dapat mendoakannya kapan saja dan dimana saja. Kami percaya semua agama mengajarkan agar kita hidup dan bertindak untuk saling mengasihi, maka marilah kita senantiasa saling mengasihi kapan pun dan dimana pun serta dengan siapapun.
“Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi! Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai! Ketahuilah, bahwa TUHANlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya.Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya!Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun.” (Mzm 100)

Ign 5 Januari  2013

3Jan

“Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus.”
(1Yoh 2:29-3:6; Yoh 1:29-34)
” Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: Kemudian dari padaku akan datang seorang, yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku. Dan aku sendiri pun mula-mula tidak mengenal Dia, tetapi untuk itulah aku datang dan membaptis dengan air, supaya Ia dinyatakan kepada Israel.”Dan Yohanes memberi kesaksian, katanya: “Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya.Dan aku pun tidak mengenal-Nya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah.”(Yoh 1;29-34), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Yesus adalah Allah, maka Ia ada sebelum Yohanes; Ia adalah Allah yang menjelma menjadi Manusia, dan kesatuanNya dengan Roh Kudus tak dapat dipisahkan sama sekali, maka benarlah apa yang dikatakan oleh Yohanes tentang Dia, bahwa “Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus”. Kita semua yang telah dibaptis juga menerima baptisan dengan Roh Kudus, maka marilah kita hayati rahmat pembaptisan itu dengan hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Roh Kudus. Hidup dan bertindak sesuai dengan Roh Kudus berarti tidak seenaknya sendiri atau mencari keuntungan  diri sendiri. Maka masih dalam suasana Natal marilah kita meneladan Penyelamat Dunia, yang mendatangi kita dengan kesederhanaan dan kerendahan hati, tidak berfoya-foya dan sombong. Cara untuk itu antara lain adalah dengan hidup ‘membumi’ atau ‘turun kebawah’, sebagaimana nasihat nenek moyang orang Jawa, yang mengatakan “Yen mlaku ndungkluk, ojo ndlangak” (=Jika berjalan hendaknya menunduk, jangan menengadah). Nasihat ini tidak lain adalah agar kita senantiasa memperhatikan mereka yang miskin dan berkekurangan di lingkungan hidup kita masing-masing. Kami harapkan kita semua senantiasa berorientasi ke bawah, melihat dan mengarahkan diri kita kepada mereka yang lebih miskin, lebih bodoh, lebih terbatas dari kita serta kemudian kita perhatikan sesuai dengan kemampuan dan kesempatan kita, dan tentu saja harus disertai dengan pengorbanan. Salah satu cirikhas orang beriman atau senantiasa siap sedia berkorban demi kebahagiaan atau keselamatan orang lain.
·   “Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia.” (1Yoh 3:1). Sebagai orang yang beriman kepada Allah kiranya dapat disebut sebagai anak-anak Allah, artinya orang yang senantiasa melaksanakan kehendak Allah dalam situasi dan kondisi macam apapun, kapan pun dan dimana pun, sehingga mereka yang melihat cara hidup dan cara bertindak kita akan tergerak atau termotivasi untuk (semakin) membaktikan diri sepenuhnya kepada Allah. Marilah kita sadari dan hayati bahwa hidup kita serta segala sesuatu yang kita miliki dan kuasai sampai saat ini adalah anugerah Allah, dan kita sendiri akan hidup bahagia, damai-sejahtera dan selamat lahir dan batin jika kita sungguh melaksanakan kehendak dan perintah Allah dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari. Allah hidup dan berkarya dimana saja dan kapan saja, tiada terikat oleh ruang dan waktu, maka marilah kita temukan dan hayati kehadiran dan karya-karya dalam ciptaan-ciptaanNya, dan tentu saja pertama-tama dan terutama dalam diri manusia, yang diciptakan sesuai dengan gambar atau citra Allah. Dengan kata lain marilah kita lebih memperhatikan dan mengedepankan apa-apa yang baik, mulia dan bermoral serta berbudi pekerti luhur, baik dalam diri kita sendiri maupun saudara-saudari kita, dengan kata lain hendaknya kita senantiasa saling bersikap positif satu sama lain. Kami percaya bahwa dalam diri kita masing-masing lebih banyak apa yang baik, luhur, bermoral daripada apa yang tidak baik dan tidak bermoral. Ketika apa yang baik, luhur dan bermoral lebih kita angkat dan kedepankan, maka dengan otomatis pelan-pelan apa yang tidak baik dan tidak bermoral akan terhapus atau musnah dengan sendirinya. Cara berpikir positif ini hendaknya juga dihayati oleh para guru atau pendidik di sekolah-sekolah atau tempat-tempat pembinaan dimana pun.
“Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi, bergembiralah, bersorak-sorailah dan bermazmurlah! Bermazmurlah bagi TUHAN dengan kecapi, dengan kecapi dan lagu yang nyaring, dengan nafiri dan sangkakala yang nyaring bersorak-soraklah di hadapan Raja, yakni TUHAN
(Mzm 98:4-6)
Ign 3 Januari 2013