Buluh yang patah dan sumbu yang pudar

0
53

18 Juli - RmT

“Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang.” (Mat 12, 20)

BULUH adalah jenis tanaman yang banyak tumbuh di pinggir sungai. Buluh mudah patah karena batangnya tipis dan kosong di bagian dalam. Buluh bisa dipergunakan sebagai bahan anyaman atau bahan untuk membuat seruling. Buluh yang patah biasanya tidak bisa dipergunakan lagi dan dibuang.

Sedangkan sumbu merupakan bagian dari sebuah pelita. Sumbu terbuat dari benang, sehingga mudah menyerap minyak dan mudah dinyalakan. Sumbu akan bernyala terang sejauh masih tersedia minyak di dalam pelita. Tanpa adanya minyak, sumbu menjadi kering, bernyala sesaat dan kemudian pudar serta meninggalkan asap yang bisa membuat sesak napas. Sumbu yang pudar membuat pelita juga tidak berguna.

Buluh yang patah dan sumbu yang pudar merupakan dua hal yang tidak banyak berguna; dua hal yang akan dibuang atau disingkirkan. Bukankah kedua hal ini juga bisa menjadi gambaran kehidupan manusia? Ada kalanya, sementara orang merasakan dan mengalami kenyataan seperti buluh yang patah dan sumbu yang pudar, artinya merasa dibuang dan tidak dipergunakan lagi.

Orang yang sudah bertahun-tahun terlibat dalam kepengurusan dewan paroki, prodiakon, yayasan atau pelayanan lain, bisa shock dan merasa dibuang, ketika mereka tidak dilibatkan lagi. Mereka merasa disingkirkan dengan kehadiran dan keterlibatan banyak orang baru dan lebih muda.

Masa-masa pensiun ataupun masa tua sering menjadi masa yang ‘sensi’ bagi sementara orang. Dalam kehidupan bersama yang diwarnai oleh persaingan, kenyataan seperti ini tidak hanya dialami oleh mereka yang sudah pensiun atau lansia, tetapi juga bisa dialami oleh orang yang lebih muda. Kegagalan dalam usaha dan perjuangan bisa membuat seseorang seperti buluh yang patah terkulai. Ketidakmampuan atau keterbatasan diri membuat seseorang dengan mudah tertinggal, tersingkir, tereliminasi dalam banyak hal, sehingga mereka seperti sumbu yang pudar, tidak ada lagi semangat dan gairah untuk hidup.

Dalam peristiwa apa, saya pernah mengalami diri sebagai buluh yang patah terkulai atau sumbu yang pudar nyalanya?

Teman-teman selamat malam dan selamat beristirahat. Selamat Idul Fitri bagi yang merayakannya. Mohon maaf lahir dan batin atas segala salah dan khilaf. Berkah Dalem.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)egagalan

Loading...

Tulis gagasan

Please enter your comment!
Please enter your name here