Renungan Harian

Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Renungan Harian - Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Anak-anak Dimata Yesus

Ayat bacaan: Matius 18:4
=================
“Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga.”

Melihat anak-anak kecil di sekolah minggu selalu menarik. Ketika ditanya apa cita-cita mereka kelak, mereka semua dengan sangat pe-de menyampaikan impian mereka masing-masing. Ada yang kepingin jadi dokter, insinyur, presiden, pilot, pengusaha, ada yang punya cita-cita lebih modern seperti jadi game developer, desain grafis terkenal, ada yang tertarik di dunia seni sebagai penyanyi atau musisi, ada juga yang dengan bangga berkata ingin jadi seperti ayahnya. Apa yang menarik bagi saya adalah mereka menyampaikannya dengan sangat lugas dan yakin. Bahwa untuk mencapai itu tidak mudah, itu tampaknya belum mereka pikirkan. Mereka hanya percaya dan berharap bahwa suatu ketika nanti mereka bisa mencapai apa yang mereka cita-citakan. Pandangan mereka lugu dan polos. Seorang anak berkata bahwa ia percaya bisa mencapai itu karena dia percaya Tuhan akan mengabulkan impiannya, dan itu dikatakan tanpa ragu sedikitpun. Bandingkan dengan kita yang pikirannya sudah banyak terpolusi oleh masalah hidup sehingga sering kurang yakin dalam berdoa atau malah lupa berdoa ditengah kesibukan sehari-hari.

Keluguan anak kecil memang membuat mereka bisa lebih sederhana dalam memandang hidup. Mereka dengan yakin bisa memasang cita-cita setinggi langit tanpa harus dipengaruhi oleh logika-logika yang biasanya dimiliki orang dewasa mengenai mungkin dan tidaknya hal itu terjadi. Kepolosan mereka dalam berdoa pun bisa membuat kita tersenyum. Bagi sebagian orang mungkin terlihat lucu karena mereka belum tahu bagaimana sulitnya hidup ketika mereka dewasa nanti, tapi ternyata bagi Yesus, justru bentuk keluguan anak-anak ini seharusnya kita teladani. Ketika kita sudah terpengaruh oleh berbagai masalah hidup silih berganti, bisa jadi tanpa sadar kita sudah kehilangan sukacita dan rasa percaya dengan iman yang semakin menipis. Maka kita bisa belajar dari mereka yang belum terkontaminasi berbagai keraguan lewat logika dan pikiran manusiawi, yang kenyataannya justru sering menjadi penghalang utama dalam mencapai keberhasilan. Menurut Yesus, keluguan anak kecil adalah cerminan orang-orang yang dikatakan terbesar dalam Kerajaan Surga.

Perkataan Yesus mengenai anak-anak tercatat dalam Matius 18:1-11. Saat itu murid-murid Yesus tengah berdebat mengenai siapa yang terbesar dalam Kerajaan Surga dan menanyakannya kepada Yesus. Siapa yang terbesar? Mereka mungkin berpikir, itu adalah salah satu dari mereka. Kalau mau dipilih, ya pasti dari murid-murid pilihanNya sendiri, begitu pikir mereka. Mungkin yang paling rajin melayani, paling taat, selalu ikut kemanapun Tuhan Yesus pergi, tidak pernah melawan dan sebagainya. Tapi anehnya untuk menjawab pertanyaan para murid, Yesus justru memanggil seorang anak kecil yang kebetulan lewat disana lalu menempatkan anak-anak itu berdiri ditengah-tengah para murid. Yesus lalu berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga.” (Matius 18:3-4).

Saya membayangkan anak ini pasti bingung dijadikan model oleh Yesus untuk menunjukkan siapa yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Tetapi nyatanya Yesus mengatakan demikian untuk menggambarkan bagaimana pandangan Bapa yang sesungguhnya. Yesus kemudian mengatakan bahwa siapapun yang menyambut anak yang polos dan lugu dalam namaNya, itu akan sama artinya dengan menyambut atau menerima Yesus. (ay 5). Kita bisa melihat bahwa kepolosan, kejujuran dan kerendahan hati anak-anak kecil mendapat penghargaan yang sangat tinggi dari Tuhan. Disana ada jawaban, solusi, pemeliharaan dan perlindungan atau proteksi dari Tuhan, sekaligus dikatakan sebagai yang terbesar dan menjadi yang empunya Kerajaan Surga (Matius 19:1). For of such as these children is the Kingdom of heaven composed. Bukankah itu sangat luar biasa?

Saya katakan proteksi, karena kita bisa melihat bagaimana kerasnya Tuhan dalam menghukum mereka yang ingin merusak keluguan mereka, menyesatkan anak-anak ini untuk tidak percaya lagi kepadaNya. “Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut.” (ay 6). Selanjutnya Tuhan Yesus juga mengingatkan kita agar “jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga.” (ay 10).

Anak-anak kecil yang lugu bisa jadi tidak dipandang serius oleh dunia. Seringkali anak-anak tidak dipedulikan, bahkan dianggap bodoh oleh banyak orang. Tetapi di mata Tuhan ternyata mereka sungguh sangat berharga, bahkan kepolosannya wajib dicontoh oleh orang-orang dewasa. Cara mereka melihat hidup sangat polos. Mereka tidak pintar merangkai kata-kata puitis yang indah dalam berdoa, tetapi mereka akan menyampaikannya dengan sederhana dan jujur. Karena itu jangan pernah meremehkan anak-anak kecil. Dan kita pun jangan pula merendahkan atau menghina orang-orang yang bisa hidup dengan mengadopsi kejujuran/keluguan anak-anak dalam berhubungan dengan Tuhan, apalagi kalau sampai menyesatkan mereka, karena itu artinya kita sedang meminta Tuhan untuk menghukum kita seberat-beratnya. Belajarlah dari kepolosan anak-anak kecil dan jadilah yang terbesar di Kerajaan Surga.

“In their innocence, very young children know themselves to be light and love. If we will allow them, they can teach us to see ourselves the same way.” – Michael Jackson

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho