Catch the Fox

Ayat bacaan: Kidung Agung 2:15
=======================
“Tangkaplah bagi kami rubah-rubah itu, rubah-rubah yang kecil, yang merusak kebun-kebun anggur, kebun-kebun anggur kami yang sedang berbunga!”

Selagi duduk di rumah dan memutar radio online pagi ini, tiba-tiba saya mendengar lagu lawas dari tahun 80an milik Den Harrow yang berjudul “Catch The Fox”. Saya pun jadi terpikir tentang hewan bernama rubah ini. Seekor rubah ukurannya tidaklah sebesar hewan buas, seperti singa misalnya. Tetapi meski kecil, rubah ini cerdik dan cekatan. Rubah sanggup hidup dimana-mana dan bisa merusak apa saja yang ia lewati. Seringkali rubah memangsa bukan karena lapar, tetapi hanya karena ingin mempermainkan mangsanya sampai mati. Seperti itulah karakter seekor rubah, yang meski relatif kecil tetapi bisa sangat merugikan bagi kita.

Sangatlah menarik ketika menemukan ayat yang menyinggung soal rubah dalam Alkitab, yang ternyata berada dalam kitab Kidung Agung. Kita tahu bahwa Kidung Agung berisi tentang romansa, kemesraan dan kebahagiaan sebuah hubungan. Tapi lihatlah tiba-tiba ada ayat unik menyeruak ditengah rangkaian ayat-ayat tersebut. Ayat-ayat itu sambung menyambung dengan manis, hingga sekonyong-konyong muncullah ayat yang berkata: “Tangkaplah bagi kami rubah-rubah itu, rubah-rubah yang kecil, yang merusak kebun-kebun anggur, kebun-kebun anggur kami yang sedang berbunga!” (Kidung Agung 2:15). Jika dihubungkan dengan karakter rubah seperti yang saya sebutkan di atas, ayat ini sesungguhnya berbicara mengenai hal penting yang seringkali luput dari perhatian kita, yaitu untuk mengingatkan kita akan pentingnya kewaspadaan dalam mencegah masuknya dosa-dosa kecil ke dalam diri kita. Singa, harimau, beruang, itu hewan buas yang kita tahu berbahaya. Tetapi seekor rubah kecil bisa jadi kita anggap tidak membawa maut bagi kita. Padahal keberadaannya bisa memangsa hewan-hewan ternak sehingga akan sangat merugikan bagi kita.

Dalam hidup sehari-hari Kita mungkin cukup waspada dan bisa menghindari dosa-dosa besar, tetapi berkompromi kepada yang kecil-kecil. Membunuh?  Mencuri? Menganiaya? Itu mungkin tidak kita lakukan. Tetapi bagaimana dengan hal-hal yang kita anggap sepele padahal itu serius di mata Tuhan? Tidak membunuh, tetapi kita mengolok-olok teman, bergosip, berkata kotor, menghujat, atau memusuhi/mendendam kepada orang lain bahkan saudara sendiri. Itu pun membunuh juga, karena menyebar fitnah seperti itu bisa membunuh karakter seseorang yang dalam banyak hal sama kejamnya dengan menghilangkan nyawa orang lain.  Atau ketika kita tidak tahan menolak ajakan dan ikut mabuk bersama teman-teman. Kita akan berdalih bahwa itu hanya sekali-kali dan tidak merupakan dosa. Tetapi Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa kita sekali-kali boleh melanggar firman Tuhan. Bagaimana ketika kita membiarkan rasa benci, dendam, iri hati dan sejenisnya menguasai kita? Atau menipu orang tua kita dengan berbagai alasan? Inipun bisa menjadi masalah besar pada suatu saat. Dosa-dosa kecil yang kita anggap sepele dan kita beri toleransi seringkali menjadi awal untuk masuknya berbagai dosa yang akan meningkat intensitasnya, dan pada suatu ketika kita sudah terjerat sedemikian rupa sehingga ketika kita sadar, sudah sulit bagi kita untuk melepaskan diri dari semua itu.

Berbagai keinginan daging yang terus kita biarkan masuk bisa menjadi “rubah-rubah” tersendiri dalam hidup kita. Meski berawal dari kecil tapi eskalasinya bisa meningkat sehingga pada satu saat nanti bisa menghancurkan hidup kita dan menjadi sangat sulit untuk dipulihkan. Dengan tegas Paulus mengatakan “Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya.” (Roma 8:7). Dalam Galatia 5:19-21 Paulus menyempatkan untuk merinci satu persatu akan perbuatan-perbuatan yang timbul dari kedagingan ini. Jika diperhatikan, beberapa dari keinginan-keinginan daging ini sepintas terlihat nikmat dan mungkin tidak terlihat sebagai sebuah dosa besar, akibatnya banyak orang yang memberi toleransi terhadap masuknya dosa dan menganggap bahwa hal itu hanyalah sebuah dosa kecil yang sepele. Tanpa disadari dosa kecil itu bisa menjadi pintu masuk bagi berbagai dosa selanjutnya yang berakibat fatal dan mampu menjatuhkan kita. Firman Tuhan berkata: “Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.” (Yakobus 1:5).

Pepatah mengatakan “karena nila setitik rusak susu sebelanga”. Kalimat yang hampir mirip pun ternyata ada dalam Alkitab. “Sedikit ragi sudah mengkhamirkan seluruh adonan.” (Galatia 5:9). Sedikit kesalahan kecil bisa menjadi pintu masuk iblis buat merusak tatanan kehidupan dalam Tuhan yang dengan susah payah sudah kita bangun selama ini. Itu juga akan membuat pengorbanan Kristus menebus dosa kita menjadi sia-sia. Karena itu apabila kita selama ini awas dalam memperhatikan dosa-dosa besar, kini saatnya kita juga harus memperhatikan pelanggaran-pelanggaran yang mungkin biasa kita anggap kecil. Ingatlah bahwa semua dosa adalah serius di hadapan Tuhan, tak perduli apakah itu besar atau kecil. Semua harus kita pertanggungjawabkan nanti dan akan menentukan kemana kita selanjutnya. Apalagi dengan keberadaan kita sebagai anak-anak terang, kita harus pula menjaga diri kita baik-baik agar bisa sampai ke garis akhir dengan selamat dan tidak terjerembab jatuh ke dalam kegelapan. “Karena itu perhatikanlah supaya terang yang ada padamu jangan menjadi kegelapan.” (Matius 12:35). Ketika kita tengah membangun hubungan yang dalam dan erat dengan Tuhan, kita tidak boleh mengabaikan hal-hal kecil yang bisa merusak keselamatan kita. Apa yang kecil di mata kita ini mampu merusak semua yang telah kita bangun dengan susah payah. Kita sudah sekian lama melatih diri kita untuk taat dan setia, kita mampu menghindari dosa-dosa yang kita anggap besar, tetapi kita lengah menghadapi masuknya jebakan dosa yang kita anggap sepele. Seperti rubah-rubah kecil, dosa-dosa “kecil” itu sanggup memporak-porandakan apa yang sudah kita bina selama ini. Rubah-rubah ini meski kecil dan relatif tidak terlihat berbahaya sesungguhnya siap menutup pintu surga dan membuat kita kehilangan kesempatan untuk mendapatkan keselamatan. Berbagai pelanggaran yang kecil yang tampaknya sepele bisa sangat menyakitkan dan menghambat langkah kita. Oleh karena itu, bereskanlah segera dosa sekecil apapun yang masih ada pada kita. Langkah selanjutnya, tetaplah berjaga-jaga. Teruslah berjalan dalam tuntunan Roh Kudus agar jangan sampai “singa dan harimau” kita hindari, tetapi “rubah-rubah” ini kita biarkan menghancurkan segala yang telah dianugerahkan Tuhan bagi kita.

Berhati-hatilah terhadap sebuah dosa meski sekecil apapun

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: