Category: Renungan Harian Online

Menjadi Pelopor Sejak Muda (2)

(sambungan)

Saya merenungkan apa yang saya lakukan saat masih berusia 20 tahun? Saya seperti kebanyakan dari teman-teman masih menikmati masa muda dengan bersenang-senang. Saya pada waktu itu tidak berpikir untuk menjadi orang benar, hidup lurus, taat aturan dan sebagainya. Yang terpikir hanyalah ingin memberontak dari segala larangan yang seperti membatasi kesenangan saya. Yosia yang sudah jadi raja sekian tahun sebelumnya ternyata tahu apa yang harus ia lakukan sebagai orang benar. Apa yang ia lakukan pada waktu itu tidak mudah, tapi ia memakai kekuasaan yang ia pegang untuk melakukan sesuatu yang benar. Ia menjadi pelopor pada masanya, ia masih menginspirasi dan menjadi teladan bagi kita hari ini, terutama bagi teman-teman yang masih di kisaran usianya.

Selain Yosia ada banyak pula orang-orang yang dipakai sejak usia mudanya. Daud sudah harus bertarung melawan Goliat disaat ia masih belia. Timotius dipakai luar biasa pada usia mudanya. Dan ada banyak lagi contoh di dalam alkitab. Lihatlah pesan Paulus kepada Timotius: ” Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” (1 Timotius 4:12). Jadi usia bukanlah halangan atau hambatan, bukan pula alasan bagi kita untuk menghindari panggilan Tuhan. Berapa muda usia anda, Tuhan memerlukan anda. You can already make a difference even when you are still young and tender. 

Anak-anak muda, hiduplah lurus dari sekarang. Jangan menunda lagi dan terus terlena dalam gaya hidup dan nafsu anak-anak muda duniawi. Jangan terus buka celah bagi iblis untuk masuk dan merusak diri anda. Kepada Timotius, Paulus berpesan: “Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni.” (2 Timotius 2:22). Tidak ada yang tahu kapan akhir jaman akan datang. “Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa saja.” (Markus 13:32). Semua itu merupakan rahasia Ilahi. Jika kita tidak bersiap sejak sekarang, bisa jadi penyesalan akan datang pada saat yang terlambat. Seperti Yosia, jadilah teladan sejak muda. Begitu pula bagi kita semua yang mungkin sedang berada pada posisi pemimpin, jadilah pemimpin yang mencerminkan keteladanan Kristus. Jangan salah gunakan posisi yang dipercayakan Tuhan pada diri anda saat ini, tapi muliakanlah Tuhan dengan itu. Didik dan bimbinglah bawahan anda dengan jujur dan lurus. Demikian pula anak-anak yang sudah dipercayakan Tuhan kepada anda. Bimbinglah mereka menurut jalanNya. “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” (Amsal 22:6). Sebagai orang tua, jadilah pahlawan dengan “busur panah” yang baik untuk mengarahkan “anak-anak panah” anda ke arah yang benar. (Mazmur 127:4). Mari kita semua mulai mengambil komitmen untuk hidup lurus, benar di mata Tuhan sejak dini, karena itu merupakan kewajiban kita semua tanpa memandang usia.

Biarpun masih muda, kita dituntut untuk hidup benar dan menjadi saksi Kristus

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Menjadi Pelopor Sejak Muda (2)

(sambungan)

Saya merenungkan apa yang saya lakukan saat masih berusia 20 tahun? Saya seperti kebanyakan dari teman-teman masih menikmati masa muda dengan bersenang-senang. Saya pada waktu itu tidak berpikir untuk menjadi orang benar, hidup lurus, taat aturan dan sebagainya. Yang terpikir hanyalah ingin memberontak dari segala larangan yang seperti membatasi kesenangan saya. Yosia yang sudah jadi raja sekian tahun sebelumnya ternyata tahu apa yang harus ia lakukan sebagai orang benar. Apa yang ia lakukan pada waktu itu tidak mudah, tapi ia memakai kekuasaan yang ia pegang untuk melakukan sesuatu yang benar. Ia menjadi pelopor pada masanya, ia masih menginspirasi dan menjadi teladan bagi kita hari ini, terutama bagi teman-teman yang masih di kisaran usianya.

Selain Yosia ada banyak pula orang-orang yang dipakai sejak usia mudanya. Daud sudah harus bertarung melawan Goliat disaat ia masih belia. Timotius dipakai luar biasa pada usia mudanya. Dan ada banyak lagi contoh di dalam alkitab. Lihatlah pesan Paulus kepada Timotius: ” Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” (1 Timotius 4:12). Jadi usia bukanlah halangan atau hambatan, bukan pula alasan bagi kita untuk menghindari panggilan Tuhan. Berapa muda usia anda, Tuhan memerlukan anda. You can already make a difference even when you are still young and tender. 

Anak-anak muda, hiduplah lurus dari sekarang. Jangan menunda lagi dan terus terlena dalam gaya hidup dan nafsu anak-anak muda duniawi. Jangan terus buka celah bagi iblis untuk masuk dan merusak diri anda. Kepada Timotius, Paulus berpesan: “Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni.” (2 Timotius 2:22). Tidak ada yang tahu kapan akhir jaman akan datang. “Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa saja.” (Markus 13:32). Semua itu merupakan rahasia Ilahi. Jika kita tidak bersiap sejak sekarang, bisa jadi penyesalan akan datang pada saat yang terlambat. Seperti Yosia, jadilah teladan sejak muda. Begitu pula bagi kita semua yang mungkin sedang berada pada posisi pemimpin, jadilah pemimpin yang mencerminkan keteladanan Kristus. Jangan salah gunakan posisi yang dipercayakan Tuhan pada diri anda saat ini, tapi muliakanlah Tuhan dengan itu. Didik dan bimbinglah bawahan anda dengan jujur dan lurus. Demikian pula anak-anak yang sudah dipercayakan Tuhan kepada anda. Bimbinglah mereka menurut jalanNya. “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” (Amsal 22:6). Sebagai orang tua, jadilah pahlawan dengan “busur panah” yang baik untuk mengarahkan “anak-anak panah” anda ke arah yang benar. (Mazmur 127:4). Mari kita semua mulai mengambil komitmen untuk hidup lurus, benar di mata Tuhan sejak dini, karena itu merupakan kewajiban kita semua tanpa memandang usia.

Biarpun masih muda, kita dituntut untuk hidup benar dan menjadi saksi Kristus

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

5 pencarian oleh pembaca:

  1. renungan pemuda kristen terbaru

Menjadi Pelopor Sejak Muda (1)

Ayat bacaan: 2 Tawarikh 34:2
=======================
“Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN dan hidup seperti Daud, bapa leluhurnya, dan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri.”

Kemarin kita sudah melihat bahwa Tuhan tetap membutuhkan mereka yang sudah lanjut usia untuk menjadi rekan sekerjaNya di dunia ini. Pertanyaannya sekarang, bagaimana dengan anak muda? Saya salut melihat anak-anak muda di gereja saya yang begitu aktif meski rata-rata masih belasan tahun atau teenagers. Bukan saja ibadah teens mereka terus meningkat pesat, mereka juga banyak terlibat di kebaktian umum terutama lewat tim kreatif yang mereka rintis sejak setahun lalu. Di lain pihak kita akan dengan mudah menemukan anak-anak muda bermasalah di luar sana. Pelaku begal misalnya didominasi oleh anak muda bahkan yang masih di bawah umur. Mereka masih seumur jagung, tapi sudah tega melakukan tindakan-tindakan sadis. Anak muda yang mengkonsumsi narkoba, seks bebas dan sebagainya, itu pun banyak. Banyak di antara mereka yang mengira bahwa urusan hidup benar itu nanti saja kalau sudah tua. Kalau masih muda ya senang-senang dulu. Tapi mereka lupa bahwa berbagai perbuatan buruk dan keji mereka bisa menghancurkan masa depan, atau bahkan membuat usia mereka berakhir sebelum waktunya.

Kalau orang yang sudah berusia senja saja Tuhan butuh, bagaimana dengan anak-anak muda? Apakah ada usia yang masih terlalu muda sehingga Tuhan tidak bisa pakai? Hidup benar adalah kewajiban semua orang tanpa memandang usia yang bersangkutan. Sejak muda sekalipun kita sudah dituntut untuk hidup lurus sesuai jalanNya, Tuhan ingin anak-anak muda siap untuk menjadi teladan bagi sesama sejak dini. Yang sudah lanjut usia Tuhan butuh, anak muda pun Tuhan butuh.

Mari kita lihat kisah mengenai Yosia yang dicatat dalam kitab 2 Tawarikh. Yosia diangkat menjadi raja di Yerusalem pada usia yang masih sangat muda, saat usianya baru menginjak 8 tahun. Menjadi raja di usia muda, ia ternyata berkuasa cukup lama, memerintah selama 31 tahun.

Apa yang menarik dari Yosia selain menjadi raja saat masih kanak-kanak? Meski masih kecil, ternyata Yosia dicatat memiliki gaya hidup yang lurus. “Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN dan hidup seperti Daud, bapa leluhurnya, dan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri.” (2 Tawarikh 34:2). Di ayat berikutnya dikatakan: “Pada tahun kedelapan dari pemerintahannya, ketika ia masih muda belia, ia mulai mencari Allah Daud, bapa leluhurnya, dan pada tahun kedua belas ia mulai mentahirkan Yehuda dan Yerusalem dari pada bukit-bukit pengorbanan, tiang-tiang berhala, patung-patung pahatan dan patung-patung tuangan.” (ay 3).

Dikatakan itu terjadi pada usia kedelapan dari pemerintahannya. Berarti kejadiannya adalah saat usia Yosia masih 16 tahun. Di umur seperti itu dia sudah mencari Tuhan. Seorang anak muda belia dengan perilaku seperti itu? Wow. Itu luar biasa. Ditambah lagi statusnya sebagai raja, yang tentu saja memiliki agenda kesibukan yang sangat padat dan memiliki kekuasaan tertinggi yang berarti ia bisa melakukan apa saja sekehendak hatinya. Godaan untuk mabuk kekuasaan dan berlaku seenaknya akan mudah menyerangnya. Tetapi tidak dengan Yosia. Ia memiliki gaya hidup yang berbeda meski ia masih muda dan sebenarnya dengan kekuasaan yang ia miliki ia bisa bertindak sesukanya. Ia berbeda dari banyak raja yang gaya hidupnya tidak berkenan bagi Tuhan.

Pada tahun ke dua belas, ini artinya 4 tahun kemudian, ketika ia berusia 20 tahun, ia sudah mulai mentahirkan Yehuda dan Yerusalem dari berbagai bentuk penyembahan berhala. “Mezbah-mezbah para Baal dirobohkan di hadapannya; ia menghancurkan pedupaan-pedupaan yang ada di atasnya; ia meremukkan dan menghancurluluhkan tiang-tiang berhala, patung-patung pahatan dan patung-patung tuangan, dan menghamburkannya ke atas kuburan orang-orang yang mempersembahkan korban kepada berhala-berhala itu.” (ay 4). Pada usia yang masih sangat muda, Yosia sudah berperilaku lurus dan tidak menyimpang kemana-mana, ia mempergunakan statusnya sebagai raja dengan benar, dan tidak menyalahgunakan jabatan yang ia pegang. Di usia mudanya Yosia menjadi pelopor dan teladan dalam pergerakan reformasi rohani di wilayah pemerintahannya.

(bersambung)

Menjadi Pelopor Sejak Muda (1)

Ayat bacaan: 2 Tawarikh 34:2
=======================
“Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN dan hidup seperti Daud, bapa leluhurnya, dan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri.”

Kemarin kita sudah melihat bahwa Tuhan tetap membutuhkan mereka yang sudah lanjut usia untuk menjadi rekan sekerjaNya di dunia ini. Pertanyaannya sekarang, bagaimana dengan anak muda? Saya salut melihat anak-anak muda di gereja saya yang begitu aktif meski rata-rata masih belasan tahun atau teenagers. Bukan saja ibadah teens mereka terus meningkat pesat, mereka juga banyak terlibat di kebaktian umum terutama lewat tim kreatif yang mereka rintis sejak setahun lalu. Di lain pihak kita akan dengan mudah menemukan anak-anak muda bermasalah di luar sana. Pelaku begal misalnya didominasi oleh anak muda bahkan yang masih di bawah umur. Mereka masih seumur jagung, tapi sudah tega melakukan tindakan-tindakan sadis. Anak muda yang mengkonsumsi narkoba, seks bebas dan sebagainya, itu pun banyak. Banyak di antara mereka yang mengira bahwa urusan hidup benar itu nanti saja kalau sudah tua. Kalau masih muda ya senang-senang dulu. Tapi mereka lupa bahwa berbagai perbuatan buruk dan keji mereka bisa menghancurkan masa depan, atau bahkan membuat usia mereka berakhir sebelum waktunya.

Kalau orang yang sudah berusia senja saja Tuhan butuh, bagaimana dengan anak-anak muda? Apakah ada usia yang masih terlalu muda sehingga Tuhan tidak bisa pakai? Hidup benar adalah kewajiban semua orang tanpa memandang usia yang bersangkutan. Sejak muda sekalipun kita sudah dituntut untuk hidup lurus sesuai jalanNya, Tuhan ingin anak-anak muda siap untuk menjadi teladan bagi sesama sejak dini. Yang sudah lanjut usia Tuhan butuh, anak muda pun Tuhan butuh.

Mari kita lihat kisah mengenai Yosia yang dicatat dalam kitab 2 Tawarikh. Yosia diangkat menjadi raja di Yerusalem pada usia yang masih sangat muda, saat usianya baru menginjak 8 tahun. Menjadi raja di usia muda, ia ternyata berkuasa cukup lama, memerintah selama 31 tahun.

Apa yang menarik dari Yosia selain menjadi raja saat masih kanak-kanak? Meski masih kecil, ternyata Yosia dicatat memiliki gaya hidup yang lurus. “Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN dan hidup seperti Daud, bapa leluhurnya, dan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri.” (2 Tawarikh 34:2). Di ayat berikutnya dikatakan: “Pada tahun kedelapan dari pemerintahannya, ketika ia masih muda belia, ia mulai mencari Allah Daud, bapa leluhurnya, dan pada tahun kedua belas ia mulai mentahirkan Yehuda dan Yerusalem dari pada bukit-bukit pengorbanan, tiang-tiang berhala, patung-patung pahatan dan patung-patung tuangan.” (ay 3).

Dikatakan itu terjadi pada usia kedelapan dari pemerintahannya. Berarti kejadiannya adalah saat usia Yosia masih 16 tahun. Di umur seperti itu dia sudah mencari Tuhan. Seorang anak muda belia dengan perilaku seperti itu? Wow. Itu luar biasa. Ditambah lagi statusnya sebagai raja, yang tentu saja memiliki agenda kesibukan yang sangat padat dan memiliki kekuasaan tertinggi yang berarti ia bisa melakukan apa saja sekehendak hatinya. Godaan untuk mabuk kekuasaan dan berlaku seenaknya akan mudah menyerangnya. Tetapi tidak dengan Yosia. Ia memiliki gaya hidup yang berbeda meski ia masih muda dan sebenarnya dengan kekuasaan yang ia miliki ia bisa bertindak sesukanya. Ia berbeda dari banyak raja yang gaya hidupnya tidak berkenan bagi Tuhan.

Pada tahun ke dua belas, ini artinya 4 tahun kemudian, ketika ia berusia 20 tahun, ia sudah mulai mentahirkan Yehuda dan Yerusalem dari berbagai bentuk penyembahan berhala. “Mezbah-mezbah para Baal dirobohkan di hadapannya; ia menghancurkan pedupaan-pedupaan yang ada di atasnya; ia meremukkan dan menghancurluluhkan tiang-tiang berhala, patung-patung pahatan dan patung-patung tuangan, dan menghamburkannya ke atas kuburan orang-orang yang mempersembahkan korban kepada berhala-berhala itu.” (ay 4). Pada usia yang masih sangat muda, Yosia sudah berperilaku lurus dan tidak menyimpang kemana-mana, ia mempergunakan statusnya sebagai raja dengan benar, dan tidak menyalahgunakan jabatan yang ia pegang. Di usia mudanya Yosia menjadi pelopor dan teladan dalam pergerakan reformasi rohani di wilayah pemerintahannya.

(bersambung)

Tuhan Perlu Anda

Ayat bacaan: Lukas 19:34
=====================
“Kata mereka: “Tuhan memerlukannya.”

Belum lama ini saya sempat berbincang-bincang dengan musisi yang sudah berkarir lebih dari setengah abad. Di usia senjanya ia masih diberkati dengan kesehatan dan kekuatan yang memampukannya untuk terus aktif bermain. Baginya bermusik itu panggilan, hiburan dan penyemangat. Selama ia masih bisa bermain, ia akan terus bermain. Lantas ia pun sambil tertawa kecil berkata: “dan tentu saja selama saya masih diperlukan, selama masih ada yang mau ngundang dan nonton.” Ada kalanya kita kasihan melihat orang yang sudah berusia lanjut masih bekerja. Tapi ada banyak pula di antara mereka yang justru masih merasakan kegembiraan saat masih bisa aktif bekerja. Sekali mereka berhenti, maka segera mereka jadi pikun dan kondisi tubuhnya menurun drastis. Selama mereka menikmati dan bergembira dalam pekerjaannya, saya kira itu baik. Pada suatu saat mungkin dunia merasa jasa mereka tidak lagi diperlukan karena dianggap terlalu renta, tapi perhatikan bahwa Tuhan justru tidak berpikir demikian.

Tuhan mengatakan Dia tetap membutuhkan kita, tidak perduli keadaan atau usia kita. Ada banyak orang di usia senjanya bertanya, apakah mereka masih bisa berguna bagi Tuhan? Apakah mereka masih bisa membuat sisa hidup mereka bermakna? Apakah mereka masih dibutuhkan? Jawabannya jelas: tentu. Kita bisa melihat beberapa orang yang dalam usia tuanya ternyata masih berperan besar dalam melakukan perintah Tuhan. Nuh membangun bahtera di usia lanjut. Kaleb mengaku masih sama kuat di usia 85 tahun untuk berperang memasuki tanah yang dijanjikan Tuhan kepadanya. “..Jadi sekarang, telah berumur delapan puluh lima tahun aku hari ini; pada waktu ini aku masih sama kuat seperti pada waktu aku disuruh Musa; seperti kekuatanku pada waktu itu demikianlah kekuatanku sekarang untuk berperang dan untuk keluar masuk.” (Yosua 14:10-11). Bagaimana dengan Abraham dan Sara? Mereka mendapatkan janji Tuhan akan keturunan yang banyak bagai bintang di langit justru pada usia yang sangat lanjut. Artinya orang-orang yang berusia tua pun tetap bernilai di mata Tuhan dan selalu mendapat kesempatan bahkan kepercayaan untuk melakukan sesuatu untuk Tuhan.

Saya teringat ketika Yesus membutuhkan keledai untuk membawanya memasuki Yerusalem. Yesus menyuruh dua muridnya demikian: “Pergilah ke kampung yang di depanmu itu: Pada waktu kamu masuk di situ, kamu akan mendapati seekor keledai muda tertambat, yang belum pernah ditunggangi orang. Lepaskanlah keledai itu dan bawalah ke mari.” (Lukas 19:30). Dan ketika mereka melakukannya, si pemilik keledai pun bertanya mengapa mereka melepaskan keledai. Mereka pun menjawab seperti apa yang dipesan Yesus untuk mereka katakan: ” Kata mereka: “Tuhan memerlukannya.” (ay 34). Jika seekor keledai saja dibutuhkan Tuhan untuk menyelesaikan pekerjaanNya di dunia ini, mengapa kita tidak?

Tuhan selalu memerlukan kita, anak-anakNya, duta-dutaNya di dunia ini untuk melakukan pekerjaanNya. Itu bisa berupa tugas spesifik yang segera harus dilakukan, a brief single task, seperti keledai itu, atau bisa juga memerlukan usaha dan ketekunan selama bertahun-tahun. Apapun bentuknya, semua ini akan menjadi kesempatan indah bagi kita untuk menyatakan kesaksian kita, menyatakan kasih Tuhan kepada sesama. Ketika kita mendapat tugas dari Tuhan, itu bukan beban melainkan sebuah kehormatan yang harus kita syukuri dan lakukan dengan sebaik-baiknya. Yang pasti, Tuhan akan selalu membutuhkan kita pada waktunya.

Untuk itu kita harus senantiasa mempersiapkan diri kita. Senantiasa berjaga-jaga baik lewat doa, membaca dan merenungkan firman Tuhan dalam alkitab dan terus peka mendengar panggilanNya. Ingatlah bahwa ada saat dimana kita tidak lagi bisa berbuat apa-apa, yaitu ketika masa hidup kita di dunia ini sudah selesai. Karenanya selama kita masih punya waktu, terimalah tugas Tuhan itu sebagai sebuah kehormatan besar. “Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja.” (Yohanes 9:4). Soal kapan diperlukan, serahkan itu kepada Tuhan. Dengarlah suaraNya dan turuti perintahNya. Sebab itu bukan tergantung kita, tetapi tergantung Tuhan sendiri. “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.” (Yohanes 15:16). Yang penting adalah kesiapan kita, sehingga begitu tugas diberikan, kita akan mampu untuk langsung mengerjakan sesuai dengan apa yang dikehendakiNya.

Apa hebatnya keledai? Bagi orang banyak keledai diasosiasikan sebagai binatang yang bodoh, tetapi nyatanya keledai sekalipun tetap dibutuhkan Tuhan. Apalagi kita anak-anakNya. Bukan kehebatan kita, keahlian kita, gelar dan tingkat pendidikan kita, pengaruh dan kuasa kita di dunia, tapi kemauan atau kesediaan kita, itulah yang Dia tuntut. Tuhan bukan mencari orang-orang hebat secara duniawi, tapi orang yang dengan tulus mau melakukan sesuai panggilanNya, karena mengasihi Tuhan. Usia? Bukan halangan. Kemampuan? Bukan halangan juga. Mari kita semua tetap mempersiapkan diri dengan tekun. Jika Tuhan memanggil anda untuk sebuah pekerjaan, jika anda dibutuhkan Tuhan saat ini, sudah siapkah anda?

Tuhan memiliki tugas untuk setiap kita tanpa memandang usia atau kemampuan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuhan Perlu Anda

Ayat bacaan: Lukas 19:34
=====================
“Kata mereka: “Tuhan memerlukannya.”

Belum lama ini saya sempat berbincang-bincang dengan musisi yang sudah berkarir lebih dari setengah abad. Di usia senjanya ia masih diberkati dengan kesehatan dan kekuatan yang memampukannya untuk terus aktif bermain. Baginya bermusik itu panggilan, hiburan dan penyemangat. Selama ia masih bisa bermain, ia akan terus bermain. Lantas ia pun sambil tertawa kecil berkata: “dan tentu saja selama saya masih diperlukan, selama masih ada yang mau ngundang dan nonton.” Ada kalanya kita kasihan melihat orang yang sudah berusia lanjut masih bekerja. Tapi ada banyak pula di antara mereka yang justru masih merasakan kegembiraan saat masih bisa aktif bekerja. Sekali mereka berhenti, maka segera mereka jadi pikun dan kondisi tubuhnya menurun drastis. Selama mereka menikmati dan bergembira dalam pekerjaannya, saya kira itu baik. Pada suatu saat mungkin dunia merasa jasa mereka tidak lagi diperlukan karena dianggap terlalu renta, tapi perhatikan bahwa Tuhan justru tidak berpikir demikian.

Tuhan mengatakan Dia tetap membutuhkan kita, tidak perduli keadaan atau usia kita. Ada banyak orang di usia senjanya bertanya, apakah mereka masih bisa berguna bagi Tuhan? Apakah mereka masih bisa membuat sisa hidup mereka bermakna? Apakah mereka masih dibutuhkan? Jawabannya jelas: tentu. Kita bisa melihat beberapa orang yang dalam usia tuanya ternyata masih berperan besar dalam melakukan perintah Tuhan. Nuh membangun bahtera di usia lanjut. Kaleb mengaku masih sama kuat di usia 85 tahun untuk berperang memasuki tanah yang dijanjikan Tuhan kepadanya. “..Jadi sekarang, telah berumur delapan puluh lima tahun aku hari ini; pada waktu ini aku masih sama kuat seperti pada waktu aku disuruh Musa; seperti kekuatanku pada waktu itu demikianlah kekuatanku sekarang untuk berperang dan untuk keluar masuk.” (Yosua 14:10-11). Bagaimana dengan Abraham dan Sara? Mereka mendapatkan janji Tuhan akan keturunan yang banyak bagai bintang di langit justru pada usia yang sangat lanjut. Artinya orang-orang yang berusia tua pun tetap bernilai di mata Tuhan dan selalu mendapat kesempatan bahkan kepercayaan untuk melakukan sesuatu untuk Tuhan.

Saya teringat ketika Yesus membutuhkan keledai untuk membawanya memasuki Yerusalem. Yesus menyuruh dua muridnya demikian: “Pergilah ke kampung yang di depanmu itu: Pada waktu kamu masuk di situ, kamu akan mendapati seekor keledai muda tertambat, yang belum pernah ditunggangi orang. Lepaskanlah keledai itu dan bawalah ke mari.” (Lukas 19:30). Dan ketika mereka melakukannya, si pemilik keledai pun bertanya mengapa mereka melepaskan keledai. Mereka pun menjawab seperti apa yang dipesan Yesus untuk mereka katakan: ” Kata mereka: “Tuhan memerlukannya.” (ay 34). Jika seekor keledai saja dibutuhkan Tuhan untuk menyelesaikan pekerjaanNya di dunia ini, mengapa kita tidak?

Tuhan selalu memerlukan kita, anak-anakNya, duta-dutaNya di dunia ini untuk melakukan pekerjaanNya. Itu bisa berupa tugas spesifik yang segera harus dilakukan, a brief single task, seperti keledai itu, atau bisa juga memerlukan usaha dan ketekunan selama bertahun-tahun. Apapun bentuknya, semua ini akan menjadi kesempatan indah bagi kita untuk menyatakan kesaksian kita, menyatakan kasih Tuhan kepada sesama. Ketika kita mendapat tugas dari Tuhan, itu bukan beban melainkan sebuah kehormatan yang harus kita syukuri dan lakukan dengan sebaik-baiknya. Yang pasti, Tuhan akan selalu membutuhkan kita pada waktunya.

Untuk itu kita harus senantiasa mempersiapkan diri kita. Senantiasa berjaga-jaga baik lewat doa, membaca dan merenungkan firman Tuhan dalam alkitab dan terus peka mendengar panggilanNya. Ingatlah bahwa ada saat dimana kita tidak lagi bisa berbuat apa-apa, yaitu ketika masa hidup kita di dunia ini sudah selesai. Karenanya selama kita masih punya waktu, terimalah tugas Tuhan itu sebagai sebuah kehormatan besar. “Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja.” (Yohanes 9:4). Soal kapan diperlukan, serahkan itu kepada Tuhan. Dengarlah suaraNya dan turuti perintahNya. Sebab itu bukan tergantung kita, tetapi tergantung Tuhan sendiri. “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.” (Yohanes 15:16). Yang penting adalah kesiapan kita, sehingga begitu tugas diberikan, kita akan mampu untuk langsung mengerjakan sesuai dengan apa yang dikehendakiNya.

Apa hebatnya keledai? Bagi orang banyak keledai diasosiasikan sebagai binatang yang bodoh, tetapi nyatanya keledai sekalipun tetap dibutuhkan Tuhan. Apalagi kita anak-anakNya. Bukan kehebatan kita, keahlian kita, gelar dan tingkat pendidikan kita, pengaruh dan kuasa kita di dunia, tapi kemauan atau kesediaan kita, itulah yang Dia tuntut. Tuhan bukan mencari orang-orang hebat secara duniawi, tapi orang yang dengan tulus mau melakukan sesuai panggilanNya, karena mengasihi Tuhan. Usia? Bukan halangan. Kemampuan? Bukan halangan juga. Mari kita semua tetap mempersiapkan diri dengan tekun. Jika Tuhan memanggil anda untuk sebuah pekerjaan, jika anda dibutuhkan Tuhan saat ini, sudah siapkah anda?

Tuhan memiliki tugas untuk setiap kita tanpa memandang usia atau kemampuan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Cakap: Diligent and Skillful

Ayat bacaan: Amsal 22:29
===================
“Pernahkah engkau melihat orang yang cakap dalam pekerjaannya? Di hadapan raja-raja ia akanberdiri, bukan di hadapan orang-orang yang hina.”

Sama-sama bekerja, tapi kualitas kerja berbeda, hasil pun beda. Apa yang saya maksudkan adalah bahwa cara orang memandang dan menyikapi kerja itu tidaklah sama. Ada yang serius melakukan yang  terbaik dalam pekerjaannya, ada yang cuma ala kadarnya. Toh tidak dapat bonus ekstra, buat apa ngasih lebih? Ya secukupnya saja, asal ada. Itu banyak dilakukan orang. Ada yang menggantungkan keseriusannya pada besar tidaknya upah yang ia terima. Ada yang malas dan menganut sistem kebut semalam. Bila hasilnya buruk, mereka pun sudah menyiapkan banyak dalih. Lagi kurang enak badan, lagi sibuk, komputer rusak, kena virus dan sebagainya. Pokoknya ada saja, yang penting punya alasan. Oh, ada pula yang berdalih bahwa pekerjaannya yang sekarang dilakukan hanya karena terpaksa, karena belum dapat yang lebih bagus atau tidak sesuai minat. Lucunya mereka tetap mau menerima gaji bahkan berharap naik jabatan, tapi hasil pekerjaan pas-pasan kalau tidak bisa dibilang dibawah standar. Bagaimana kita seharusnya menyikapi pekerjaan kita?

Tuhan tidak akan pernah menginginkan anak-anakNya untuk menjadi orang yang suka bekerja setengah-setengah. Tuhan ingin kita menjadi orang-orang yang cakap di bidang masing-masing. Menjadi contoh dan teladan lewat segala sesuatu yang kita lakukan.

Ada sebuah ayat menarik tentang hal ini di dalam kitab Amsal. Salomo mengajukan sebuah kalimat penting dalam bentuk pertanyaan kepada semua yang membacanya. “Pernahkah engkau melihat orang yang cakap dalam pekerjaannya? Di hadapan raja-raja ia akan berdiri, bukan di hadapan orang-orang yang hina.” (Amsal 22:29). Perhatikan kata “cakap” pada ayat ini. Tuhan tidak hanya mengucapkan kata “kerja” saja, tetapi dilengkapi dengan kata “cakap”. Dalam bahasa Inggrisnya kata ini disebut dengan “dilligent and skillful“, artinya “rajin dan ahli.” Itulah yang dimaksudkan lewat kata “cakap”, dan itu seharusnya menjadi gambaran dari orang-orang percaya. Bekerja jangan setengah-setengah, jangan asal jadi dan jangan pula pas-pasan. Memberi yang terbaik dalam pekerjaan, usaha, atau belajar dan sebagainya, itu adalah sebuah keharusan.

Jika kita cakap atau rajin dan ahli, apa yang akan kita peroleh? Ayat dalam Amsal ini mengatakan bahwa kita akan berdiri di hadapan raja-raja, di hadapan orang-orang penting, orang-orang berpengaruh, dan bukan di hadapan orang-orang biasa. Jika anda memberi yang terbaik, atau bahkan lebih dari yang seharusnya alias ‘going extra miles‘, tentu hasil kerja anda akan diapresiasi oleh orang-orang yang duduk di atas. Saya pernah mendengar cerita bahwa ada pemilik perusahaan yang mengetahui bahwa salah satu office boy di perusahaannya ternyata begitu giat dalam bekerja. Ia lantas dipromosikan pada posisi tertentu. Kembali ia menunjukkan kinerja yang memuaskan, ia terus menapak naik dan akhirnya ia duduk sebagai satu dari kepala divisi dalam waktu relatif singkat. Ya, kalau hasil kerjanya memang sangat baik, kenapa tidak? Saya yakin semua perusahaan ingin memiliki orang-orang terbaik yang bekerja disana.

Selain itu, ayat dalam Amsal ini juga menggambarkan bagaimana Tuhan memandang penting sebuah usaha keras yang dilakukan secara serius dan sungguh-sungguh. Dia siap memberkati kita yang selalu berupaya memberikan yang terbaik untuk terus meningkat lebih dan lebih lagi. Ini sesuai dengan apa yang dijanjikan Tuhan pula. “TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia.” (Ulangan 28:13). Tuhan menjanjikan keberhasilan. Kita didesain sebagai kepala bukan ekor, direncanakan untuk terus naik dan bukan turun. Ini akan kita peroleh jika kita mau mendengarkan perintah Tuhan dan melakukannya dengan setia. Bekerja secara serius dan sungguh-sungguh adalah salah satu bagian dari melakukan perintah Tuhan dengan setia, dan itu akan membuat kita memperoleh keberhasilan demi keberhasilan dalam karir, keluarga atau dalam apapun yang sedang kita lakukan.

Perumpamaan tentang talenta (Matius 25:14-30) menggambarkan dengan jelas bahwa Tuhan telah melengkapi kita semua dengan keistimewaan-keistimewaan tersendiri. Semua itu ia titipkan kepada kita agar kita bisa melakukan pekerjaan kita dengan sebaik-baiknya, dan bukan untuk bekerja pas-pasan atau asal jadi. Semua itu pada suatu ketika haruslah kita pertanggungjawabkan. Banyak tidaknya talenta itu bukan masalah sama sekali. Berapapun yang dipercayakan Tuhan kepada kita merupakan hal yang patut kita syukuri, dan kita harus sadar pula bahwa itu semua sudah lebih dari cukup untuk membuat kita bisa berhasil dalam setiap apa yang kita kerjakan. Tuhan ingin kita sukses, Tuhan memberikan bekal buat kita untuk itu, dan Tuhan siap memberkati pekerjaan kita. Bukankah itu merupakan sebuah kesatuan yang luar biasa? Dengan bekerja serius berarti kita menghargai Tuhan, sebaliknya bagaimana mungkin kita mengaku sebagai orang yang bersyukur apabila kita tidak mau serius dalam bekerja? Itu sama saja dengan merendahkan anugerah Tuhan atas diri kita bahkan menghina Tuhan.

Jangan lupa bahwa Tuhan pun sudah menegaskan kita agar bekerja serius seperti melakukannya untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 3:23). Tuhan memandang penting sebuah keseriusan dari diri kita. Jika kita melakukannya dengan sebaik mungkin dan memuliakan Tuhan di dalamnya, tentu Tuhan pun tidak akan sungkan-sungkan untuk memberkati kita tepat seperti apa yang Dia rindukan. Bayangkan betapa senangnya Tuhan apabila melihat anak-anakNya menjadi orang-orang yang berpengaruh dalam bidangnya masing-masing, menjadi teladan bagi pekerja lain, jujur dan setia. Orang tua kita saja akan merasa sangat bangga, apalagi Bapa yang menciptakan dan sangat mengasihi kita.

Sudahkah anda memberikan kinerjayang terbaik dalam pekerjaan atau studi anda? Sudahkah anda melakukan yang terbaik bagi keluarga anda? Atau sudahkah anda peduli dengan kecakapan, maukah anda terus melatih diri agar menjadi lebih cakap lagi? Ingatlah bahwa Tuhan akan selalu siap memperbesar kapasitas dari orang-orang yang cakap di bidangnya masing-masing. Keberhasilan merupakan bagian dari kehidupan anak-anak Tuhan, dan itu akan bisa dicapai apabila kita mau menghargai segala talenta yang diberikan Tuhan dengan sungguh-sungguh dan mempergunakannya dengan baik dalam pekerjaan kita. Ada masa depan yang cerah penuh dengan keberhasilan Tuhan sediakan bagi setiap kita, dan itu semua hanya akan bisa dicapai apabila kita mau mempergunakan semua yang telah diberikan Tuhan sebagai sebuah keistimewaan dengan sebaik-baiknya. Laukan yang terbaik, dan tempati posisi puncak dimana anda seharusnya berada, because only the hands of the diligent will rule. 

Muliakan Tuhan dengan memberi yang terbaik dalam pekerjaan 

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Cakap: Diligent and Skillful

Ayat bacaan: Amsal 22:29
===================
“Pernahkah engkau melihat orang yang cakap dalam pekerjaannya? Di hadapan raja-raja ia akanberdiri, bukan di hadapan orang-orang yang hina.”

Sama-sama bekerja, tapi kualitas kerja berbeda, hasil pun beda. Apa yang saya maksudkan adalah bahwa cara orang memandang dan menyikapi kerja itu tidaklah sama. Ada yang serius melakukan yang  terbaik dalam pekerjaannya, ada yang cuma ala kadarnya. Toh tidak dapat bonus ekstra, buat apa ngasih lebih? Ya secukupnya saja, asal ada. Itu banyak dilakukan orang. Ada yang menggantungkan keseriusannya pada besar tidaknya upah yang ia terima. Ada yang malas dan menganut sistem kebut semalam. Bila hasilnya buruk, mereka pun sudah menyiapkan banyak dalih. Lagi kurang enak badan, lagi sibuk, komputer rusak, kena virus dan sebagainya. Pokoknya ada saja, yang penting punya alasan. Oh, ada pula yang berdalih bahwa pekerjaannya yang sekarang dilakukan hanya karena terpaksa, karena belum dapat yang lebih bagus atau tidak sesuai minat. Lucunya mereka tetap mau menerima gaji bahkan berharap naik jabatan, tapi hasil pekerjaan pas-pasan kalau tidak bisa dibilang dibawah standar. Bagaimana kita seharusnya menyikapi pekerjaan kita?

Tuhan tidak akan pernah menginginkan anak-anakNya untuk menjadi orang yang suka bekerja setengah-setengah. Tuhan ingin kita menjadi orang-orang yang cakap di bidang masing-masing. Menjadi contoh dan teladan lewat segala sesuatu yang kita lakukan.

Ada sebuah ayat menarik tentang hal ini di dalam kitab Amsal. Salomo mengajukan sebuah kalimat penting dalam bentuk pertanyaan kepada semua yang membacanya. “Pernahkah engkau melihat orang yang cakap dalam pekerjaannya? Di hadapan raja-raja ia akan berdiri, bukan di hadapan orang-orang yang hina.” (Amsal 22:29). Perhatikan kata “cakap” pada ayat ini. Tuhan tidak hanya mengucapkan kata “kerja” saja, tetapi dilengkapi dengan kata “cakap”. Dalam bahasa Inggrisnya kata ini disebut dengan “dilligent and skillful“, artinya “rajin dan ahli.” Itulah yang dimaksudkan lewat kata “cakap”, dan itu seharusnya menjadi gambaran dari orang-orang percaya. Bekerja jangan setengah-setengah, jangan asal jadi dan jangan pula pas-pasan. Memberi yang terbaik dalam pekerjaan, usaha, atau belajar dan sebagainya, itu adalah sebuah keharusan.

Jika kita cakap atau rajin dan ahli, apa yang akan kita peroleh? Ayat dalam Amsal ini mengatakan bahwa kita akan berdiri di hadapan raja-raja, di hadapan orang-orang penting, orang-orang berpengaruh, dan bukan di hadapan orang-orang biasa. Jika anda memberi yang terbaik, atau bahkan lebih dari yang seharusnya alias ‘going extra miles‘, tentu hasil kerja anda akan diapresiasi oleh orang-orang yang duduk di atas. Saya pernah mendengar cerita bahwa ada pemilik perusahaan yang mengetahui bahwa salah satu office boy di perusahaannya ternyata begitu giat dalam bekerja. Ia lantas dipromosikan pada posisi tertentu. Kembali ia menunjukkan kinerja yang memuaskan, ia terus menapak naik dan akhirnya ia duduk sebagai satu dari kepala divisi dalam waktu relatif singkat. Ya, kalau hasil kerjanya memang sangat baik, kenapa tidak? Saya yakin semua perusahaan ingin memiliki orang-orang terbaik yang bekerja disana.

Selain itu, ayat dalam Amsal ini juga menggambarkan bagaimana Tuhan memandang penting sebuah usaha keras yang dilakukan secara serius dan sungguh-sungguh. Dia siap memberkati kita yang selalu berupaya memberikan yang terbaik untuk terus meningkat lebih dan lebih lagi. Ini sesuai dengan apa yang dijanjikan Tuhan pula. “TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia.” (Ulangan 28:13). Tuhan menjanjikan keberhasilan. Kita didesain sebagai kepala bukan ekor, direncanakan untuk terus naik dan bukan turun. Ini akan kita peroleh jika kita mau mendengarkan perintah Tuhan dan melakukannya dengan setia. Bekerja secara serius dan sungguh-sungguh adalah salah satu bagian dari melakukan perintah Tuhan dengan setia, dan itu akan membuat kita memperoleh keberhasilan demi keberhasilan dalam karir, keluarga atau dalam apapun yang sedang kita lakukan.

Perumpamaan tentang talenta (Matius 25:14-30) menggambarkan dengan jelas bahwa Tuhan telah melengkapi kita semua dengan keistimewaan-keistimewaan tersendiri. Semua itu ia titipkan kepada kita agar kita bisa melakukan pekerjaan kita dengan sebaik-baiknya, dan bukan untuk bekerja pas-pasan atau asal jadi. Semua itu pada suatu ketika haruslah kita pertanggungjawabkan. Banyak tidaknya talenta itu bukan masalah sama sekali. Berapapun yang dipercayakan Tuhan kepada kita merupakan hal yang patut kita syukuri, dan kita harus sadar pula bahwa itu semua sudah lebih dari cukup untuk membuat kita bisa berhasil dalam setiap apa yang kita kerjakan. Tuhan ingin kita sukses, Tuhan memberikan bekal buat kita untuk itu, dan Tuhan siap memberkati pekerjaan kita. Bukankah itu merupakan sebuah kesatuan yang luar biasa? Dengan bekerja serius berarti kita menghargai Tuhan, sebaliknya bagaimana mungkin kita mengaku sebagai orang yang bersyukur apabila kita tidak mau serius dalam bekerja? Itu sama saja dengan merendahkan anugerah Tuhan atas diri kita bahkan menghina Tuhan.

Jangan lupa bahwa Tuhan pun sudah menegaskan kita agar bekerja serius seperti melakukannya untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 3:23). Tuhan memandang penting sebuah keseriusan dari diri kita. Jika kita melakukannya dengan sebaik mungkin dan memuliakan Tuhan di dalamnya, tentu Tuhan pun tidak akan sungkan-sungkan untuk memberkati kita tepat seperti apa yang Dia rindukan. Bayangkan betapa senangnya Tuhan apabila melihat anak-anakNya menjadi orang-orang yang berpengaruh dalam bidangnya masing-masing, menjadi teladan bagi pekerja lain, jujur dan setia. Orang tua kita saja akan merasa sangat bangga, apalagi Bapa yang menciptakan dan sangat mengasihi kita.

Sudahkah anda memberikan kinerjayang terbaik dalam pekerjaan atau studi anda? Sudahkah anda melakukan yang terbaik bagi keluarga anda? Atau sudahkah anda peduli dengan kecakapan, maukah anda terus melatih diri agar menjadi lebih cakap lagi? Ingatlah bahwa Tuhan akan selalu siap memperbesar kapasitas dari orang-orang yang cakap di bidangnya masing-masing. Keberhasilan merupakan bagian dari kehidupan anak-anak Tuhan, dan itu akan bisa dicapai apabila kita mau menghargai segala talenta yang diberikan Tuhan dengan sungguh-sungguh dan mempergunakannya dengan baik dalam pekerjaan kita. Ada masa depan yang cerah penuh dengan keberhasilan Tuhan sediakan bagi setiap kita, dan itu semua hanya akan bisa dicapai apabila kita mau mempergunakan semua yang telah diberikan Tuhan sebagai sebuah keistimewaan dengan sebaik-baiknya. Laukan yang terbaik, dan tempati posisi puncak dimana anda seharusnya berada, because only the hands of the diligent will rule. 

Muliakan Tuhan dengan memberi yang terbaik dalam pekerjaan 

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Keteladanan dari Handuk dan Baskom (2)

(sambungan)

Terkait dengan apa yang dikatakan Yesus, mari kita kembali kepada kedua anak Zebedeus. Mereka sebenarnya bisa saja berada di sisi kanan dan kiri Yesus dalam banyak kesempatan. Mereka bisa berdiri disana ketika Yesus sedang berdoa di taman Getsemani. (Matius 26:36-46). Yesus sudah membawa mereka berdua bersama Petrus. (ay 37). Tetapi apa yang mereka lakukan? Tidak sampai sejam saja mereka sudah tertidur. (ay 40). Lalu mereka punya kesempatan lagi ketika Yesus ditangkap. (Markus 14:43-52). Tapi mereka memilih untuk melarikan diri. (ay 50). Selanjutnya, mereka pun bisa berada di sisi kanan dan kiri Yesus ketika Dia disalibkan. (Yohanes 23:33-49). Sekali lagi kita melihat bahwa mereka tidak melakukan itu, tetapi justru berdiri dari jauh dalam ketakutan dan hanya menonton saja. (ay 49). Semua ini menunjukkan bahwa mereka memang tidak mengerti apa yang mereka minta.

Yesus menjalankan tugasnya sampai tuntas dengan ketaatan penuh demi keselamatan kita semua. Dalam setiap prosesnya Yesus memberikan keteladanan secara langsung kepada murid-muridNya. Dia mengajarkan apa arti besar yang sesungguhnya. Bukan bukan dari pamor atau popularitas, bukan dari kekayaan, tetapi salah satunya lewat sebuah baskom dan selembar handuk. Yesus mau merendahkan diriNya untuk membasuh kaki para murid, sebuah pekerjaan yang pada saat itu seharusnya dilakukan oleh seorang hamba.

Apa yang dilakukan Yesus adalah radikal, dan mungkin kontroversial. Wajar jika murid-muridNya pun terkejut, termasuk Petrus. “Maka sampailah Ia kepada Simon Petrus. Kata Petrus kepada-Nya: “Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?” (Yohanes 13:6). Dan Yesus menjawab, “Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak.”(ay 7). Apa yang dilakukan Yesus mengacu kepada sebuah keteladanan, agar kita semua mau merubah pola pikir kita agar mengerti seperti apa kata besar itu menurut Kerajaan Allah. “Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.” (ay 14-15).

Hidup di dunia yang penuh persaingan membuat kita seringkali lupa bagaimana gambaran yang seharusnya menurut hati Tuhan. Sampai batas-batas tertentu persaingan itu baik, apabila lewat persaingan itu kita menjadi termotivasi untuk semakin memberi yang terbaik dan terus bertumbuh. Tetapi ketika kita tergoda untuk menjadi yang terbesar melalui mencari kekayaan sebesar-besarnya, popularitas, status atau kejayaan di dunia, menghalalkan segala cara, itu sudah tidak lagi mencerminkan panggilan manusia yang sebenarnya menurut hukum Kerajaan Allah.

Teladan-teladan akan kerendahan hati, suka menolong, peduli terhadap jeritan orang lain, kebaikan, kejujuran, mendahulukan kepentingan orang lain seharusnya bisa terlihat dari kita, murid-murid Yesus yang saat ini ada di muka bumi. Menjadi pelayan, menjadi hamba dengan segala kerendahan hati, itu sangat sulit ditemukan hari-hari ini. Semua itu adalah tugas kita. Yesus sudah memberi keteladanan lewat sebuah baskom dan handuk, Dia juga sudah membuktikanNya dengan mengorbankan diri sepenuhnya untuk mati di atas kayu salib. Dan kita pun seharusnya bisa mengerti dan meneladani contoh yang telah Yesus sendiri berikan.

“Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar.” (Lukas 9:48b)

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Keteladanan dari Handuk dan Baskom (2)

(sambungan)

Terkait dengan apa yang dikatakan Yesus, mari kita kembali kepada kedua anak Zebedeus. Mereka sebenarnya bisa saja berada di sisi kanan dan kiri Yesus dalam banyak kesempatan. Mereka bisa berdiri disana ketika Yesus sedang berdoa di taman Getsemani. (Matius 26:36-46). Yesus sudah membawa mereka berdua bersama Petrus. (ay 37). Tetapi apa yang mereka lakukan? Tidak sampai sejam saja mereka sudah tertidur. (ay 40). Lalu mereka punya kesempatan lagi ketika Yesus ditangkap. (Markus 14:43-52). Tapi mereka memilih untuk melarikan diri. (ay 50). Selanjutnya, mereka pun bisa berada di sisi kanan dan kiri Yesus ketika Dia disalibkan. (Yohanes 23:33-49). Sekali lagi kita melihat bahwa mereka tidak melakukan itu, tetapi justru berdiri dari jauh dalam ketakutan dan hanya menonton saja. (ay 49). Semua ini menunjukkan bahwa mereka memang tidak mengerti apa yang mereka minta.

Yesus menjalankan tugasnya sampai tuntas dengan ketaatan penuh demi keselamatan kita semua. Dalam setiap prosesnya Yesus memberikan keteladanan secara langsung kepada murid-muridNya. Dia mengajarkan apa arti besar yang sesungguhnya. Bukan bukan dari pamor atau popularitas, bukan dari kekayaan, tetapi salah satunya lewat sebuah baskom dan selembar handuk. Yesus mau merendahkan diriNya untuk membasuh kaki para murid, sebuah pekerjaan yang pada saat itu seharusnya dilakukan oleh seorang hamba.

Apa yang dilakukan Yesus adalah radikal, dan mungkin kontroversial. Wajar jika murid-muridNya pun terkejut, termasuk Petrus. “Maka sampailah Ia kepada Simon Petrus. Kata Petrus kepada-Nya: “Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?” (Yohanes 13:6). Dan Yesus menjawab, “Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak.”(ay 7). Apa yang dilakukan Yesus mengacu kepada sebuah keteladanan, agar kita semua mau merubah pola pikir kita agar mengerti seperti apa kata besar itu menurut Kerajaan Allah. “Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.” (ay 14-15).

Hidup di dunia yang penuh persaingan membuat kita seringkali lupa bagaimana gambaran yang seharusnya menurut hati Tuhan. Sampai batas-batas tertentu persaingan itu baik, apabila lewat persaingan itu kita menjadi termotivasi untuk semakin memberi yang terbaik dan terus bertumbuh. Tetapi ketika kita tergoda untuk menjadi yang terbesar melalui mencari kekayaan sebesar-besarnya, popularitas, status atau kejayaan di dunia, menghalalkan segala cara, itu sudah tidak lagi mencerminkan panggilan manusia yang sebenarnya menurut hukum Kerajaan Allah.

Teladan-teladan akan kerendahan hati, suka menolong, peduli terhadap jeritan orang lain, kebaikan, kejujuran, mendahulukan kepentingan orang lain seharusnya bisa terlihat dari kita, murid-murid Yesus yang saat ini ada di muka bumi. Menjadi pelayan, menjadi hamba dengan segala kerendahan hati, itu sangat sulit ditemukan hari-hari ini. Semua itu adalah tugas kita. Yesus sudah memberi keteladanan lewat sebuah baskom dan handuk, Dia juga sudah membuktikanNya dengan mengorbankan diri sepenuhnya untuk mati di atas kayu salib. Dan kita pun seharusnya bisa mengerti dan meneladani contoh yang telah Yesus sendiri berikan.

“Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar.” (Lukas 9:48b)

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho