Renungan Harian

Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Renungan Harian - Kumpulan Renungan Iman Kristiani

23Maret

“Lebih berguna bagimu jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasa.”

(Yeh 37:21-28; Yoh 11:45-56)

” Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada-Nya. Tetapi ada yang pergi kepada orang-orang Farisi dan menceriterakan kepada mereka, apa yang telah dibuat Yesus itu. Lalu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi memanggil Mahkamah Agama untuk berkumpul dan mereka berkata: “Apakah yang harus kita buat? Sebab orang itu membuat banyak mujizat. Apabila kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepada-Nya dan orang-orang Roma akan datang dan akan merampas tempat suci kita serta bangsa kita.” Tetapi seorang di antara mereka, yaitu Kayafas, Imam Besar pada tahun itu, berkata kepada mereka: “Kamu tidak tahu apa-apa, dan kamu tidak insaf, bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasa.” Hal itu dikatakannya bukan dari dirinya sendiri, tetapi sebagai Imam Besar pada tahun itu ia bernubuat, bahwa Yesus akan mati untuk bangsa itu, dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai. Mulai dari hari itu mereka sepakat untuk membunuh Dia. Karena itu Yesus tidak tampil lagi di muka umum di antara orang-orang Yahudi, Ia berangkat dari situ ke daerah dekat padang gurun, ke sebuah kota yang bernama Efraim, dan di situ Ia tinggal bersama-sama murid-murid-Nya. Pada waktu itu hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat dan banyak orang dari negeri itu berangkat ke Yerusalem untuk menyucikan diri sebelum Paskah itu. Mereka mencari Yesus dan sambil berdiri di dalam Bait Allah, mereka berkata seorang kepada yang lain: “Bagaimana pendapatmu? Akan datang jugakah Ia ke pesta?” (Yoh 11:45-56), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Hari ini adalah hari terakhir sebelum kita memasuki Minggu Suci, untuk mengenangkan puncak iman kita, penyerahan Diri Yesus dengan menderita dan wafat di kayu salib serta bangkit dari mati demi keselamatan semua bangsa, seluruh dunia. Dalam kutipan Warta Gembira ini dikisahkan kata salah seorang Imam Besar bahwa “lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasa.“. Ia berkata demikian bukan menurut kemauan sendiri, dan kiranya merupakan ilham dari Allah, yang isinya tidak lain bahwa Yesus harus mati demi keselamatan seluruh bangsa. Di dalam aneka suku kita kenal apa yang disebut dengan ‘kambing hitam’, yang harus dikorbankan demi keselamatan semua orang. Yang dimaksudkan dengan ‘kambing hitam’ disini secara  konkret adalah binatang yang baik dan sehat sebagai persembahan penebus dosa, dengan kata lain melalui persembahan yang baik tersebut dosa-dosa umat manusia ditebus alias dihapuskan. Yesus adalah Penyelamat atau Penebus Dunia, dan Ia harus mempersembahkan diri dengan wafat di kayu salib demi keselamatan seluruh dunia. Hal ini kiranya menjadi inspirasi bagi pahlawan Yos Sudarso, komandan angkatan laut, yang memimpin tentara melawan penjajah Belanda dalam rangka pembebasan Irian Jaya(Irian Barat). Maka dengan ini kami mengajak anda sekalian, dan kiranya juga merupakan buah permenungan selama masa Prapaskah, untuk mempersembahkan diri seutuhnya pada panggilan dan tugas pengutusan masing-masing, sehingga dimana anda hidup dan bekerja semuanya selamat dan damai sejahtera.

·   Aku akan mengadakan perjanjian damai dengan mereka, dan itu akan menjadi perjanjian yang kekal dengan mereka. Aku akan memberkati mereka dan membuat mereka banyak dan memberikan tempat kudus-Ku di tengah-tengah mereka untuk selama-lamanya.Tempat kediaman-Ku pun akan ada pada mereka dan Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku.” (Yeh 37:26-27). Yang dimaksudkan dengan mereka adalah bangsa terpilih dan bagi kita berarti kita semua umat beriman, yang terpilih untuk beriman kepada Allah, maka marilah kita renungkan atau hayati sabda ini: “Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umatKu”. Kita diharapkan senantiasa bersembahsujud dan berbakti kepada Allah, dan menjauhkan diri dari aneka sembahsujud terhadap berhala-berhala, termasuk berhala-berhala modern berupa aneka kenikmatan duniawi yang begitu menggoda dan merayu pada masa ini. Banyak orang telah menjadikan HP, internet, aneka macam assesori dan harta benda antik sebagai ‘Allah’ yang harus disembah, artinya hati dan batinnya senantiasa terarah pada barang-barang tersebut. Dengan kata lain marilah kita tinggalkan sikap mental materialistis atau duniawi serta kemudian kita perdalam hidup spiritual atau rohani kita. Semoga dengan memasuki Minggu Suci ini kita semua juga semakin suci, semakin membaktikan diri pada Penyelenggaraan Ilahi.

“Dengarlah firman TUHAN, hai bangsa-bangsa, beritahukanlah itu di tanah-tanah pesisir yang jauh, katakanlah: Dia yang telah menyerakkan Israel akan mengumpulkannya kembali, dan menjaganya seperti gembala terhadap kawanan dombanya! Sebab TUHAN telah membebaskan Yakub, telah menebusnya dari tangan orang yang lebih kuat dari padanya.” (Yer 31:10-11)

Ign 23 Maret 2013

22Maret

“Semua yang pernah dikatakan Yohanes tentang orang ini adalah benar.”

(Yer 20:10-13; Yoh 10:31-42)

” Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. Kata Yesus kepada mereka: “Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?” Jawab orang-orang Yahudi itu: “Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah.” Kata Yesus kepada mereka: “Tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu: Aku telah berfirman: Kamu adalah allah? Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut allah — sedang Kitab Suci tidak dapat dibatalkan –, masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah? Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.” Sekali lagi mereka mencoba menangkap Dia, tetapi Ia luput dari tangan mereka. Kemudian Yesus pergi lagi ke seberang Yordan, ke tempat Yohanes membaptis dahulu, lalu Ia tinggal di situ. Dan banyak orang datang kepada-Nya dan berkata: “Yohanes memang tidak membuat satu tanda pun, tetapi semua yang pernah dikatakan Yohanes tentang orang ini adalah benar.” Dan banyak orang di situ percaya kepada-Nya” (Yoh 10:31-42), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Orang-orang Yahudi yang tidak percaya kepada Yesus semakin gencar untuk menyingkirkan Yesus, sementara itu kebanyakan orang lainnya semakin percaya. Yang tidak percaya kiranya para tokoh-tokoh atau pemuka-pemuka Yahudi karena ketakutan tersaing pengaruhnya kepada rakyat, sementara  itu rakyat semakin percaya kepadaNya, karena Ia memang sangat memperhatikan dan melayani kepentingan umum atau rakyat banyak. Hal ini kiranya mengingatkan kita semua akan apa yang terjadi dalam pemilu Gubernur DKI tahun lalu, dimana yang memperoleh dukungan elite partai dari mayoritas partai yang ada dikalahkan oleh yang memperoleh dukungan rakyat. Memang menjadi nyata bahwa para tokoh atau pemuka partai politik hanya mencari keuntungan pribadi atau partainya dan tidak atau kurang memperhatikan kepentingan rakyat banyak atau umum. Sabda hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua untuk senantiasa memperhatikan kepentingan umum dalam hidup dan kerja kita kapan pun dan dimanapun, apapun fungsi dan jabatan kita dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Allah hidup dan berkarya kapan saja dan dimana saja, dan tentu saja terutama dan pertama-tama dalam diri manusia, yang diciptakan sesuai dengan gambar atau citraNya, maka jika kita sungguh beriman kepada Allah marilah kita saling berbakti dan melayani, dan marilah kita perhatikan Allah yang hidup dan berkarya dalam diri rakyat, yang mendambakan untuk disejahterakan.

·   TUHAN menyertai aku seperti pahlawan yang gagah, sebab itu orang-orang yang mengejar aku akan tersandung jatuh dan mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka akan menjadi malu sekali, sebab mereka tidak berhasil, suatu noda yang selama-lamanya tidak terlupakan! Ya TUHAN semesta alam, yang menguji orang benar, yang melihat batin dan hati, biarlah aku melihat pembalasan-Mu terhadap mereka, sebab kepada-Mulah kuserahkan perkaraku. Menyanyilah untuk TUHAN, pujilah TUHAN! Sebab ia telah melepaskan nyawa orang miskin dari tangan orang-orang yang berbuat jahat” (Yer 20:11-13). Apa yang ada di dalam batin dan hati memang sangat mempengaruhi cara hidup dan cara bertindak kita. Apakah isi batin dan isi hati kita? Jangan sembunyikan atau tutup-tutupi isi hati dan batin kita, serapat atau sehebat apapun anda menyembunyikan atau menutupi Tuhan tahu semuanya, dan tentu saja orang-orang baik di dunia ini juga mengetahuinya. Kita semua diingatkan dan diajak untuk jujur dan terbuka atas apa yang ada dalam batin dan hati kita. Jika kita setia setiap hati mengadakan pemeriksaan batin atau hati kiranya kita tahu benar isi hati dan batin kita, antara lain berupa kecenderungan-kecenderungan untuk melakukan apa yang baik atau yang jahat. Maka hendaknya kita senantiasa mewujudkan kecenderungan untuk melakukan apa yang baik serta meninggalkan kecenderungan untuk melakukan apa yang jahat. Wujud tindakan atau perilaku baik yang diharapkan dari kita antara lain berpartisipasi dalam ‘melepaskan nyawa orang miskin dari tangan orang-orang jahat’. Dengan kata lain cara hidup dan cara bertindak kita hendaknya senantiasa berpedoman pada ‘keselamatan jiwa manusia’, keselamatan jiwa menjadi barometer atau tolok ukur keberhasilan atau kesuksesan pelayanan dan kerja kita.

“Aku mengasihi Engkau, ya TUHAN, kekuatanku!Ya TUHAN, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku, Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku! Terpujilah TUHAN, seruku; maka aku pun selamat dari pada musuhku” (Mzm 18:2-4)

Ign 22 Maret 2013

22Maret

“Semua yang pernah dikatakan Yohanes tentang orang ini adalah benar.”

(Yer 20:10-13; Yoh 10:31-42)

” Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. Kata Yesus kepada mereka: “Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?” Jawab orang-orang Yahudi itu: “Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah.” Kata Yesus kepada mereka: “Tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu: Aku telah berfirman: Kamu adalah allah? Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut allah — sedang Kitab Suci tidak dapat dibatalkan –, masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah? Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.” Sekali lagi mereka mencoba menangkap Dia, tetapi Ia luput dari tangan mereka. Kemudian Yesus pergi lagi ke seberang Yordan, ke tempat Yohanes membaptis dahulu, lalu Ia tinggal di situ. Dan banyak orang datang kepada-Nya dan berkata: “Yohanes memang tidak membuat satu tanda pun, tetapi semua yang pernah dikatakan Yohanes tentang orang ini adalah benar.” Dan banyak orang di situ percaya kepada-Nya” (Yoh 10:31-42), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Orang-orang Yahudi yang tidak percaya kepada Yesus semakin gencar untuk menyingkirkan Yesus, sementara itu kebanyakan orang lainnya semakin percaya. Yang tidak percaya kiranya para tokoh-tokoh atau pemuka-pemuka Yahudi karena ketakutan tersaing pengaruhnya kepada rakyat, sementara  itu rakyat semakin percaya kepadaNya, karena Ia memang sangat memperhatikan dan melayani kepentingan umum atau rakyat banyak. Hal ini kiranya mengingatkan kita semua akan apa yang terjadi dalam pemilu Gubernur DKI tahun lalu, dimana yang memperoleh dukungan elite partai dari mayoritas partai yang ada dikalahkan oleh yang memperoleh dukungan rakyat. Memang menjadi nyata bahwa para tokoh atau pemuka partai politik hanya mencari keuntungan pribadi atau partainya dan tidak atau kurang memperhatikan kepentingan rakyat banyak atau umum. Sabda hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua untuk senantiasa memperhatikan kepentingan umum dalam hidup dan kerja kita kapan pun dan dimanapun, apapun fungsi dan jabatan kita dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Allah hidup dan berkarya kapan saja dan dimana saja, dan tentu saja terutama dan pertama-tama dalam diri manusia, yang diciptakan sesuai dengan gambar atau citraNya, maka jika kita sungguh beriman kepada Allah marilah kita saling berbakti dan melayani, dan marilah kita perhatikan Allah yang hidup dan berkarya dalam diri rakyat, yang mendambakan untuk disejahterakan.

·   TUHAN menyertai aku seperti pahlawan yang gagah, sebab itu orang-orang yang mengejar aku akan tersandung jatuh dan mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka akan menjadi malu sekali, sebab mereka tidak berhasil, suatu noda yang selama-lamanya tidak terlupakan! Ya TUHAN semesta alam, yang menguji orang benar, yang melihat batin dan hati, biarlah aku melihat pembalasan-Mu terhadap mereka, sebab kepada-Mulah kuserahkan perkaraku. Menyanyilah untuk TUHAN, pujilah TUHAN! Sebab ia telah melepaskan nyawa orang miskin dari tangan orang-orang yang berbuat jahat” (Yer 20:11-13). Apa yang ada di dalam batin dan hati memang sangat mempengaruhi cara hidup dan cara bertindak kita. Apakah isi batin dan isi hati kita? Jangan sembunyikan atau tutup-tutupi isi hati dan batin kita, serapat atau sehebat apapun anda menyembunyikan atau menutupi Tuhan tahu semuanya, dan tentu saja orang-orang baik di dunia ini juga mengetahuinya. Kita semua diingatkan dan diajak untuk jujur dan terbuka atas apa yang ada dalam batin dan hati kita. Jika kita setia setiap hati mengadakan pemeriksaan batin atau hati kiranya kita tahu benar isi hati dan batin kita, antara lain berupa kecenderungan-kecenderungan untuk melakukan apa yang baik atau yang jahat. Maka hendaknya kita senantiasa mewujudkan kecenderungan untuk melakukan apa yang baik serta meninggalkan kecenderungan untuk melakukan apa yang jahat. Wujud tindakan atau perilaku baik yang diharapkan dari kita antara lain berpartisipasi dalam ‘melepaskan nyawa orang miskin dari tangan orang-orang jahat’. Dengan kata lain cara hidup dan cara bertindak kita hendaknya senantiasa berpedoman pada ‘keselamatan jiwa manusia’, keselamatan jiwa menjadi barometer atau tolok ukur keberhasilan atau kesuksesan pelayanan dan kerja kita.

“Aku mengasihi Engkau, ya TUHAN, kekuatanku!Ya TUHAN, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku, Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku! Terpujilah TUHAN, seruku; maka aku pun selamat dari pada musuhku” (Mzm 18:2-4)

Ign 22 Maret 2013

21 Maret

“UmurMu belum sampai lima puluh tahun dan Engkau telah melihat Abraham?”

(Kej 17:3-9; Yoh 8:51-59)

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya.” Kata orang-orang Yahudi kepada-Nya: “Sekarang kami tahu, bahwa Engkau kerasukan setan. Sebab Abraham telah mati dan demikian juga nabi-nabi, namun Engkau berkata: Barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya. Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kita Abraham, yang telah mati! Nabi-nabi pun telah mati; dengan siapakah Engkau samakan diri-Mu?” Jawab Yesus: “Jikalau Aku memuliakan diri-Ku sendiri, maka kemuliaan-Ku itu sedikit pun tidak ada artinya. Bapa-Kulah yang memuliakan Aku, tentang siapa kamu berkata: Dia adalah Allah kami, padahal kamu tidak mengenal Dia, tetapi Aku mengenal Dia. Dan jika Aku berkata: Aku tidak mengenal Dia, maka Aku adalah pendusta, sama seperti kamu, tetapi Aku mengenal Dia dan Aku menuruti firman-Nya. Abraham bapamu bersukacita bahwa ia akan melihat hari-Ku dan ia telah melihatnya dan ia bersukacita.” Maka kata orang-orang Yahudi itu kepada-Nya: “Umur-Mu belum sampai lima puluh tahun dan Engkau telah melihat Abraham?” Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” Lalu mereka mengambil batu untuk melempari Dia; tetapi Yesus menghilang dan meninggalkan Bait Allah” (Yoh 8:51-19), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Masalah umur memang pada umumnya menjadi salah satu pedoman atau acuan hidup bersama, lebih-lebih terkait dengan hidup baru, entah itu berarti jalan hidup baru atau jabatan baru. Umur sering menjadi acuan kedewasaan pribadi seseorang, dan ada pandangan umum semakin tua berarti semakin dewasa, memang dewasa fisiknya, tetapi belum tentu dewasa kepribadian dan imannya. Orang-orang Yahudi yang tidak percaya kepada Yesus semakin terpojok dan semakin tidak mengimani bahwa Yesus adalah Penyelamat Dunia, Allah yang menjadi manusia. Maka ketika Yesus berkata kepada mereka bahwa Ia telah ada sebelum Abraham, mereka berkata “Umur-Mu belum sampai lima puluh tahun dan Engkau telah melihat Abraham”. Di dalam hidup beriman atau beragama yang penting bukan umur, melainkan kedalaman iman, entah dalam hal pengetahuan maupun penghayatan. Maka meskipun masih muda, jika yang bersangkutan menunjukkan kedewasaan dan kematangan iman, hemat saya yang bersangkutan lebih daripada orang yang umurnya lebih tua, dan selayaknya meskipun masih muda menjadi pemimpin dan panutan banyak orang, termasuk mereka yang sudah tua atau lansia. Kami berharap kepada anda sekalian agar dalam hidup dan kerja bersama lebih  mengutamakan pentingnya kedewasaan kepribadian, iman maupun moral, dan siapapun yang paling dewasa selayaknya dihormati dan menjadi panutan bagi semuanya, meskipun yang bersangkutan masih muda. Kepada anda yang masih muda hendaknya tidak menolak ketika dipilih dan ditunjuk untuk menjadi pemimpin atau berpartisipasi dalam kepemimpinan (maaf: saya pribadi dalam tahun kedua imamat saya diminta oleh atasan atau provinsial saya untuk menjadi Ekonom Keuskupan Agung Semarang, demikian juga baru saja ditahbiskan diangkat menjadi Direktur Perkumpulan Strada).

·   Dari pihak-Ku, inilah perjanjian-Ku dengan engkau: Engkau akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa. Karena itu namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham, karena engkau telah Kutetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa. Aku akan membuat engkau beranak cucu sangat banyak; engkau akan Kubuat menjadi bangsa-bangsa, dan dari padamu akan berasal raja-raja.” (Kej 17: 3-6). Kutipan ini adalah firman atau sabda Allah kepada Abraham untuk “menjadi bapa sejumlah besar bangsa”. Ketika menerima firman ini Abraham belum memiliki anak, dan boleh dikatakan masih muda juga, namun dalam iman Abraham percaya akan firman tersebut, yang memang berarti Abraham senantiasa harus melaksanakan firman Allah dalam situasi dan kondisi apapun, kapan pun dan dimana pun. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan segenap umat beriman untuk sungguh-sungguh menyadari dan menghayati imannya dalam cara hidup dan cara bertindak setiap hari. Kutipan ini kiranya juga mengingatkan dan mengajak kita semua bahwa hendaknya yang menjadi pemimpin hidup dan kerja bersama adalah mereka yang dalam usia tengah, misalnya antara 35 s/d 50 tahun, sedangkan yang berusia kurang atau lebih dari usia itu hendaknya berfungsi sebagai konsultan, dengan rendah hati memberi masukan kepada yang bertugas sebagai pemimpin, apa-apa yang perlu untuk hidup dan kerja bersama. Sebaliknya yang menjadi pemimpin kami harapkan dengan rendah hati menerima aneka masukan, kritik, saran maupun tegoran dari para pembantunya atau anggotanya.

“Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu! Ingatlah perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya, mujizat-mujizat-Nya dan penghukuman-penghukuman yang diucapkan-Nya, hai anak cucu Abraham, hamba-Nya, hai anak-anak Yakub, orang-orang pilihan-Nya! Dialah TUHAN, Allah kita, di seluruh bumi berlaku penghukuman-Nya” (Mzm 105:4-7)

Ign 21 Maret 2013

19 Maret

HR ST YUSUF, suami SP Maria: 2Sam 74-5a.12-14a.16; Rm 4:13.16-18.22; Mat 1:16.18-21.24a

“Seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum”

Pada masa kini orang yang sungguh tulus hati kiranya jarang sekali, apalagi kebanyakan orang pada umumnya suka ngrumpi atau ngrasani, yang berarti senantiasa melihat dan menceriterakan kekurangan dan kelemahan orang lain. Dalam dunia atau pelayanan pendidikan pun, entah itu dalam pendidikan formal di sekolah-sekolah maupun informal dalam keluarga dan masyarakat ada kecenderungan juga para pendidik atau pendamping lebih melihat kekurangan dan kelemahan peserta didik daripada kelebihan dan kebaikannya. Tak ketinggalan juga ada pamong atau pendamping seminaris di Seminari-Seminari yang juga lebih cenderung melihat kelemahan dan kekurangan para seminaris daripada kelebihan atau kebaikannya. Ada kecenderungan banyak orang untuk lebih berpikir nagatif daripada positif terhadap orang lain. Santo Yusuf, suami SP Maria yang kita kenangkan hari ini adalah ‘seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum’, dan kiranya dapat menjadi teladan bagi kita semua yang rangka hidup beragama atau beriman.

Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.” (Mat 1:19)

Tulus hati berarti hatinya bersih alias suci, tidak pernah melakukan perbuatan dosa sekecil apapun, dan senantiasa melaksanakan kehendak dan perintah Allah, semakin tambah usia dan pengalaman berarti juga semakin dikasihi oleh Allah dan sesama manusia. Mereka yang sungguh masih tulus hati pada umumnya ialah anak-anak balita, anak-anak berusia lima tahun kebawah. Maka jika kita berusaha untuk tetap tulus hati marilah kita hidup dan bertindak meneladan anak-anak balita.

Pertama-tama dan terutama kami mengajak dan mengingatkan para suami-isteri untuk tidak saling mencemarkan nama baik pasangan hidupnya di muka umum sedikitpun, apalagi menceriterakan kekurangan dan kelemahan pasangan hidupnya kepada rekan kerja di kantor yang lain jenis, seperti sering terjadi seorang boss laki-laki ceritera kepada sekretaris pribadinya yang cantik perihal kelemahan dan kekurangan isterinya yang pada umumnya berlanjut dengan perselingkuhan. Hal senada juga dapat terjadi seorang isteri mengeluh perihal pasangannya kepada boss-nya di kantor, yang lain jenis. Jika antar suami-isteri dapat menjaga nama baik masing-masing di muka umum, maka anak-anaknya akan melakukan yang demikian juga.

Para pendidik atau guru kami harapkan berpartisipasi dalam karya Penciptaan Allah dalam melaksanakan tugas pengutusannya, yang berarti senantiasa berpikir positif terhadap para peserta didik atau murid-muridnya, memperkembangkan bakat, keterampilan alias apa-apa yang baik yang telah dimiliki oleh para peserta didik atau murid. Ketika apa yang baik atau kekuatan yang ada dalam diri para peserta didik/murid diperkembangkan dan diperdalam, maka segala kelemahan dan kekurangan yang ada pada diri peserta didik/murid akan terhapus pelan-pelan dan akhirnya hilang sama sekali. Guru berarti ‘digugu lan ditiru’ (=ditaati dan diikuti), maka dengan ini kami berharap kepada para guru untuk memiliki hati yang  tulus, bersih dan suci, sehingga para murid atau peserta dididik tergerak untuk mengikutinya. Para guru atau pendidik kami harapkan menghayati motto bapak pendidikan kita, Ki Hajar Dewantoro “ing arso asung tulodho, ing madyo ambangun karso, tut wuri handayani” ( = keteladanan, pemberdayaan dan motivasi). 

Kepada rekan muda-mudi atau remaja kami harapkan juga menjaga diri untuk tetap memiliki ketulusan hati, hidup suci, lebih-lebih tidak tergoda dengan rayuan kenikmatan seksual yang merebak pada masa kini. Gara-gara HP atau Facebook di internet cukup banyak orang, entah dewasa, muda-mudi atau remaja jatuh ke pergaulan seks bebas, bahkan ada juga seorang pastor yang terjebak juga, sehingga harus mengundurkan diri dari imamatnya. Rekan-rekan putri atau perempuan kami harapkan juga menghadirkan diri sedemikian rupa sehingga tidak merangsang laki-laki hidung belang berpikiran jahat terhadap anda, dan ada kemungkinan anda terancam untuk diperkosanya. Dan tentu saja rekan-rekan laki-laki atau putra kami harapkan meneladan St.Yusuf, yang sungguh tulus hatinya, dengan kata lain tidak salah anda terpesona kepada gadis cantik, tetapi hendaknya tidak ada hasrat untuk memiliki atau menguasai, melainkan anda sendiri memang sungguh diteguhkan sebagai laki-laki wajar, dan dalam kewajaran juga memperlakukan lain jenis, yaitu memberi kebebasan kepada mereka.

Karena itulah kebenaran berdasarkan iman supaya merupakan kasih karunia, sehingga janji itu berlaku bagi semua keturunan Abraham, bukan hanya bagi mereka yang hidup dari hukum Taurat, tetapi juga bagi mereka yang hidup dari iman Abraham. Sebab Abraham adalah bapa kita semua, — seperti ada tertulis: “Engkau telah Kutetapkan menjadi bapa banyak bangsa” — di hadapan Allah yang kepada-Nya ia percaya, yaitu Allah yang menghidupkan orang mati dan yang menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada. Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.” (Rm 4:16-18)

Dalam ketulusan hati dan sesuai dengan kata malaikat, utusan Allah, akhirnya Yusuf menjadikan Maria sebagai isterinya, meskipun Maria telah mengandung (karena Roh Kudus). Ikatan keluarga, suami-isteri, Yusuf dan Maria karena dan oleh Roh Kudus. Hidup terpanggil, entah menjadi imam, bruder, suster maupun suami-isteri hemat saya juga karena Roh Kudus, maka orang akan setia pada panggilannya sampai mati jika yang bersangkutan setia pada dorongan dan kehendak Roh Kudus, bukan menurut keinginan atau selera pribadi.

Kehendak Roh Kudus antara lain menggejala dalam kehendak dan perbuatan baik, dan ada kemungkinan menjadi nyata dalam tata tertib atau aturan, visi dan misi lembaga, misalnya berupa Konstitusi, Pedoman Hidup, Anggaran Dasar dst.. Marilah kita hadapi dan sikapi aneka tata tertib dan aturan yang terkait dengan panggilan dan tugas pengutusan kita dalam dan oleh iman. Kami percaya bahwa aneka tata tertib dan aturan bertujuan baik, dan siapapun yang melaksanakan dengan jujur, disiplin, setia dan tekun pasti akan memiliki ketulusan hati. Maka kami harap kita semua sungguh membaktikan diri sepenuhnya pada tata tertib atau aturan yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing.

Sebagai orang beriman kita diharapkan untuk meneladan bapa Abraham, bapa umat beriman, yang dikatakan oleh dalam kutipan surat di atas bahwa “sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap dan percaya”. Berharap dan beriman memang mengandalkan diri pada sesuatu yang belum atau tidak jelas alias tak mungkin difahami oleh akal sehat sepenuhnya, namun sesuatu tersebut sungguh menggairahkan hidup, penghayatan panggilan dan pelaksanaan tugas pengutusan. Semoga kita semua memiliki harapan dan iman kuat, handal dan tangguh sehingga tabah dalam menghadapi aneka tantangan, godaan dan rayuan untuk berbuat jahat. Kepada para orangtua kami harapkan membina  dan mendidik anak-anaknya agar memiliki harapan dan iman yang kuat, handal dan mendalam.

“Aku hendak menyanyikan kasih setia TUHAN selama-lamanya, hendak memperkenalkan kesetiaan-Mu dengan mulutku turun-temurun.Sebab kasih setia-Mu dibangun untuk selama-lamanya; kesetiaan-Mu tegak seperti langit. Engkau telah berkata: “Telah Kuikat perjanjian dengan orang pilihan-Ku, Aku telah bersumpah kepada Daud, hamba-Ku:Untuk selama-lamanya Aku hendak menegakkan anak cucumu, dan membangun takhtamu turun-temurun.” (Mzm 89:2-5)

Ign 19 Maret 2013

    

18Maret

Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

(Dan  13:41c-62; Yoh 8:1-11)

“Yesus pergi ke bukit Zaitun. Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka.Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah.Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?” Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah. Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah.Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?” Jawabnya: “Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus: “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”(Yoh 8:1-11), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Kasih pengampunan merupakan anugerah yang telah kita terima secara melimpah ruah dari Allah melalui sekian banyak orang yang telah mengasihi dan memperhatikan kita, sejak kita dilahirkan. Dalam Warta Gembira ini dikisahkan bahwa pagi-pagi benar di depan Bait Allah alias didepan tempat ibadat (kapel, gereja, masjid, kuil dst..) tokoh-tokoh atau pemuka bangsa Yahudi membawa seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah untuk mohon kebijakan dari Yesus apa yang harus dilakukan terhadap perempuan tersebut. Menurut tradisi Yahudi pendosa yang demikian harus dilempari batu sampai mati sebagai hukumannya. Yesus sungguh cerdas dalam menanggapi jebakan para pemuka Yahudi: jika Ia menjawab silahkan perempuan tersebut dilempari batu sampai mati berarti Yesus sama dengan mereka, tetapi jika Ia mengatakan ampunilah dia maka Yesus dituduh tidak setia pada tata tertib atau aturan Yahudi, dan dengan demikian ada alasan bagi pemuka Yahudi untuk mengadili dan menghukumNya. Orang suci memang memiliki kecerdasan khusus, sehingga senantiasa siap sedia menanggapi aneka jebakan maupun tantangan. Karena kecerdasan dan kebijakan Yesus akhirnya tak seorangpun berani menghukum perempuan pezinah tersebut, bahwa mereka pergi meninggalkan Yesus dan perempuan tersebut. Yesus setelah mengampuni si perempuan pun akhirnya meminta ia pergi dan jangan melakukan dosa lagi. Marilah kita meneladanYesus yang mengampuni atau menghayati pesanNya agar mulai dari sekarang kita tidak melakukan dosa apapun. Biarlah kita sungguh siap sedia mengikuti Yesus dan mungkin juga harus menderita dan disalibkan artinya membaktikan diri sepenuhnya kepada Penyelenggaraan Ilahi dengan melayani saudara-saudari kita, terutama mereka yang berdosa, miskin dan berkekurangan.

·    Baguslah engkau mendustai kepalamu sendiri. Sebab malaikat Allah sudah menunggu-nunggu dengan pedang terhunus untuk membahan engkau, supaya membinasakan kamu!” (Dan 13:59). Demikian kata Daniel, orang muda dan suci, yang mengusahakan kebenaran serta mendobrak kebohongan. Pembohong memang untuk sementara selamat, namun pada suatu saat akan ketahuan juga. Pada umumnya pembohong jika tidak segera bertobat dengan hidup jujur akan melakukan kebohongan yang lebih besar lagi untuk menutupi kebohongan yang ada. Hari-hari ini kasus Bank Century maupun pembangunan komplek olahraga Hambalang semakin hangat menjadi pembicaraan, mengingat dan memperhatikan ada dugaan kebohongan luar biasa dalam kasus ini dengan melakukan korupsi. Semoga mereka yang dipanggil KPK berani mendobrak kebohongan yang ada, demikian juga jajaran KPK semoga cerdas seperti Daniel atau Yesus. Jangan takut mendobrak dan memberantas kebohongan yang ada, karena aneka bentuk kebohongan telah merusak hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kebohongan yang dilakukan oleh para petinggi negara sangat mempengaruhi sikap mental rakyat kita maupun generasi muda khususnya, yaitu berbohong merasa tak bersalah. Memang “kesadaran diri sebagai pendosa, yang lemah dan rapuh” tidak ada lagi di lingkungan masyarakat, sehingga orang berbuat salah enak saja, menyakiti orang lain merasa puas dan nikmat.

“Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah. Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.”

 (Mzm 23:3b-6)

Ign 18 Maret 2013

Minggu Prapaskah V

Mg Prapaskah V : Yes 43:16-21; Flp 3:8-14; Yoh 8:1-11

“Setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua”

Sebut saja namanya Bapak Artomoro, yang boleh diartikan bapak yang senantiasa mendambakan uang atau harta benda mengalir deras mendatangi, dengan kata lain orang yang bersikap mental materialistis. Pada suatu hari dengan geram ia memarahi anak-anaknya, karena anak-anak kurang taat kepada bapak-ibunya dan melakukan apapun sesuai dengan selera atau keinginannya sendiri. “Kamu ini anak-anaknya siapa, sungguh memalukan dan memprihatinkan cara hidup dan cara bertindakmu”, demikian kata sang bapak dalam kemarahannya. “Lho, kami ini khan anak-anak bapak-ibu”, jawab anak-anak dengan sedikit takut. Kemarahan orangtua terhadap anak-anaknya, pemimpin terhadap anggota-anggotanya, atasan terhadap bawahan-bawahannya sering terjadi dalam kehidupan bersama kita, dan sering hal itu untuk menunjukkan kewibawaan orangtua, atasan atau pemimpin. Begitulah yang sering terjadi bahwa semakin tua dan semakin tinggi fungsi atau jabatannya orang merasa diri lebih baik daripada yang lain alias sombong. Bukanlah semakin tambah usia dan pengalaman berarti juga bertambah dosanya, sebagaimana terjadi dalam kisah dalam Warta Gembira hari ini ketika Yesus bersabda bahwa yang tidak berdosa silahkan melempar batu pertama kali kepada pelacur yang tertangkap basah dan akhirnya yang paling tua lebih dahulu mengundurkan diri. Maka marilah kita renungkan apa isi Warta Gembira hari ini.

Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah.Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya.” (Yoh 8:7-9)

Siapakah Yesuit itu? Yesuit ialah orang yang mengakui dirinya pendosa, tetapi tahu bahwa dipanggil menjadi sahabat Yesus seperti Ignatius dahulu, Ignatius minta kepada Santa Perawan, ‘agar menempatkan dia disamping Puteranya’, dan kemudian Ignatius melihat Bapa sendiri minta kepada Yesus yang memanggul salib, agar menerima si musafir ini dalam kalangan sahabatnya” (Konjen SJ ke 32, dekrit 2.1). Dalam Konggregasi Jendral ini adalah tokoh-tokoh atau pemuka-pemuka penting Serikat Yesus. Memang pernyataan iman tersebut sedikit banyak terpengaruh oleh sapaan Paus Yohanes Paulus II kepada para peserta Konggregasi Jendral yang mengadap Yang Mulia :”Dari mana asalmu? Dimana saat ini anda berada? Kemana anda mau pergi?”.

Sapaan Paus kepada para Yesuit tersebut di atas kiranya dapat menjadi bahan permenungan atau refleksi kita juga. Kita semua berasal dari Allah dan kiranya di awal hidup kita di dunia ini dalam keadaan suci, bersih dan tak berdosa sedikitpun, namun karena kelemahan dan kerapuhan kita sebagai manusia yang berasal dari ‘tanah’ dengan mudah kita mencemari kesucian kita dalam perjalanan waktu. Semakin tambah pengalaman dan tambah usia semakin banyak dosa yang kita lakukan, itulah kebenaran iman sejati. Pada saat ini di dunia, dalam hidup bersama kita menghadapi aneka rayuan dan godaan untuk berbuat dosa, dan dengan mudah kita tergerak mengikuti rayuan dan godaan tersebut, karena egois dan semangat materialistis kita. Maka selayaknya jika kita menyadari dan menghayati diri sebagai orang berdosa, dan jika kita dapat melakukan apa yang baik, menyelamatkan dan membahagiakan sungguh merupakan karya atau penyelenggaraan Ilahi dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini. Dengan kata lain kita juga telah menerima kasih pengampunan dari Allah secara melimpah ruah melalui saudara-saudari kita, maka apa yang hendaknya kita lakukan selanjutnya atau “kemana kita mau pergi melangkah?”

Kita semua diharapkan untuk pergi melangkah menuju ke ‘tinggal bersama Yesus’ alias menjadi sahabat-sahabat Yesus. Menjadi sahabat-sahabat Yesus antara lain senantiasa siap sedia meneladanNya dalam ‘memanggul atau memikul salib’. APP tahun ini mengajak kita untuk mendalami dan menghayati tema “Bekerja Keras dan berpartisipasi Menghayati  Salib Yesus”. Maka marilah kita mawas diri sejauh mana kita telah bekerja keras dalam hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita, yang memang tak akan terlepas dari aneka penderitaan dan pengorbanan maupun perjuangan. “Bekerja keras adalah sikap dan perilaku yang suka berbuat hal-hal yang positif dan tidak berpangku tangan serta selalu gigih dan sungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 10).

Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya(Fil 3:8).

Sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus kita dipanggil untuk semakin mengenalNya serta menjadi sahabat-sahabatNya yang handal, tangguh dan berkompeten, sehingga cara hidup dan cara bertindak kita meneladan cara hidup dan cara bertindakNya maupun senantiasa melaksanakan sabda-sabdaNya dimana pun dan kapan pun. Maka hendaknya segala sesuatu yang kita miliki dan kuasai pada saat ini sungguh difungsikan untuk semakin mengenal dan menjadi sahabatNya, dengan kata lain memfungsikan segala sesuatu sebagai jalan atau wahana agar kita semakin memuji, memuliakan, menghormati dan mengabdi Tuhan, entah dalam atau melalui ibadat maupun kerja atau pelayanan kita setiap hari.

Kemuliaan, kesejahteraan dan kebahagiaan sejati ada dalam kesatuan dan kebersaman dengan Tuhan, dan memang untuk mengusahakan atau mencapainya kita perlu ‘menghayati salib Yesus Kristus’ alias membaktikan hidup sepenuhnya kepada panggilan, tugas pengutusan maupun kewajiban. Dengan kata lain kami ajak anda sekalian untuk meninggalkan aneka bentuk kemalasan dan hidup seenaknya hanya mengikuti selera atau keinginan pribadi. Dalam hidup dan kerja dimana pun dan kapan pun pasti ada tata tertib atau aturan yang harus kita lakukan atau hayati, maka pertama-tama dalam mengusahakan kemuliaan, kesejahteraan dan kebahagiaan hendaknya setia menghayati atau melaksanakan tata tertib atau aturan yang terkait dengan panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing.

Kami mengajak anda sekalian untuk menyikapi dan menghayati aneka tata tertib dan aturan bukan sebagai beban atau perintah, melainkan sebagai kebutuhan atau sarana dan jalan mengusahakan kemuliaan, kesejahteraan dan kebahagiaan sejati. Hendaknya anak-anak sedini mungkin dididik dan dibina untuk setia melaksanakan tata tertib dan aturan, misalnya tata tertib dan aturan di dalam keluarga, yang kemudian diperdalam dan diperkembangkan di tempat pendidikan formal, mulai dari Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar dst… Ketika anak-anak di dalam keluarga biasa hidup tertib dan teratur, maka percayalah di kemudian hari mereka akan hidup tertib dan teratur dimana pun dan kapan pun. Sekali lagi kami berharap kepada para orangtua untuk dapat menjadi teladan dalam penghayatan atau pelaksanaan tata tertib dan aturan, dan tentu saja anda berdua setia saling mengasihi sebagai suami-isteri sampai mati.

“Ketika TUHAN memulihkan keadaan Sion, keadaan kita seperti orang-orang yang bermimpi. Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai. Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa: “TUHAN telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!” TUHAN telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita. Pulihkanlah keadaan kami, ya TUHAN, seperti memulihkan batang air kering di Tanah Negeb! Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.” (Mzm 126)

Ign 17 Maret 2013

        

16Maret

“Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!”

(Yer 11:18-20; Yoh 7:40-53)

“Beberapa orang di antara orang banyak, yang mendengarkan perkataan-perkataan itu, berkata: “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang.” Yang lain berkata: “Ia ini Mesias.” Tetapi yang lain lagi berkata: “Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea! Karena Kitab Suci mengatakan, bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari kampung Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal.” Maka timbullah pertentangan di antara orang banyak karena Dia. Beberapa orang di antara mereka mau menangkap Dia, tetapi tidak ada seorang pun yang berani menyentuh-Nya. Maka penjaga-penjaga itu pergi kepada imam-imam kepala dan orang-orang Farisi, yang berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak membawa-Nya?” Jawab penjaga-penjaga itu: “Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!” Jawab orang-orang Farisi itu kepada mereka: “Adakah kamu juga disesatkan? Adakah seorang di antara pemimpin-pemimpin yang percaya kepada-Nya, atau seorang di antara orang-orang Farisi? Tetapi orang banyak ini yang tidak mengenal hukum Taurat, terkutuklah mereka!” Nikodemus, seorang dari mereka, yang dahulu telah datang kepada-Nya, berkata kepada mereka: “Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang, sebelum ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dibuat-Nya?” Jawab mereka: “Apakah engkau juga orang Galilea? Selidikilah Kitab Suci dan engkau akan tahu bahwa tidak ada nabi yang datang dari Galilea.” Lalu mereka pulang, masing-masing ke rumahnya” (Yoh 7:40-53), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Semakin Yesus membuka DiriNya semakin menimbulkan pertentangan, dan ternyata di antara orang-orang Farisi dan ahli Taurat juga muncul perselisihan, dimana muncul “Nikodemus, seorang dari mereka, yang dahulu telah datang kepadaNya”. Para penjaga, utusan orang-orang Farisi dan ahli Taurat, yang diberi tugas untuk mengamat-amati dan menangkap Yesus pun akhirnya terkesan kepadaNya dengan berkata :”Belum pernah seorang manusia berkata seperti itu”. Nikodemus sendiri mengingatkanb bahwa untuk mengadili dan menghukum orang menurut Taurat orang yang bersangkutan harus didengarkan lebih dahulu, dengan kata lain perlu penelitian atau ‘diagnose’ yang memadai. Sikap orang-orang Farisi dan ahli Taurat yang tergesa-gesa mengadili dan menghukum orang tanpa penelitian yang memadai ini kiranya sering terjadi juga di antara para dokter dalam mengambil keputusan untuk mengoperasi pasien atau menentukan penyakit seseorang, demikian juga secara sandiwara terjadi di proses pengadilan kita. Dengan kata lain sabda hari ini mengingatkan kita semua pentingnya penelitian atau diagnose yang memadai sebelum menentukan kebijakan atau langkah strategis. Memang bangsa kita kurang menghargai pentingnya penelitian atau diagnose, sehingga senantiasa boleh dikatakan ketinggalan zaman, sebagaimana terjadi dalam pendidikan. Sejak dahulu ganti Menteri Pendidikan senantiasa ganti kebijakan atau kurikulum, yang konon merupakan pembaharuan yang dibutuhkan, padahal kebijakan yang dimaksud hanya berdasarkan kasus tertentu saja. Hal itu kiranya merupakan buah pendidikan kita yang kurang memperhatikan eksplorasi dalam proses pembelajaran, dan lebih cenderung menghafal. Sebagai orang beriman marilah kita setia dan rajin mengadakan refleksi atau pemeriksaan batin setiap hari, menjelang istirahat malam.

·   TUHAN semesta alam, yang menghakimi dengan adil, yang menguji batin dan hati, biarlah aku melihat pembalasan-Mu terhadap mereka, sebab kepada-Mulah kuserahkan perkaraku” (Yer 11:20). Kutipan ini mengingatkan dan mengajak kita semua bahwa ketika kita menghadapi masalah, perkara atau persoalan atau tantangan dan hambatan, hendaknya dengan rendah hati mohon pencerahan atau penerangan dari Allah, agar dalam terang Allah kita mengambil langkah dan kebijakan, sebagaimana juga dihayati dalam Konkraf oleh para Kardinal yang berdoa mohon pencerahan dan penerangan guna memilih Paus, Gembala Gereja Katolik, Penerus Tahta St.Petrus dan karya penyelamatan Yesus Kristus. “Kepada-Mulah kuserahkan perkaraku”, demikian doa yang kiranya menjadi pegangan atau pedoman kita dalam berdoa maupun bertindak. Jika kita maju, tumbuh berkembang dalam hal penghayatan hidup beriman kiranya akan menghadapi banyak perkara, maka persembahkan perkara-perkara yang ada kepada Allah, dan jangan ditangani atau dipecahkan sendiri. Dan kiranya  kita juga perlu minta bantuan atau sumbangan orang lain dalam rangka menangani atau memecahkan perkara. Dalam kebersamaan dan Allah dan saudara-saudari kita, maka kita akan sukses menangani aneka perkara yang kita hadapi. Dengan kata lain hendaknya kita saling membantu dalam menghadapi aneka perkara kehidupan, bergotong-royong dalam mengemban tugas pengutusan dan beban.

“Hakimilah aku, TUHAN, apakah aku benar, dan apakah aku tulus ikhlas. Biarlah berakhir kejahatan orang fasik, tetapi teguhkanlah orang yang benar, Engkau, yang menguji hati dan batin orang, ya Allah yang adil. Perisai bagiku adalah Allah, yang menyelamatkan orang-orang yang tulus hati; Allah adalah Hakim yang adil dan Allah yang murka setiap saat” (Mzm 7:9b-12)

Ign 16 Maret 2013

15Maret

“Tidak ada seorang pun yang menyentuh Dia sebab saatNya belum tiba”

(Keb 2:1a.12-22; Yoh 7:1-2.10.25-30)

” Sesudah itu Yesus berjalan keliling Galilea, sebab Ia tidak mau tetap tinggal di Yudea, karena di sana orang-orang Yahudi berusaha untuk membunuh-Nya. Ketika itu sudah dekat hari raya orang Yahudi, yaitu hari raya Pondok Daun. Tetapi sesudah saudara-saudara Yesus berangkat ke pesta itu, Ia pun pergi juga ke situ, tidak terang-terangan tetapi diam-diam. Beberapa orang Yerusalem berkata: “Bukankah Dia ini yang mereka mau bunuh? Dan lihatlah, Ia berbicara dengan leluasa dan mereka tidak mengatakan apa-apa kepada-Nya. Mungkinkah pemimpin kita benar-benar sudah tahu, bahwa Ia adalah Kristus? Tetapi tentang orang ini kita tahu dari mana asal-Nya, tetapi bilamana Kristus datang, tidak ada seorang pun yang tahu dari mana asal-Nya.” Waktu Yesus mengajar di Bait Allah, Ia berseru: “Memang Aku kamu kenal dan kamu tahu dari mana asal-Ku; namun Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, tetapi Aku diutus oleh Dia yang benar yang tidak kamu kenal. Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku.” Mereka berusaha menangkap Dia, tetapi tidak ada seorang pun yang menyentuh Dia, sebab saat-Nya belum tiba” (Yoh 7:1-2.10.25-30)

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Semakin Yesus membuka Diri semakin orang-orang Farisi dan ahli Taurat tidak memahamiNya, dan semakin tergerak untuk menangkapNya alias membungkamNya, sehingga Yesus tidak dapat berbicara seenaknya. Pengalaman yang demikian ini ada kemungkinan juga terjadi dalam kebersamaan kita dimana ketika kita saling membuka diri semakin kelihatan banyak perbedaan dan banyak hal kurang kita fahami atau kurang kita terima, sehingga mendorong kita untuk menyingkirkannya. Dalam hal relasi pasangan suami-isteri yang belum lama menikah kiranya hal ini juga dapat terjadi, mengingat dan memperhatikan pada umumnya pada masa pacaran maupun tunangan orang masih bermain sandiwara, demikian juga dapat terjadi dalam diri para imam, bruder, suster muda, dimana pada masa pendidikan pada umumnya juga masih terjadi sandiwara kehidupan. Semakin kenal, semakin dekat dan semakin lama bergaul dan bekerja bersama akan semakin banyak hal baru yang tidak kita ketahui atau fahami dengan baik. Semoga kita tidak tergerak untuk menyingkirkan atau membungkam mereka yang tak terfahami atau ketahui dengan baik, melainkan bersabarlah pada waktunya kita pasti akan mengetahui dan memahaminya. Untuk itu kita semua hendaknya dengan penuh kesabaran dan rendah hati berusaha saling memahami dan mengetahui dan tentu saja semakin menghayati keterbasan dirinya. Kepada pasangan suami-isteri muda kami harapkan tidak mudah bercerai atau bertengkar karena munculnya perbedaan-perbedaan yang ada. Kepada para pendidik atau guru hendaknya juga memahami dan mengerti perbedaan yang ada dengan para murid atau peserta didik, dan semoga anda tidak memproyeksikan diri pada para murid atau peserta didik.

·   Mari, kita mencobainya dengan aniaya dan siksa, agar kita mengenal kelembutannya serta menguji kesabaran hatinya. Hendaklah kita menjatuhkan hukuman mati keji terhadapnya, sebab menurut katanya ia pasti mendapat pertolongan.” Demikianlah mereka berangan-angan, tapi mereka sesat, karena telah dibutakan oleh kejahatan mereka.Maka mereka tidak tahu akan rahasia-rahasia Allah, tidak yakin akan ganjaran kesucian, dan tidak menghargakan kemuliaan bagi jiwa yang murni” (Keb 2:19-22).  Aniaya dan siksa pasti akan dihadapi oleh orang-orang yang bertindak benar, jujur dan disipin, setia dan teratur dalam cara hidup dan cara bertindak. Aniaya dan siksa itu dapat dapat berasal dari dirinya sendiri atau dari luar. Untuk berusaha hidup suci dan murni memang tak akan terlepas dari aneka tantangan, hambatan dan masalah, namun demikian hadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan bersama dan bersatu dengan Allah, karena Allah pasti menolong atau membantu kita yang lemah dan rapuh ini. Jadikan aniaya dan siksaan sebagai wahana penyucian atau pemurnian diri, bagaikan emas dibakar untuk mencari kemurniannya. Dalam menghadapi aniaya dan siksaan hendaknya kita tetap lemah lembut dan sabar, karena dengan demikian kita juga akan semakin lemah lembut dan sabar, dan orang yang lemah lembut serta sabar menjadi kesayangan Allah. Semua orang sehat kiranya mendambakan disayangi oleh Allah kapan pun dan dimana pun, maka baiklah jika senantiasa lemah lembut dan sabar dalam menghadapi gelora kehidupan yang sering menghempas dan mengombang-ambingkan kita. Hendaknya tetap berpegang teguh pada kehendak Allah dalam menghadapi gelora kehidupan yang mengombang-ambingkan kehidupan kita.

Wajah TUHAN menentang orang-orang yang berbuat jahat untuk melenyapkan ingatan kepada mereka dari muka bumi. Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya.TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu” (Mzm 34:17-20)

Ign 15 Maret 2013

14Maret

“Aku tidak memerlukan hormat dari manusia.”

(Kel 32:7-14; Yoh 5:31-47)

“Kalau Aku bersaksi tentang diri-Ku sendiri, maka kesaksian-Ku itu tidak benar; ada yang lain yang bersaksi tentang Aku dan Aku tahu, bahwa kesaksian yang diberikan-Nya tentang Aku adalah benar. Kamu telah mengirim utusan kepada Yohanes dan ia telah bersaksi tentang kebenaran; tetapi Aku tidak memerlukan kesaksian dari manusia, namun Aku mengatakan hal ini, supaya kamu diselamatkan. Ia adalah pelita yang menyala dan yang bercahaya dan kamu hanya mau menikmati seketika saja cahayanya itu. Tetapi Aku mempunyai suatu kesaksian yang lebih penting dari pada kesaksian Yohanes, yaitu segala pekerjaan yang diserahkan Bapa kepada-Ku, supaya Aku melaksanakannya. Pekerjaan itu juga yang Kukerjakan sekarang, dan itulah yang memberi kesaksian tentang Aku, bahwa Bapa yang mengutus Aku. Bapa yang mengutus Aku, Dialah yang bersaksi tentang Aku. Kamu tidak pernah mendengar suara-Nya, rupa-Nya pun tidak pernah kamu lihat, dan firman-Nya tidak menetap di dalam dirimu, sebab kamu tidak percaya kepada Dia yang diutus-Nya. Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu. Aku tidak memerlukan hormat dari manusia.” (Yoh 5:37-41), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Ketegangan antara Yesus dengan ‘musuh-musuhNya’, orang-orang Farisi dan ahli Taurat, mulai muncul ketika Yesus menyatakan “Jati DiriNya” sebagai utusan Allah Bapa. Apa yang dilakukan oleh Yesus merupakan kesaksian sebagai ‘utusan Allah Bapa’, dan siapapun yang percaya kepada ajaran dan pewartaanNya maupun cara hidup dan cara berindakNya akan menerima hidup kekal, bahagia selamanya di sorga setelah dipanggil Tuhan atau meninggal dunia. Orang-orang Farisi maupun para ahli Taurat meskipun mereka mempelajari Kitab Suci, yang tidak lain berbicara perihal Yesus, sebagai ‘utusan Allah Bapa’, tidak percaya kepadaNya serta utusan-utusan Allah Bapa lainnya seperti Yohanes Pembaptis maupun para nabi yang hadir sebelumnya. Sabda hari ini mengingatkan kita semua agar kita percaya kepada ‘utusan-utusanNya’ maupun tidak gila hormat dari manusia, karena kita telah berbuat baik atau melakukan apa yang baik, menyelamatkan dan membahagiakan. Seorang utusan memang tidak akan dihormati oleh manusia, karena yang bersangkutan hanya meneruskan pesan orang lain yang harus disampaikan kepada orang lain juga, dengan kata lain dari dirinya hanya menyumbangkan tenaga dan waktunya. Sebagai orang beriman yang dipanggil untuk menjadi saksi iman dalam hidup sehari-hari, hendaknya kita juga tidak gila hormat dari saudara-saudari kita, bahkan siapapun yang setia menjadi saksi iman pada masa kini akan disingkirkan atau dilecehkan. Orang jujur dan disiplin dalam pelayanan dan kerja di masyarakat, bangsa atau Negara kita ini pasti akan menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan, atau bahkan diancam untuk disingkirkan oleh mereka yang gila harta benda, gila hormat dan gila kedudukan atau jabatan.

·   “Berbaliklah dari murka-Mu yang bernyala-nyala itu dan menyesallah karena malapetaka yang hendak Kaudatangkan kepada umat-Mu. Ingatlah kepada Abraham, Ishak dan Israel, hamba-hamba-Mu itu, sebab kepada mereka Engkau telah bersumpah demi diri-Mu sendiri dengan berfirman kepada mereka: Aku akan membuat keturunanmu sebanyak bintang di langit, dan seluruh negeri yang telah Kujanjikan ini akan Kuberikan kepada keturunanmu, supaya dimilikinya untuk selama-lamanya.” (Kel 32:12-13), demikian doa permohonan Musa kepada Allah. Allah memang Mahakasih dan Maha-pengampun, dan siapapun yang dengan rendah hati mohon kasih pengampunanNya pasti akan dikabulkan. Memang kita sering menerima ancaman sebagaimana dialami oleh bangsa terpilih dalam perjalanan menuju Tanah Terjanji, yaitu ancaman dimusnahkan ketika kita tidak setia dalam perjalanan, yaitu setia pada kehendak dan perintah Allah. Kiranya selama mawas diri dalam aneka kegiatan Prapaskah kita juga menerima kelemahan dan dosa-dosa kita, maka hendaknya tidak takut untuk menghadap Allah mohon kasih pengampunan, dan tentu saja mohon kasih pengampunan kepada mereka yang telah kita sakiti atau lukai dengan perilaku, cara hidup dan cara bertindak kita yang tak bermoral. Percayalah bahwa jika kita dengan rendah hati mohon kasih pengampunan kepada saudara-saudari kita pasti akan diampuni. Tentu saja kita sebagai orang beriman juga dipanggil untuk dengan murah hati mengampuni saudara-saudari kita yang mohon pengampunan kepada kita. Dengan kata lain marilah kita hidup saling mengampuni sehingga kehidupan bersama kita dimana pun dan kapan pun enak, dalam dalam sejahtera baik lahir maupun batin, fisik maupun spiritual.

Mereka membuat anak lembu di Horeb, dan sujud menyembah kepada patung tuangan; mereka menukar Kemuliaan mereka dengan bangunan sapi jantan yang makan rumput. Mereka melupakan Allah yang telah menyelamatkan mereka, yang telah melakukan hal-hal yang besar di Mesir: perbuatan-perbuatan ajaib di tanah Ham, perbuatan-perbuatan dahsyat di tepi Laut Teberau” (Mzm 106:19-22)

Ign 14 Maret 2013