Cap Buruk

Ayat bacaan: Keluaran 20:7
====================
“Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.”

cap buruk

“Saya kecewa melihat orang-orang beratribut seolah mewakili sebuah agama tertentu tetapi perilakunya sangat memalukan. Mereka memberi cap buruk yang akan mengenai pemeluk kepercayaan yang sama, termasuk pula orang-orang seperti saya yang sama sekali tidak setuju dengan perilaku mereka itu.” Demikian kata seorang teman yang gerah melihat berbagai teror yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu yang mengatas namakan sebuah kepercayaan. Dan ini sudah menjadi konsumsi berita sehari-hari. Aksi kekerasan, aksi teror dengan berbagai bentuk dan modus seolah mendapat pembenaran lewat berbagai alasan. Kasihan memang orang-orang yang tidak setuju terhadap perilaku mereka harus pula terkena getahnya. Hanya sekelompok yang berbuat, tetapi yang terkena bisa luas. Jika anda berpikir bahwa hal seperti ini hanya terjadi di luar kita, tunggu dulu. Dalam bentuk lain yang mungkin terasa tidak seekstrim itu, sebenarnya di kalangan orang percaya pun perilaku seperti ini juga terjadi. Hari ini saya melihat seorang pemuda yang memakai kalung salib membentak seorang pramuniaga di mal karena merasa terganggu. Itu dilihat oleh orang banyak. Pernah pula saya melihat mobil bertuliskan “Jesus Inside” yang memelesetkan slogan “Intel Inside” justru ugal-ugalan di jalan. Perilaku-perilaku seperti ini pun sesungguhnya sama mencemarkan kepercayaan yang dianut, yang tentu saja akan mengenai orang-orang lain yang seiman. Cap buruk bisa mengenai semuanya secara luas, dan hal seperti itu sering terjadi di depan mata kita, atau jangan-jangan kita sendiri pun sudah menjadi batu sandungan secara tidak sadar. Lihatlah bagaimana sesama orang percaya saling curiga dan tarik menarik jemaat. Mereka menganggap gerejanya paling benar sedang yang lain salah bahkan sesat. Saya pernah juga bertemu dengan seseorang yang secara kasar memaksa saudara/i seimannya untuk pindah ke gerejanya. Ia dengan mudahnya menjelek-jelekkan gereja tempat lawan bicaranya bertumbuh bahkan berani membawa-bawa nama Tuhan, bertindak seolah-olah ia adalah Tuhan yang paling tahu dan berhak menghakimi. Bukankah ini pun merupakan bentuk teror dan perbuatan buruk yang sama saja? Itu artinya, di kalangan kita sendiri pun tidak tertutup kemungkinan berkembangnya perilaku buruk yang bisa mencemarkan orang-orang yang seiman terlebih memberi nama buruk buat Kristus di mata dunia. Hal seperti ini sangatlah tidak berkenan di mata Tuhan, dan sejak semula Tuhan sesungguhnya sudah mengingatkan hal itu.

Mari kita lihat ayatnya. “Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.” (Keluaran 20:7). Ini adalah satu dari 10 Perintah Allah atau dikenal juga dengan the Ten Commandments yang tentu saja sudah tidak asing lagi bagi kita. Menyebut nama Tuhan? Itu berarti berhubungan dengan ucapan yang keluar lewat suara atau kata-kata kan? Belum tentu, karena sebenarnya itu bisa pula tampil lewat atribut yang kita pergunakan, atau bahkan sebagai orang yang menyandang namaNya. Kita harus benar-benar memperhatikan sikap, perbuatan dan gaya hidup kita. Kita harus memperlakukan Tuhan dengan penuh hormat dan takut, dan sikap kita ketika menyandang namaNya akan menunjukkan seberapa besar hormat dan takut kita itu kepadaNya. Jika kita menyebut atau merepresentasikan Tuhan secara sembarangan atau tidak benar, maka itu dipandang sebagai kesalahan, dan kita tahu konsekuensi yang harus kita pikul jika perbuatan kita dipandang Tuhan sebagai sebuah bentuk kesalahan.

Selain daripada itu, mari kita lihat sebuah ayat dalam Efesus berikut ini: “kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera.” (Efesus 6:15). Berkasutkan atau bersepatukan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera, ini artinya bahwa ketika kita memakai atribut Kekristenan, Tuhan pun ingin kita memberitakan Injil yang membawa damai sejahtera dan keselamatan. Bukan hanya lewat kata-kata, tetapi lewat perilaku, sikap dan gaya hidup kita. Itupun sungguh penting, malah mungkin jauh lebih penting ketimbang memberitakannya hanya sebatas perkataan saja. Jika Tuhan inginnya seperti itu, bukankah kita berlaku jauh sebaliknya ketika kita menunjukkan perbuatan-perbuatan yang tidak terpuji termasuk ketika kita mengenakan atribut-atribut yang menunjukkan siapa diri kita?

Lantas bagaimana atribut yang seharusnya? Atau apa yang sesungguhnya harus kita tunjukkan sebagai pengikut Kristus? Jawabannya hanyalah satu, yaitu KASIH. Kasih akan membawa pengaruh penting dan menunjukkan sebuah perbedaan nyata dari sikap dan cara kita dalam memandang orang lain atau bahkan memandang hidup. Yesus berkata: “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” (Yohanes 13:35). Memakai atribut yang bergambarkan kekristenan tetapi melakukan tindakan-tindakan yang tidak terpuji akan memberi pemahaman yang salah terhadap Tuhan. Itu akan mempermalukan Tuhan dan tentu saja hal itu akan dipandang sebagai sebuah kesalahan yang besar di mata Tuhan. Paulus pun menyinggung hal ini. “..”Setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan.” (2 Timotius 2:19). Kemanapun kita melangkah, seharusnya kita ingat bahwa kita sedang membawa Kabar Sukacita kepada orang lain, kita membawa nama baik Tuhan Yesus, Sang Juru Selamat kita. Apakah itu lewat kata-kata, sikap, bahasa tubuh kita, perbuatan dan sebagainya, kita haruslah bisa menunjukkan sikap yang benar sebagai murid Yesus. Itu akan memberi kesaksian tersendiri kepada orang lain, dan lewat itu kita bisa memuliakan Tuhan dan dengan sendirinya bisa memberitakan Kabar Keselamatan yang akan jauh lebih bermakna ketimbang sekedar perkataan saja. Paulus mengingatkan kita: “Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia.” (2 Korintus 3:3).

Ini saatnya bagi kita untuk menyadari bahwa disaat kita berjalan dengan atribut-atribut tersebut, kita sesungguhnya sedang membawa nama Yesus kemanapun kita pergi. Baik atau tidak namaNya dikenal orang, benar atau tidak pemahaman orang tentang Dia, itu akan sangat tergantung dari gerak langkah kita, sikap, tindakan dan perbuatan kita sehari-hari ditengah masyarakat. Bagaikan seorang ayah yang bisa dikenal orang lewat sikap anaknya, demikian pula antara kita dengan Bapa. Oleh karena itu, marilah sekarang juga kita mulai mengalirkan kasih kepada semua orang tanpa terkecuali, bertindak, berpikir dan berbuat atas dasar kasih, dan disanalah orang akan memperoleh pemahaman yang benar akan Kristus.


Marilah kita menyatakan kasih seperti yang diinginkan Tuhan, sehingga orang bisa mengenal pribadi Tuhan secara benar lewat diri kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply