Cara Allah Meraja Seperti Apa Ya?

surga 1

PERUMPAMAAN Yesus hari ini mengherankan. Biasanya orang membersihkan rumput dari sawah supaya padi dapat tumbuh lebih subur. Memang sulit membedakan antara lalang dengan padi atau gandum, karena mereka sangat mirip.

Perbedaan antara padi dan gandum dengan lalang: padi dan gandum ditanam untuk mendapat buahnya, menjadi beras sebagai makanan pokok manusia. Karena itu perlu dipelihara dengan pengolahan tanah. Lalang dapat tumbuh dimana saja, bahkan di tanah yang kering. Di tanah subur tentu dapat hidup lebih baik lagi.

Bagi manusia, lalang tidak ada gunanya, malah mengganggu, karena merampas makanan untuk gandum/padi. Pemilik kebun tidak menginginkan para pekerja mencabuti lalang. Nanti para penuai yang akan memotong lalang dan membakarnya. Pemilik kebun tidak ingin gandum tercabut.

Tetapi apa artinya beberapa batang gandum tercabut untuk kepentingan panen keseluruhannya? Bukankah kerugiannya lebih besar kalau lalang itu merampas jatah makanan bagi gandum di seluruh ladang? Disini terletak perbedaan antara perumpamaan sebagai ungkapan sikap Allah dengan kenyataan hidup sehari-hari. Pemilik kebun itu yakin bahwa lalang tidak akan mengganggu hasil panenan pada akhirnya. Karena itu Ia membiarkan lalang tumbuh bersama gandum sampai saat panen.

Begitulah Kerajaan Allah, begitulah cara Allah meraja. Lalang tidak dibuang karena ia lalang; tetapi nanti akan dibakar karena tidak menghasilkan buah. Gandum dipelihara bukan karena ia gandum, tetapi karena menghasilkan buah. Lalang dan gandum ada dalam diri setiap manusia. Allah perduli dengan keselamatan tiap orang. Allah bersabar dan memberi kesempatan sampai saat terakhir, sampai akhir jaman.

Bagaimana dengan kejahatan di dunia? Bukankah dengan demikian Allah membiarkan orang baik menderita karena kejahatan orang lain? Manusia melihat dunia ini hitam-putih. Saya baik dan orang jahat membuat saya menderita. Allah melihat dunia ini sebagai campuran segala warna. Orang baik punya kelemahan, orang bersalah punya kebaikan. Semua mendapat kesempatan untuk menjadi selamat.

Kita, yang sekaligus mempunyai lalang dan gandum dalam hidup kita, punya tugas untuk terus menumbuhkan gandum dan menghasilkan buah-buah cinta kasih. Tugas itu juga bukan tugas kita sendiri saja. Roh membantu kita dalam kelemahan kita, kata st. Paulus dalam Rom. 8:26. Roh bukan hanya membantu kita berdoa, tetapi juga untuk terus mendorong kita untuk menumbuhkan gandum dan bulir-bulir kebaikan dalam hidup kita.

Dengan usaha kita menanam, menumbuhkan dan menghasilkan kebaikan yang kita sebarkan ke sekitar kita, kita ikut membantu menciptakan kebaikan itu yang juga memberi kesempatan orang lain ikut menumbuhkan dan menghasilkan kebaikan dalam hidup mereka. Sehingga pada saat panenan, akhir jaman, para penuai dapat mengumpulkan buah-buah keselamatan untuk semua orang yang berkehendak dan berjuang untuk menyebarkan kebaikan.

Seorang bapak yang suatu pagi mengalami kesulitan ketika harus mendorong sepeda motornya yang mogok. Dengan perasaan sedih dan bercucuran keringat ia berharap ada seseorang yang mau menolongnya di pagi buta itu. Namun hingga beberapa kilometer ia berjalan, tidak ada seorang pun yang mau peduli.

Akhirnya dengan pakaian yang basah kuyup, laki-laki setengah baya itu menemukan juga sebuah bengkel yang pintunya masih tertutup rapat, dan ia terpaksa harus menunggu hingga si pemiliknya datang. Beberapa waktu kemudian, si bapak melihat kejadian yang sama ketika ia tengah melintas di jalan yang sama dengan kejadiannya waktu itu.

Dari kejauhan ia melihat seorang anak muda yang tengah mendorong sepeda motornya; tiba-tiba muncul ide di benaknya untuk melakukan sesuatu kepada anak muda yang tengah mengalami kesulitan itu. Kemudian ia menepikan mobilnya untuk menolong anak muda itu. Tapi tiba-tiba muncul keraguan dalam benaknya.

“Apakah saya harus menolong orang yang tidak saya kenal?“ Maka ia pun kembali memacu kendaraannya meninggalkan anak muda itu yang tampak semakin mengecil dari balik kaca spion. Namun setelah beberapa meter ia berjalan, perasaannya tidak tenang. Terjadi pergulatan antara pikiran jahat dan pikiran baik yang sama-sama memiliki argumen.

Akhirnya maksud baik yang menang. Si bapak memutuskan untuk berhenti dan menunggu anak muda itu dari kejauhan. Tetapi apa yang terjadi ketika anak muda itu sudah mendekat? Ternyata di detik-detik terakhir pikiran jahat kembali menyabot dan ia sekali lagi membiarkan anak muda itu melewati mobilnya.

Hal ini terjadi hingga tiga kali sampai akhirnya si bapak benar-benar berhasil memenangkan pertarungan dengan dirinya sendiri. Anak muda yang tengah mendorong sepeda motor itu terheran-heran ketika si bapak mempersilahkan anak muda itu menaikkan motornya yang mogok ke dalam mobil kijangnya untuk diantar ke bengkel terdekat.

Insight: Hal ini membuktikan bahwa tidak mudah untuk berbuat baik. Selalu ada perlawanan dari dalam diri kita sendiri. Seperti seorang guru bijak pernah mengingatkan, “Menaklukkan orang lain membutuhkan kekuatan, menaklukkan diri sendiri membutuhkan kesadaran.”

Untuk menumbuhkan kebaikan, perlu kesadaran dan perjuangan untuk melaksanakannya. Tetapi kalau kita berhasil, kita terdorong untuk mengulanginya. Orang yang kita tolong, juga dapat tergerak untuk ikut berbuat baik kepada orang lain.

Jika hal ini kita lakukan berulang-ulang, maka kebaikan menjadi kebiasaan yang terus menyebar; sehingga semua orang mendapat kesempatan menumbuhkan gandum yang berbuah banyak, sampai musim panen tiba. Semoga tidak ada lalang lagi yang perlu dibakar; semua sudah berubah menjadi gandum; karena berkat Allah dan usaha kita. Amin

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: