Cara Tiga Dara Australia Menghargai Keberagaman Indonesia

presentasi_intern_by_seenying4BHINNEKA Tunggal Ika atau persatuan dalam keanekaragaman. Inilah semboyan politik bangsa dan negara Indonesia ketika harus merengkuh semua elemen berbeda dari Sabang di Pulau Weh Aceh sampai Merauke di belahan paling timur Papua. Ketika kebhinekaan menjadi sesuatu yang dianggap biasa dan malah sering dianggap sebagai hal aneh, maka inilah yang kemudian terjadi: semua orang lantas tidak mengacuhkannya. Namun, ketika kebhinekaan ini menjadi sebuah pengalaman eksotis yang tiada duanya di dunia, justru faktisitas yang indah dan hanya ada di Indonesia inilah yang sejatinya malah dihargai oleh bangsa atau warga negara lain. Mungkin hanya Indonesia yang kaya dengan warisan budaya dan nilai adihulung lengkap dengan ribuan bahasa daerah disertai ratusan etnik inilah hingga orang asing justru melihatnya sebagai kekayaan tiada tara. Justru ketika orang asing melihat Indonesia sebagai negara dan bangsa dimana –seperti motto Amerika yang menyebut E Pluribus Unum yang berarti Dari Banyak Hal, Terjadilah Persatuan– maka di situlah sebenarnya Indonesia ini layak diacungi dua jempol menjulang tinggi atas. Candice Chesterfield –dara muda Australia dari Sunshine Coast di Queensland—justru memaknai Indonesia sebagai negara dan bangsa yang luar biasa kaya. Mengaku baru pertama kali berkunjung di Indonesia yang disebutnya sebagai ‘multicultural and multiethnic nation’, dalam tiga pekan tinggal di Jakarta maka alumnus University of Sunshine Coast yang menyukai studi bidang urban safety and open space sudah mengaku jatuh cinta dengan Indonesia. Rasa ingin tahunya tentang Indonesia dan keinginannya mempelajari issues di bidang urban safety dan open space itulah yang akhirnya mengantar Candice ke United Cities and Local Government Asia Pacific (UCLG ASPAC) untuk belajar menjalani program internship. Di kantor Sekretariat UCLG ASPAC yang berlokasi di Kompleks Balai Kota DKI Jakarta inilah, Candice secara tak sengaja ‘dipertemukan’ dengan kedua gadis muda lain yang juga berasal dari Australia. Mereka adalah Seenying dari Brisbane dan Nicole dari Sydney. (Baca juga: Lessons Learnt and Hopes Blossom) Tiga kota Dalam kurun waktu tiga pekan itulah, Candice berkesempatan datang mengunjungi tiga kota besar di Pulau Jawa: Yogyakarta, Bogor dan Bandung. Ketika membawakan presentasinya di hadapan para staf UCLG ASPAC awal Februari 2015 belum lama ini, Candice yang suka kucing ini mengaku terkesan dengan nilai sosial yang sangat khas di tengah masyarakat Indonesia: murah senyum, ramah, dan suka membantu. Yogyakarta menjadi magnet tersendiri bagi Candice, selain tentu saja Bandung yang bulan-bulan terakhir ini menjadi lebih ‘gegap gempita’. Itu karena antusiasmenya Walikota Bandung Ridwan Kamil yang ‘bernafsu besar’ ingin menghadirkan banyak public open space di kota Paris van Java ini. Lebih menyenangkan lagi ketika bersama rekan satu negaranya Seenying, Candice mendapat kesempatan untuk bertemu muka dan berdiskusi dengan Ridwan Kamil mengenai konsep urban safety and open space dengan penguasa nomor satu di Ibukota Jawa Barat ini. Menjawab Sesawi.Net usai menyampaikan presentasi hasil internship-nya di UCLG, Candice mengaku sangat ingin kembali ke Indonesia untuk menyumbangkan ilmunya tentang open space dan urban safety bagi banyak kota di Indonesia. Apalagi, kata dia bersemangat, “Walikota Bandung Mr. Ridwan Kamil akan mensponsori program studi banding ini,” katanya berseri-seri. Pengalaman pribadi Seenying Lau punya ceritanya sendiri. Lahir dan besar di Malaysia dari keluarga berdarah Chinese, Seenying baru menapakkan kakinya di Australia —khususnya di Adelaide—ketika dia masih berumur 18 tahun. Tahun-tahun pertama hidup di Adelaide –terutama ketika mengunjungi kantong-kantong permukiman kumuh—ikut membentuk pribadinya seperti sekarang ini. “Dari orang-orang marjinal di pinggiran Adelaide inilah, saya menjadi tahu apa artinya murah hati dan semangat belarasa,” kata mahasiswa jurusan antropologi ini mengawali kisahnya. Sebagai ‘duta’ Australia, begitu lanjutnya, “Justru karena orang-orang marjinal itulah saya lalu menyadari bahwa kebaikan mereka itu layak dibalas dengan pengabdian tanpa henti. Sebab, tanpa (pernah berkesempatan) ketemu dengan mereka, apalah saya ini hingga bisa datang ke Jakarta dan bertemu teman-teman di UCLG ASPAC untuk menjalani internship saya.” Masalah jurang sosial antara kelompok kaya dan miskin ada dimana-mana, termasuk –kata Seenying—juga ada di Indonesia, khususnya di Jakarta. Karena itu, dalam kapasitasnya sebagai seorang antropolog yang tengah meneliti issue sosial di Indonesia selama internship-nya di UCLG ASPAC, semangat belarasa dan kepedulian itu bisa dibangun antara lain dengan program corporate social responsibility (CSR). UCLG ASPAC sebagai lembaga internasional yang menjadi ‘hub’ bagi pemerintahan-pemerintahan daerah di kawasan Asia Pasifik –termasuk Australia—mestinya bisa merancang program untuk realisasi CSR yang manusia, tepat sasaran dan efektif berguna. CSR, kata Seenying, seperti jembatan yang menghubungkan dunia bisnis yang asyik menghasilkan uang dan keutungan dengan masyarakat yang membutuhkan ‘sentuhan kasih’ dari perusahaan-perusahaan yang beroperasi di sekitar permukiman mereka. Meski tidak lebih dari enam pekan berada di Indonesia –khususnya di Jakarta dan bekerja magang di UCLG ASPAC—Seenying mengaku bahwa pengalamannya bermagang di Indonesia ikut membentuk dirinya. Tayangan video Di ujung acara, maka Nicole Ng mengakhirinya dengan tayangan video. Lahir di Hongkong dan sejak umur lima tahun sudah hijrah keluar negeri antara lain ke Guadalajara di Meksiko dan Swiss namun kemudian berlabuh di Sydney, Nicole mengalami irama kehidupan yang jauh lebih dinamis: banyak ketemu manusia dari berbagai latar belakang. Mengaku jatuh cinta dengan Pulau Lombok di NTB usai mendaki Gunung Rinjani yang katanya super dingin, Nic mengaku senang hati ketika berhasil menemui beberapa asylum seeker dari Afghanistan di sebuah pusat penampungan di Bogor, Jawa Barat. Pengalaman lain yang ikut menggugah hatinya adalah ketika bersama media lokal dan internasional d Jakarta mengikuti acara konferensi pers dengan jaringan aktivis dan organisasi pemantau hak-hak asasi manusia. Meski waktunya sangat pendek untuk program internship di UCLG ASPAC di Jakarta Pusat, namun Nic mengaku mendapat banyak inspirasi positif bekerjasama dengan koleganya dari Indonesia di Divisi Informasi dan Komunikasi. “Bersama kedua rekan saya yakni Mathias dan Olga, saya diajak memahami bagaimana proses writing dan editing sebuah naskah berita dan itu menyenangkan,” kata penggemar olahraga hiking yang sampai membawanya terkilir di Afrika Selatan ini. Di akhir cerita, Nic mempertontonkan sebuah tayangan video berdurasi pendek berisi rekaman para tokoh pemerintahan daerah di seluruh kawasan Asia Pasifik ketika harus berbicara kesan dan pesan tentang UCLG ASPAC. Inilah kisah tiga dara Australia tentang Indonesia dan masyarakat kita yang menggugah hati. Semua yang mendengarnya pasti suka dan senang karena ternyata Indonesia itu memang kaya raya.

presentasi_intern_by_seenying4

BHINNEKA Tunggal Ika atau persatuan dalam keanekaragaman. Inilah semboyan politik bangsa dan negara Indonesia ketika harus merengkuh semua elemen berbeda dari Sabang di Pulau Weh Aceh sampai Merauke di belahan paling timur Papua.

Ketika kebhinekaan menjadi sesuatu yang dianggap biasa dan malah sering dianggap sebagai hal aneh, maka inilah yang kemudian terjadi: semua orang lantas tidak mengacuhkannya. Namun, ketika kebhinekaan ini menjadi sebuah pengalaman eksotis yang tiada duanya di dunia, justru faktisitas yang indah dan hanya ada di Indonesia inilah yang sejatinya malah dihargai oleh bangsa atau warga negara lain.

Mungkin hanya Indonesia yang kaya dengan warisan budaya dan nilai adihulung lengkap dengan ribuan bahasa daerah disertai ratusan etnik inilah hingga orang asing justru melihatnya sebagai kekayaan tiada tara. Justru ketika orang asing melihat Indonesia sebagai negara dan bangsa dimana –seperti motto Amerika yang menyebut E Pluribus Unum yang berarti Dari Banyak Hal, Terjadilah Persatuan– maka di situlah sebenarnya Indonesia ini layak diacungi dua jempol menjulang tinggi atas.

Candice Chesterfield –dara muda Australia dari Sunshine Coast di Queensland—justru memaknai Indonesia sebagai negara dan bangsa yang luar biasa kaya. Mengaku baru pertama kali berkunjung di Indonesia yang disebutnya sebagai ‘multicultural and multiethnic nation’, dalam tiga pekan tinggal di Jakarta maka alumnus University of Sunshine Coast yang menyukai studi bidang urban safety and open space sudah mengaku jatuh cinta dengan Indonesia.

Rasa ingin tahunya tentang Indonesia dan keinginannya mempelajari issues di bidang urban safety dan open space itulah yang akhirnya mengantar Candice ke United Cities and Local Government Asia Pacific (UCLG ASPAC) untuk belajar menjalani program internship. Di kantor Sekretariat UCLG ASPAC yang berlokasi di Kompleks Balai Kota DKI Jakarta inilah, Candice secara tak sengaja ‘dipertemukan’ dengan kedua gadis muda lain yang juga berasal dari Australia. Mereka adalah Seenying dari Brisbane dan Nicole dari Sydney. (Baca juga: Lessons Learnt and Hopes Blossom)

Tiga kota
Dalam kurun waktu tiga pekan itulah, Candice berkesempatan datang mengunjungi tiga kota besar di Pulau Jawa: Yogyakarta, Bogor dan Bandung. Ketika membawakan presentasinya di hadapan para staf UCLG ASPAC awal Februari 2015 belum lama ini, Candice yang suka kucing ini mengaku terkesan dengan nilai sosial yang sangat khas di tengah masyarakat Indonesia: murah senyum, ramah, dan suka membantu.

Yogyakarta menjadi magnet tersendiri bagi Candice, selain tentu saja Bandung yang bulan-bulan terakhir ini menjadi lebih ‘gegap gempita’. Itu karena antusiasmenya Walikota Bandung Ridwan Kamil yang ‘bernafsu besar’ ingin menghadirkan banyak public open space di kota Paris van Java ini.

Lebih menyenangkan lagi ketika bersama rekan satu negaranya Seenying, Candice mendapat kesempatan untuk bertemu muka dan berdiskusi dengan Ridwan Kamil mengenai konsep urban safety and open space dengan penguasa nomor satu di Ibukota Jawa Barat ini.

Menjawab Sesawi.Net usai menyampaikan presentasi hasil internship-nya di UCLG, Candice mengaku sangat ingin kembali ke Indonesia untuk menyumbangkan ilmunya tentang open space dan urban safety bagi banyak kota di Indonesia. Apalagi, kata dia bersemangat, “Walikota Bandung Mr. Ridwan Kamil akan mensponsori program studi banding ini,” katanya berseri-seri.

Pengalaman pribadi

Seenying Lau punya ceritanya sendiri.

Lahir dan besar di Malaysia dari keluarga berdarah Chinese, Seenying baru menapakkan kakinya di Australia —khususnya di Adelaide—ketika dia masih berumur 18 tahun. Tahun-tahun pertama hidup di Adelaide –terutama ketika mengunjungi kantong-kantong permukiman kumuh—ikut membentuk pribadinya seperti sekarang ini.

“Dari orang-orang marjinal di pinggiran Adelaide inilah, saya menjadi tahu apa artinya murah hati dan semangat belarasa,” kata mahasiswa jurusan antropologi ini mengawali kisahnya.

Sebagai ‘duta’ Australia, begitu lanjutnya, “Justru karena orang-orang marjinal itulah saya lalu menyadari bahwa kebaikan mereka itu layak dibalas dengan pengabdian tanpa henti. Sebab, tanpa (pernah berkesempatan) ketemu dengan mereka, apalah saya ini hingga bisa datang ke Jakarta dan bertemu teman-teman di UCLG ASPAC untuk menjalani internship saya.”

Masalah jurang sosial antara kelompok kaya dan miskin ada dimana-mana, termasuk –kata Seenying—juga ada di Indonesia, khususnya di Jakarta. Karena itu, dalam kapasitasnya sebagai seorang antropolog yang tengah meneliti issue sosial di Indonesia selama internship-nya di UCLG ASPAC, semangat belarasa dan kepedulian itu bisa dibangun antara lain dengan program corporate social responsibility (CSR).

UCLG ASPAC sebagai lembaga internasional yang menjadi ‘hub’ bagi pemerintahan-pemerintahan daerah di kawasan Asia Pasifik –termasuk Australia—mestinya bisa merancang program untuk realisasi CSR yang manusia, tepat sasaran dan efektif berguna.

CSR, kata Seenying, seperti jembatan yang menghubungkan dunia bisnis yang asyik menghasilkan uang dan keutungan dengan masyarakat yang membutuhkan ‘sentuhan kasih’ dari perusahaan-perusahaan yang beroperasi di sekitar permukiman mereka.

Meski tidak lebih dari enam pekan berada di Indonesia –khususnya di Jakarta dan bekerja magang di UCLG ASPAC—Seenying mengaku bahwa pengalamannya bermagang di Indonesia ikut membentuk dirinya.

Tayangan video

Di ujung acara, maka Nicole Ng mengakhirinya dengan tayangan video.

Lahir di Hongkong dan sejak umur lima tahun sudah hijrah keluar negeri antara lain ke Guadalajara di Meksiko dan Swiss namun kemudian berlabuh di Sydney, Nicole mengalami irama kehidupan yang jauh lebih dinamis: banyak ketemu manusia dari berbagai latar belakang. Mengaku jatuh cinta dengan Pulau Lombok di NTB usai mendaki Gunung Rinjani yang katanya super dingin, Nic mengaku senang hati ketika berhasil menemui beberapa asylum seeker dari Afghanistan di sebuah pusat penampungan di Bogor, Jawa Barat.

Pengalaman lain yang ikut menggugah hatinya adalah ketika bersama media lokal dan internasional d Jakarta mengikuti acara konferensi pers dengan jaringan aktivis dan organisasi pemantau hak-hak asasi manusia.

Meski waktunya sangat pendek untuk program internship di UCLG ASPAC di Jakarta Pusat, namun Nic mengaku mendapat banyak inspirasi positif bekerjasama dengan koleganya dari Indonesia di Divisi Informasi dan Komunikasi. “Bersama kedua rekan saya yakni Mathias dan Olga, saya diajak memahami bagaimana proses writing dan editing sebuah naskah berita dan itu menyenangkan,” kata penggemar olahraga hiking yang sampai membawanya terkilir di Afrika Selatan ini.

Di akhir cerita, Nic mempertontonkan sebuah tayangan video berdurasi pendek berisi rekaman para tokoh pemerintahan daerah di seluruh kawasan Asia Pasifik ketika harus berbicara kesan dan pesan tentang UCLG ASPAC.

Inilah kisah tiga dara Australia tentang Indonesia dan masyarakat kita yang menggugah hati. Semua yang mendengarnya pasti suka dan senang karena ternyata Indonesia itu memang kaya raya.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply