Category: Renungan Iman Katolik

Salib Kristus Membuka Jalan Menuju Kehidupan Kekal

Home RENUNGAN Salib Kristus Membuka Jalan Menuju Kehidupan Kekal

HARI ini Gereja merayakan Pesta Salib Suci. Kita diajak untuk merenungkan dan menghayati kembali akan makna salib.

Kasih Allah Bapa kepada manusia sungguh besar, sehingga Ia mengutus Putra TunggalNya, Yesus Kristus ke dunia. Dengan rela, Yesus mengurbankan diri agar setiap orang memperoleh keselamatan. Dengan salib, Ia mematahkan belenggu dosa dan mengalahkan kuasa maut. Salib yang merupakan lambang penghinaan, diubahNya menjadi tanda kemenangan.

Salib Kristus telah membuka jalan bagi kita untuk meraih kehidupan kekal. Senantiasa lambungkan ucapan syukur bagiNya. Mari hidup di dalam kasihNya dan pikul salib kehidupan dengan sabar, tabah dan setia, mengikuti jejak langkahNya. BersamaNya kita pasti tiba di tujuan akhir, bersatu dengan Allah di dalam surga.

Sumber: Sesawi.net

Tak Mungkin Mengabdi Dua Tuan, Lalu?

Ilustrasi (Ist)

 REKAN-rekan yang baik!

Perumpamaan mengenai bendahara yang tidak jujur dalam Luk 16:1-8a dilanjutkan dengan amatan bahwa kepintaran anak-anak dunia ini melebihi anak-anak terang (ayat 8b-9) dan dengan pepatah barangsiapa setia dalam perkara kecil bisa dipercaya pula dalam perkara besar (ayat 10-12). Petikan yang dibacakan pada hari Minggu Biasa XXV tahun C ini berakhir dengan penegasan bahwa tak mungkin mengabdi dua tuan (ayat 13).

Secara umum dapat dikatakan petikan ini berisi ajakan untuk menemukan jalan lurus dalam liku-liku kehidupan di dunia ini. Dengan kata lain, ada ajakan bagi orang beriman agar juga berani belajar dari kenyataan dalam kehidupan yang acap kali terasa berlawanan dengan cara hidup orang baik-baik.

Mengabdi dua tuan, tak mungkin

Marilah kita mulai dengan akhir petikan itu, yaitu ayat 13. Di situ ditegaskan bahwa tak mungkin mengabdi kepada dua tuan. Alasannya, cepat atau lambat akhirnya orang akan memihak kepada yang satu dan meninggalkan yang lain. Tak mungkin menyembah Allah dan pada saat yang sama mengabdi Mamon, maksudnya uang, harta, kedudukan…semua yang serba duniawi.

Ini pernyataan atau peringatan?

Bentuknya memang pernyataan. Tapi dapat pula dimengerti sebagai peringatan agar murid Yesus tidak berhati mendua. Memang dalam hal apapun sikap mendua tidak baik. Namun ini kan bukan barang baru. Sama dengan peringatan agar melepaskan “orang tua, sanak saudara, diri sendiri, milik” agar menjadi murid yang sejati seperti terungkap dalam Luk 14:25-33. Namun bukan barang baru pula bila dalam praktiknya komitmen utuh seperti itu tidak mudah. Arahnya memang jelas, tapi dalam pelaksanaannya kerap orang gagal mengabdikan diri dengan sepenuh hati.

Lalu untuk apa mengutik-utik perkara yang tak bisa dielakkan ini?

Kenyataan hidup sering menampilkan wajah yang berbeda daripada yang diidealkan begitu saja. Apakah Injil mau menyederhanakan kehidupan? Bila demikian, yang kita dengar bukan Warta Gembira melainkan serangkai omongan saleh tapi basi dan tidak banyak membantu orang semakin mengenali liku-liku kehidupan yang nyata. Begitukah? Untuk menjawabnya baiklah diperiksa perumpamaan mengenai bendahara yang tidak jujur. Petikan ini juga berguna untuk lebih memahami tuntutan menjadi murid sejati dalam Luk 14:25-33 tadi.

Di manakah ketidakjujuran bendahara dalam perumpamaan ini? Pada perbuatan memotong hutang yang diceritakan dalam ayat 6-7 atau karena telah “menghambur-hamburkan” milik tuannya seperti disebut dalam ayat 1? Dengan kata lain, karena kolusi, kongkalikong dengan langganan dan merugikan pemilik perusahaan atau pada perbuatan korupsi dan memboroskan uang perusahaan bagi keperluan sendiri? Lalu kenapa ia dipuji?

Apa perkaranya?

Bendahara tadi kiranya pernah mengadakan jual beli minyak dan gandum dengan maksud kurang jujur. Jumlah yang disebut, 100 tempayan minyak dan 100 pikul gandum adalah jumlah yang besar, dan tetap besar setelah dipotong menjadi 50 tempayan dan 80 pikul. Jelas pula dari jumlah yang disebutkan itu ia tidak berurusan dengan konsumen, tetapi dengan pedagang lain.

Transaksi besar seperti ini di mana-mana lazimnya tidak dibayar lunas seketika. Langganan memiliki rekening pada perusahaan dagang tempat bendahara itu bekerja. Dalam hal ini bendahara tadi telah berlaku tak jujur. Yang sebetulnya 50 tempayan dicatatnya sebagai 100 tempayan, yang 80 pikul didaftarnya sebagai 100 pikul. Ia tentu berpikir akan dapat mengantongi keuntungan pembayaran nanti.

Malang baginya, perbuatannya yang tak terpuji itu terendus dan rupa-rupanya ada keluhan yang sampai ke telinga pemilik perusahaan. Karena itu pemilik meminta pertanggungjawaban. Bendahara itu menyadari, kini ia tak bisa enak-enak saja. Ia akan diperkarakan. Memang ia tidak langsung dipecat. Ia baru diminta memberi laporan. Di sinilah titik balik dalam perumpamaan tadi. Bendahara tadi mencari upaya bagaimana melepaskan diri dari krisis ini. Terpikir olehnya, mumpung masih ada waktu, baiklah cepat-cepat memperbaiki keadaan.

Caranya lihai. Ia membersihkan pembukuan yang palsu yang tadinya diperhitungkan akan menguntungkannya. Inilah sebetulnya yang terjadi dalam pemotongan utang yang diceritakan dalam ayat 6 dan 7.

Perlu kita pahami cerita ini bukan sebagai laporan peristiwa. Bukan nasihat agar para koruptor bertobat. Ini perumpamaan yang disampaikan untuk mengajak para murid berpikir bagaimana bisa menghadapi liku-liku kehidupan ini dengan sikap yang cocok. Pembaca zaman dulu juga sadar bahwa yang diceritakan ialah perumpamaan dan tidak akan berusaha mencek dengan kenyataan cara berdagang atau mempertanyakan rinciannya. Malah bisa kita andaikan para pembaca dulu tidak mengalami kesukaran di dalam menangkap tujuan perumpamaan itu.

Mereka langsung melihat di mana ketidakjujuran si bendahara, yakni dalam hal memboroskan milik yang dipercayakan kepadanya agar dikelola dengan baik, tapi akhirnya mau dikantonginya sendiri. Ini jelas dari tuduhan yang dikenakan kepadanya pada ayat 1. Jelas pula mengapa pemilik meminta pertanggungjawaban dan segera akan memecatnya.

Oleh karena itu transaksi yang diceritakan dalam ayat 6-7, yakni mengurangi jumlah hutang itu, sebaiknya dimengerti sebagai usaha si bendahara membenahi tindakan korupsi yang dilakukannya sebelumnya. Dengan demikian juga tidak sukar mengerti mengapa ia dipuji. Kita tidak tahu bagaimana kelanjutan karier bendahara itu. Seluk beluk selanjutnya itu tidak relevan bagi sebuah perumpamaan. Lagipula perumpamaan ini bukan dimaksud untuk menceritakan realitas transaksi dagang melainkan untuk menyoroti kemauan serta kecekatan orang untuk berubah dalam situasi krisis. Karena itulah ia dipuji.

Siapa yang memuji sang bendahara?

Disebutkan dalam ayat 8: “Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya daripada anak-anak terang.”

Dalam teks Yunaninya, ho kyrios, “tuan itu”, bisa merujuk pada tuannya sang bendahara, yakni pemilik perusahaan, tetapi juga bisa pada Tuhan Yesus. Bila yang dimaksud pemilik, maka ayat 8 termasuk perumpamaan sendiri. Tetapi bila merujuk pada Yesus, maka ayat itu tampil sebagai kata-kata Yesus mengenai perilaku bendahara dalam perumpamaan tadi.

Tambahan pula, bila Yesus-lah yang dimaksud, maka ayat 8b, yakni “Sebab anak-anak dunia ini…” dapat membantu mengerti mengapa ayat 9 memuat nasihat Yesus agar orang tahu mengikat persahabatan juga dengan memakai Mamon (= uang) yang diperoleh dengan tidak jujur.

Persoalan siapa yang memuji ini sering membingungkan para penafsir. Namun, bila uraian mengenai di mana letak ketidakjujuran si bendahara di atas diterima, siapa yang memuji tidak jadi masalah lagi. Bisa saja sang pemilik, bisa pula Yesus. Memang bendahara itu pintar dan patut dipuji, baik oleh pemilik dalam perumpamaan itu maupun oleh Yesus sendiri.

Kehidupan ini memiliki banyak segi. Situasi yang kritis kerap bisa diatasi dengan mengubah diri. Bendahara yang sedang menghadapi kendala bakal dipecat itu berhasil mengatur siasat sehingga keadaannya tidak seburuk seperti bila diam menunggu konsekuensi kelakuannya sendiri dulu. Tentu saja ia harus berhati-hati sehingga tindakannya kali ini tidak memperburuk keadaan.

Bahwasanya ia dipuji entah oleh tuannya entah oleh Yesus justru membuktikan bahwa ia berhasil membawakan diri dengan baik dalam situasi yang gawat. Bahkan amatan mengenai anak-anak dunia yang lebih pintar daripada anak-anak terang dalam ayat 8b bisa dianggap sebagai saran agar orang belajar dari kecerdikannya.

Mamon yang tak jujur

Bagaimana tafsiran ayat 9? Ayat ini memuat nasihat Yesus agar orang mengikat persahabatan dengan menggunakan “Mamon yang tak jujur” sehingga bila Mamon itu tak dapat menolong lagi, orang akan diterima ke dalam Kemah Abadi?”

Maksud perkataan itu kiranya dapat diutarakan kembali sebagai berikut “Uang tak halal (uang hasil korupsi, keuntungan karena pengelolaan buruk yang disengaja – perkara yang disebut dalam ayat 1) memang untuk sementara dapat menjadi sandaran hidup – mengikat persahabatan. Namun satu ketika akan terbongkar (tuduhan, ayat 2). Oleh karena itu berusahalah memegang yang bisa memberimu rasa aman sejati (“diterima dalam Kemah Abadi”)!”

Pembaca yang peka akan teringat Mazmur 15 yang memberi rincian lebih jauh mengenai siapa yang akan diterima tinggal bersama Tuhan di kemah-Nya yakni orang yang kelakuannya tak bercela, yang bertindak adil, yang hidup sesuai dengan kebenaran, tidak memfitnah, tidak berbuat jahat, tidak mendatangkan aib bagi sesama, tidak mengecilkan kaum terpojok, menghormati orang yang bertakwa, yang memiliki integritas, yang tidak memeras dan tidak mau dibayar untuk merudapaksa orang yang tak bersalah.

Berpijak pada kenyataan

Sang bendahara ternyata berani dan berhasil membenahi diri dalam urusan “uang yang diperoleh dengan tidak jujur” dan dalam hal ini ia bisa disebut “setia mengenai harta orang lain”, baik harta sang pemilik perusahaan maupun para langganan. Seandainya ia tidak berbuat demikian, ia akan mengalami celaka. Ayat 10-12 sebetulnya merumuskan kembali perkara itu dalam bentuk pepatah.

Pandai-pandailah membawa diri dalam urusan duniawi, dalam “urusan kecil” yang bakal memberi kredibilitas dalam perkara yang lebih luhur, dalam urusan yang menyangkut hal-hal kerohanian pula.

Pada awal uraian ini disebutkan bahwa ayat 13 tidak dimaksud semata-mata sebagai peringatan bahwa orang tak bisa mengabdi Allah secara setengah-setengah. Itu sudah jelas. Dan pendengar Injil tentunya bukan orang yang mau terus setengah-setengah. Perkaranya bukan niatan, tapi kenyataan sering membuat orang tidak sampai menjalani komitmen iman secara utuh. Lalu bagaimana?

Perumpamaan bendahara yang tak jujur tapi cerdik tadi membuat kita melihat bahwa Injil mengajarkan sikap mau dan berani berubah demi mencari jalan yang bakal menyelamatkan. Juga diajarkan sikap mau belajar dari cara-cara duniawi – dari “urusan kecil” yang disebut ayat 11. Namun seperti dinasihatkan dalam ayat 9, perlu ada kejelian melihat mana yang sungguh menjamin bagi kebahagiaan.

Dengan menggemakan inti ajaran Mazmur 15, Injil menghubungkan urusan duniawi ini dengan tanggung jawab dan kesadaran moral yang bakal menuntun orang ke kebahagiaan kekal bersama Allah. Injil mendorong orang memikirkan bagaimana kemanusiaan yang penuh liku-liku itu dapat menjadi jalan bagi anak-anak terang pula. Dalam arti itulah Injil membuka jalan ke Kemah Abadi.

Salam hangat,

A. Gianto

Sumber: Sesawi.net

Tags : ,

Pengalaman Dikasihi Tuhan Membuahkan Pelayanan

BANGSA Israel memandang wanita sebagai ciptaan Tuhan yang lemah sehingga wanita hanya menduduki golongan masyarakat kelas dua. Status dan kedudukan wanita lebih rendah daripada pria, dengan demikian wanita tidak mempunyai kesempatan untuk berkarya.

Yesus tidak pernah membedakan pria dan wanita, siapa saja boleh ikut ambil bagian untuk berkarya bersamaNya. Di dalam rombonganNya, terdapat beberapa wanita yang ikut berkeliling menemani Dia dalam mewartakan Injil. Pengalaman dikasihi Yesus, mendorong mereka untuk melayani Dia dan para murid, dengan harta yang mereka miliki.

Tuhan memanggil setiap orang untuk bekerja di ladangNya. Pria – wanita, muda – tua, kaya – miskin, semua sama di hadapanNya. Setiap pribadi dianugerahi talenta yang unik, yang berguna untuk saling melengkapi di dalam karya dan pelayanan.

Sadari bahwa kita semua telah menerima keselamatan berkat pengurbananNya di salib. Seluruh kekayaan, kepandaian, bahkan keluarga yang kita miliki pun adalah anugerahNya, bukan semata-mata karena kehebatan kita. Kebaikan dan kasihNya seharusnya menggerakkan hati kita untuk bersedia menanggapi panggilanNya.

Mari ungkapkan syukur kita kepadaNya dengan membina persatuan dan bekerja sama untuk mewartakan kasihNya kepada setiap orang yang kita jumpai.

Sumber: Sesawi.net

Bunda Maria Teladan Iman Dan Kesetiaan

BUNDA Maria adalah ibu, murid dan sahabat sejati bagi Yesus. Ia selalu hadir dan mendampingi Yesus dalam suka dan duka.

Semenjak Bunda menyatakan kesediaannya untuk terlibat dalam rencana keselamatan Allah, hidupnya tidak pernah terlepas dari kesulitan. Penderitaan yang luar biasa dialaminya saat menyaksikan putra tunggalnya difitnah secara keji, dihina, didera bahkan dipaksa memanggul salib ke Bukit Golgota, oleh bangsanya sendiri. Walau Bunda tidak memahami semua peristiwa yang terjadi, namun Bunda tetap setia mendampingi Yesus, berdiri di kaki salib. Kehadirannya memberi kekuatan bagi Yesus untuk menyelesaikan tugas dari Allah Bapa, mengurbankan diri untuk menebus dosa manusia.

Peringatan pada hari ini, Santa Perawan Maria Berdukacita, mengundang kita untuk meneladan sikap Bunda Maria yang taat dan setia sampai akhir, di dalam segala situasi dan kondisi. Mari percayakan seluruh hidup kita ke dalam penyelenggaraan Tuhan, selalu menimba kekuatan daripadaNya  sehingga pada saat-saat tergelap dalam hidup kita, kita dapat tetap setia, beriman teguh dan tak pernah kehilangan pengharapan kepadaNya. Semoga ketaatan dan kesetiaan kita kepadaNya kelak membuahkan anugerah kehidupan abadi.

Sumber: Sesawi.net

Jesus’ Universal Love

MY daily reflection and prayer:
Friday, September 16, 2016
Twenty-fourth Week in Ordinary Time
Memorial of Saints Cornelius, Pope, and Cyprian, Bishop, Martyrs

Dear my friends,
Here is the Gospel for us today according to St. Luke 8:1-3

Jesus journeyed from one town and village to another, preaching and proclaiming the good news of the kingdom of God. Accompanying him were the Twelve and some women who had been cured of evil spirits and infirmities, Mary, called Magdalene, from whom seven demons had gone out, Joanna, the wife of Herod’s steward Chuza, Susanna, and many others who provided for them out of their resources.

This is the Gospel of the Lord. Praise to you Lord Jesus Christ.

***

THE Gospel today tells us about Jesus’ universal charity. He journeyed from one town and village to another, preaching and proclaiming the good news of the kingdom of God.

Jesus chose his twelve apostles from many different backgrounds. Matthew was a tax collector. Peter, James and John were fisherman. Bartholomew was very skeptic but honest. Judas Iscariot was more “sophisticated” with his political character. They accompanied him.

Not only did he choose men to be his close collaborators, but also some women supported him. They provided for him out of their resources. They were Mary Magdalene, Joanna, the wife of Herod’s steward, Susanna, and many others.

In the Perpetual Adoration of the Eucharist we adore Jesus Christ who has assigned us different roles, but he saved and transformed our lives all the same. We are called to build the Kingdom at all levels of our secularized world. Do we realize that he calls us to accompany him?

Let’s pray: Lord Jesus Christ, you give us the example of unconditional love for each and every person. When you are at the center of any relationship, differences can not only be overcome, it can become points of strength as well. You do not care what our background is or how many sins we have committed. Your mercy is infinite and everlasting! Thank you for your love. We beg you to teach us to love without limits now and forever. Amen.

Sumber: Sesawi.net

Sabda Hidup: Kamis, 15 September 2016

Peringatan Wajib

SP Maria Berdukacita

warna liturgi Putih

Bacaan

1Kor. 15:1-11; atau Ibr. 5:7-9; Mzm 31:2-3a,3b-4,5-6,15-16, 20; Yoh. 19:25-27 atau Luk. 2:33-35. BcO Est. 3:1-11

Bacaan Injil: Yoh. 19:25-27.

25 Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. 26 Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu!” 27 Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.

Renungan:

HUKUMAN membuat orang yang terkena menjadi malu. Bahkan keluarganya pun ikut malu. Banyak keluarga yang salah satu anggotanya terkena hukuman berusaha menghindari perjumpaan dengan sesamanya, bahkan tidak sedikit yang malu berjumpa dengan sahabatnya. Hukuman itu membawa duka.

Maria begitu berduka. Anak yang dia kasihi harus menanggung hukuman salib. Banyak orang memperolok, mensesah dan akhirnya mereka memajang Sang Putera di tiang gantungan salib. Hukuman yang sangat berat. Hatinya berduka. Namun ia tidak bersembunyi. Ia menemani Sang Putera. Ia selalu berada di samping-Nya. “Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya” (Yoh 19:25).

Mencontoh ibu Maria kita semestinya berada di dekat saudara sahabat kita, walau mereka berada dalam situasi terhukum. Bagaimanapun mereka membutuhkan teman menjalani masanya. Apalagi kalau ia terhukum tanpa melakukan kesalahan yang dituduhkan. Maria yang berduka mempunyai daya menguatkan mereka yang terluka.

Kontemplasi:

Bayangkan kisah dalam Injil Yoh. 19:25-27.

Refleksi:

Bagaimana tetap menjadi sahabat mereka yang berduka?

Doa:

Bunda Maria, engkau sungguh seorang ibu yang penuh cinta. Engkau selalu ada di dekat Sang Putra, walau Ia berduka. Dukamu tak melemahkan dayamu menguatkan yang terluka. Amin.

Perutusan:

Aku akan menjadi sahabat yang berduka. -nasp-

Sumber: Sesawi.net

Menjadi Kantong Baru bagi Kristus

Jumat, 2 September 2016

Jumat Pertama
Pekan Biasa XXII
1Kor 4:1-5; Mzm 37:3-6.27-28. 39-40; Luk 5:33-39

Yesus bersabda, “Tetapi anggur baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula.”

DALAM Injil hari ini, Yesus Kristus bersabda kepada para ahli Taurat dan kaum Farisi, “Anggur baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula.” Ia menantang mereka untuk memiliki paradigma (wawasan) baru dalam menerima Dia. Inilah pelajaran yang dapat kita petik dari sabda-Nya hari ini.

Menerima dan mengikuti Dia dan “Kabar Baik”-Nya sesungguhnya, kita perlu menjadi ciptaan baru. Kita harus meninggalkan “diri kita yang lama” agar menjadi “ciptaan baru” dalam Yesus Kristus (bdk. Kolose 3:9-10). Itulah makna sabda Yesus tentang “anggur baru” dan “kantong yang baru”.

Sesungguhnya, Adorasi Ekaristi Abadi laksana kantong baru untuk mengikuti Yesus Kristus. Di sana kita mengambil langkah baru untuk meninggalkan diri kita yang lama untuk menyembah Yesus Kristus dengan penuh kasih, Yesus Kristus yang selalu menantang kita untuk membarui hidup kita. Apakah kita siap menjadi kantong-kantong anggur yang baru dalam mengikuti Kristus?

Tuhan Yesus Kristus, dalam hidup kami sehari-hari, kami mudah gelisah menghakimi secara kasar, bahkan pada umat lain di Gereja yang tidak melakukan hal-hal yang kami lakukan. Kadang kami menghakimi sesama dengan tolok ukur yang salah seperti para ahli Taurat dan Farisi. Terima kasih atas undangan-Mu pada kami untuk menjadi ciptaan baru dalam Dikau. Bantulah kami untuk selalu fokus dalam mengikuti Dikau dari pada menghakimi sesama. Anugerahilah kami rahmat untuk menghayati hidup Gereja yang dibangun dari Ekaristi dan Adorasi dengan kasih dan penuh semangat. Ubahlah kami menjadi ciptaan baru kini dan selamanya. Amin.

Sumber: Sesawi.net

Hidup Baru

SAAT kita mengambil keputusan untuk menerima Yesus di dalam hidup kita, kita harus memiliki tekad yang teguh untuk meninggalkan cara hidup yang lama. Kita harus bertobat, tidak saja menyesali seluruh perbuatan dan dosa kita yang lalu, namun juga harus berbalik arah, membelakangi semua hal yang tidak berkenan di hatiNya.

Buang segala kebencian, dendam, amarah, kesombongan, keserakahan, iri hati yang bersarang di hati. Miliki sebuah hati yang baru, yang terbuka akan firmanNya dan bersedia dibentuk olehNya sehingga kita bertumbuh di dalam kasih dan kebenaranNya. Dengan demikian kita menjalani suatu hidup baru, hidup yang dipimpin olehNya, yang berbuahkan karya dan pelayanan yang tulus dan penuh kasih.

Mari menjadi kantung anggur yang baru bagi Yesus, sang anggur baru; dengan memperkenankan Dia bertahta di dalam hati kita dan merajai seluruh kehidupan kita.

Sumber: Sesawi.net

Tags :

Sabda Hidup: Jumat, 2 September 2016

Hari Biasa

warna liturgi Hijau

Bacaan

1Kor. 4:1-5; Mzm. 37:3-4,5-6,27-28,39-40; Luk. 5:33-39. BcO 2Tim. 2:22 – 3:17

Bacaan Injil: Luk. 5:33-39.

33 Orang-orang Farisi itu berkata pula kepada Yesus: “Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian juga murid-murid orang Farisi, tetapi murid-murid-Mu makan dan minum.” 34 Jawab Yesus kepada mereka: “Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa, sedang mempelai itu bersama mereka? 35 Tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa.” 36 Ia mengatakan juga suatu perumpamaan kepada mereka: “Tidak seorangpun mengoyakkan secarik kain dari baju yang baru untuk menambalkannya pada baju yang tua. Jika demikian, yang baru itu juga akan koyak dan pada yang tua itu tidak akan cocok kain penambal yang dikoyakkan dari yang baru itu. 37 Demikian juga tidak seorangpun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian, anggur yang baru itu akan mengoyakkan kantong itu dan anggur itu akan terbuang dan kantong itupun hancur. 38 Tetapi anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula. 39 Dan tidak seorangpun yang telah minum anggur tua ingin minum anggur yang baru, sebab ia akan berkata: Anggur yang tua itu baik.”

Renungan:

BANYAK kejadian orang setelah pensiun lalu tampak lesu dan tak berdaya. Seakan-akan ia merasa tak berguna lagi. Tidak ada lagi orang yang bisa diperintah seperti kala ia menjadi pimpinan di kantornya. Tidak sedikit dari mereka lalu sakit-sakitan dan cepat meninggal.

Yesus bersabda, “tidak seorangpun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian, anggur yang baru itu akan mengoyakkan kantong itu dan anggur itu akan terbuang dan kantong itupun hancur” (Luk 5:37). Anggur yang baru mesti dimasukkan kepada kantong anggur yang baru.

Masa pensiun adalah masa baru bagi orang yang mengalaminya. Maka ia pun mesti mewadahinya dengan cara baru. Tidak bisa ia menyamakan dengan masa dia aktif bekerja. Cara baru tersebut adalah sadar bahwa dirinya sudah pensiun dan menempatkan orang-orang di sekitarnya sebagaimana adanya, bukan anak buah atau karyawannya. Maka ia pun mesti menerima dan belajar pada cara hidup yang baru.

Kontemplasi:

Bayangkan dirimu memasuki masa pensiun.

Refleksi:

Apa yang perlu kaupersiapkan untuk menghadapi jenjang-jenjang baru dalam hidupmu?

Doa:

Seiring dengan perubahan waktu hidupku pun menuntut cara-cara baru. Semoga aku mampu menjalaninya dengan baik. Amin.

Perutusan:

Aku akan menyiapkan hidupku untuk siap menjalani jenjang-jenjang hidup yang harus kulalui. -nasp-

Sumber: Sesawi.net

Adoring Jesus Christ As Mother Mary

MY daily reflection and prayer:
Thursday, September 15, 2016
Twenty-fourth Week in Ordinary Time
Memorial of Our Lady of Sorrows

Dear my friends,
Here is the Gospel for us today according to St. John 19: 25-27

Standing by the cross of Jesus were his mother and his mother’s sister, Mary the wife of Clopas, and Mary of Magdala. When Jesus saw his mother and the disciple there whom he loved, he said to his mother, “Woman, behold, your son.” Then he said to the disciple, “Behold, your mother.” And from that hour the disciple took her into his home.

This is the Gospel of the Lord. Praise to you Lord Jesus Christ.

***

TODAY is Memorial of Our Lady of Sorrows. Mother Mary, the Mother of Jesus stood faithfully by the cross of Jesus Christ. At the time, Jesus gave us his Mother at the foot of his cross. And today, we can learn to grow in our filial love for Mary, his Mother and ours.

It’s the reason the Church calls Mother Mary “Our Lady of Sorrows”. The first announcement of her vocation by the Archangel Gabriel mentioned nothing about it, being filled only with messianic promises. However, soon after Jesus’ birth, Simeon completed the dimensions that were to enlighten her vocation: “…and a sword will pierce your heart that the thoughts of many might be revealed”.

Recognizing the fulfillment of her calling in the accompanying of her Son during his crucifixion, Mother Mary did so with a desire to fulfill God’s mysterious plan faithfully. She was standing closely to Jesus with all the sorrow that this implied for her.

In the Perpetual Adoration of the Eucharist we adore Jesus Christ like Mother Mary at Jesus’ foot of the cross. There we offer our pain and sorrow to Jesus as Mother Mary.

Let’s pray: Lord Jesus Christ, thank you for giving us your Mother at the foot of the cross. Help us to grow in our filial love for Mary, your Mother and ours now and forever. Amen.

Sumber: Sesawi.net