Category: Renungan Iman Katolik

Kita Memuliakan Tuhan Bersama Bunda Maria

Minggu, 14 Agustus 2016
HR SP Maria Diangkat Ke Surga
Why 11:19a;12:1-6a.10ab, Mzm 45:10c-12.16; 1Kor 15:20-26; Luk 1:39-56

Lalu kata Maria, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku, dan nama-Nya adalah kudus.Rahmat-Nya turun-temrun atas orang yang takut akan Dia.”

PENANGGALAN Liturgi Gereja Katolik Indonesia mengundang kita untuk merayakan Hari Raya Maria Assumpta, Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. Paus Pius XII menetapkan dogma Maria Assumpta melalui Konstitusi Apostolik “Munificentissimus Deus”, pada tanggal 1 November 1950. Dogma itu telah menumbuhkan sukacita besar bagi umat Katolik seluruh dunia. Setelah beradab-abad diimani oleh umat beriman akar rumput, akhirnya iman itu diangkat menjadi ajaran resmi, Dogma Katolik.

Dogma ini menggenapi Kidung Magnificat Bunda Maria yang kita baca dalam Injil pada hari ini. “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku, dan nama-Nya adalah kudus. Rahmat-Nya turun-temrun atas orang yang takut akan Dia.”

St. Maria bahagia ketika orang sombong dicerai-beraikan dan perspektif kita diperluas. Berapa banyak kita berjuang dengan akar dosa kesombongan. Alih-alih memandang memandang segalanya dari sudut pandang kita yang keruh, yang dicerai-beraikan Allah adalah kesombongan kita sehingga hati kita terbuka pada sesama dan kebutuhan mereka. Tak ada kerendahan hati seperti yang ada pada Maria. Mari kita bersikap rendah hati seperti dia. Kerendahan hati Maria merupakan pelajaran bagi kita.

Bunda kita, Perawan Maria yang Suci diangkat ke surga untuk turut serta dalam kemuliaan dan sukacita Putra-Nya dan Tuhan kita, Yesus Kristus. Sebagai pengikut-pengikut-Nya, kita selalu memandang Maria sebagai Bunda kita. Hari Raya Maria diangkat ke surga terus memenuhi hati kita dengan kebahagiaan bersamanya.

Kita percaya bahwa Bunda Maria bersama Yesus Kristus, Putranya. Sesungguhnya, Bunda Maria adalah Bunda kita lebih dari sebelum-sebelumnya. Kita dapat mempercayakan secara total kehidupan kita padanya. Ia akan menyambut kita sebagai anak-anaknya di surga.

Hari Raya Maria diangkat ke surga merupakan bukti bahwa Allah sungguh mengangkat yang rendah. Bunda Maria diangkat oleh Allah dan Yesus Kristus, Putranya ke dalam kehidupan abadi surgawi. Itulah masa depan kita.

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi sementara kita bersembah sujud di hadirat Yesus Kristus, kita dapat berdoa bersama Bunda Maria. Kita daraskan Rosario. Seperti Bunda Maria, kita membiarkan Allah memenuhi kita dengan rahmat-Nya. Apakah kita menyadari bahwa kepenuhan diri sejati kita terletak pada kerelaan membiarkan diri setiap hari dipenuhi oleh Allah? Apakah kita membiarkan Bunda Maria membantu kita agar kita hidup kian menyerupai dia sehingga kita pun mengalami sukacita sejati?

Tuhan Yesus Kristus, bantulah kami rendah hati seperti Bunda-Mu, Santa Maria. Terima kasih Engkau memberi kami Bunda yang mengagumkan. Ia membantu kami setia menempuh jalan kehendak-Mu. Bantulah kami mampu menyanyikan Kidung Magnificat dalam jiwa kami, “Yang Mahatinggi telah melakukan perbuatan besar bagi kami” kini dan selamanya. Amin.

Sumber: Sesawi.net

Tags : , , , ,

Sabda Hidup: Senin, 15 Agustus 2016

Hari Biasa

warna liturgi Hijau

Bacaan

Yeh. 24:15-24; MT Ul. 32:18-19,20,21; Mat. 19:16-22. BcO Pkh. 2:1-26

Bacaan Injil: Mat. 19:16-22.

16 Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” 17 Jawab Yesus: “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah.” 18 Kata orang itu kepada-Nya: “Perintah yang mana?” Kata Yesus: “Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, 19 hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” 20 Kata orang muda itu kepada-Nya: “Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?” 21 Kata Yesus kepadanya: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” 22 Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya.

Renungan:

SEORANG pemuda mendatangi Yesus dan bertanya bagaimana memperoleh hidup yang kekal. Yesus memberikan syarat kepadanya. Sang pemuda itu pun sudah merasa memenuhi segala syarat itu. Maka Yesus pun meninggikan syarat yang harus dia penuhi, “juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku” (Mat 19:22). Syarat puncak yang disampaikan Yesus adalah sikap lepas bebas akan harta dan kerelaan berbagi kepada orang miskin.

Sekarang ini dunia sedang menjalani pesta olahraga, olimpiade. Saya tertarik dengan kesaksian seorang Ball boy tenis lapangan. Dia mengatakan, “Saya mungkin adalah orang miskin yang ada di lapangan tenis ini. Saya bangga berada di sini. Tenis mengubah diri saya dan membentuk kedisiplinanku.” Pesta besar olah raga Olimpiade ini memberi warna pada orang miskin. Mereka pun bisa merasakan pesta akbar dunia ini.

Kiranya ada banyak kemungkinan yang bisa diberikan kepada orang miskin. Kesempatan yang diberikan padanya kiranya bisa mengubah sikap hidup mereka. Perintah Yesus kepada si pemuda agar menjual harta dan memberikan kepada orang miskin kiranya jalan yang Dia ambil agar si miskin pun merasakan mempunyai sesuatu. Di Jakarta banyak orang yang digusur disediakan rusunawa yang layak. Dulu Rm Mangun menata pemukiman warga pinggir kali Code. Ada banyak hal yang mungkin kita lakukan untuk orang miskin.

Kontemplasi:

Pejamkan matamu sejenak. Hadirkan dalam bayanganmu orang miskin yang selalu kautemui. Apa yang bisa kaulakukan untuknya?

Refleksi:

Apa yang bisa kaulakukan untuk orang miskin?

Doa:

Tuhan semoga aku bisa berbuat sesuatu untuk orang miskin. Amin.

Perutusan:

Aku akan membantu orang miskin di sekitarku. -nasp-

Sumber: Sesawi.net

Satu Langkah Menuju Hidup Abadi

Senin, 15 Agustus 2016
Pekan Biasa XX
Yeh 24:15-24;.Ul 32:18-21; Mat 19:16-22

Yesus berkata, “Jika engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu, dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan memperoleh harta di surga. Kemudian datanglah ke mari dan ikutilah Aku.”

DALAM Injil hari ini Yesus Kristus tak mau membuang waktu membiarkan dia berpikir mudah untuk menggapai hidup kekal. Yang diminta orang muda yang kaya itu adalah yang terpenting, namun ia pikir bisa mendapatkannya dengan mudah.

Yesus Kristus memberi tantangan kepada orang muda kaya itu jika ia hendak beroleh hidup kekal maka ia harus menjual segala miliknya, dan memberikan itu kepada orang-orang miskin, maka ia akan memperoleh harta di surga.

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi sementara kita bersembah sujud di hadirat Yesus Kristus, kita mohon agar beroleh hidup abadi dengan melepaskan diri kita dari harta milik kita. Itulah satu langkah menuju hidup abadi. Apakah kita sungguh menginginkannya?

Tuhan Yesus Kristus, anugerahilah kami sikap lepas bebas dari harta materi. Bantulah kami mengerti bahwa tak selayaknya kami memiliki segala sesuatu namun tak memiliki Dikau. Bantulah kami mengasihi-Mu di atas segalanya kini dan selamanya. Amin.

Sumber: Sesawi.net

Sabda Hidup: Minggu, 14 Agustus 2016

HARI RAYA

SP MARIA DIANGKAT KE SURGA

warna liturgi Putih

Bacaan

Why. 11:19a; 12:1,3-6a,10ab; Mzm. 45:10bc,11,12ab; 1Kor. 15:20-26; Luk. 1:39-56. BcO Ef. 1:16-2:10 atau Why. 12:1-17

Bacaan Injil: Luk. 1:39-56.

39 Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda. 40 Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. 41 Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabetpun penuh dengan Roh Kudus, 42 lalu berseru dengan suara nyaring: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. 43 Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? 44 Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. 45 Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.” 46 Lalu kata Maria: “Jiwaku memuliakan Tuhan, 47 dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, 48 sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, 49 karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus. 50 Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. 51 Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; 52 Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; 53 Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; 54 Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, 55 seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.” 56 Dan Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya.

Renungan:

HARI ini kita merayakan hari raya Maria diangkat ke surga. Nama Maria diangkat ke surga atau Maria Assumpta tampaknya memikat hati banyak orang. Banyak paroki menggunakan nama itu sebagai nama parokinya. Pesona kesucian Maria pun memikat hati Allah sehingga Allah mengangkatnya ke surga. Maka layaklah kalau umat manusia pun terpikat pada pesona Maria.

Salah satu hal yang membuat Maria menjadi besar tampak dalam kata-katanya, “karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus” (Luk 1:49). Maria sadar akan ketidakberdayaannya, namun ia percaya Tuhan Yang Mahakuasa mengerjakan perbuatan-perbuatan besar pada dirinya. Perbuatan Allah inilah yang membuat dirinya menjadi besar.

Kita pun adalah pribadi-pribadi dengan aneka macam keterbatasan. Seringkali kita gaman kala harus menghadapi tugas besar. Namun ketika kita percaya Allah akan membantu dalam menyelesaikan tugas tersebut kita sanggup menjalaninya sampai pada akhir tujuan. RahmatNya tak terbatas memungkinkan kita mencapai tujuan.

Kontemplasi:

Bayangkan dirimu berjumpa dengan ibu Maria.

Refleksi:

Bagaimana mempercayai perbuatan-perbuatan Allah dalam dirimu?

Doa:

Tuhan terima kasih atas teladan iman kami ibu Maria. Semoga bersama ibu Maria aku pun selalu mensyukuri rahmatMu dalam hidup harianku. Amin.

Perutusan:

Aku akan memuji kebesaran Tuhan bersama ibu Maria. -nasp-

Sumber: Sesawi.net

We Rejoice You, Lord With Mother Mary

MY daily reflection and prayer:
Sunday, August 14, 2016
Twentieth Sunday in Ordinary Time
Solemnity of the Assumption of the Blessed Virgin Mary

Dear my friends,
Here is the Gospel for us today according to St. Luke 1: 39-56

In those days Mary set out and went with haste to a Judean town in the hill country, where she entered the house of Zechariah and greeted Elizabeth. When Elizabeth heard Mary’s greeting, the child leaped in her womb. And Elizabeth was filled with the Holy Spirit and exclaimed with a loud cry, “Blessed are you among women, and blessed is the fruit of your womb. And why has this happened to me, that the mother of my Lord comes to me? For as soon as I heard the sound of your greeting, the child in my womb leaped for joy. And blessed is she who believed that there would be a fulfillment of what was spoken to her by the Lord.” And Mary said, “My soul magnifies the Lord, and my spirit rejoices in God my Savior, for he has looked with favor on the lowliness of his servant. Surely, from now on all generations will call me blessed; for the Mighty One has done great things for me, and holy is his name. His mercy is for those who fear him from generation to generation. He has shown strength with his arm; he has scattered the proud in the thoughts of their hearts. He has brought down the powerful from their thrones, and lifted up the lowly; he has filled the hungry with good things, and sent the rich away empty. He has helped his servant Israel, in remembrance of his mercy, according to the promise he made to our ancestors, to Abraham and to his descendants forever.” And Mary remained with her about three months and then returned to her home.

This is the Gospel of the Lord. Praise to you Lord Jesus Christ.

***

THE liturgical calendar of Indonesian Catholic Church today invites us to celebrate the Solemnity of the Assumption of the Blessed Virgin Mary. Pope Pius XII defined the dogma of the Assumption of the Blessed Virgin Mary through his Apostolic Constitution “Munificentissimus Deus”, on November 1, 1950. It was a cause of great joy throughout the Catholic world. After being believed for centuries, it entered the realm of official Catholic dogma.

This dogma fulfills Mary’s Magnificat as we read in the Gospel today. “My soul magnifies the Lord, and my spirit rejoices in God my Savior, for he has looked with favor on the lowliness of his servant. Surely, from now on all generations will call me blessed; for the Mighty One has done great things for me, and holy is his name. His mercy is for those who fear him from generation to generation.”

St. Mary is happy when pride gets scattered and the perspective we have widens. How much we fight with that root sin of pride! Instead of just seeing things from our own myopic perspective, this scattering opens up our hearts to see others and their needs. Truly, nothing is more Mary-like than that. Let’s be humble like her. Mary’s humility is a lesson for us.

Our Lady, the Blessed Virgin Mary is brought to heaven to share in the glory and joy of her Son and our Lord, Jesus Christ. As the followers of Jesus Christ we have always looked to Mary as our mother. The solemnity of the Assumption continues to fill us with happiness.

We believe that Mother Mary is with Jesus Christ, her Son. Surely, she is our mother more than ever. We are able to entrust totally ourselves to her. She will welcome us her children in heaven.

This solemnity of the Assumption is proof that God literally lifts up the lowly. Mother Mary is lifted up by God and Jesus Christ, her Son into the realm of eternal life.

In the Perpetual Adoration of the Eucharist, while adoring Jesus Christ we can pray with Mother Mary. We recite the Rosary. As Mother Mary, we let God fills us his grace. Do we realize that our true self-fulfillment lies in becoming everyday more filled with God? Do we let Mother Mary to help us to live more like her so that we experience the true joy?

Let’s pray: Lord Jesus Christ, help us to be humble like your mother, St. Mary. Thank you for giving us such a wonderful mother. She helps us to stay on the path of fulfilling your will. Help us to be able to sing a “Magnificat” in our own soul, “The Almighty has done great things for us!” now and forever. Amen.

Sumber: Sesawi.net

Tags : ,

Sabda Hidup: Sabtu, 13 Agustus 2016

Pontianus, Hippolitus

warna liturgi Hijau

Bacaan

1Taw. 15:3-4,15-16; 16:1-2; Mzm. 132:6-7,9-10,13-14; 1Kor. 15:54b-57; Luk. 11:27-28. BcO Za. 14:1-21

Bacaan Injil: Luk. 11:27-28.

27 Ketika Yesus masih berbicara, berserulah seorang perempuan dari antara orang banyak dan berkata kepada-Nya: “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau.” 28 Tetapi Ia berkata: “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.”

Renungan:

SEORANG anak akan bergembira kala dia bisa mengerjakan sesuatu. Ia akan sangat gembira karena patung pasir yang dibuatnya terbentuk. Ia pun akan memanggil-manggil orang di sekitarnya untuk melihat. Pujian orang-orang akan membuatnya berbangga.

Yesus mengatakan, “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya” (Luk 11:28). Sabda ini untuk menjawab teriakan seorang ibu yang mengatakan, “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau” (Luk 11:27). BagiNya orang yang berbahagia adalah orang yang mendengar firman Allah dan memeliharanya.

Seorang anak akan berbahagia kala ia mampu mengerjakan sesuatu yang diinginkan. Sebagai anak Tuhan kiranya kita pun akan berbahagia kala bisa mendengarkan firmanNya dan memeliharanya. Itu menjadi kebahagiaan yang tak terbendung oleh apa pun. Maka rasanya kita pun perlu menyediakan waktu untuk mendengarkan firmanNya dan teguh serta tekun memeliharanya.

Kontemplasi:

Bayangkan kisah dalam Injil Luk. 11:27-28. Dengarkan sabda Yesus. Liatlah dirimu, apakah dirimu layak disebut sebagai yang berbahagia.

Refleksi:

Bagaimana bisa mendengarkan firman Allah dan memeliharanya?

Doa:

Tuhan aku ingin setia mendengarkan sabdaMu. Semoga hari-hariku juga menjadi perwujudan dari memelihara firmanMu. Amin.

Perutusan:

Aku akan mendengarkan firman Allah dan memeliharanya. -nasp-

Sumber: Sesawi.net

A First Step to Eternity

MY daily reflection and prayer:
Monday, August 15, 2016
Twentieth Week in Ordinary Time

Dear my friends,
Here is the Gospel for us today according to StMatthew 19:16-22

A young man approached Jesus and said, “Teacher, what good must I do to gain eternal life?” He answered him, “Why do you ask me about the good? There is only One who is good. If you wish to enter into life, keep the commandments.” He asked him, “Which ones?” And Jesus replied, “You shall not kill; you shall not commit adultery; you shall not steal; you shall not bear false witness; honor your father and your mother; and you shall love your neighbor as yourself.” The young man said to him, “All of these I have observed. What do I still lack?” Jesus said to him, “If you wish to be perfect, go, sell what you have and give to the poor, and you will have treasure in heaven. Then come, follow me.” When the young man heard this statement, he went away sad, for he had many possessions.

This is the Gospel of the Lord. Praise to you Lord Jesus Christ.

***

IN the Gospel reading today, Jesus Christ doesn’t want to waste the young man’s time allowing him to think things are easier than they really are to gain eternal life. What the rich young man asks for is the most valuable, but he thinks getting it will be easy.

Jesus Christ challanges the rich young man if he wishes to gain eternal life, he must sell what he has and give to the poor, so he will have treasure in heaven. But he isn’t expecting this so he go away sad, because he has many possessions.

In the Perpetual adoration of the Eucharist, while adoring Jesus Christ we ask him to gain eternal life by detaching ourselves from our possessions. It’s a first step to eternity. Do we really want it?

Let’s pray: Dear Lord Jesus Christ, grant us spiritual detachment from material things. Help us understand that it is not worthwhile to have many things, but not have you. Help us to love you above all things now and forever. Amen.

Sumber: Sesawi.net

Tags : ,

Membawa Anak-Anak kepada Yesus Kristus

Sabtu, 13 Agustus 2016
Pekan Biasa XIX
Yeh 18:1-10.13b.30-32; Mzm 51:12-15.18-19; Mat 19:13-15

Sekali peristiwa orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus,
supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan mendoakan mereka. Tetapi murid-murid Yesus memarahi orang-orang itu. Maka Yesus berkata, “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku. Sebab orang-orang seperti merekalah yang empunya Kerajaan Surga.”

DARI Injil hari ini kita dapat merenungkan tentang menjadi orang tua yang baik. Menjadi orang tua merupakan panggilan suci. Di atas segalanya, para orang tua harus menunjukkan naluri rohani yang baik seperti orang-orang yang diwartakan dalam Injil hari ini yang membawa anak-anan mereka kepada Yesus Kristus.

Juga pada zaman ini, para orang tua Katolik harus membawa anak-anak mereka kepada Yesus Kristus. Mereka harus mengajar anak-anak berdoa, ikut Misa dan adorasi dan lebih dari semuanya belajar mengenal Yesus sebagai sahabat sejati tempat kita dapat berbagi tentang apa pun.

Mari kita sadari bahwa ada banyak cara yang dapat menghalangi jalan anak-anak untuk mencapai Yesus Kristus. Contoh buruk kita salah satunya. Anak-anak meniru kita bila kita tak selaras antara kata-kata dan perilaku kita.

Dengan Adorasi Ekaristi Abadi kita memberi contoh yang baik kepada anak-anak datang kepada dan menyembah Yesus. Ia akan memberi rahmat yang perlukan untuk bertahan tekun menjalankan perutusan kita. Apakah kita memberi contoh baik kepada sesama untuk mengasihi Yesus Kristus?

Tuhan Yesus Kristus, terima kasih atas orang tua kami dan semua yang mereka lakukan untuk membantu kami bertumbuh dalam iman. Ampunilah kami bila kami pernah bersikap kasar pada mereka. Anugerahilah mereka berkat berlimpah kini dan selamanya. Amin.

Sumber: Sesawi.net

Orang Tua Yang Bijak

MELALUI Injil hari ini, Yesus mengundang kita semua untuk menjadi orang tua yang bijak dalam mendidik dan membesarkan anak-anak.

Pendidikan intelektual memang penting bagi anak-anak, tapi janganlah mengabaikan pendidikan rohani dan karakter. Orang tua harus menyadari bahwa mereka memegang peranan penting dalam proses pendidikan iman kepada anak-anaknya, jangan hanya menyerahkan kepada pihak sekolah atau katekis saja. Tanamkan nilai-nilai Kristiani sejak dini, biasakan berdoa bersama-sama, ajak mereka ke gereja untuk merayakan Ekaristi bersama-sama dan dorong mereka untuk ikut aktif dalam kegiatan di paroki.

Sebagai orang tua, kita juga dituntut untuk mempraktekkan iman di dalam keluarga. Tidak hanya pandai memberi nasihat saja, namun juga memberikan teladan kepada mereka untuk hidup penuh kasih, saling memaafkan, bertutur kata dan bersikap lemah lembut kepada setiap orang.

Semoga dengan senantiasa terbuka kepada bimbinganNya dan mengandalkan Dia, kita dapat membawa anak-anak semakin dekat kepada Tuhan untuk melangkah di jalan kebenaranNya.

Sumber: Sesawi.net

Tags : ,

Sabda Hidup: Jumat, 12 Agustus 2016

Hari Biasa

warna liturgi Hijau

Bacaan

Yeh. 16:1-15,60,63 atau Yeh. 16:59-63; MT Yes. 12:2-3,4bcd,5-6; Mat. 19:3-12. BcO Za. 12:9-13:9

Bacaan Injil: Mat. 19:3-12.

3 Maka datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: “Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?” 4 Jawab Yesus: “Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? 5 Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. 6 Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” 7 Kata mereka kepada-Nya: “Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?” 8 Kata Yesus kepada mereka: “Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian. 9 Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah.” 10 Murid-murid itu berkata kepada-Nya: “Jika demikian halnya hubungan antara suami dan isteri, lebih baik jangan kawin.” 11 Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: “Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja. 12 Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti.”

Renungan:

SESUATU yang biasa terdengar seringkali malah tidak didengarkan lagi. Seorang anak yang selalu mendapat larangan yang sama akan menganggap angin lalu ketika larangan itu disampaikan lagi. Ia sudah merasa terlalu biasa mendengarkannya.

Bacaan hari ini seringkali kita dengarkan kala kita menghadiri pemberkatan pernikahan. Saya khawatir kita pun lalu menganggap angin lalu pesan Yesus dalam bacaan ini. Semoga tidak demikian. Kita bisa mengubah sikap yaitu bahwa kalau pesan disampaikan berkali-kali berarti pesan tersebut penting.

Kesatuan keluarga adalah hal yang penting yang diangkat Yesus. Tentu untuk menjaga hal tersebut tidak cukup dengan usaha manusia, kita butuh bantuan Tuhan. Menarik yang dikatakan Cathy Sharon yang sedang dilanda masalah keluarga. Ia mengatakan bahwa doa adalah kekuatan hidupnya dan dengan doa ia percaya suaminya akan kembali kepadanya.

Tuhan akan membantu mereka yang bermohon kepadaNya. Dan Tuhan pun akan mengulang-ulang pesan pentingNya. Kita buka hati kita untuk menangkap pesan penting tersebut.

Kontemplasi:

Pejamkan matamu. Hadirkan keluargamu. Mohonlah Tuhan menjaga keutuhan keluargamu.

Refleksi:

Di mana Tuhan bagi keutuhan keluargamu?

Doa:

Tuhan, aku percaya Engkau yang menyatukan kami dalam keluarga. Semoga kami pun karena rahmatMu mampu menjaga kesatuan yang telah Kauanugerahkan. Amin.

Perutusan:

Aku akan menjaga keutuhan keluargaku. -nasp-

Sumber: Sesawi.net

5 pencarian oleh pembaca:

  1. khotbah Mazmur 84;1-7