Campak Kembali Muncul di Eropa

Ilustrasi: Campak by Ist

DI Kopenhagen Denmark pada Senin, 19 Februari 2018, dilaporkan bahwa telah terjadi peningkatan kasus campak 400% di tahun 2017 dibandingkan tahun sebelumnya.


Apa yang harus dicermati?


Campak telah muncul kembali di Eropa, menyerang 21.315 orang dan menyebabkan 35 kematian pada tahun 2017. Data ini lebih tinggi dibandingkan rekor terendah, yaitu 5.273 kasus pada tahun 2016. Data ini disampakan pada pertemuan para Menteri kesehatan mengenai imunisasi di Podgorica, iIukota Montenegro, Eropa Selatan yang dimulai Selasa, 20 Februari 2018 untuk mewujudkan “The European Vaccine Action Plan” (EVAP) by 2020.


Penularan rubella


Campak (rubeola, morbili, measles atau gabagen) adalah suatu penyakit infeksi virus yang sangat menular. Penyakit ini disebabkan karena infeksi virus campak dalam golongan paramixovirus.


Penularan infeksi terjadi karena menghirup percikan ludah penderita campak. Campak menular sejak awal masa sakit sampai empat hari sejak munculnya ruam kulit. Gejala klinis berupa demam, nyeri tenggorokan, pilek, batuk, nyeri otot, dan mata merah. Pada 2-4 hari kemudian muncul bintik putih kecil di mulut bagian dalam (bintik Koplik). Ruam (kemerahan di kulit) muncul 3-5 hari setelah timbulnya gejala di atas.


Pada puncak penyakit, penderita merasa sangat sakit, ruamnya meluas serta suhu tubuhnya mencapai 40° Celsius dan 3-5 hari kemudian suhu tubuhnya turun, penderita mulai merasa baik dan ruam yang tersisa segera menghilang.



Campak dan Gizi Buruk


Komplikasi campak adalah infeksi bakteri pada paru-paru (pneumonia), telinga tengah (otitis), otak (ensefalitis) dan kematian. Pada anak yang sehat dan gizi cukup, campak jarang berakibat serius. Orang yang rentan terhadap campak adalah balita, tidak mendapatkan imunisasi, dan gizi buruk.


Setiap orang, baik anak maupun orang dewasa yang tidak divaksinasi, terlepas dari di mana mereka tinggal, tetap berisiko terkena penyakit campak dan menyebarkannya ke orang lain yang mungkin juga tidak mendapat divaksinasi. “Lebih dari 20.000 kasus campak, dan 35 orang meninggal pada tahun 2017 saja, merupakan tragedi di Eropa yang tidak dapat kami terima, “kata Dr Zsuzsanna Jakab, Direktur Regional WHO untuk Eropa.


Kemunduran jangka pendek ini tidak boleh menghalangi kita semua akan komitmen kita untuk menjadi generasi yang membebaskan sebanyak mungkin anak dari penyakit campak untuk selamanya. Wabah campak terjadi pada 1 dari 4 negara di Eropa. Lonjakan kasus campak pada tahun 2017 termasuk wabah besar (100 kasus atau lebih) di 15 dari 53 negara di Eropa.


Jumlah tertinggi orang yang terkena dampak campak dilaporkan di Rumania (5.562), Italia (5.006) dan Ukraina (4.767). Negara-negara ini telah mengalami berbagai tantangan dalam beberapa tahun terakhir, seperti penurunan cakupan imunisasi rutin secara keseluruhan, cakupan yang rendah secara konsisten di antara beberapa kelompok terpinggirkan, gangguan pasokan vaksin atau sistem surveilans penyakit yang berkinerja buruk. Tantangan tersebut sangat mirip dengan situasi di Indonesia.


Negara Eropa lain yang terjangkit campak adalah Yunani (967), Jerman (927), Serbia (702), Tajikistan (649), Prancis (520), Federasi Rusia (408), Belgia (369), Inggris (282), Bulgaria (167), Spanyol (152), Czechia (146) dan Swiss (105). Semua negara tersebut juga mengalami wabah besar, meskipun banyak di antaranya mengalami penurunan pada akhir tahun 2017.


Di Indonesia campak dinyatakan sebagai wabah atau KLB (kejadian Luar Biasa) apabila terdapat 5 atau lebih kasus klinis dalam waktu empat pekan berturut-turut, yang terjadi secara mengelompok, dan dibuktikan adanya hubungan epidemiologis.


Pada tahun 2016, jumlah KLB campak yang terjadi sebanyak 129 KLB dengan jumlah kasus sebanyak 1.511 kasus. Angka tersebut lebih tinggi bila dibandingkan dengan tahun 2015 dengan 68 KLB dan jumlah kasus sebanyak 831 kasus.


Tindakan untuk menghentikan wabah campak di Eropa saat ini sudah dilakukan dan untuk mencegah kejadian campak baru, dengan melibatkan berbagai bidang. Intervensi ini termasuk meningkatkan kesadaran masyarakat, memberikan imunisasi kepada petugas profesional kesehatan dan orang dewasa dengan risiko tertentu, mengatasi tantangan dalam akses, dan memperbaiki perencanaan dan logistik pasokan vaksin campak.


Sampai akhir 2016, menurut Regional Verification Commission (RVC) sebenarnya 42 dari 53 negara Eropa telah mampu menghentikan transmisi campak endemik. Namun demikian, wabah campak akan terus terjadi sampai setiap anak dan orang dewasa yang rentan di Eropa, telah terlindungi dengan imunisasi.


Pelajaran yang sangat inspiratif tentang bahaya campak dari Eropa ini, mengingatkan kita akan pentingnya imunisasi.


Apakah kita sudah diimunisasi campak?


Dr dr FX Wikan Indrarto SpA

Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta dan RS Siloam, Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta.

Sumber: Sesawi

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: