Cantik Kok Hanya Nomor HP, Mestinya Inner Beauty

inner beauty by Emzki Poopsie“Dan di dalam agama Yahudi, aku jauh lebih maju dari banyak teman yang sebaya dengan aku di antara bangsaku, sebagai orang yang sangat rajin memelihara adat istiadat nenek moyangku.” (Gal 1, 14) TIGA hari yang lalu saya mendapatkan SMS dari nomor yang tidak saya kenal, dengan isi, “Dijual perdana cantik simPATI pasangan nomor anda 082227 […]

inner beauty by Emzki Poopsie

“Dan di dalam agama Yahudi, aku jauh lebih maju dari banyak teman yang sebaya dengan aku di antara bangsaku, sebagai orang yang sangat rajin memelihara adat istiadat nenek moyangku.” (Gal 1, 14)

TIGA hari yang lalu saya mendapatkan SMS dari nomor yang tidak saya kenal, dengan isi, “Dijual perdana cantik simPATI pasangan nomor anda 082227 63 5757.”

Banyak orang memilih nomor-nomor HP cantik, seperti tawaran yang saya terima. Nomor 5757 disebut cantik karena bisa diucapkan ‘maju-maju’ atu juga 5758, yang bisa diucapkan ‘maju mapan’.

Bagaimanapun juga, hidup manusia harus mengalami kemajuan dan pertumbuhan dari saat ke saat atau dari tahun ke tahun. Banyak orang berusaha, agar kehidupan mereka semakin lama semakin mapan di dalam banyak hal. Kemajuan dan kemapanan tersebut bisa dialami dalam banyak hal.

Seseorang bisa mengalami pertumbuhan secara fisik atau jasmaninya, dari kecil menjadi besar, dari pendek menjadi tinggi, dari kurus atau ‘lunglit’ menjadi gemuk dan menggelambir. Banyak orang juga mengalami kemajuan dalam proses pembelajaran, pemulihan kesehatan, usaha dan karya, wawasan atau pemikiran, sikap dan perilaku yang semakin baik.

Banyak orang juga mengalami kemapanan hidup, seperti mempunyai rumah atau tempat tinggal, pekerjaan tetap, jaminan hari tua, dsb.

St. Paulus juga mengalami hal ini. Dia merasa bahwa dirinya pun mengalami kemajuan dalam hidupnya, khususnya dalam hal kehidupan beragama. St. Paulus merasa maju dalam hidup beragama bukan karena bisa menyanyikan lagu-lagu rohani favorit; bukan karena telah mengikuti banyak seminar atau weekend; bukan karena mampu menggunakan berbagai alat musik modern dalam beribadat; bukan karena mampu membangun tempat ibadat megah dengan kelengkapan AC dan alat multimedianya.

St. Paulus merasa lebih maju hidup keagamaannya karena rajin memelihara tradisi atau adat istiadat nenek moyangnya. Dia tidak takut dikatakan jadul, kolot atau ketinggalan jaman. Kemajuan dalam hidup beragama tidak diukur megahnya tempat ibadat, dinyanyikannya lagu-lagu rohani favorit, kehadirannya dalam berbagai macam weekend atau camp, atau lengkapnya serta modernnya fasilitas peribadatan.

Tradisi, adat istiadat nenek moyang pun tidak kalah berharganya bagi orang beragama. Teman-teman selamat pagi dan selamat berkarya. Berkah Dalem.

Foto kredit: Ilustrasi

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply