Bully

Ayat bacaan: Yeremia 17:7
======================
“Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!”

dihina, disepelekan, bullyMasa orientasi kampus saat ini tidaklah seseram di waktu dulu. Ketika saya diterima di sebuah Perguruan Tinggi Negeri sekian tahun yang lalu, masa orientasi masih dikenal dengan nama ospek, dan pada saat itu perlakuan terhadap mahasiswa/i baru masih sangat tidak terpuji. Saya ingat betul pada saat itu kami harus merangkak melewati selangkangan para senior, atau merangkak di bawah kolong meja, bahkan kami para pria harus pula masuk menceburkan diri ke dalam parit besar dan tidak boleh mandi selama masa orientasi itu berlangsung. Itu belum termasuk tindakan-tindakan yang memalukan lainnya, apalagi bagi orang-orang yang tidak satu suku dengan kaum mayoritas penghuni kampus itu. Saya termasuk korban yang lumayan sering dikerjai, karena kulit saya waktu itu terbilang putih. Beberapa teman lain yang berbeda ras juga mendapat perlakuan yang keterlaluan. Dihina dari sisi ras, diejek dan dijadikan bahan tertawaan. Bentuk seperti ini ironisnya bukan saja menjadi makanan di kampus setiap kali ada penerimaan mahasiswa baru, tetapi hampir di setiap jenjang pendidikan perlakuan tidak terpuji terhadap anak baru seperti mewabah di mana-mana. Istilah yang seringkali disebut dengan “bully” atau penindasan/pelecehan sampai penganiayaan bagi pelakunya mungkin hanyalah sebagai permainan belaka, namun efeknya seringkali berbekas lama bagi para korban. Tidak jarang di antara mereka akan terluka percaya dirinya hingga waktu yang lama, bahkan ada pula yang sampai bunuh diri karena tidak tahan mendapat hinaan.

Apakah ada tokoh di Alkitab yang pernah mengalami hal ini? Dan apa yang kemudian terjadi dengan mereka? Jelas ada. Setidaknya kita bisa menyebut dua nama, Yefta dan Daud. Kedua nama ini pernah mendapatkan perlakuan tidak adil dan menjadi olok-olok orang lain, bahkan dari keluarganya sendiri. Dalam kitab Hakim-Hakim 11 kita bisa mendapatkan kisah bahwa Yefta dikatakan lahir dari seorang pelacur. Karena itulah ia diusir oleh ibunya (istri Gilead, ayah Yefta) karena ia tidak berasal dari rahim sang ibu, istri sah Gilead. Yefta bukan saja diusir oleh keluarganya, bahkan ayahnya sendiri tidak membelanya, namun juga oleh para tokoh terhormat (tua-tua) di tempatnya. Namun pada suatu ketika, di saat serangan bani Amon terasa begitu sulit untuk diatasi, mereka pun menjilat ludah sendiri dan meminta Yefta untuk menjadi panglima untuk berperang melawan bani Amon. Kita tahu apa yang terjadi selanjutnya. Yefta dengan gemilang menundukkan pasukan bani Amon. Dengan kejadian itu, Yefta berhasil mempermalukan keluarga serta orang-orang yang pernah menghina dan mengusirnya. Dalam Alkitab dikatakan demikian: “Kemudian Yefta berjalan terus untuk berperang melawan bani Amon, dan TUHAN menyerahkan mereka ke dalam tangannya. (Hakim Hakim 11:32).

Mari kita lihat masa kecil Daud dalam 1 Samuel 17. Ketika saudara-saudaranya dengan gagah menjadi prajurit dan disanjung oleh orang tuanya, ia diabaikan dan hanya diberi pekerjaan sebagai gembala kambing domba di padang gurun. Pada suatu ketika orang-orang Filistin termasuk di dalamnya Goliat yang berukuran raksasa mengintimidasi mental pasukan Israel. Dan tidak satupun dari mereka yang berani maju, kecuali Daud kecil yang tidak ada apa-apanya dibandingkan prajurit bersenjata bangsa Israel. Namun apa reaksi saudara-saudara Daud? Ia disepelekan oleh kakaknya sendiri. “Ketika Eliab, kakaknya yang tertua, mendengar perkataan Daud kepada orang-orang itu, bangkitlah amarah Eliab kepada Daud sambil berkata: “Mengapa engkau datang? Dan pada siapakah kautinggalkan kambing domba yang dua tiga ekor itu di padang gurun? Aku kenal sifat pemberanimu dan kejahatan hatimu: engkau datang ke mari dengan maksud melihat pertempuran.” (1 Samuel 17:28). Namun Daud tidak kecil hati. Ia dengan berani maju menghadapi Goliat. Daud berkata: “Pula kata Daud: “TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu. (ay 37a). Ketika berhadapan dengan Goliat yang atribut perangnya lengkap, ia kembali dicemooh oleh lawannya. Tapi apa kata Daud? “Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: “Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu.” (ay 45). Dan kita tahu bagaimana kisah akhirnya, Daud sukses mengalahkan orang yang jauh berukuran lebih besar darinya yang bersenjatakan sangat lengkap.

Jika kita melihat dua kisah di atas mengenai Yefta dan Daud, ada satu benang merah yang dapat kita tarik yaitu keduanya mengandalkan Tuhan dalam mengatasi permasalahan mereka. Mereka sama-sama tahu bahwa kemampuan mereka memang terbatas, mereka tahu kondisi mereka sangat memungkinkan untuk dijadikan bahan olok-olok, disepelekan, dihina dan direndahkan, namun mereka juga tahu bahwa dengan mengandalkan Tuhan, mereka akan mampu mengatasi masalah apapun. Keberhasilan akan terjadi ketika manusia yang terbatas mau mengandalkan Tuhan yang tidak terbatas kuasaNya. Yefta sejak awal sudah menyebutkan hal ini sebelum ia menerima permohonan para tua-tua untuk memimpin pasukan. “Kata Yefta kepada para tua-tua Gilead: “Jadi, jika kamu membawa aku kembali untuk berperang melawan bani Amon, dan TUHAN menyerahkan mereka kepadaku, maka akulah yang akan menjadi kepala atas kamu?” (Hakim Hakim 11:9). Dan Daud pun sama, seperti yang kita lihat dalam beberapa ayat di atas. Apa yang menjadi landasan keberhasilan mereka adalah sama, yaitu mereka mengandalkan Tuhan dalam tindakan mereka.

Jika hari ini ada diantara anda yang diremehkan, baik di kantor, di lingkungan, pertemanan atau di sekolah, janganlah kecil hati dan putus asa karenanya. Ingatlah bahwa anda berharga di mata Tuhan. Anda diciptakan dengan gambar dan rupaNya sendiri (Kejadian 1:26), dan tetap berada dalam telapak tangan dan ruang mataNya. (Yesaya 49:16). Dan bukankah Yesus pun dianugerahkan buat anda karena kasih Allah yang begitu besar terhadap diri anda? (Yohanes 3:16). Oleh karena itu, dalam menghadapi pelecehan atau penghinaan dari orang lain, tugas kita adalah terus berjuang dengan positif untuk membuktikan anggapan dan perilaku negatif mereka terhadap anda adalah salah. Buktikan bahwa anda bisa berprestasi, bisa sukses meski keadaan anda saat ini mungkin tidaklah sebaik mereka yang menghina anda. Bagaimana itu bisa dilakukan? Jelas, dengan mengandalkan Tuhan. Itulah yang menjadi kunci dari sebuah kesuksesan, dan bukan atas kuat kuasa dan hebatnya diri kita sendiri. Firman Tuhan sendiri berkata “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!” (Yeremia 17:7) Diberkati bagaimana? “Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.” (ay 8) Itu janji Tuhan yang turun bukan kepada orang-orang yang berkuasa, kuat dan hebat secara manusiawi, tapi kepada mereka yang selalu mengandalkan Tuhan dan terus menaruh harapan pada Tuhan tanpa henti. Let’s prove them wrong, and let them see how the story goes when we rely on God in everything we do.

Ketika disepelekan, teruslah berjuang dan buktikan bahwa bersama Tuhan kita bisa berhasil

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: