Cara Hidup

Ayat bacaan: Matius 20:25-26a
=========================
“Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu..”

cara hidup menurut Kristus

“Dunia ini kejam, jadi kalau mau sukses kita harus lebih kejam dari dunia.” Kata-kata itu keluar dari seorang tetangga saya yang sempat membuat saya kaget. Ia tidak sendirian, karena semakin hari semakin banyak orang yang berpikir seperti itu. Ketika tekanan dalam kehidupan semakin keras, kebanyakan orang akan menuju kepada dua arah: menyerah atau mulai kehilangan akal sehatnya untuk hidup dengan benar. “Dengan cara apapun kita harus bisa mendapatkan uang. Soal jujur atau tidak itu nanti sajalah..” sambung tetangga saya itu lagi. Betapa berbahayanya jika orientasi kita sudah mengerucut hanya kepada kebutuhan materi semata. Mereka melupakan kenyataan bahwa hidup di dunia ini sangatlah singkat jika dibandingkan sebuah kehidupan atau destinasi yang akan kita tuju setelah periode di dunia ini. Berapa umur manusia? Bisa mencapai 80 tahun saja sudah merupakan sesuatu yang istimewa. Tapi apalah artinya 80 tahun dibanding sebuah kekekalan?

Banyak orang melupakan hal ini. Bagi mereka bertarung hidup di dunia yang keras dan kejam hanya bisa dimenangkan jika kita lebih keras dan lebih kejam lagi. Lupakan soal moral, lupakan soal menghidupi firman Tuhan, abaikan kejujuran, kebaikan, keramahan, dan raihlah uang sebanyak-banyaknya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Jadilah serakah, arogan, dan usahakan untuk naik jabatan setinggi mungkin dengan cara apapun. Halalkan segala cara, lakukan apa saja yang penting apa yang kita inginkan tercapai. Saling sikut menyikut, saling menjatuhkan, saling menjelekkan, fitnah, korupsi dan tindakan-tindakan amoral lainnya, semua itu bukan lagi sesuatu yang salah untuk dilakukan. Justru yang dianggap bodoh adalah orang-orang yang tetap hidup lurus karena itu artinya mereka membuang kesempatan untuk bisa memiliki segalanya.

Apabila hati dan pikiran kita sudah sampai kepada konsep seperti demikian, itu tandanya kita sudah sangat jauh dari Tuhan. Mengapa? Karena konsep kehidupan yang diajarkan Yesus sungguh bertolak belakang dengan apa yang dipercaya dunia sebagai tolok ukur keberhasilan atau kesuksesan. Lihatlah pengajaran-pengajaran Kristus tentang cara hidup dalam Kerajaan Allah yang berbeda seratus delapan puluh derajat dengan cara pikir dunia. Anda ingin menjadi yang terbesar? Dunia berkata kuasai sebanyak-banyaknya, tetapi Yesus mengajarkan kita justru merendahkan diri kita sejauh mungkin. Untuk lebih jelasnya mari kita lihat apa yang tertulis di dalam Alkitab. “Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.” (Matius 20:25) Pemerintah bangsa-bangsa dalam versi bahasa Inggrisnya dikatakan dengan “the rulers of the Gentiles”, yang bisa kita artikan sebagai para pemimpin bangsa yang tidak mengenal Allah. Ini dilakukan oleh mereka demi kepentingan dan kepuasan pribadi. Posisi orang percaya seharusnya tidak boleh seperti itu. Yesus melanjutkan: “Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu.” (ay 26-27). Yesus tidak asal bicara, Dia sudah mencontohkan langsung dengan cara hidupNya sendiri mengenai hal tersebut. Dalam kesempatan lain Yesus juga berkata “Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar.” (Lukas 9:48).

Bagaimana dengan cara menghadapi musuh? Dunia mengajarkan kita untuk membinasakan musuh, kalau perlu menghancurkan mereka berkeping-keping, tetapi Yesus mengajarkan sebaliknya. “Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.” (ay 38-39). Bukan hanya mengalah dan tidak melawan, tetapi lebih lanjut Yesus mengatakan “Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.(Matius 5:43-44). Musuh bukan untuk dihancurkan, tetapi untuk dikasihi, dibantu dan didoakan. Ini sebuah pengajaran yang mendobrak tatanan atau konsep pemikiran secara radikal pada saat itu dan masih demikian pula hingga hari ini.

Konsep kehidupan yang harus kita jalankan sungguh berbeda dengan apa yang dipercaya dunia sebagai kunci kesuksesan. Ketika dunia menghalalkan segala cara, kita dituntut untuk melakukan segala sesuatu dengan jujur, tulus dan sungguh-sungguh seperti untuk Tuhan, dan kemudian menyerahkan semuanya sesuai dengan kehendak Tuhan sambil disertai dengan rasa syukur. Dunia boleh membenci, tetapi kita mengasihi. Kesombongan tidak ada dalam kamus kita, dan harus diganti dengan kerendahan hati. Semakin tinggi kita naik, kita harus semakin rendah hati. Memberi bantuan tanpa pandang bulu, termasuk kepada musuh kita. Mengasihi tanpa pilih-pilih, dan memuliakan Tuhan dalam segala perbuatan kita. Tidak perlu repot-repot menimbun uang, tetapi kita justru harus lebih banyak memberi atau menabur,”sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” (Kisah Para Rasul 20:35). Inilah bentuk pengajaran Kristus yang akan membawa kita kedalam damai sukacita sejati menuju kepada keselamatan yang kekal. Semua tergantung kita untuk memilih apakah kita mau memakai cara-cara Kristus atau cara dunia.

Cara hidup menurut Kristus berbeda dengan cara pandang dunia, pilih yang mana?

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: