“Calvary”, Anti-Klerikalisme atau Soal Pemaknaan Hidup?

Calvary by The Guardian

FILM anyar Calvary mengingatkan saya pada bukit tempat dimana Tuhan Yesus disalibkan. Film yang digarap John Michael McDonagh ini dibuat di daratan Irlandia, negeri yang didominasi oleh orang katolik ini.

Calvary mempunyai maksud apa? Itu pertanyaan fundamental saya ketika mengikuti alur ceritanya selama 1 jam 40 menit.

Pastor James
Romo James (Brendan Gleeson) menjadi imam setelah istrinya meninggal dan anak gadisnya sudah dewasa. Romo James suka memelihara anjing. Ia bertugas sebagai pastor paroki di suatu desa di Irlandia ditemani oleh seorang rekan.

Romo James digambarkan sebagai imam yang punya perhatian kepada umatnya dan cukup berani menegur kekeliruan umat.

Suatu hari Minggu terdengar suara  di kamar pengakuan: “Ga ada untungnya membunuh imam yang reputasinya buruk. Saya akan membunuhmu karena kamu tidak bersalah.”

Kalimat itu diucapkan oleh seorang peniten (orang yang menerima sakramen tobat) kepada Romo James.

Si lelaki calon pembunuh ketika masih berumur tujuh tahun pernah diperkosa oleh seorang imam yang kini telah meninggal. Peniten itu berjanji bahwa pada hari Minggu mendatang, dia akan membunuhnya.

Romo James kendati mendapat ancaman akan dibunuh, tetap menjalankan tugasnya dari Senin sampai Sabtu untuk mengunjungi umatnya. Satu pekan itu merupakan hari pergulatan batin sang imam.

Akhirnya Romo James ditembak tepat di dahinya pada Minggu berikutnya.

Dilema seorang pastor
Romo James nampak terusik oleh pertemuan di ruang pengakuan dosa itu. Walaupun demikian ia tetap setia pada tugasnya untuk mengunjungi domba-dombanya. Kunjungan umat inilah yang mengajak saya untuk mengenali satu persatu persoalan umat yang jumlahnya sedikit di desa itu.

calvary 2

Pastor juga mengalami kesepian: Pastor James masih manusia, maka kesepian dan kesendirian juga menjadi pengalaman batinnya. (Ist)

Kunjungan-kunjungan itu dibalut oleh diskusi seputar iman, moral, relasi dengan gereja dan pergulatan psikologis umat. Lewat perjumpaan itu saya mencoba untuk menebak-nebak siapakah orang yang berkomit untuk membunuh Romo James.

Hebatnya, Romo James melepaskan semua praduganya tentang pribadi yang bermaksud menghabisi hidupnya.

Harus dicatat juga bahwa Calvary bukanlah film detektif yang berusaha menemukan siapa sih calon pembunuh itu. Maka Calvary menuntut kesabaran khususnya dalam obrolan tentang beragam topik bersama umat.

Di paroki desa tersebut rupanya memiliki beragam kemelut pribadi seperti affair pasangan yang selingkuh, praktik prostitusi, ketergantungan minuman alkohol, urusan psikologi, kriminalitas, dan juga persoalan tentang harapan untuk hidup.

“Saya pikir sejujurnya terlalu banyak kita bicara tentang dosa. Sedang kita tidak cukup memberi tempat untuk membahas keutamaan,” demikian kata-kata Romo James.

James seolah-olah menjadi personalisasi dari semua persoalan itu. Ia sendiri bergulat dengan hidupnya yang akan segera dihabisi, juga membangun relasi dengan putrinya yang semula kurang mengampuninya. Tetapi pada saat yang sama Romo James juga masih bersentuhan dengan urusan umat.

Dlam film itu seolah-olah umat tidak peduli dengan soal-soal itu. Digambarkan Romo James sempat frustasi, merasa tak mampu menanggung semua soal itu. Hal ini disimbolkan dengan adegan dia mabuk dan menggunakn pistol untuk merusak kedai.

Pesan anti-klerikalisme
Saya menangkap film ini memiliki pesan anti klerikalisme. Pertama harus disadari konteks film ini berbeda dengan budaya Indonesia dimana pastor paroki memiliki tempat yang dihormati bagaikan sebuah status sosial. Relasi pastor dengan umat dalam Calvary adalah relasi satu level, tanpa hirarki kedudukan. Oleh karenanya obrolan yang spontan dan saling mengritik antara warga paroki dengan pastornya menjadi hal biasa dalam film ini.

Contohnya, “Romo, kamu kelewat tegas dengan umat di sini.”

Juga beberapa adegan yang membuat saya tarik nafas kaget, seperti polah si orang kaya (Dylan Moran) yang mengencingi lukisan di hadapan Romo James, atau polah si wanita (Orla O’Rourke) yang mengobral omongan vulgar kepada si romo. Dengan lain kata, pola relasi antara gembala-umat sangat berbeda dengan konteks Indonesia.

Selain itu,hal kedua yang saya amati, pakaian klerus (jubah dan kolar) dijadikan simbol jarak relasi antara umat dengan imam. Bahkan pakaian memberi tanda negatif kepada si imam.

Dikisahkan dalam salah satu adegan, Romo James tanpa segaja bertemu dengan seorang gadis kecil yang tengah berjalan di daerah itu. Mereka terlibat obrolan yang hangat. Namun tiba-tiba muncul ayah dari si gadis dengan mobil melaju kencang. Melihat anak gadisnya berjalan bersisian dengan si imam, si ayah kontan marah dan menarik anaknya ke mobil.

Ini kritikan nyata tentang segala isu yang tengah berkembang di Eropa dan Amerika bahwa imam memiliki stigma negatif seputar sex abusement.

Puncaknya ketika gereja paroki terbakar dan tak seorang umat pun yang peduli. Mereka hanya menonton seolah gereja itu bukan bagian mereka. “Lihat gerejamu terbakar tu,” kata si pemilik kedai kepada Romo James.

Romo James sempat menyerukan,”Itu bukan gereja saya, itu gereja kita.”

Apakah kalimat ini mau mengatakan tentang kegagalan para imam di Irlandia dalam membangun hidup berkomunio? Apakah ini mau mengatakan peran klerus yang berlebihan sehingga gagal menanamkan rasa “kita” dalam menggereja?

Makna Kalvari
Lepas dari banyak penilaian akan film drama ini, pesan yang saya tangkap ialah Romo James menggambarkan perjalanannya yang sendirian ke Kalvari. Senin sampai Sabtu merupakan jalan salibnya ke Kalvari. Dia merasakan beragam pergulatan umatnya sampai pada titik lari dari persoalan.

Digambarkan Romo James meninggalkan paroki dan tidak lagi memakai pakaian klerus. Tetapi perjumpaan dengan seorang ibu yang suaminya sempat mendapat sakramen minyak suci dari Romo James mengubahnya. Si ibu muda itu kehilangan suaminya karena meninggal, tetapi dia tetap tidak kehilangan imannya.

Perjumpaan di bandara itu mendorong Romo James kembali ke parokinya. Dia mesti hadapi persoalan dengan imannya. Dia akhirnya jemput kematiannya dari tangan si pembunuh yang telah menubuatkan kematiannya seminggu sebelumnya.

Di situlah saya mengerti maksud dari “Calvary” dalam film ini.

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: