Catatan Perjalanan: Yesus dalam Berbagai Budaya di Kota Abadi 24-29 Nov. 2013 (2)

< ![endif]-->

Banyak jalan menuju Roma

Setelah terbang selama hampir 8 jam dari Jakarta pesawat EK 359 dengan tenang mendarat di landasan bandara Dubai pukul 05.35 waktu setempat. Sejak dari Cengkareng saya berkenalan dengan seorang bapak. Namanya Pak Urip yang juga akan meneruskan perjalanan ke Roma. Ia bekerja di kapal pesiar.

Di Dubai ini pada Gate AA 11  kami menunggu penerbangan selanjutnya dengan pesawat EK 097 pada jam 09.10. Ada waktu cukup longgar untuk bercerita tentang perjalanan ini.                  

Ke Roma kali ini saya diundang oleh Pontifical Council for Interreligious Dialogue (PCID) untuk menghadiri Plenary Assembly Members, 25-28 November 2013.

Saya diminta menyampaikan paparan tentang “Christians in Oriental Religious Traditional Society”.

Selama di Roma saya tinggal di Domus Sanctae Marthae, Kota Vatikan, tempat kediaman Bapa Suci Fransiskus. Saya bersama para Uskup Indonesia pernah tinggal di Rumah Santa Martha itu selama kunjungan Ad Limina Apostolorum.

Saya berharap, bisa merayakan Ekaristi di kapel rumah itu, makan bersama Bapa Suci yang telah kita kenal sebagai bapa yang dekat dengan umat, bahkan mengenali bau umat, seperti gembala mengenali bau dombanya.              

Menurut rencana pesawat ini berangkat jam 09.15 waktu setempat, tetapi tertunda. Baru pada jam 09.55  kami diminta menuju pesawat, yang parkir pada belalai Gate AA 12. Saya mendapat tempat duduk pada bagian ekor pesawat 84 G. Pada jam 10.18 diumumkan rencana pesawat terbang, terlambat kira-kira satu jam dari waktu yang direncanakan. Dari Dubai ke Roma, 4726 km, dibutuhkan waktu kira-kira 6 jam.

1+Di+restoran+Lydia by Mgr Pujasumarta

Tiba di bandara Fiumicino Roma jam 13.40. Antrian panjang untuk periksa paspor dan  mengambil bagasi, sebelum menemukan Romo Tri Edy dan Romo Singgih yang tentu telah menunggu lama, mulai pukul12.30, kedatangan saya di bandara ini. Dari bandara kami mengambil taxi menuju Domus Sanctae Marthae.

Kami singgah dulu di restoran Lydia, nama gadis Tionghoa pemilik restoran ini.            

Domus Sanctae  Marthae

Kemudian, kami bersama bergegas ke Domus Sanctae Marthae, tempat tinggal selama saya di Roma. Domus Santae Marthae dalam bahasa Indonesia berarti Rumah Santa Martha.

Romo Tri Edy dan Romo Singgih menemani saya sampai kamar yang disediaskan untuk saya. Bahkan Romo Singgih membantu saya sehingga saya bisa menggunakan internet di kamar saya. Fasilitas wifi tersedia di suatu ruang khusus. Di ruang itu BB ini bisa saya gunakan.

Pukul19.30 – 20.30 waktu makan malam. Bapa Suci tinggal di Domus Sanctae Marthae ini, mengikuti acara makan di refter. Pada meja makan yang terletak di sudut refter  petang ini Bapa Suci dhahar ditemani dua orang lain. Saya sempat bertemu dan bertegur sapa. Saya merasakan Bapa Suci seorang di antara kami.

Begitulah caranya Gembala umat Katolik mengenali bau kami.  

Selasa, 25 November 2013, pukul 07.00 misa harian di kapel rumah dipimpin oleh Bapa Suci, dihadiri oleh serombongan  umat yang datang entah dari mana. Saya mengikuti misa pagi ini. Ingin saya mengabadikan peristiwa tersebut, tetapi dilarang oleh penjaga.

Kalau Bapa Suci pirsa apa yang saya inginkan, pasti Bapa Suci memperbolehkannya. Dalam wajahnya saya temukan wajah Yesus yang dekat dengan umatnya.

Setelah bacaan Injil, Bapa Suci menyampaikan homili dalam bahasa Italia. Sejauh saya tangkap berdasarkan bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini yang berkisah tentang anak muda (Dan 1:1-6.8-20) dan seorang janda (Luk 21:1-4)

Bapa Suci menerangkan bahwa bila hati manusia tertuju pada Allah, meskipun terbatas ia menjadi mampu untuk mengambil pilihan definitif dan menyerahkan diri secara total kepada Allah. Sejarah Gereja menyaksikan para santo dan santa, para martir yan g bersedia mengorban diri kepada Allah. Tetapi juga para orangtua dengan segala keterbatasan karena tahu bahwa Allah setia menjadi mampu juga untuk mengambil pilihan difinitif dan percaya pada kesetiaan Allah.

Saya bahagia bisa mengikuti perayaan Ekaristi harian yang dipimpin oleh Bapa Suci hari ini. Kita pun di tempat kita masing-masing juga mempunyai kesempatan untuk memimpin perayaan Ekaristi yang sama, dengan doa-doa yang sama, dikuatkan oleh Sabda Tuhan yang sama, dipuaskan dengan santapan rohani yang sama, yaitu Tubuh Kristus, ketika kita menerima komuni suci.

Bila perayaan Ekaristi selesai, kita diutus untuk berbagi kasih dengan bersedia menjadi berkat bagi siapa pun dan apa pun.

Setelah misa selesai, Bapa Suci menyambut umat yang hadir dan memberi salam kepada mereka semua satu per satu.  Terpancar pada wajah mereka sukacita dan kesediaan untuk diutus.

Saya perhatikan juga bagaimana panti imam Kapel Domus Sanctae Marthae diatur. Kalau saya bercerita tentang panti imam ini, tidaklah perlu ditanggapi berlebh-lebihan. Saya sertakan foto panti imam tersebut.  Saya sekedar ingin bercerita saja dari posisi imam yang memimpin perayaan Ekariti.

Meja altar di tengah panti imam. Di belakang altar dipasang salib. Di sebelah kiri pada tembok dipasang tabernakel. Sedilia untuk pemimpin perayaan Ekaristi berada di sebelah kiri meja altar. Sedangkan mimbar sabda ada di sebelah kanan meja altar. Saya menjadi semakin mantap untuk menganjurkan para imam mengatur panti imam seperti itu.

Soal keselamatan jiwa kita,  kita percayakan kepada Allah yang Maharahim.

Salam, doa ‘n Berkah Dalem,

+ Johannes Pujasumarta

Photo credit: Mgr. Johannes Pujasumarta

Tautan: Catatan Perjalanan: Yesus dalam Berbagai Budaya di Kota Abadi 24-29 Nov. 2013 (1)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: